Dalam berbagai training atau buku2 motivasi, teori maslow hampir selalu mendapat tempat khususnya untuk menerangkan segi “motivasi tertinggi” yang ingin dicapai manusia yaitu “meng-aktualisasi diri”. Gini loh hierarchy-nya :

Sebagian pakar menganggap teori ini bertentangan dengan prinsip spiritualitas manusia. Teori maslow seakan akan menganggap bahwa manusia digerakkan oleh kepentingan pemenuhan kebutuhan jasmani dahulu dan berhenti pada taraf self actualization. Bahkan ada yang menganggap Maslow tidak memasukkan unsur agama dalam teori motivasinya
Barangkali memang benar, namun sedikit sekali orang memahami bahwa menurut
Maslow :
pengalaman spiritual adalah peak experience, plateau – the farthest reaches of human nature. Pengalaman spiritual adalah puncak tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia serta merupakan peneguhan dari keberadaannya sebagai makhluk spiritual. Pengalaman spiritual merupakan kebutuhan tertinggi manusia. Bahkan Maslow menyatakan bahwa pengalaman spiritual telah melewati hierarki kebutuhan manusia, going beyond humanness, identity, self-actualization, and the like.”
Jadi sebenarnya bukan Maslow nggak care dengan masalah spiritualitas. Care kok, cuman sangat telat … Masyarakat sudah kadung tercantol pada hierarchy needs yang lama sejak Maslow memperkenalkan itu dalam buku : A Theory of Human Motivation, tahun 1943. Sedangkan masalah peak experience itu sendiri baru dibahas ditahun 60-an (Maslow meninggal tahun 1970).
Wallohu a’lam, bisa jadi Maslow baru menulis teori Peak Experience (spriritual needs) itu ketika sudah masuk usia senja, pada saat saat sudah saatnya untuk lebih dekat dengan penciptanya lagi alias sudah mendekati waktu untuk kembali kepada-Nya.
Apalah itu, hingga sekarang yang jelas orang masih terpaku pada teori maslow tahun 43 itu — yang puncak needsnya adalah self actualization — dan belum terupdate dengan masalah peak experience.
Sebenarnya dari sisi “hierarchy of needs”, teori Maslow itu benar. Setiap tahapan needs memang dibutuhkan untuk menanjak ke tahap needs berikutnya. Namun kenyataanya, bisa saja seseorang itu “loncat level”. Misalkan, seorang musisi atau aktivis dakwah bisa langsung loncat ke level “self-actualization” tanpa harus menapaki tahapan “self-esteem” dahulu, karena memang dia tidak butuh needs self esteem dari orang lain untuk melakukan self actualizationnya (bernyanyi atau berdakwah). Meski — pada kenyataanya juga — yang membuat sukses itu sempurna dan everlasting adalah apabila needs pada semua tahapan dibawahnya telah terpenuhi. Dan tentu saja ukuran penuh atau tidaknya pemenuhan needs itu berbeda kualitas dan kuantitas nya pada tiap tiap orang.
Kesalahan teori Maslow itu adalah apabila “menjadikan needs sebagai sumber motivasi“. Padahal needs itu sendiri tidak harus sama dengan motivasi. Contohnya, seseorang yang needsnya berada pada self esteem bisa saja motivasi memenuhi needsnya masih semata untuk mendapatkan basic needs (makan, rumah, dll). Bila demikian, maka teori Maslow memang salah fatal dalam menerangkan motivasi perbuatan manusia, sebab mencampur adukkan antara needs To Have dengan To Be. Alias, adalah kesalahan manakala menjadikan hierarchy of needs Maslow sebagai hiearchy of motivation.
Bahkan sebenarnya apabila kita mencermati teori maslow — termasuk peak experience — sekalipun, maka disitu terdapat kesalahan fatal dalam menempatkan spiritual needs sebagai puncak kebutuhan. Karena sesungguhnya Spiritual Needs itu bukanlah puncak kebutuhan, bukan level akhir dari needs, dan juga bukan bawah dari needs. Spiritual Needs selalu bebarengan dengan proses pemenuhan needs itu sendiri untuk memberikan suasana ruhani bagi manusia dalam menjalankan setiap aktivitasnya, baik dari pemenuhan basic needs ataupun hingga melakukan self actualization.
Bagaimana maksud spiritual needs itu bebarengan dengan needs yang lain ? Contohnya adalah sebagaimana sabda Nabi SAW ketika menerangkan bahwa menggauli istri juga termasuk sedekah (dan mendapat nilai pahala). Artinya, dalam Islam semua perbuatan pemenuhan kebutuhan fisik selama dilandasi oleh aqidah Islam dan dilakukan dalam koridor syara’ maka aktivitas fisik itu otomatis bernilai spiritual juga.
Dengan kata lain, kita bisa juga setuju dengan teori Maslow, dengan syarat : meletakkan motivasi spiritual sebagai pengiring/pendamping setiap jenjang aktivitas pemenuhan needs, bukan diatasnya atau bukan pula dibawahnya.