Something inside my minds

Archive for July, 2007

Akibat Kesalahan Memamahi Ruh dan Dunia : Menghindari Dunia atau Malah Kecebur Basah

Posted by dnux on July 11, 2007

pre-reading : kesalahan memahami ruh penyebab sekulerisme juga

.. akhirnya kita ketahui bahwa kita tidak bisa sama sekali membedakan mana itu kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruh (bukan rohani), yang hanya bisa kita rasakah adalah tubuh kita membutuhkan pemenuhan lahiriah dan pemenuhan batiniah. Pemenuhan lahiriah antara lain berupa makan, minum, tidur, olahraga, dll sedangkan pemenuhan batiniah dapat berupa apa saja yang membuat hati menjadi tenang. Dan ternyata yang membuat hati tidak tenang bukan sekedar karena merasa jauh dari Allah karena rindu atau karena maksiat. Ketidaktenangan juga terjadi karena kangen seseorang atau karena keselamatan diri terancam.

Ketika kita kangen atau takut dibunuh, maka penyelesaian bukan dengan dzikir (meski dzikir bisa menenangkan hati). Untuk mengatasi kangen bisa juga dilakukan dengan menulis surat [hari gene :) ], telpon, sms, atau sekedar memandangi foto. Sedangkan untuk mengatasi rasa takut karena ancaman pembunuhan maka kita bisa melakukan dengan jalan ishlah, melarikan diri, lapor polisi, belajar kung fu, beli samurai, dll. Dengan melakukan pemenuhan itu maka perasaan kangen dan takut dibunuh akan lebih tertenteramkan juga.

Itu contoh2 manusia sebagai akibat. Sebagai sebab, manusia bisa juga menjadi yang dikangeni atau yang ditakuti. Keduanya itu bisa karena karena alami atau karena adanya keinginan untuk dipuja dan ditakuti. Pendeknya, memang melekan pada diri manusia kebutuhan ruhani, kebutuhan jinsiyah (keturunan, sexual, dll), dan kebutuhan kekal (survival). Tiga hal abstrak atau batiniah tersebut disebut kebutuhan naluri (ghorizah). Karenanya, kebutuhan ruhani sebenarnya adalah bagian dari kebutuhan naluri disamping kebutuhan jinsiyah dan survival yang memiliki ciri sama : ketika tidak dipenuhi akan menyebabkan keresahan.

Syekh Taqyuddin AnNabhani mengatakan bahwa 2 jenis kebutuhan tersebut (lahiriah dan batiniah) adalah potensi hidup (thoqotul hayyawiyah), yang justru dengan adanya 2 hal tersebut maka manusia bergerak memenuhi kebutuhannya, berinteraksi dengan satu sama lain sehingga melahirkan patern interaksi, melahirkan perasaan2 antar individu, melahirkan kesepakatan2 peraturan interaksi dan akhirnya membentuk sebuah komunitas (masyarakat) yang tinggal atas tujuan kepentingan hidup yang sama.

Kembali ke ….

Walhasil, sekali lagi kita tidak bisa membedakan mana itu kebutuhan jasad dan mana kebutuhan “ruh”. Yang bisa diidentifikasi adalah kebutuhan fisik dan kebutuhan naluri. Kesalahan fatal dari filsafat ruh hasil pola pikir Hindu (yang bahkan meracuni hampir semua filsafat dan agama2 lainnya) adalah bahwa karena jasad dan ruh itu memiliki kebutuhan, maka pemenuhan kebutuhan jasmani dan ruhani harus seimbang. Ketika kebutuhan jasadiah dipenuhi, maka ruh itu akan terdesak. Dan pemenuhan kebutuhan ruh adalah kebalikan dari pemenuhan kebutuhan jasmani, yaitu dengan puasa dll yang menyebabkan fisik menjadi lemah. Inilah pemahaman yang juga merasuk ke relung2 kaum muslimin di Indonesia pada umumnya. Sehingga banyak sekali melahirkan term : Keseimbangan Jasmani dan Rohani

Akibatnya, mereka harus setengah2 dalam mencari dunia. Karena mereka berpresepsi kalau kebanyakan mencari uang maka akan menyebabkan tubuh dikuasai nafsu dunia dan mengalahkan ruhani sehingga jauh dari Allah SWT. Atau disatu sisi, banyak yang berangapan urusan dunia itu tidak ada kaitannya dengan agama, jadi apapun bisnisnya (halal dan haram) yang penting tetep dzikir, sholat, puasa, sedekah, naik haji dll … Inipun juga karena salah persepsi akan tobat. Padahal hanya dosa manusia dengan Allah SWT yang bisa dimaafkan dengan dzikir, dll. Namun dosa manusia terhadap manusia lainnya karena kedzoliman, makan harta orang, merendahkan kehormatan orang lain tidak bisa dihilangkan kecuali harus dengan meminta maaf dan menebus kesalalahan itu pada pihak yang bersangkutan atau warisnya.

Apa benar dunia dan harta itu harus di hindari ?

Orang memandang bahwa yang disebut Dunia ya bumi dan segala isinya ini yaitu mobil, rumah, rupiah, istri, anak, hp, televisi, ancol, dll. Padahal pengertian dunia menurut pandangan Al-Ghozali seperti yang tertuang dalam Minhajul Tholibin adalah dunia = sesuatu yang tidak bermanfaat untuk Akhirat. Tidak disebut dunia segala aktivitas yang bermanfaat untuk akhirat. Dari pengertian itu, maka jelas bahwa pengertian dunia yang seperti kebanyakan orang pahami sekarang beda 180 derajad dengan para ulama Islam terdahulu. Padahal masa Imam Al-Ghozali, pengaruh2 filsafat Yunani dan Hindia sudah begitu merasuk, namun pemahaman terhadap makna dunia yang dicela masih tetap terjaga.

Jelas sekali pengertian dunia kebanyakan kita sekarang juga akibat filsafat hindu yang memisahkan dunia roh (arwah) dan dunia manusia (dunia). Walhasil, kekeliruan memahami dunia ini menjadi faktor yang menyebabkan manusia males nyemplung ke dunia atau kalau mau nyemplung ya nyemplung saja sekalian tanpa aturan agama + cukup bertobat setelah maksiat, diulang dan diulang terus.

Dunia yang harus dihindari dalam pandagan Islam adalah dunia yang haram. Dunia yang halal wajib direngkuh. Dan tiada lain dunia yang halal itu adalah benda2 dan jasa2 yang halal dan digali, dikelola dan di maksimalkan dengan cara cara yang halal. Dan para sahabat telah melakukan itu di depan Rasulullah SAW tanpa celaan dari baginda. Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar, Utsman, Ali, dll mereka adalah pedagang. Demikian juga para Abu Hanifah adalah pedagang Sutra, sehingga kadang orang susah mebedakan apakah pekerjaannya (kegiatannya) itu adalah sebagai ulama atau pedagang.

Kesalahan ini semakin bertambah fatal ketika salah dalam mengartikan ayat :

وَٱبْتَغِ فِيمَآ آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلآخِرَةَ وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا 
Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi” (Q.S. Al Qashash 28 :77)

Ayat ini sering dipersepsikan salah menjadi : banyak2lah berdzikir dan jangan bekerja secukupnya atau sekedarnya saja dan sedapetnya saja. Padahal ayat ini maknanya adalah [dalam tafsir Baghowy - Ma'alim Tanzil] : pengertian  وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلأَخِرَةَ  : Carilah dari apa yang Allah berikan pada kamu berupa harta, nikmat dan kebun untuk bersyukur kepada Allah dan menginfakkannya untuk mendapatkan ridho Allah SWT” dan pengertian  وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْ  adalah  (menurut Ali RA) : jangan lupakan kesehatanmu, kekuatanmu dan juga mohon keselamatan di akhirat

Karena itu makna dari QS 28:77 sebenarnya menuntut kita untuk bekerja optimal dan maksimal pada  bidang dan dengan jalan yang benar sehingga mendapatkan keuntungan maksimal dan menggunakan harta itu untuk infaq shodaqoh dan berzuhud dari menggunakan harta itu untuk kenikmatan sendiri. Inilah pemahaman yang dimiliki para salafus sholeh tersebut, sehingga mereka melihat dunia sebagai lahan untuk memanen akhirat.

Kesimpulan 

Islam tidak mengenal pembedaan dunia-akhirat, jasmani-rohani. Islam lahir untuk menyatukan dunia-akhirat, dan menyatukan jasmani-rohani. Karenanya, mari kita bekerja maximum mengelola dunia ini. Jangan tertipu oleh filsafat India yang mebedakan dunia – akhirat sehingga kita telantarkan sumber daya alam kita yang akhirnya malah dunia ini di kuasai kaum kufar, fasiq dan dzolim yang menyebabkan kerusakan dimana mana. Atau efek buruknya justru : kita mengambil pola pikir, jalan hidp, dan ideologi mereka untuk mengelola dunia ini sehingga kita malah berperan sebagai agen kerusakan, bukan sebagai agen kebaikan, bukan sebagai Hamba Allah SWT.

Wassalam

Posted in pencerahan | Leave a Comment »

Kesalahan Memahami Ruh : Faktor penyebab sekulerisme juga

Posted by dnux on July 10, 2007

Pemahaman sekuler yaitu memisahkan urusan agama dengan dunia sebenarnya telah mengakar pada kesadaran kita akibat penjelasan yang salah tentang jasmani dan rohani. Kita menganggap pada tubuh kita ada badan halus dan badan kasar. Dan kita pun membedakan kebutuhan masing masing. Kebutuhan dari jasmani adalah makan, minum, tidur .. sampai dulu itu ada namanya : senam kesegaran jasmani. Sedangkan kebutuhan rohani itu sholat, puasa, dzikir dan lain lain. Pertanyaanya : kalau ngomel itu untuk memenuhi kebutuhan apa ? Demikian juga melamun, jalan jalan di pantai, belajar bahasa inggris itu masuk urusan memenuhi kebutuhan jasmani atau rohani ?

Sebenarnya sih kalau mau jujur bahwa sebelum kita dikenalkan dengan istilah ruhani, ruh dan lain lain . Pembahasan antara klasifikasi jasmani dan ruhani itu tidak pernah kita pedulikan. Yang penting kalau lapar ya makan, kalau ngantuk tidur dan kalau resah ya cari jalan menetralisir keresahan baik dengan melamun, curhat, atau sholat. Baru kemudian di sekolah kita di definisikan dengan kebutuhan jasmani dan rohani. Iya kalau definisinya itu benar, kalau salah . .bisa fatal.

Pertanyaan lagi : Apakah pernah Rasulullah SAW memberikan statement bahwa jasmani dan rohani itu terpisah ? Memang dalam Islam (dan dalam agama manapun) meyakini bahwa ada “ruh” sebagai faktor penggerak kehidupan yang merupakan unsur di luar jasmani. Namun apakah benar bahwa kebutuhan rohani itu sama dengan kebutuhan ruh ?

Apakah kita bisa membedakan bahwa sholat, puasa dll itu adalah kebutuhan roh ? (bukan rohani). Jawabannya sederhana saja. Kalau memang ruh itu adalah unsur kehidupan yang ada pada setiap makhluq hidup – termasuk hewan-, maka harusnya hewan itu juga merasakan kebutuhan berpuasa, berkhalwat, berdzikir, dll. Dan kalau tidak tercapai kebutuhan itu, maka dia akan resah. Nah .. apakah ada hewan yang ngamuk2 karena kebutuhan rohani nya (puasa, berkhalwat, dll) tidak terpenuhi ?

Ternyata tidak. Oleh karena itulah maka kita tidak bisa mendefinisikan bahwa sholat, puasa, berkhalwat, dll adalah kebutuhan roh. Kita cukup mendefinisikan adanya kebutuhan rohani saja, tanpa harus mengatakan bahwa kebutuhan rohani itu adalah tuntutan ruh manusia, karena memang ruh itu tidak bisa di identifikasi bentuk, sifat dan kebutuhannya.

Kesalahan mendasar dari masyarakat muslim sekarang adalah terjebak pada filsafat ruh, yang dikembangkan terutama oleh Filsafat Yunani yang sebenarnya juga transferan dari filsafat India. Pythagoras -filsuf yunani- mengatakan bahwa keberadaan ruh atau jiwa dan menganggap ruh terperangkap dalam tubuh jasmani sebagai hukuman karena suatu dosa. Ruh tersebut terkutuk harus menjalani berbagai bentuk inkarnasi, baik sebagai manusia atau pun hewan.

Bahkan Rasulullah SAW yang paling dekat dengan Allah SWT — pencipata dan pemilik ruh2 — tidak tahu atau bahkan tidak diberitahu mengenai masalah ruh kecuali hanya sedikit saja

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ‌ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلاً۬
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)

Kerancuan ini semakin merajalela di negeri kita Indonesia yang memang sangat kental mewarisi kebudayaan dus tsaqofah hindu yang penuh dengan keyakinan bahwa badan dan ruh adalah dua benda yang berbeda kebutuhannya. Sehingga pemahaman ruh dari agama hindu masaih melekat sekali, seperti adanya roh penasaran, dll.

Jasad, Jiwa (nafs) dan Ruh

Dalam Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang? Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).

Secara umum beliau menjelaskan bahwa Ruh dalam AlQuran maknanya adalah “Nyawa” (sirruh hayah) dan juga Jibril. Sedangkan perasaan2 ketidak tenangan, kegundahan, keresahan dll itu menurut AlQuran adalah pengaruh dari NAFS (jiwa) bukan dari ruh. Nafsu sendiri tingkatannya ada 3 yaitu nafsu muthmainnah, nafsu amarah dan nafsu lawwamah

Nafsu muthmainnah adalah nafsu/jiwa yang tenang karena yakin mendapatkan ridho Allah, yaitu nafsu yang berada pada kondisi mengikuti Islam baik secara ma’rifat (aqidah), amalan dzohir (sholat, dagang, dll) dan amalan bathin (tawadhu, ikhlas, dll). Manusia harus selalu pada kondisi perbuatan fisik yang baik dan perbuatan batin yang baik agar bisa mendapatkan ketenangan. Dan tidak lain makna baik adalah semua yang baik menurut Allah , yaitu sesuatu yang wajib, mandub dan mubah dilakukan, bukan yang makruh atau yang haram. Barang yang dipergunakan pun harus barang yang halal, bukan barang yang haram. Buruk adalah semua yang buruk menurut Allah

Kesimpulan

Kembali ke …  Jadi. Kebutuhan rohani yang kita sebut sebut itu sebenarnya bukan kebutuhan roh, tapi adalah kebutuhan untuk mendapatkan jiwa yang tenang (nafs muthmainnah).

Karenanya, tidak benar bila memenuhi kebutuhan rohani itu cuman dengan sholat, puasa tok .. tapi setiap amal perbuatan yang tidak menentramkan hati (maksian) juga harus dihindari. Dan semua perbuatan yang menentramkan hati (menjalankan amal ikhlas dan benar menurut syariat) harus dilaksanakan agar kita mendapatkan kesehatan rohani.

Jangan sesorang itu korupsi, melacur, mabuk, durhaka pada orang tua, aborsi dilakukan, lalu agar hatinya tenang langsung ditutupi kondisinya itu dengan melakukan sholat, puasa dan sedekah. Itu namanya mempermainkan tobat. Memang sholat puasa dan sedekah itu menentramkan hati, namun kalau selesaninya dan mengingat lagi ancaman serta siksa yang menanti di akhirat akibat maksiat itu, maka pasti – dan harusnya, kalau memang beriman – kembali tidak akan tenang karena teringat dosa dosa maksiat itu.

Posted in pencerahan | 2 Comments »

Keistimewaan Surat AlFatihah

Posted by dnux on July 10, 2007

Ditempatkan diawal sebagai pengantar untuk mengerti semua kandungan Al-Quran
Juga dinamakan dengan nama Ummul Quran ( induk Al-Quran ) atau Ummul Kitab ( induk Al-Kitab ) kerana ianya merupakan induk bagi semua isi yang terdapat di dalam Al-Quran, serta menjadi intisari daripada kandungan Al-Quran. AlFatihah adalah pemahaman paling inti dari penjelasan aqidah dan syariat di seluruh surat surat sebelumya

Hanya diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW, tidak kepada nabi-nabi sebelum beliau
Berkata Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas : “Maukah kamu aku beri gambar gembira dengan 2 cahaya yang diberikan ke aku dan tidak diberikan ke nabi nabi sebelumku. Yaitu AlFatihah dan akhir dari Surat AlBaqoroh” (HR Muslim)

Surat Paling Agung Dalam Al Quran
Dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?” Maka beliau bersabda, “(surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari)

Langsung dijawab oleh Allah SWT setiap kali membacanya
Dalam Hadist Qudsi (riwayat Abu Hurairah), disebutkan pada saat hamba Allah membaca al-hamdulilahi rabbil alamin, Allah berkata: “HambaKu memujiKu”. Ketika dia membaca ar-rahmanir rahim, Allah berkata: “HambaKu menyanjungKu.” Ketika dia membaca maliki yaumiddin, Allah berkata “HambaKu mengagungkanKu.”
Selanjutkanya ketika dia membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allah berkata: “Ini antara Aku dan hambaKu dan hambaKu mendapatkan apa yang dimintanya”. Ketika dia membaca ihdinas siratal mustaqim, siratal ladhina an ‘amta alaihim ghairilmaghdubi alaihim wa lad-dallin, Allah berkata: “Ini untuk hambaKu, dia mendapatkan apa yang dimintanya.”

Membuat sholat yang menjadi kewajiban setiap muslim menjadi tidak sah tanpa membacanya
diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Ash Shamit r.a. , yang mengatakan sesungguhnya Nabi s.a.w. telah bersabda :“ Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul kitab ( surat Al Fatihah ) di dalam shalat itu “ Di lain kesempatan beliau juga bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan shalat tanpa membaca Fatihatul kitab ( surat Al Fatihah ) di dalam shalat tersebut, maka shalatnya itu ‘khaddaj’ , yakni tidak sempurna “.

Obat penyakit batin sekaligus obat penyakit fisik.
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan Al-Fatihah yang dibaca berulang-ulang pada segelas air Zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan Al-Fatihah, ternyata kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”

———————-

Makna اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ dalam tafsir Baghowy (Ma’alim Tanzil)
اهْدِنَا (tunjukilah kami) =  أرشدنا  (tunjukilah kami jalan yang lurus), : ثبتنا
atas الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  = jalan yang lurus, yaitu : (1) Islam (2) AlQuran (3) Thoriqul Jannah (Jalan ke Surga) (4) Thoriqoh Sunnah wal Jama’ah (5) Thoriqoh Rasulullah SAW dan para sahabat

Jadi, Makna اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ menurut pemahaman saya adalah bukakanlah dan tetapkanlah hati kami untuk selalu menerima Iman dan Islam. Tetapkanlah kami dalam keteguhan Iman dan tetapkanlah kami agar selalu bisa istiqomah dalam melaksanakan syariat Islam, sehingga dengannya kami bisa tetap lurus dalam menapaki jalan ke Sorgamu (wallahu a’lam).

Pemahaman terhadap ayat otomatis menuntut kita untuk menolak dari mengikuti setiap agama lain, cara hidup, jalan hidup, syariat, aturan aturan atau ideologi ideologi lain yang merupakan jalannya orang orang yang dimurkai Allah dan tersesat dari petunjukknya. Inilah yang harusnya menjadi semangat kita setiap selesai sholat yaitu setiap membaca AlFatihah di dalam sholat tersebut. Sudahkah kita demikian ?

Posted in pencerahan | Leave a Comment »

Di dialog Metro TV “Muslim Demokrat”, Andi Mallarangeng harus istighfar dan bertobat.

Posted by dnux on July 5, 2007

Menarik perbincangan di acara “Save Our Nation” Metro TV yang disiarkan langsung semalam (4 Juli 2007 pk 21 Balikpapan), yang secara khusus mengundang Saiful Mujani untuk secara singkat mengupaskan apa pesan inti dari buku barunya “Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru” yang menurutnya adalah hasil kajian empirisnya tentang muslim di Indonesia

Sepertinya metro TV tidak mau ketinggalan acara bedah buku yang sama di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina. Pengulas yang diundang oleh Metro TV masih sama yaitu Andi Mallarangeng & Anis Baswedan hanya berbeda satu orang saja yaitu Jalaludin Rahmat, dimana bila pada acara di Paramadina adalah Hamdi Muluk.

Materi diskusi yang disampaikan-pun sebenarnya gampang ditebak, yaitu sebagai ajang pengokohan identitas bahwa “Muslim Indonesia itu Demokrat”. Andi Mallarangeng sendiri sepertinya pihak yang sangat tidak puas dengan diskusi tarik ulur antara “Islam vs Demokrasi” dan lebih tertarik untuk menyelidiki “Apa sejatinya Muslim Indonesia” yang ternyata hasil kajian Saiful Mujani menunjukkan bahwa Muslim Indonesia tetap Demokrat (alias Sekuler). Bahkan terucap perkataan dari Andi Mallarangeng bahwa dia bangga menjadi muslim Indonesia (maksudnya muslim yang “saleh” dan moderat).

Kebanggaan Andi Mallarangeng itu sebenarnya adalah pandangan pragmatis dan ashobiya tidak ubahnya pandangan pendukung team sepak bola (persija, persebaya, arema, persiba, dll) yang saling bangga kehebatan teamnya dan kalau ada yang mengatakan teamnya itu jelek, segera pasang argumen bahkan kalau perlu si penghujat itu akan dipukuli. Padahal dalam benak hati pasti semua tahu bahwa kejayan itu sifatnya sementara dan cepat atau lambat kondisi itu akan berubah, bahkan bisa bisa terdegradasi dari divisi utama ke divisi 1.

Jamaludi Racmat menegaskan bahwa kesimpulan hasil studi empiris itu sangat subjektif dikarenakan oleh penyusunan variabel yang dikaji termasuk kriteria variable “soleh”. Saiful Mujani akhirnya mengatakan bahwa yang dimaksud soleh adalah sebagai “pelaku rukun islam” (syahadat, sholat, zakat, puasa, haji). Tidak hanya itu, masih ditegaskan oleh Saiful Mujai “Ya semua orang tahulah bahwa saleh itu ya menjalankan rukun 5 itu”, dengan intonasi agak jengkel karena kriteria soleh-nya dipertanyakan Jalaludin Rachmat.

Justru pertanyaan fundamental (yang tidak ingin dibahas Andi/Saiful karena sifatnya filosofis bukan empiris) yang harus diajukan untuk menguji buku tersebu adalah (1) Apakah Islam bisa berjalan dengan demokrasi (2) Apa kriteria saleh (3) Mungkinkah orang saleh itu demokratis. Dan sebenarnya ketiga pertanyaan itu cukup dijawab dengan ayat2 (yang tentu saja dibenci orang2 sekuler/demokrat) “Barang siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah, maka mereka itulah orang2 kafir/fasiq/dholim “[dnux >> tergantung sebab/level penolakannya]

Jadi, ketika kita sama2 paham bahwa demokrasi adalah “suara rakyat adalah suara Tuhan” (vox populi vox dei), maka jelas demokrasi adalah haram. Sehingga tidak bisa disebut saleh bila membuat hukum dengan meninggalkan hukum Allah SWT seperti tercermin pada QS AlBaqoroh -11 “Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Disini Allah SWT menggambarkan jelas bahwa orang yang ngaku ngaku saleh itu justru sebenarnya adalah perusak dunia. Karena perbuatan saleh menurut kriteria mereka itu bertentangan dengan Syariat Islam pembawa rahmat.

Andi Mallarangeng menegaskan : Kalau menggunakan syariat maka hanya akan menjadi negara teokrasi dimana kebenaran hanya didominasi orang tertentu saja. Andi Mallarangeng lupa Allah telah memberikan hak para ulama yang memiliki kemampuan ijtihad untuk berijtihad menentukan hukum. Perbedaan pendapat antar ulama tentang hukum pasti sangat2 kecil dibandingkan perbendaan pendapat ulama dengan awam yang kebanyakan berpandangan tanpa ilmu dang mengikuti hawa nafsu. Dan Allah memang telah menegaskan itu “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Jadi, jangan bangga menjadi muslim Indonesia demikian pula jangan bangga jadi muslim arab, muslim pakistan, muslim inggris, dll. Cukuplah hanya Islam dan muslim, tanpa embel embel lain. Dan sebenarnya, kalau mau jujur dan cermat .. nggak ada itu namanya vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan), yang ada hanyalah Vox Populi, Vox Argentum (suara rakyat, suara gemricing uang) .. karena sekuler dan kapitalisme sebenarnya adalah kendaraan kaum kapitalis untuk mengeruk uang sebanyak2nya. kalau perlu dengan membenturkan sesama umat Islam.

Posted in pandangan politik | Leave a Comment »