Hukum Membaca Basmallah dalam Sholat
Posted by dnux on April 19, 2007
Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ragam pendapat fuqohaa dalam hal ini :
- Madzhab Maliky : Menahan dari membaca basmallah dalam sholat, baik di Al-Fatihah atau di surat surat yang lain sebab itu bukan bagian dari Al-Quran
- Madzhab Abu Hanifah : dibaca sir pada Al-Fatihah di tiap tiap rokaat dan sunnah untuk membacanya pada tiap surat yang lain
- Madzhab Syafi’y: membaca basmallah adalah wajib, dibaca jahr waktu sholat jahr, dan dibaca sir waktu sholat sir, dan juga pada tiap tiap surat
- Madzab Hambaly : dibaca sir dan tidak sunnah men-jahr-kannya.
Agar tidak heran mengapa kok sampai ada perbedaan pendapat itu, maka perlu saya sampaikan”bahkan para ulama-pun berbeda pendapat apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari Al-Fatihah atau bukan”. Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatil Ahkam menjelaskan perbedaan pandangan ini :
- Madzhab Syafi’y : bagian dari Al-Fatihah dan juga bagian dari semua surat surat yang lain
- Madzhab Maliky : bukan ayat dari Al-Fatihah ataupun dari surat surat yang lain di AlQuran
- Madzhab Hanafy : adalah ayat dari Al-Quran dan diturunkan terpisah dari tiap surat di Al-Quran dan juga bukan bagian dari Al-Fatihah
Untuk pembahasan ini, saya merujuk pada Kitab Subulus Salam karya Imam Shon’aany (terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah – Libanon, 2004) khususnya di halaman 174-175 yang dua masalah ini.
Mengenai apakah bismillahirrahmanirrahim itu dibaca jahr/sir atau tidak :
Dalam penjelasan hadits no 270/15, Imam Shon’aany menerangkan Imam Nasa’y berpendapat bahwa yang terkuat adalah membaca basmallah (jahr ataupun siir). Hukum bacaanya mengikuti hukum alfatihah. Hadits terkuat dalam permasalahan ini (jahr/sir-nya basmallah) adalah riwayat Nu’aim dari Abi Hurairah “Aku sholat di belakan Abu Hurairah RA, lalu beliau membaca bismillahirrahmanirrahiim kemudian membaca ayat Quran, kemudian ….” (Riwayat Nasa’y)
Adapun pendapat yang menyatakan bahwa rasulullah tidak membaca basmallah (atau tidak men-jahr-kannya), biasanya berargumen dengan hadits riwayat Anas RA “Bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar dan Umar sesungguhnya mereka sholat dengan alhamdulillillahirrahmanirrahiim” (mutafaq alaih). Dalam riwayat muslim ditambahkan “tidak mengucapkan bismillahirrahmanirahiin”, dan dalam riwayat ahmad, nasa’y dan ibnu khuzaymah ditambahkan “tidak menjahrkannya” (Subulus Salam hadits no 269/14)
Mengenai hal ini, Imam Shon’aany mengatakan bahwa ulama berselisih dalam menggunakan hadits ini, sebab hadits ini sifatnya mudhtorib
(penjelasan dnux : hadits yang kacau <redaksionalnya, etc> yaitu diriwayatkan dari sumber yang sama namun isinya bertentangan sehingga membingunkan apa sebenarnya maksud sipenyampai, dalam hal ini pada riwayat Anas RA itu sendiri terjadi khilaf apakah Anas RA hendak menyampaikan bahwa rasulullah itu tidak membacanya dengan jelas <siir> atau tidak membacanya sama sekali).
Imam Shon’aany menyebutkan bahwa Ibnu Abdul Bar berpendapat bahwa “hadits ini idhthirob dan tidak bisa digunakan sebagai hujah oleh para ulama yang mebaca bismillahirrahmanirrahiim”. Dan demikianlah, bahwa masalah ini memang telah menjadi perselisihan dan perdebatan panjang para fuqohaa madzhab.
Mengenai apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari AlFatihah
pada penjelasan hadits no 271(16) kitab Subulus Salam tentang hadits “berkata Rasulullah SAW : bila kamu membaca alfatihah maka bacalah bismillahiraahmanirrahim, karena itu adalah bagian darinya” (HR Daruqthuny dari Abu Hurairah RA) Imam Ash-Shon’aany berkata : hadits ini tidak menjelaskan kewajiban membaca basmallah secara jahr atau siir, namun menjelaskan adanya perintah mutlak yang menegaskan bahwa bismillahiraahmanirrahim adalah bagian dari Al-Fatihah
Saya sendiri (dnux) mengikuti pendapat bahwa bismillah itu harus dibaca pada setiap pembacaan AlFatihah secara jahr pada sholat jarh dan siir pada sholat siir, sebab langsung datang dari nash shorih yang kekuatannya harus dimenangkan dari nash nash yang iqtidha (perlu penggalian mafhum nash dulu) atau yang mafhumnya masih diperselisihkan (seperti hadits mudthorib). Dan saya juga mengikuti pendapat bahwa bismillah adalah bagian dari AlFatihah sebab jelas jelas disebutkan di hadits riwayat Daruqthuny . Syaikh Ali Raghib dalah Ahkamus Sholat juga mengatakan bahwa basmallah itu harus dibaca pada tiap AlFatihah dan basmallah adalah bagian dari AlFatihah
Btw, masalah ini sekali lagi adalah khilaf lebih dari 14 abad yang tidak pernah selesai sebab memang tarjih dari dalil dalil yang ada menyebabkan kemungkinan perbedaan pendapat. So, tidak usah dipermasalahkan lebih jauh .. hargai pendapat yang berbeda, insyaAllah mendapatkan nilai benar disisi Allah SWT. Tapi pilihlah yang paling kuat sesuai dengan kaedah syara (ushul) atau madzab yang anda anuti ..
ijhal said
makasih penjelasannya.. keep spirit ya!! mari jadikan perbedaan diantara kita menjadi sebuah kekuatan untuk membangun islam yang lebih kokoh jalinan ukhuwah islamiyahnya..OK
dnux said
isnyaAllah … mari kita jalin ukhuwah bedarsarkan perasaan saling memahami perbedaan.
Rony said
setuju
Ibnu Hasan said
Saya senang dengan pembahasan Anda, bijak, walau Ada memihak satu pendapat yang Anda yakini kebenarannya, namun diakhir selalu ada ajakan menjaga persatuan … mirip dengan pengasuh Syariah Online dan Eramuslim …
Tapi yang rada-rada keras, ada juga, kaya salafi … dengan Abu Salma, Anto maulid, dll, sdah pernah buka ?
dnux said
Menurut saya boleh saja keras dalam mempertahankan pendapat, dan itu adalah tanda keyakinan.
Yang tidak diperbolehkan adalah sikap kasar dalam berdebat. Bukankah selalu kita tutup diskusi itu dengan “Al-Haqqu Min Robbikum”, “Wallahu A’lam” ? Lalu apa guna kata kata itu kalau kemudian kita menganggap kebenaran itu mutlak milik kita sendiri ? dan seakan akan kita adalah kebenaran itu sendiri …
Selama suatu perkara digali dalilnya masih dzonny tsubut/&dilalah, maka tidak ada alasan kita mengklaim pendapat kita paling benar dan menutup kebenaran lain yang sebetulnya masih memungkinkan digali dari dalil-dalil dzonny tersebut.
roemasa said
Tulisan yang bagus, terlihat sekali kematangan dan kebijaksanaan anda dalam menyikapi perbedaan yang ada. Beda dengan beberapa website yang terkadang hanya bisa mengumpat golongan lain yang tidak sama dengan dia dan hanya menjadikan satu orang saja sebagai patokan kebenaran.
Ditunggu tulisan2 berikutnya yang berimbang dan memberikan wawasan serta bermanfaat bagi semua golongan
Sulis said
Mengapa tidak kembali ke Al-Qur’an?
Bagaimana Al-Qur’an menuliskan Al-Fatihah?
Ada berapa ayat dalam Surah Al-Fatihah?
Apakah 7? Apakah 6?
Kalau surah yang lain memang ayat pertamanya bukan basmallah, tapi surah Al-Fatihah jelas ayat pertamanya adalah basmallah. Atau ada Al-Qur’an lain? Mana lebih tinggi, pendapat ulama/atau hadis yang berdasar pada kisah tentang Nabi Muhammad, atau dengan Al-Qur’an?
Demikian. Mohon maaf kalau kurang berkenan. Salam.
dnux said
Nah, AlQuran yang seperti itu berarti itu ditulis berdasarkan pemahaman bahwa bismillah adalah bagian dari AlFatihah
so, belum menyelesaikan problem.
sahbudin said
Yang terbaik memang harus dibahas dan disosialisasikan, hal ini menjadi sangat penting agar tidak serta merta menyalahkan pihak-pihak yang berbeda dengan kita. Kalau saya pribadi lebih condong membaca Basmalah dalam sholat dengan suara lirih. Disamping ada hadist yang mendukung, bacaan basmalah ini merupakan suatu ajakan dari Allah untuk membangun hubungan kasih sayang dengan hambanya. Kita manusia juga seringkali mengajak berkasih sayang dengan isteri kita atau orang-orang yang kita cintai dengan suara pelan atau sir. Jadi ajakan kasih sayang yang paling berkesan adalah dengan bisikan atau suara sir. Semua kita kembalikan kepad Allah.
daco said
Kalau untuk surat-surat pendek setelah alfatihah bagaimana ya? dibaca jahr atau sir?
Karena banyak sekali variasi imam.
Ada yang bacanya dijahrkan kalau surat itu dimulai dari ayat pertamanya.
Namun kalau pertengahan surat tidak dijahrkan.(atau memang tidak dibaca ya?)
Ada yang kedua-duanya disirrkan.
Atau mungkin ada yang tidak dibaca…
Mhn pencerahannya…
dnux said
Saya sendiri mengikuti pendapat bahwa bismillah adalah ayat pertama dari AlFatihah dan juga sekaligus adalah ayat yang diturunkan untuk pembatas antar surat, maka wajib ikut dibaca jahr bila mengawali membaca surat dari awal. Kalau di tengah ya tidak perlu.
Abu Zayd said
Sedikit menambahkan, kenapa tidak diurai sanad dua hadits diatas, kita tidak bs memilih salah satu hanya berdasarkan matan, yg lebih penting adalah penjelasan sanadnya, mana yg lebih shohih. Mungkin akh dnux dapat membawakan takhrij haditsnya?
dnux said
mas Abu Zayd, saya ini muqollid saja yang tidak sanggup mereview sanad apalagi mentakhrij. kalau sekedar melihad takhrij hadits oleh para muhadits sih bisa saja saya buka2 kitab2 takhrijul hadits buat ngelihat takhrij-nya. bisa saja itu dilakukan .. tapi bukan disitu fokus saya. fokus saya hanya menyampaikan perbedaan pendapat para imam mujtahid dan tidak bingung melihat perbedaannya. itu saja ..