Something inside my minds

Ketika moderator dialog cawapres adalah seorang tokoh sekuler

Posted by dnux on June 26, 2009

ini adalah pada saat dialog cawapres pada tanggal 23 Jun 09 yang dimoderatori oleh Komarudin Hidayat

Pertanyaan saya (moderator) berkisar antara hubungan agama & negara. Ada satu pandangan bahwa pertama indonesia masyarakatnya dikenal religious. agama tanpa instrumen politik negara lemah sulit melakukan perubahan sehingga hub agama & politik begitu kental.

Tapi persoalannya, ketika agama masuk pada wilayah politik itu menimbulkan ketidak sehatan. Kadang kadang pembusukan. Agama dipolitisir lalu politik di agamakan. Dan situasi menjelang pemilu atau apa saja itu nampak sekali. Nah nampaknya kita belum punya format bagaimana mestinya hubungan negara dan agama. Apakah agama itu diatas negara, atau agama dibawah (subordinate), atau agama disamping. Karena agama itu bersifat abosult sacral sementara negara itu rasional dan profane. Ketika dua duanya digabungkan selalu menimbulkan masalah.

Nah menurut sodara, kira-kira bagaimana memposisikan agama dan negara ?

——————-

Nampak sekali kesekulerannya memaksakan suatu pandangan “agama itu bersifat abosult sacral sementara negara itu rasional dan profane” untuk memisahkan antara agama dan keduniaan (negara). Agama itu adalah benda sakral yang tidak boleh masuk dunia yang kotor. Agama itu adalah benda ghoib (irasional atau setidaknya supra rasional) sementara dunia itu adalah rasional. Lebih fatal lagi adalah opini yang dipaksakan “Ketika dua duanya digabungkan selalu menimbulkan masalah

——————-

Kritik atas statement si moderator yang berbahaya kalau di iyakan :

1. Apakah agama itu absolut ?

a. Jawaban = iya dalam pengertian aqidah. Aqidah tidak boleh ditawar tawar b. Jawaban = tidak dalam pengertian bahwa ada bagian dari agama kemungkinan untuk berbeda diantaranya adalah masalah tatacara ibadah, muamalah dll

2. Apakah agama itu sakral ?

a. Jawaban = iya untuk pengertian alQuran sebagai sumber utama agama Islam adalah kalam Allah SWT, harus memegang dalam keadaan suci dari hadats kecil ataupun besar

b. Jawaban = tidak untuk pengertian bahwa agama juga mengatur hal tetek bengek seperti thoharoh dari hadats besar dan hadats kecil

3. Apakah agama itu tidak rasional ?

a. Jawaban = (1) iya kalau itu untuk selain Islam. (2) untuk beberapa bagian dari agama seperti cara sholat dll. Itu harus ngikut saja gak usah dicari cari alasannya mengapa sholat subuh itu 2 rokaat dll

b. Jawaban = tidak dalam hal aqidah Islam. semua bisa dibuktikan dengan akal/rasio atau sesuatu yang dipastikan kebenarannya menurut rasio. Demikian juga hukum Islam bisa dipahami secara rasional. Larangan riba bisa dichalange effet dan deffectnya

4. Apakah negara itu profan ?

a. Jawaban = iya kalau negara itu tidak memang berdasar agama tertentu sehingga kehilangan panduan bagaimana bernegara yang benar menurut agama

b. Jawaban = tidak yaitu bahwa negara itu masuk dari bagian agama. Seperti kata imam Ghozali : negara dan agama adalah saudara kembar.

5. Apakah agama dan negara itu kalau digabungkan selalu menimbulkan masalah ?

TIDAK ! (tidak ada kemungkinan jawaban iya). yang disoroti orang2 sekuler seperti komarudin hidayat hanya kasus kasus kedzoliman negara kepada masyarakat atas nama agama. Padahal apapun landasan negara itu, baik itu agama atau non agama sperti komunisme dan demokrasi, selalu terjadi pendzaliman atas nama dasar negara tersebut.

Lihatlah betapa atas dasar sosialis maka uni soviet melarang orang untuk menjalankan ritualnya. Artinya sosialis pun menyebabkan penzaliman warganya. Demikian juga turki atas nama sekulerisme maka Mustafa Kemal memaksa simbol simbol agamapun diberangus dan adzan pun tidak boleh dikumandangkan dalam bahasa arab.

Lihat pula atas nama demokrasi dan HAM maka amerika menghajar Iraq, Afghanistan, Somalia, dsb. Tengok pula bagaimana praktek penerapan Islam sebagai landasan dan hukum negara tidak pernah menjadi masalah kecuali sekedar perebutan kekuasaaan diantara pembesar2 kerajaan. Sedang rakyatnya selalu gemah ripah loh jinawi.

Terbukti bahwa landasan apapun itu dalam sebuah negara maka sangat mungkin terjadi penzaliman. Jadi statement bahwa agama dan negara kalau digabungkan itu selalu menjadi masalah adalah pertanyaan ambigu moderator sekuler untuk penggiring agar yang ditanya menyetujui pendapat sekulernya untuk menjauhkan agama dari negara dengan menutupi fakta baha sebenarnya bahwa hubungan dasar negara (agama atau ideologi apapun ) dengan negara itu sendiri bisa menimbulkan masalah bagi warganya.

Lha herannya kok yang ditanya mantuk mantuk saja yah ? apakah mereka setuju dengan statement moderator ? wallahu a’lam ..

Wassalam

dnux

Posted in aqidah, pandangan politik, pencerahan | Leave a Comment »

Mendudukkan Hadits Kuraib dalam Prespektif Penentuan Awal/Akhir Romadhon dan Problem Kesatuan Umat Islam

Posted by dnux on June 3, 2009

Abu Dhabi – Banda Aceh: 3012.5 miles, Merauke – Banda Aceh : 3250.5 miles (Tools : http://www.infoplease.com/atlas/calculate-distance.html). Kesimpulan : Banda Aceh lebih dekat ke Abu Dhabi dibandingkan ke Merauke. Lalu dengan alasan apa kita bisa memaksa Merauke untuk ngikut Ru’yat hilal nya Banda Aceh sedangkan Banda Aceh dilarang ngikut ru’yat hilal-nya Dubai ?

Pengantar

Terdapat dua hal  yang sering dicampuradukkan oleh masyarakat terkait masalah Romadhon yaitu (1) tentang kaidah penetapan awal/akhir Romadhon itu sendiri, dan (2) tentang keharusan memulai/ mengakhiri romadhon dan menyelanggarakan sholat ’Ied Fitri bersama pemerintah. Dan bila kita klafsikasikan, maka setidaknya ada tiga kelompok yang mewajibkan dirinya Sholat ’Ied Fitri puasa bersama pemerintah

Kelompok pertama adalah golongan orang kebanyakan yang melihat dua hal tersebut sebagai hal yang sama saja. Mereka kebanyakan juga tidak terlalu berpusing ria memperhatikan bagaimana kaidah yang benar dalam penetapan awal/akhir Romadhon, yang penting mengikuti apa kata pemerintah benar atau salahnya. Toh kalau salah yang nanggung dosanya juga pemerintah. Golongan seperti ini adalah orang yang sebenarnya menjerumuskan diri dan orang yang diikutinya (pemerintah dll) kedalam kesalahan berjamaah karena keengganannya untuk mencari ilmu dan keengganannya untuk menasehati sesama muslim, termasuk kepada penguasa

Kelompok kedua adalah golongan yang dalam dirinya telah terpatri prasangka buruk kepada sesama umat Islam di luar golongannya bahwa siapapun yang berbeda dengan pemerintah maka mereka adalah penentang penguasa atau bahkan dikatakan sebagai pembelot, pemberontak, dll. Padahal mereka mengetahui bahwa pendapat pendapat dari ulama ulama qodim tentang boleh tidaknya berbeda dengan penguasa dalam hal mengawali/ mengakhiri puasa termasuk juga pelaksanaan Sholat ’Ied.

Sedangkan kelompok ketiga hampir sama prinsipnya dengan kelompok kedua, namun anehnya mereka hanya toleran terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa golongan lainnya (ABC dll ) namun sangat antipati terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa dari golongan lainnya (XYZ dll)  dengan labelisasi wahabi, arabisme, transnasionalisme dan lain sebagainya.

Biasanya kelompok kedua dan ketiga ini selalu bertentangan (tanaqudh) pendapat dalam segala wabil khusus dalam masalah ibadah. Sepengetahuan kami, bisa jadi hanya dalam permasalahan berpuasa bersama pemerintah inilah mereka memiliki pendapat yang sama. Keduanya pun juga menggunakan hadits Kuraib secara bias untuk menjustifikasi kebenaran pendapat mereka.

Kok bias ? Ya … dan InsyaAllah dalam artikel ini dengan keterbatasan pemahaman saya, akan saya coba uraikan kebiasan tersebut dimana kebanyakan pada akhirnya adalah nukilan saya dari pendapat pendapat mu’tabar yang tersebar di buku buku ataupun di internet dan lain sebagainya.

Kami menujukan risalah ini bagi sahabat sahabat kami yang sedang kebingungan dan terombang ambing dalam masalah penentuan awal/akhir ramadhan apakah harus mengikuti pendapat pemerintah atau tidak. Kebingungan itu sebenarnya tidak perlu terjadi asal setiap orang mengetahui benar bagaimana pendapat itu digali (di-istinbath) lalu qona’ah (menetapi) terhadap kebenaran proses dan hasil istinbath tersebut, terlepas apakah hasil akhirnya sama atau tidak dengan yang diyakini selama ini. Dengan mengetahui pokok pembahasan tersebut pada akhirnya yang diharapkan adalah kesadaran bahwa bahwa bisa memahami kewajaran perbedaan pendapat untuk kemudian sebagai sesama muqolid (pengikut pendapat ulama) ataupun sebagai tholibin (orang yang baru belajar) tidak saling mencela satu sama lain.

pdf filenya : http://www.scribd.com/doc/16097901/Mendudukkan-Hadits-Kuraib-dalam-Prespektif-Penentuan-Awal-Akhir-Romadhon-dan-Problem-Kesatuan-Umat-Islam

Read the rest of this entry »

Posted in fiqh keseharian, pencerahan | Leave a Comment »

Solusi Mendasar Penutupan Lokalisasi Km 17

Posted by dnux on April 26, 2009

Sejak dikeluarkannya rekomendasi MUI bulan Maret 2009 tentang penutupan Lokalisasi Km17 Balikpapan, berbagai silang pendapat masih mewarnai perdebatan masyarakat Balikpapan tentang dampak positif ataupun dampak negatif dari penutupan lokalisasi tersebut. Silang pendapat tersebut sepertinya akan dimenangkan oleh pihak pihak yang menginginkan penutupan lokalisasi terlebih setelah pemkot Balikpapan via Sayid MN Fadly (Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangundan Sedakot) menegaskan bahwa Pemkot Balikpapan berkomitment untuk menutup lokalisasi itu bahkan termasuk menghilangkan semua bentuk penyakit  masyarakat.

Sebagian masyarakat merasa apatis terhadap usulan tersebut mengingat pemecahan tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru dikhawatirkan menyebabkan migrasi PSK ke pemukiman masyarakat sehingga menimbulkan penyebaran HIV AIDS di tengah masyarakat. Karenanya mereka menghendaki lokalisasi tersebut tidak dibubarkan namun tetap diadakan dengan disertai program pembinaan kepada para PSK

Logika klasik tersebut sebenarnya dapat dipatahkan dengan argumentasi bahwa pemkot telah lama memberikan sarana pendidikan dan pelatihan ketrampilan bagi PSK agar bisa bekerja dengan ketrampilan barunya dan meninggalkan pekerjaan haramnya tersebut . Namun sangat sedikit mantan PSK yang mau bekerja dengan ketrampilan barunya dan lebih memilih kembali ke lokalisasi untuk berkecimpung lagi di profesi haram tersebut. Bahkan telah banyak para ustadz diterjunkan untuk menasehatai para PSK namun tetap saja lokalisasi tersebut makin ramai.

Bila kita jujur terhadap permasalahan sesungguhnya dari keberadaan lokalisasi Km17 atau tempat pelacuran lainnya, maka sebenarnya permasalahannya bisa disimplikfikasi dua hal saja yaitu 1) masalah perut PSK dan 2) masalah syahwat pemakai jasa.

Pertama, kebutuhan hidup seringkali menjadi alasan bagi para PSK untuk mensahkan profesinya. Alasan ini harus dicermati dengan benar apakah memang demikian. Apakah benar PSK tersebut menjalankan profesinya untuk kebutuhan darurat ? Karena bisa jadi diantara mereka ada yang punya harta berupa tabungan, kendaraan atau bahkan tanah dan rumah. Yang paling nyata adalah PSK kelas tinggi yang tarifnya jutaan rupiah, tentu alasan kebutuhan perut menjadi alasan yang sangat naif dan mengada ada.

Kedua, masalah syahwat dari pemakai jasa PSK. Beberapa orang berkeberatan juga bila lokalisasi ditutup karena mereka tidak bisa menyalurkan syahwatnya. Sebagian masyarakat juga kuatir akan banyak terjadi perkosaan bila lokalisasi ditutup sebab para penyalur syahwat itu kehilangan tempat untuk menyalurkan nafsunya.

Untuk menganalisa kedua masalah pokok terebut, maka perlu didekati dengan pemikiran yang mendalam terhadap tiga hal :

Pertama, nalar pelaku. Solusi pendek PSK untuk memenuhi kebutuhan fisik dengan jalan melacurkan diri sungguh sangat cengeng disaat ratusan atau bahkan ribuat orang lainnya bekerja memeras keringat menjadi pengais sampah, pengumpul karton, buruh pasar, bekerja di pabrik pabrik yang tidak higienis dengan gaji dibawah UMR dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah pokok adalah ketidakmauan bekerja pada sektor yang kotor namun halal tersebut. Demikian juga bagi para pria hidung belang, mengapa mereka tidak menikah dengan yang sanggup dinafkahi atau mengapa tidak berpoligami saja kalau perlu sampai dengan 4 istri yang kira kira sanggup dinafkahi.

Pada akirnya yang menjadi masalah adalah faktor keimanan para pelaku dan kesanggupan mereka menahan hawa nafsunya untuk melakoni pekerjaan yang berat namun halal serta untuk menyalurkan nafsu sexual dengan cara yang halal dan terhormat.  Rasulullah bersabda ”Tidaklah ada dosa yang lebih besar setelah syirik melainkan seorang laki-laki meletakkan spermanya di rahim perempuan yang tidak halal baginya” HR Abi Dunya di Tafsir Ibnu Katsier. Pelakunya pun akan dirajam bila muhshon dan akan dijilid 100 kali bila ghoiru muhson.

Kedua, norma masyarakat. Masyarakat sendiri juga sebenarnya berperan langsung dalam membentuk PSK itu sendiri terutama faktor kecuekan mereka dalam membiarkan kemaksiatan yang besar atau yang kecil. Masyarakat berdiam diri dan tidak bernahi mungkar terhadap tayangan TV, VCD, koran, majalah, panggung hiburan yang mengexploitasi naluri seksual. Masyarakat juga berdiam diri melihat pasangan yang mojok ditempat gelap untuk berpacaran dan membiarkan pasangan tersebut merasakan kehangatan satu sama lain kala berdekatan. Penumpukan naluri ini mau tidak mau akan berakumulasi pada keinginan untuk menyalurkan hawa nafsu dengan cara tidak benar dengan maksud coba coba sampai akhirnya kebablasan dan sampai merasa hal yang wajar.

Semua ini terjadi karena aqidah yang mendominasi masyarakat kita adalah aqidah sekuler, yang menganggap agama itu adalah urusan di masjid saja sehingga ketika ketemu di dunia nyata (di luar masjid), kemaksiatan kemaksiatan ditempat umum itu dibiarkan karena bukan lagi area agama untuk mengaturnya.

Ketiga, faktor sistem. Negara adalah ultimate instrument pelaksanaan sistem. Ketika negara menggunakan landasan yang baik, maka akan baik tatanan masyarakatnya. Sebaliknya apabila landasan kenegaraan yang digunakan itu buruk, maka akan rusaklah tatanan kemasyarakatan.

Bentuk landasan tatanan masyarakat kita adalah sekuler religius dan secara praktik yang lebih menonjol adalah kesekulerannya. Karenany,a praktis bisa disebut bahwa landasan kenegaraan kita adalah pandangan sekuler. Demikan pula sistem ekonomi yang dipergunakan adalah ekonomi kapitalis liberalisme. Dua duanya memberikan efek buruk bagi masyarakat.

Aqidah sekuler adalah aqidah yang buruk sebab memisahkan antara aspek rohani dengan aspek jasmani dengan jalan menjauhkan agama dari kehidupan praktis kemasyarakatan termasuk pula aspek ekonomi hukum dan kenegaraan. Pandangan itulah yang menyebabkan masyarakat yang kehilangan makna hidup karena tujuan hidup bukan lagi untuk mengabdi pada Allah SWT melainkan untuk menuruti hawa nafsu mengejar kepuasan materiel baik itu konsumerisme ataupun hedonisme.

Aqidah yang sekuler juga menyebabkan masyarakat tidak percaya bahwa Allah SWT mengatur rejeki seadil adilnya, karena Allah SWT tidak ada didunia nyata termasuk didunia kerja. Halal haram bukan lagi hal yang harus dibicarakan ketika mencari penghasilan. Sekulerisme juga menghilangkan sifah qona’ah (merasa cukup) terhadap pemberian Allah SWT. Selalu merasa kurang dan merasa kurang. Akibatnya, hilang juga kemauan untuk berbagi rezeki menolong sesama baik itu saudara atau tetangga yang membutuhkan sehingga akhirnya saudara/tetangga yang membutuhkan dana terpaksa memenuhi kebutuhan dengan cara yang haram.

Keadaan ini diperparah dengan diadopsinya ekonomi liberalis sebagai konsukuensi normal ketika aqidah sebuah aqidah sekuler dipegang.  Ekonomi liberalis yang terlanjur telah menyatu dengan urat nadi setiap anak negeri dan menjadi inspirasi pada setiap pemikiran dan solusi berekonomi, menyebabkan berkurangnya lahan pekerjaan sebab semua sumber sumber ekonomi publik dikuasai oleh para kapital termasuk sumber modal yang menumpuk di bank bank konvensional ataupun di bank syariah.

Disaat banyak warga memerlukan modal untuk kegiatan usaha produktif justru alih alih bank bank konvensional menyalurkan buat usaha mikro menengah, justru mereka berlaku safe dengan cara menyimpan uangnya dalam bentuk SBI ataupun bahkan menjadi lender bursa uang. Demikan pula bank bank syariah baru besar prosentasenya di akad murabahah yang mencapai 85%, sementara pembiayaan Mudarabah (bagi hasil) baru 15%. Artinya bank bank syariah juga baru berani mengambil resiko penyaluran kredit yang aman daripada memaksimalkan ekonomi rakyat dengan cara syar’i yaitu bagi hasil.

Ekonomi liberalis dicampur aqidah sekuler berkombinasi menghasilkan program ekonomi liar yang berorientasi pada manfaat hasil materi / uang. Segala cara bisa dikomersialisasikan untuk mendapatkan uang hingga mengorbankan aspek sosial dan masa depan generasi mendatang seperti eksploitasi sexual, perdagangan materi porno seperti majalah, VCD, telepon mesra, obat/alat sex dll semuanya dijajankan secara terbuka atau terselubung yang pada hakekannya semua orang pada tahu bahwa hal itu ada namun berdiam diri. Akibatnya lama kelamaan semua itu dianggap sebagai hal yang wajar wajar saja oleh masyarakat kini. Ini juga yang menyebabkan semakin lemahnya kontrol sosial masyarakat terhadap hal hal tersebut.

Aqidah sekuler juga menimbulkan ironi, disaat masyarakat cuek terhadap lingkungan serta membiarkan terjadinya pelacuran mereka juga menolak adanya pelacur disekitar mereka bahkan mengata-ngatai mereka dengan sampah masyarakat dan lain lain sehingga akhirnya para PSK tidak ada yang mau kembali ke kampung masing masing sebab tidak kuat menerima cemoohan dari lingkungannya biarpun pada awalnya mereka ingin memperbaiki diri.

Karenanya penyelesaian masalah lokalisasi bukanlah hal yang sederhana. Bila tidak dimulai dari pembenahan paling mendasar yaitu permasalahan aqidah dan sistem, maka setiap kali penutupan pasti akan menghasilkan kekuatiran serta resistensi dari masyarakat plus akan sekedar memindahkan tempat pelacuran ke tempat yang lainnya saja sehingga masalah itu sendiri tidak pernah habis.

Solusi cepat jangka pendek memang adalah dengan jalan membubarkan lokalisasi km17 dengan segera serta mendata PSK dan mengontrol masing masing untuk memastikan mereka tidak melakukan kegiatan haramnya itu lagi ditempat. Dalam waktu yang sama PSK yang belum diberi ketrampilan bekerja tetap harus dididik untuk mendapatkan ketrampilan kerja dan dipastikan pula tetangga dan saudara-saudaranya menerima serta membantu kehidupannya mereka selama belum mendapat pekerjaan. Sementara yang sudah mendapat pelatihan tidak perlu dilatih lagi karena masih banyak anggota masyarakat selain PSK yang memerlukan pelatihan kerja.

Solusi jangka menengah adalah dengan memperbaiki aqidah masyarakat dengan jalan dakwah. Pemerintah sebagai ultimate instrument harus terdepan untuk memperbaiki aqidah masyarakat dengan melibatkan ulama, bukan sebaliknya yaitu ulama yang aktif melibatkan pemerintah, sementara pemerintahnya yang pasif. Hal ini karena pada dasarnya tanggung jawab perbaikan masyarakat itu ada pada tangan pemerintah. Ulama hanya bergerak pada scope yang terbatas karena kemampuan dan jangkauan kekuasaannya yang terbatas pula.

Pemerintah harus tampil terdepan untuk memberantas kemungkaran serta menjadi contoh dalam memberantas kemungkaran. Oknum yang mencontohkan atau bahkan melindungi kemungkaran harus dihukum seberat beratnya. Demikian juga pemerintah harus menginstruksikan para ulama untuk menyampaikan kepada masyarakat pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar serta menyampaikan pentingnya sinergi pemerintah ulama dan masyarakat dalam memberantas kemungkaran. Bukan rahasia lagi bila masih banyak ulama yang takut untuk bernahi mungkar terutama untuk mengecam instansi atau oknum sebab barangkali masih terbayang periode orde baru yang mengekang kebebasan berbicara terutama kepada para ulama dan aktivis islam yang selalu dianggap musuh pembangunan.

Terakhir pemerintah juga harus mulai menginisiatif untuk menggantikan sistem kapitalis menjadi sistem islam menggantikan sistem kapitalis yang berlaku saat ini. Sistem kapitalis telah terlihat kegagalannya dalam menciptakan kesempatan ekonomi yang adil dan pemerataan hasil ekonomi karena sistem kapitalis hanya menciptakan kelangkaan modal sehingga menyebabkan kelangkaan kerja dan berakhir pada kemiskinan massal. Akibatnya sebagian anggota masyarakat banyak yang lemah imannya terpaksa mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk dengan cara melacurkan diri.

Sistem Islam adalah solusi yang telah disiapkan oleh Allah SWT untuk kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan di akhirat. Sistem itu pernah ada dan berlangsung selama 13 abad, terbukti keampuahannya dalam mendatangkan ketentraman meski akhirnya runtuh karena rongrongan dan tipudaya yahudi dan kapitalis borjuis yang pada akhirnya justru memiskinkan seluruh dunia dan menumpukkan 80% kekayaan dunia pada 10% manusia sedang 90% lainnya harus memperebutkan sisa 20% kekayaan dunia.

Tanpa itu semua maka penutupan lokalisasi hanya menjadi kegiatan sulam yang makin lama justru makin besar sulamannya dan bisa jadi suatu saat akan dianggap sebagai kemestian dan menjadi kebutuhan umum sehingga tidak perlu lagi diganggu gugat keberadaannya. Apa itu yang kita mau ?

Wassalam
M.Nugroho

Posted in krisis ekonomi, pornografi, social illness | 2 Comments »

Saatnya Caleg Ulama Menjadi Politisi Sesungguhnya

Posted by dnux on April 13, 2009

Pemilu 2009 belum juga usai penghitungannya, namun di beberapa tempat telah beredar berita munculnya caleg yang stress karena jumlah suara tidak mencapai target yang diharapnkan. Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Jiwa dan juga tempat pengobatan alternatif pun jauh hari telah bersiap diri menerima order dari keluarga caleg sebelum caleg tersebut bertambah parah stressnya atau mencegah si caleg mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri akibat tidak kuat menanggung resiko moril ataupun resiko materiil dari kekalahan tersebut.
Penyebab stress caleg bisa terjadi bila si caleg terlalu PD dan gagal mencapai target terutama bila niatnya hanya menjadikan DPR sebagai ajang permak image dan penghasilan alias memperjuangkan egonya semata melalui dana kampanye yang sangat besar sebagai ajang pertaruhan. Bila seperti ini bagaimana diharapkan menyisihkan egonya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tentu dia akan lebih memilih egonya daripada suara masyarakat yang katanya diwakilinya.
Munculnya caleg – caleg stress tersebut sebenarnya menunjukkan kepada kita betapa banyaknya caleg yang sebenarnya memang tidak pantas menjadi anggota legislatif karena tidak memiliki mental yang kuat yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang negarawan. Seorang negarawan haruslah pejuang. Seorang pejuang harusnya memiliki mental tanding yang kuat, bukan mental tempe walau tidak terpilih dalam pemilu legistlatif.
Caleg stress juga menunjukkan mereka bukan caleg yang ideologis atau mungkin malah tidak memiliki ideologi tertentu selain sekedar klaim saja. Caleg yang ideologis memiliki semangat luar biasa didorong keyakinan kebenarnan ideologinya. Mereka tidak akan pernah berhenti berjuang karena hanya gagal menjadi anggota legislatif. Dia akan tetap memperjuangkan ideologi dan kepentingan politiknya baik di dalam atau di luar parlemen karena dia yakin bahwa hanya ideologi nya yang layak diperjuangkan dan diterapkan di masyarakat dan menjadi pijakan peraturan perundang undangan.
Demikian juga bagi ulama yang pada saat ini juga banyak mengikuti ajang pemilu caleg, maka banyak yang menyambut mereka karena sesungguhnya umat  sudah sejak lama umat juga rindu munculnya ulama politisi yang lantang dalam menegakkan Islam atau beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap kebijakan kebijakan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Syariat Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin. Undang undang yang tidak sesuai dengan syariat Islam meski tampak baik dzohirnya atau menawarkan solusi cerdas untuk waktu sesaat, namun sesungguhnya solusi diluar Islam adalah virus yang sewaktu waktu merusak tubuh dan jiwa masyarakat dalam entah dalam rentang waktu menengah atau dalam waktu panjang.
Barangkali sebenarnya ulama juga banyak beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap pemerintah daerah dan mungkin seringkali disampaikan dalam pengajian umum atau bahkan bisa jadi dalam mimbar jumat. Aktivitas tersebut sebenarnya juga adalah politik dan mereka sebenarnya telah menjadi politisi, namun tidak disadari. Hanya saja aktiitas politik mereka hanya bersifat fire fighting saja. Pemadam kebakaran terhadap realitas yang telah terjadi. Bukan bersifat mengendalikan sebagaimana makna term politik itu sendiri, yaitu untuk mengatur/mengendalikan urusan umat (riayatus su’unil umat)
Aktivitas politik yang benar adalah memandang realitas politik dan keterkaitan realitas tersebut dengan kepentingan kepentingan ideologis dibelakangnya. Dengan kata lain, ulama politisi harus selalu memandang realitas berdasarkan sudut pandang ideologis terhadap sesuatu yang bakal terjadi menimpa masyarakat. Diataranaya adalah selalu mengkritisi draft undang undang, peraturan daerah dan lain lain yang sekiranya akan membahayakan umat sebab tidak sesuai dengan syariat Islam.
Lebih dari itu, aktivitas politik tingkat tinggi ulama politisi adalah dengan mengarahkan masyarakat untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam. Menyadarkan umat bahaya dunia akhirat bila tidak menerapkan sistem Islam. Menggambarkan kepada mereka tatanan sistem Islam yang adil dan mensejahterakan serta membongkar kejahatan sistem demokrasi yang sekian lama mmbuat mereka terdzolimi, terambil hak hak dasarnya dan menjauhkan mereka dari kehidupan yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Kita patut berkaca pada Imam Ghozali yang dalam uzlahnya “menjadi oposisi pemerintah” dengan tidak mendukung Madarasan Nidzamiyah yang dicapnya hanya menjadi setempel kedzaliman penguasa. Beliau juga mengeluarkan kitab Nashihatil Mulk yang berisi kritik + nashihat kepada pemerintah & jajarannya. Demikian juga yang dilakukan para sahabat dan para tabi’in dalam mengotrol menasehati penguasa agar tetap berjalan pada sistem Islam. Kita tidak perlu menjadi oposisi, karena mu’min adalah bersaudara. Kewajiban kita adalah untuk saling menasehati. Meluruskan bila ada kekeliruan dari saudara kita.
Jadi, caleg ulama yang gagal terpilih seharusnya tidak berhenti karir politiknya karena tidak jadi duduk di DPR. Bahkan ini adalah saat yang tepat untuk menjadi politisi sesungguhya, yang senantiasa aktif mengontrol dan mengoreksi penguasa (termasuk juga anggota DPR) agar berjalan sesuai dengan syariat Islam, baik terhadap undang undang yang telah disahkan atau yang sedang diusulkan.
Itulah sikap ulama sejati pewaris nabi. Menjadi politisi untuk melindungi umat dari kedzoliman sistem dan undang undang yang tidak adil. Hanya undang undanga yang keluar dari aqidah dan syariah Islam lah yang pasti memberi keadilan dan memberi kesejahteraan pada masyarakat, bukan demokrasi.
Wassalam
Dwi Nugroho

Posted in pandangan politik, pencerahan, social illness | Leave a Comment »

pada pukul setengah dua

Posted by dnux on March 27, 2009

Yang kupuja tak bosannya menantiku tuk berjumpa
di setiap kurang lebih pada pukul setengah dua
namun detak jam dinding selalu menahanku di sofa
menyuruhku bersabar menanti akhir kisah telesinema
kadang membisikiku untuk tidak tertipu score sementara
sementara dzikirku telah terparkir dan terperkur di ranjang
bersama suara jengkerik yang menyendiri di basah ilalang
bertasbih dalam irama yang teratur nan panjang
hingga rekah pagi datang menjelang ..

Posted in pencerahan, puisi | Leave a Comment »

tafakur dalam pekikan

Posted by dnux on February 25, 2009

lembut irama yang kalian sebut itu memekikkan
adalah kerinduan sepotong lidah kelu yang tak pandai bicara
Hanya bisa menitipkan pesan dan jeritan
pada resonansi dawai yang dipetik jari jari lentik
tersembunyi dibalik bingar dentaman ujung stick
pada akhir bait syair yang ujungnya segera diuntaikan
tepat bersama sebuah kongklusi perenungan
bahwa fana itu ternyata masih tetap berada di ujung kehampaan
gambarannya pun semakin memburam
terus berlari dari kekang yang kujulurkan

Burung putih bermata hijau yang paruhnya pernah mencoba mengetuk pintu ta’bir,
bertengger gelisah memegang cermin dan dia bercerita
bahwa tali ku tak layak tuk dihadiahkan sebagai bukti tanda kesetiaan
karena tali itu toh sudah terbukti tak mampu meredam
ambisiku dan juga hasrat nafsu atau sekedar keinginan,
yang tertantang saat bayang kalian datang menyapa,
yang entah mengapa begitu enggan kucampakkan
atau bahkan enggan walau sekedar untuk diabaikan
menjadi hantu siang malam, menderu deru
menarikku dari cahaya yang memanggil dan menyeru syahdu

gontai lunglai lututku tersimpuh terlelah
tak mau berhenti dan tetap merangkak menuruskan langkah
sementara burung putih bermata hijau itu terbang pergi membawa cermin hati
yang kutahu dia pasti akan kembali, untuk kemudian mentertawakanku lagi ..

Pergilah bayang,
biarkan aku bertafakur sendirian, sesaat saja ..
tenggelam dalam nada yang menyejukkan pikiran dan perasaan.
di lembut irama yang kalian sebut itu memekikkan ..

Posted in puisi | Leave a Comment »

Saat untuk Menuntut Qishosh pada Zionis Israel & Amerika

Posted by dnux on January 23, 2009

Sangat menarik bila ditinjau bahwa  penarikan tentara Israel dari jalur Gaza terjadi menjelang menjelang pengangakatan Obama menjadi presiden AS menggantikan GW Bush Jr. Setidaknya momen itu mengurangi kritikan kepada AS yang selalu membela setiap tindakan Zionis Israel. Obama mun menunjukkan muka manis AS kepada dunia Islam dengan menandatangani penutupan penjara  Guantanamao serta dukungannya terhadap pembentukan negara Palestina.

Pengangkatan Obama sebagai presiden AS yang baru memang memberi harapan bagi dunia bagi perubahan politik luar negeri AS yang haus darah demi nafsu kapitalismenya. Dan begitu mudah pula sebagian orang di negeri ini berharap banyak kepada Obama semata mata karena dia seorang yang lahir dari seorang Ayah yang muslim dan pernah tinggal di Indonesia sehingga dianggap lebih memahami dan lebih bijak menghadapi Indonesia dan menghadapi dunia Islam.

Hal ini tentu sangat absurd. Karena lama tidaknya seseorang tinggal di Indonesia tidak menjamin dia mengerti akan keinginan dan harapan masyarakat Indonesia. Andaikan mengerti pun, belum tentu juga bisa berbuat untuk mengatasi penderitaan bangsa. justru bisa jadi knowledge tersebut malah dia jadikan untuk membuat strategi menundukkan dan mengexploitasi bangsa Indonesia, seperti yang dilakukan VOC pada jaman dahulu yaitu melakukan devide et impera, atau yang dilakukan Snouck Hurgronje di Padri, ataupun trick trick busuk yang dilakukan pengusaha/pejabat/birokrat untuk berkolusi menipu rakyat pada masa sekarang karena nafsu duniawinya.

Sebenarnya perubahan yang terjadi pada politik Amerika setelah pelantikan Obama sama sekali bukan karena faktor Obama yang pernah tinggal di Menteng, tapi lebih karena realita yang Amerika hadapi bahwa mereka tengah di pintu kebangkrutan ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya. Dari sisi ekonomi Amerika memiliki hutang $53 trillion ( Rp200 juta/orang) dan dari krisis finansial yang per 1 Jan 2009 saja telah membangkrutkan Amerika sebesar $6.9 trillion. Dari sisi politik militer, Amerika tidak mampu lagi memperpanjang atau sekedar mempertahankan pasukannya di Iraq atau Afghatnistan. Demikian juga amerika memiliki masalah sisi sosial budaya yang sangat parah dan mengkhawatirkan kelangsungan entitasnya sebagai sebuah bangsa.

Karenanya, sekarang bukan waktunya untuk takut lagi kepada Amerika. Sekarang adalam momentum tepat dimana dunia Islam harus bangkit menegakkan kepalanya menantang Amerika yang sakit parah. Sebagaimana bangsa Eropa pada abad 19 mulai berani menegakkan kepala menantang Khilafah Turki Utsmani pada PD I karena melihat Turki mulai banyak hutang dan memiliki masalah internal yang sangat parah akibat digerogoti virus-virus kesukuan dan nasionalisme yang ditanamkan barat ke tubuh dunia Islam

Israel pun bukan apa apa. Tank Merkava-4 sebagai tank generasi ke-4 yang sering digembar-gemborkan sebagai tank kebanggaan militer Israel, karena memiliki perlindungan paling canggih di dunia pun ternyata remuk dihajar bom jenis ‘Shawaz 4’ oleh pejuang dari Al-Qosam. Hanya karena adanya penguasa penguasa yang khianat saja maka negeri Islam tidak bisa berniat dan bersatu melenyapkan Israel dari bumi Syam. Tidak cukupkah tentara dari dunia Islam di Timteng yang jumlahnya 68x kali lebih banyak dari Israel ? Tidak cukupkah jumlah senjata termasuk pesawat dll yang totalnya 18x lebih banyak dari yang dimiliki Israel ? Yang diperlukan hanya Iman dan keberanian meningalkan persahabatan dengan Amerika dan Israel.

Pada saatnya umat akan bersatu dan menegakakan kembali Daulah Khilafah beserta supremasinya, yang akan menuntut Qishos kepada Zionis Israel terhadap pembunuhan pembunuhan yang mereka lakukan kepada warga Palestina sebagaimana yang akan dilakukan untuk menuntut Amerika terhadap kerusakan yang mereka timbulkan di muka bumi ini. Jangan takut. Allah SWT bersama kita.

Wassalam.
Dnux

Posted in pandangan politik | Leave a Comment »

Muhasabah : Mari Berhijrah dengan Serius

Posted by dnux on December 28, 2008

Genap 30 tahun kita melewati gerbang abad 15 H, suatu abad yang dahulu didengungkan oleh para ulama, pemikir, tokoh di seluruh dunia islam sebagai abad kebangkitan Islam, namun hingga kini umat Islam masih terjajah secara politik, sosial, ekonomi, budaya, militer dan lain sebagainya. Hijrah menuju keadaan yang lebih baik seakan masih jauh dari jangkauan ketika yang terjadi justru semakin banyaknya penguasa komprador yang ikhlas mengekor langkah Barat bahkan di Timur Tengah sendiri.

Hijrah menuju masyarakat Islami juga masih jauh tergambar di Indonesia. Meski pada era 90- gelora kebangkitan Islam mulai nampak di dunia politik sosial budaya, namun Islam masih tetap dianggap sebagai hantu ideologis yang harus diusir dari dunia nyata. Hal itu terlihat jelas dari sikap alergi para praktisi politik, ekonomi, sosial, hukum, pemerintahan dan keamanan untuk membicarakan kembali Piagam Jakarta ataupun isu Syariat Islam bagi Indonesia .

Sikap tersebut juga masih tampak di kalangan aktivis Islam itu sendiri. Meski telah 10 tahun umat Islam terlepas dari pemerintahan Orba yang represif terhadap Islam, namun belum banyak yang berani menyodorkan Islam sebagai solusi kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberanian baru nampak ketika ada  isu terkait masalah aqidah (kristenisasi, nabi palsu dll) atau terkait isu penyakit sosial kambuhan (judi, miras, pelacuran dll). Jarang sekali aktivis baik itu ulama atau tokoh ormas Islam yang mengkritik undang undang sekuler kapitalis, yang justru merupakan biang terjadinya seluruh penyakit aqidah, akhlaq, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan lain lain.

Imam Ahmad bin Hambal senantiasa berkata “Jika seorang alim menjawab dengan takut sehingga orang bodoh bertambah bodoh, lalu kapan kebenaran akan tampak”.  Puluhan tahun  beliau sabar menerima cercaan, pukulan ataupun deraan untuk menentang penguasa yang memaksakan pendapat AlQuran adalah makhluq. Akhirnya pertolongan dari Allah SWT datang, khalifah berikutnya (Mutawakkil 234H) melarang beredarnya pendapat sesat tersebut di seluruh negeri. Pertolongan itu insyaAllah juga karena adanya suara lantang dari para hamba Allah yang ikhlas yang tegas menyampaikan kalimat haq didepan penguasa dzolim walau nyawa taruhannya.

Saat ini kita butuh tokoh yang mau menyuarakan kebenaran. Tokoh yang mau melantangkan ajakan untuk hijrah ke dalam sistem Islam secara kaffah. Hijrah dari sekulerisme/kapitalisme yang merusak dan menghancurkan setiap sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat Islam mendambakan syariat Islam sebagai sistem yang diyakini mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan duni akhirat. Menurut jajak pendapat dari SEM Institute tahun 2008, 72% masyarakat di Indonesia setuju dengan penerapan Syariat Islam dalam kancah bernegara. Survey yang sama di hasilkan oleh Roy Morgan Research (Juni 2008)  mengatakan  52 persen rakyat Indonesia menuntut Penerapan Syariah Islam. Survei dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah pun menunjukkah bahwa 75 masyarakat Indonesia setuju bahwa  pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia .

Kapan kita serius untuk hijrah dari kapitalisme menuju sistem Islam ? Padahal semuanya telah mengetahui akan keharaman dan kemudhorotan sistem kapitalisme yang bertumpu pada ekonomi ribawi dan spekulatif,  penggunaan fiat money,  bursa saham serta privatisasi kekayaan publik. Sistem cacat buatan manusia itu juga jelas jelas selalu menciptakan krisis ekonomi setiap 10 tahun-nya yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak pernah lepas dari kemiskinan dan penderitaan sosial.  Dan Tahun 2009 akan semakin banyak perusahaan colaps, puluhan ribu atau jutaaan orang akan kehilangan pekerjaan dan jumlah kriminalitas dan penyakit sosial lainnya pun akan meningkat menyusul krisis global tahun 2008 ini.

Kita harus berhenti berteori tentang kemuliaan 1 Muharram, saatnya untuk mewujudkan hijrah yang serius sebagaimana hijrahnya nabi dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Dari peradaban jahiliah menuju peradaban yang rahmatan lil ’alamin. Kita harus menunjukkan dengan dada terbuka kemauan dan tekad kita untuk berhijrah sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat turun ke jalan berbaris dalam 2 shaf mengelilingi ka`bah dengan meneriakkan takbir berulang ulang sehingga terbuka mata dzohir dan mata batin masyarakat Makkah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat sungguh serius hendak mewujudkan peradaban baru yang akan menggusur peradaban jahiliah mereka.

Rasulullah SAW, para sahabat, para tabiin dan juga para imam madzab tidak pernah gentar menyuarakan kebenaran walau kebenaran yang disuarakan itu menentang aturan normatif ataupun hukum positif yang berlaku ditengah masyarakat. Mereka tidak pernah peduli akan hal itu semua. Kitapun harus bersikap demikian. Kita harus memaparkan sistem Islam sedetail detailnya kepada masyarakat tanpa menutup nutupi sebagian kecil apalagi sebagian besarnya dengan alasan hal itu tidak sesuai dengan aturan normatif atau hukum positif negeri ini. Itu semua harus kita lakukan, kalau memang benar kita serius untuk berhijrah dari sistem kapitalisme ini, bukan sekedar berfantasi saja.
Wassalam. Muhammad Nugroho

Posted in aqidah, krisis ekonomi, pencerahan, pribadi mulia | Leave a Comment »