Something inside my minds

Menikah itu memang tidak wajib, tapi perlu & jangan takut ..

Posted by dnux on April 27, 2007

عَنْ عَبْدِ الله بنِ مَسْعودٍ رَضيَ الله تَعَالى عَنْهُ قالَ: قالَ لَنَا رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: “يَا مَعْشَرَ الشبّابِ مَنِ اسْتطاعَ مِنكم الباءَةَ فَلْيَتَزَوَجْ فإنّهُ أَغَضُّ للْبَصَر وَأَحْصَنُ للْفرج، وَمَنْ لمْ يستطعْ فَعَلَيْهِ بالصَّوْمِ فإنّهُ لَهُ وِجَاءٍ” مُتّفقٌ عَلَيْهِ
Ibnu Mas’ud RA berkata bahwa Rasulullah ST berkata kepada kami “Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang diantara kalian sanggup menikah, maka menikahlah, karena itu lebih menahan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa tidak sanggup, maka baginya berpuasa karena itu menjadi perisai bagi mereka” (Muttafaq ‘Alaih)

Dari sini tampak jelas bahwa Rasulullah SAW memerintahkan pemuda “yang telah mampu” untuk menikah. Apakah yang dimaksud dengan mampu (الباءَةَ) ? Dalam hal ini Imam Shon’any dalam Subulus Salam menyebutkan bahwa pendapat yang masyhur dari pengertian mampu adalah mampu menafkahi (kecukupan pendapatan)

Lalu apakah perintah itu artinya menikah itu wajib ? Imam Shon’any dalam hal ini juga menerangkan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa menikah itu hukumnya mandub dan tidak wajib. Hal ini antara lain disebabkan ada qorinah khiyar (pilihan) di QS An Nisaa ayat 3 yang artinya “..maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki“. Imam Shon’any mengatakan tidaklah disebut wajib apabila ternyata ada pilihan (khiyar) dalam perintah itu yaitu dalam hal ini pilihan antara menikah atau berselir. Beliau mengatakan hanya madzhab dzhahiri dan abu daud saja yang mengatakan bahwa nikah itu wajib.

Biasanya yang mengatakan nikah itu wajib melandaskan diantaranya pada hadits

وَعَنْ أَنَس بنِ مَالكٍ رضيَ الله عَنْهُ: أَنّ النبيَّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم حَمِدَ اللَّهَ وأَثنى عَلَيْهِ وقالَ: “لكني أَنا أُصَلِّي وَأَنَامُ وأَصُومُ وأُفْطِرُ وأَتَزوَّجُ النّساءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتي فَلَيْس مني” مُتّفقٌ عَلَيْهِ 

Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah bersabda ” Akan tetapi aku sholat dan juga tidur, aku puasa dan juga berbuka dan aku juga menikahi wanita. Barang siapa enggan dengan sunnahku maka dia bukan golonganku (Muttafaq alaih)

Hadits ini tidak menunjukkan bahwa menikah itu wajib disebabkan Rasulullah menekankan “yang enggan menikah bukan golonganku”. Akan tetapi dari lafadz dan dari asbabul wurudnya, hadits ini fokusnya adalah mencela mereka yang enggan menerima batesan2 aturan Islam dan mencoba menambahi aturan Islam yang telah Rasulullah gariskam. Demikian juga –menurut saya –celaan ini berlaku kepada siapapun yang berusaha mengurangi aturan Islam atau apalagi membikin aturan sendiri yang mereka gali diluar dari sumber2 aqidah dan syariat Islam

Dengan demikian, dari hadits tersebut kita bisa juga mendapatkan pengertian ”bukan golongan Rasulullah SAW mereka yang enggan terhadap aturan syariat Islam” atau “wajib menerima dengan ikhlas syariat Islam atau akan didakwa Rasulullah SAW sebagai bukan bagian dari golongan beliau“. 

Jadi, yang terkena kewajiban menikah adalah mereka yang telah ngebet kawin dan sudah punya penghasilan cukup untuk bisa menafkahi diri dan tanggungannya nanti. Dan ini adalah mekanisme untuk mencegah diri dari zina. Tidak cuman pemuda saja loh .. tapi termasuk juga duda baik masih muda atau sudah senja. Sebab seruan “wahai pemuda” dalam hadits tersebut disebabkan karena memang secara umum pemuda-lah biasanya yang berhasrat tinggi kepada wanita (bukan anak anak). Jadi lafadz pemuda disana adalah bentuk umum dari mereka yang berhasrat ingin kawin.

Adapun yang termasuk belum diwajibkan dan sunnah saja adalah mereka para pemuda yang telah punya kemampuan nafkah tapi masih belum kebelet “kawin” (bukan nikah). Atau mereka yang sudah ngebet kawin tapi tidak belum punya kemampuan nafkah.

Masalahnya, berapa banyak pemuda pemuda sekarang yang tidak berani menikah dengan alasan “tidak punya biaya”. Padahal mereka sudah bergaji besar dan barangkali diantara mereka sudah punya kendaraan atau malah rumah sendiri. Mengapa tidak berani ? Lha wong pemulung saja berani kok .. mereka menikah terus tinggal di rumah kerdus di bawah atap jembatan juga berani. Demikian juga orang orang di ndeso sana juga berani nikah walau kemudian setelah nikah tiap hari makan dengan tiwul & gaplek saja .. yang penting hidup.

Mungkin yang menyebabkan takut menikah adalah karena telah menetapkan standard yang tinggi alias terlalu milih milih wanita yang hendak dinikahi, sehingga berfikir musti cari extra money untuk membiayai wanita tersebut (rumah, dapur, pakaian, perhiasan, furniture, kendaraan, lipstik, komestik, arisan, dll). Atau bisa jadi tidak takut tapi karena menunggu si wanitanya selesai kuliah dulu. Penundaan itu menjadi lebih rumit lagi manakala dihadapkan pada expektasi orang tua, keluarga, teman teman dan lingkungan sekitar.

Menunda nikah itu memang tidak masalah selama memang belum ngebet .. , karena memang hukum menikah itu pada dasarnya adalah sunah bukan wajib. Cuman, kalau memang sudah kepepet dan kebelet serta “hampir terjerumus zina”, maka menikah itu hukumnya menjadi wajib haram menundanya.

Janganlah takut tidak bisa menafkahi tanggungan. Karena Allah SWT menjanjikan kecukupan nafkah bagi setiap mahluk-Nya. Masalah kemudian jatah rezeki itu dianggap kurang, ya itu karena sendiri kita yang over expectation dan tidak qona’ah dengan apa yang telah diberikan. Kerja sampe kaya boleh, tapi jangan tidak qonaah terhadap setiap yang telah diberikan.

Dan tidak ada suatu binatang melata [semua mahluk bernyawa] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh) (QS Huud : 6)

– meskipun nikah itu sunah, bukan berarti kita mengentengkan loh .. karena Rasulullah sangat menganjurkan umat Islam menikah. Dan rugi besar kalau tidak buruan menikah, karena nikah itu … –

Memilih istri (dan tentu saja suami) itu ada empat kategori. Karena cantiknya, hartanya, keturunannya dan karena agamanya. Kalau menunda menikahnya karena belum dapet wanita yang agamanya bagus yaitu yang kepribadian & karakter Islam-nya bagus, tentu ini adalah menunda yang tergolong terpuji, karena didorong oleh ketaqwaan yang tinggi. Tapi kalau tidak masalah juga bila menunda nya sekalian yang memenuhi kategori cantik, kaya & dari keturunan yang bagus sekaligus. Asal jangan berlama lama mencari malah nggak dapet2 dan akhirnya frustasi lalu terjerumus dalam penyaluran yang salah karena nggak dapet2 pasangan dengan kriteria yang diharapkan.

Menikah pun statusnya bisa berupa menjadi haram. Kapan itu ? Yaitu ketika seorang laki2 sanggup menafkahi tetapi tidak ada maksud untuk menggauli istrinya atau malah sengaja menikah untuk menyakiti wanita itu. Karenanya, haram bagi lelaki impoten permanen untuk menikah sedang wanitanya masih muda dan punya hasrat kawin. Dan sebaliknya, — menurut saya — tidak apa apa lelaki impoten menikah dengan wanita yang juga tidak punya hasrat sex dan dua duanya menikah dengan tujuan agar punya pasangan dan bersama membentu keluarga sakinah. Hal ini sebagaimana halnya diperbolehkan menikah kepada pasangan jompo yang sudah kehilangan selera sex tapi masih ingin bersama, sebab kebutuhan akan lawan jenis itu memang sudah fitrah dari Allah SWT menjadi bagian dari naluri manusia yang tidak bisa dihilangkan sampai akhir hayat manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 952 other followers

%d bloggers like this: