-
21 Feb 2008 : WallStreet dan semua pasar bursa anjlok parah (bahkan kata soros terparah dalam sejarah)
-
22 Feb 2008 : The Fed memangkas suku bunga dari 4.25 menjadi 3.5 dan berhasil mengangkat sedikit perdagangan di bursa
Archive for January, 2008
Kejatuhan itu Tidak Bisa DiTahan Lagi (Live Update)
Posted by dnux on January 29, 2008
Posted in krisis ekonomi | Leave a Comment »
Ketika si Miskin Dipaksa Menyumbang
Posted by dnux on January 29, 2008
Contohnya adalah pajak yang memaksa kaum dhuafa membayar pajak langsung atau tidak langsung seperti ketika membeli minyak goreng, sabun mandi, odol, susu bayi dan lain lain yang harus menanggung pajak pembelian 10%. Demikian juga ketika seorang pegawai sipil yang bergaji 1 juta (alias perhari 33 ribu) juga sudah harus menanggung pajak penghasilan sebesar 5% alias 50.000 … tidak peduli apakah dia dengan 33 ribunya itu menghidupi diri sendiri atau menghidupi istri dan anak-anaknya plus orang tua dan mertua plus keponakan, yang bisa jadi untuk beli tempe saja tidak bisa lagi ..
Padahal dalam Islam, zakat yang 2.5 % saja hanya ditarik pada individu yang memiliki simpanan dana setara dengan 85 gram emas alias 8.5 juga bila harga emas per gram 100 ribu, namun dengan harga emas seperti sekarang sekitar 250 ribu per gram, maka hanya yang punya dana nganggur 21 juta yang ditarik zakat. itupun sekedar 2.5% saja ..
Walhasil, penderitaan yang dirasakan oleh warga negara Indonesia ini juga semakin kecut manakala mengetahui bahwa negaranya yang tidak peduli pada nasibnya juga ternyata diabaikan oleh IMF. Si rentenir internasional itu disamping memaksakan program progam yang semakin memiskinkan rakyat, ternyata juga memaksa pemerintah Indonesia untuk menyumbang pada negara miskin lainnya, tak ubahnya seperti orang miskin yang butuh uang namun dipaksa untuk menyumbangkan hartanya.
IMF memaksa Indonesia berpartisipasi dalam penghapusan tunggakan utang luar negeri Liberia, sebesar SDR (Special Drawing Right/kurs khusus IMF) 5,1 juta, atau setara US$8,08 juta. more
Posted in social illness | Leave a Comment »
Peringatan Tahun Baru 2008 Masehi : Potret Kekalahan Umat Islam
Posted by dnux on January 2, 2008
Semakin keras dan semakin ramai bunyi ledakan mercon, kembang api dll di langit di 31 Desember 2007, ane semakin menyadari, bahwa kita umat Islam masih terpuruk dan kita harus semakin bekerja keras untuk menyadarkan umat Islam akan kekalahannya saat ini.
Kita sama sama memahami bahwa Rasulullah bersabda “barang siapa menyerupai suatu kaum (non muslim), maka maka dia adalah bagian mereka (non muslim)“. Karenanya, muslimin yang riang gembira di peringatan tahun baru Masehi adalah mereka yang kalah dalam benturan peradaban Islam – Kapitalis (yang didominasi nasrani Amerika dan Eropa). Meski bisa jadi sebagian besar melakukan itu (1) karena ketidaktahuan dan tanpa intensi tertentu untuk memperingati tahun baru masehi, namun tetap saja ketidaktahuan itu adalah wujud kekalahan dalam memahami beda Islam – Kapitalis. Atau (2) ada juga yang tahu bahwa itu tidak benar, namun mereka minder bila tidak ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi. Nah .. mereka inilah yang benar benar kalah telak dalam perang peradaban.
si fulan nanya : Lha terus yang tahu bahwa itu salah & tidak minder melakukannya ? alias mereka yang ridho atau bahkan jadi event organizer acara tahun baru dus meganggap tahun baru Masehi lebih afdhol untuk dirayakan daripada tahun hijriyah ?
jawab dnux : Mereka itu tidak termasuk yang kalah .. bahkan mereka menang. Menang dalam posisi mereka sebagai muslim sekuler – kapitalis.
Dalam kaitan dengan amar ma’ruf nahi mungkar, ane tetap menghargai upaya ulama dan beberapa aktivis Islam yang berusaha meminimalkan kemungkaran tahun baru dengan cara mengadakan dzikir akbar, majelis ta’lim, muhasabah dan lain lain. Menurut ane, harusnya mereka menolak semua acara itu, dan ramai ramai mengeluarkan statement/fatwa haramnya ikut peringatan malam tahun baru Masehi. Or paling tidak, bila memang benar benar bermaksud untuk amar ma’ruf nahi mungkar, maka para ulama/ustadz itu pas tausiah harus tegas menyatakan dan menerangkan dihadapan para jama’ah bahwa aktivitas peringatan Tahun Baru Masehi adalah perbuatan mungkar yang harus dirubah. Mereka harus benci dan menanamkan perasaan benci karena melihat kekalahan umat Islam yang menjadikan Tahun Baru Nasrani (Masehi) sebagai tahun baru mereka yang harus dirayakan dengan besar besaran.
si fulan nanya : Lho sam .. sampean naif dong, mengapa bila sampean menolak peringatan tahun baru tapi kok HTI menerbitkan dan mensosialisasikan Refleksi 2007 ?
jawab dnux : Lho, intinya adalah tidak ridho dan tidak merayakan Tahun Masehi.
Masalah refleksi itu kan setiap saat bisa dilakukan … وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ …(Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman QS 51:55), mau di awal tahun atau ditengah tahun, setahun sekali, tiap cawu atau sebulan sekali juga atur saja. Mau di bulan Januari atau di bulan Romadhon terserah saja juga. Ini hanya berkaitan dengan timing periode evaluasi saja dan memang sayangnya masyrarakat kita menggunakan tahun masehi sebagai tahun takwim perhitungan penyusunan program & budgeting, dll.
Ada dua prinsip yang bisa kita pergunakan disini. Yang pertama bahwa Allah SWT memaafkan umatNya yang melakukan sesuatu karena terpaksa dan yang kedua sekaligus namanya yang melakukan dengan terpaksa adalah adanya wujud perasaan tidak rihdo dan ingin segera menghentikan hal yang terpaksa itu.
Implementasinya : sah-sah saja melakukan refleksi tahun 2007 (tahun masehi), namun dalam hati kita membenci mengapa kok masyarakat menggunakan tahun masehi dan bukan tahun hijriyah sebagai tahun periode kehidupan kemasyarakatan mereka. Dan harus memompakan semangat untuk menjadikan 1 Muharram sebagai hari besar mereka untuk mengenang lahirnya Masyarakat Islam, lahirnya Negara Islam yang mana eksistensi keduanya sekarang telah tiada dan hanya menjadi individu individu Islam yang berserakan bagaikan buih dipinggir lautan.
si fulan nanya : Tapi mas, lha wong tanggal hijriyahnya umat Islam saja satu dunia beda beda (misal : tanggal sholat Id 1 Syawal), gimana mau dijadikan patokan ?.
jawab dnux : Ya … itu juga semakin menambah kesedihan saya sekaligus menambah keyakinan bahwa kita memang benar benar perlu khilafah segera berdiri untuk menyatukan umat Islam, termasuk penanggalannya.
Wassalam – dnux-
Posted in social illness | Leave a Comment »