Something inside my minds

Kegamangan Spiritual Teori Maslow

Posted by dnux on April 18, 2007

Dalam berbagai training atau buku2 motivasi, teori maslow hampir selalu mendapat tempat khususnya untuk menerangkan segi “motivasi tertinggi” yang ingin dicapai manusia yaitu “meng-aktualisasi diri”. Gini loh hierarchy-nya :

maslow_hierarchy.gif

Sebagian pakar menganggap teori ini bertentangan dengan prinsip spiritualitas manusia. Teori maslow seakan akan menganggap bahwa manusia digerakkan oleh kepentingan pemenuhan kebutuhan jasmani dahulu dan berhenti pada taraf self actualization. Bahkan ada yang menganggap Maslow tidak memasukkan unsur agama dalam teori motivasinya

Barangkali memang benar, namun sedikit sekali orang memahami bahwa menurut
Maslow :

pengalaman spiritual adalah peak experience, plateau – the farthest reaches of human nature. Pengalaman spiritual adalah puncak tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia serta merupakan peneguhan dari keberadaannya sebagai makhluk spiritual. Pengalaman spiritual merupakan kebutuhan tertinggi manusia. Bahkan Maslow menyatakan bahwa pengalaman spiritual telah melewati hierarki kebutuhan manusia, going beyond humanness, identity, self-actualization, and the like.”

Jadi sebenarnya bukan Maslow nggak care dengan masalah spiritualitas. Care kok, cuman sangat telat … Masyarakat sudah kadung tercantol pada hierarchy needs yang lama sejak Maslow memperkenalkan itu dalam buku : A Theory of Human Motivation, tahun 1943. Sedangkan masalah peak experience itu sendiri baru dibahas ditahun 60-an (Maslow meninggal tahun 1970).

Wallohu a’lam, bisa jadi Maslow baru menulis teori Peak Experience (spriritual needs) itu ketika sudah masuk usia senja, pada saat saat sudah saatnya untuk lebih dekat dengan penciptanya lagi alias sudah mendekati waktu untuk kembali kepada-Nya.

Apalah itu, hingga sekarang yang jelas orang masih terpaku pada teori maslow tahun 43 itu — yang puncak needsnya adalah self actualization — dan belum terupdate dengan masalah peak experience.

Sebenarnya dari sisi “hierarchy of needs”, teori Maslow itu benar. Setiap tahapan needs memang dibutuhkan untuk menanjak ke tahap needs berikutnya. Namun kenyataanya, bisa saja seseorang itu “loncat level”. Misalkan, seorang musisi atau aktivis dakwah bisa langsung loncat ke level “self-actualization” tanpa harus menapaki tahapan “self-esteem” dahulu, karena memang dia tidak butuh needs self esteem dari orang lain untuk melakukan self actualizationnya (bernyanyi atau berdakwah). Meski — pada kenyataanya juga — yang membuat sukses itu sempurna dan everlasting adalah apabila needs pada semua tahapan dibawahnya telah terpenuhi. Dan tentu saja ukuran penuh atau tidaknya pemenuhan needs itu berbeda kualitas dan kuantitas nya pada tiap tiap orang.

Kesalahan teori Maslow itu adalah apabila “menjadikan needs sebagai sumber motivasi“. Padahal needs itu sendiri tidak harus sama dengan motivasi. Contohnya, seseorang yang needsnya berada pada self esteem bisa saja motivasi memenuhi needsnya masih semata untuk mendapatkan basic needs (makan, rumah, dll). Bila demikian, maka teori Maslow memang salah fatal dalam menerangkan motivasi perbuatan manusia, sebab mencampur adukkan antara needs To Have dengan To Be. Alias, adalah kesalahan manakala menjadikan hierarchy of needs Maslow sebagai hiearchy of motivation.

Bahkan sebenarnya apabila kita mencermati teori maslow — termasuk peak experience — sekalipun, maka disitu terdapat kesalahan fatal dalam menempatkan spiritual needs sebagai puncak kebutuhan. Karena sesungguhnya Spiritual Needs itu bukanlah puncak kebutuhan, bukan level akhir dari needs, dan juga bukan bawah dari needs. Spiritual Needs selalu bebarengan dengan proses pemenuhan needs itu sendiri untuk memberikan suasana ruhani bagi manusia dalam menjalankan setiap aktivitasnya, baik dari pemenuhan basic needs ataupun hingga melakukan self actualization.

Bagaimana maksud spiritual needs itu bebarengan dengan needs yang lain ? Contohnya adalah sebagaimana sabda Nabi SAW ketika menerangkan bahwa menggauli istri juga termasuk sedekah (dan mendapat nilai pahala). Artinya, dalam Islam semua perbuatan pemenuhan kebutuhan fisik selama dilandasi oleh aqidah Islam dan dilakukan dalam koridor syara’ maka aktivitas fisik itu otomatis bernilai spiritual juga.

Dengan kata lain, kita bisa juga setuju dengan teori Maslow, dengan syarat : meletakkan motivasi spiritual sebagai pengiring/pendamping setiap jenjang aktivitas pemenuhan needs, bukan diatasnya atau bukan pula dibawahnya.

 

update 6 April 2011 :

Maslow : Religious Aspects of Peak-Experiences. Personality and Religion
bisa didapatkan disini : http://www.nostrajewellery.org/files/Abraham-H.-Maslow-Religions,-Values-and-Peak-Experiences.pdf
atau yang versi online : http://www.druglibrary.org/schaffer/lsd/maslow.htm

11 Responses to “Kegamangan Spiritual Teori Maslow”

  1. c1p said

    saya kira seperti itulah yang mendekati ideal…yang juga coba menekankan pemikiran maslow tentang pandangan holistik dalam memahami manusia….

  2. puput said

    menirut saya memang peak experience, adalah suatu kebutuhan spiritual tetapi bedanya peak expeience lebih mengarah sesuatu yang benar-benar menjadi pengalaman yang belum ditemukan sebelumnya, contohnya mendapat hidayah untuk memakai jilbab.. bgtu,, trims……

  3. edy purnomo said

    Teori Maslow ada benarnya, itu khan hanya teori yang pernah ia pelajari yang ada dalam dirinya, namun islam sebenarnya lebih dari itu. hanya kita orang islam nggak mau mendalami apa yang kita punyai yaitu ajaran islam dan kita tidak mau merasakan dan melihat ke diri kita. sehingga kita kebingungan dalam menghadapi berbagai problema dunia ini.

  4. dnux said

    saya setuju dengan saudara Edy ..
    Teori Maslow memang sangat baik untuk menggambarkan hierarchy needs, sehingga kita tahu bahwa dalam diri manusia itu ada satu needs tertinggi yaitu Self Actualization .. dan siapapun yang bergerak di bidang keorganisasian atau orang2 HR harus melihat hal ini untuk memotivasi karyawan agar mampu berbuat lebih dari target minimal ..

  5. ruddy said

    bagaimana kalau anda meninjau dari sudut pandang agama lain? tentunya pandangan tiap-tiap agama juga berbeda bukan?

  6. dnux said

    agama adalah prinsip solusi, sementara fakta dan problemanya itu berdiri sendiri.

    tinggal dilihat kira2 agama mana yang bisa memberikan solusi paling tepat dan memuaskan untuk mengatasi fakta dan problema tersebut, dan sudah pastilah itu Islam.

    penggambaran maslow adalah penggambaran manusia dan problema memotivasi manusia .. penggambaran ini harusnya bersifat universal. Namun ternyata ada realita sekaligus kongklusi yang ketinggalan, yaitu bahwa dalam pembuatannya si Maslow tidak memasukkan unsur ruhani, karena bisa jadi pemahaman sekulernya berusaha menjauhkan diri dari pembahasan unsur ruhani pada penggambaran manusia apalagi solusinya

  7. Noor said

    ga usah ngomongin kesalahan Maslow lah, yang penting sekarang adalah bagaimana kita bisa merevisi teori tersebut secara benar. saya pikir orang Islam bukannya tidak mau mempelajari fenomena2 hidup, coz…saya kira banyak kok orang Islam yang kemampuan intelektualnya diatas rata2. hanya tidak tau dari pintu yang mana ia harus masuk. demikian…

  8. dnux said

    tidak ada yang salah dan benar dalam teori motivasi, karena sifatnya hanya pendekatan atas pengamatan saja. tulisan saya sekedar menyampaikan fakta bahwa rupanya teori maslow itu sebagaimana menurut maslow sendiri musti dilengkapi dengan motivasi ruhiyah yang baru disadarinya akhir2 usianya.

    yang harus disetujui adalah bahwa kita harus menempatkan ridho Allah SWT sebagai puncak dari motivasi, karena dialah yang kekal dan absolut sedangkan selainNya adalah fana dan relatif.

  9. Akhina said

    banyak orang yang salah menempatkan pandangan, kalu secara duniawi Hirarki ini boleh dijadikan pengetahuan, tapi kalau di adopsi sangat tidak relevan. Karena dalam hirarki ini sangat jelas baha tujuan tertinggi adalah immateri yang cenderung kearah kebanggaan diri sebagai aktualisasinya di tengah lingkungannya.
    Berbeda sekali dengan konsep Islam, yang mana Islam mengajarkan keikhlasan dan immateri yang berorientasi bukan dari ukuran diri sendiri atau manusia pada umumnya. Alhasil konsep pencapaian yang tidak berorientasi pada materi akan lebih ideal dan kekal sepanjang generasi bahkan hingga generasi berikutnya.

  10. buku apa ya yang membahas tentang peak experience nya maslow ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 952 other followers

%d bloggers like this: