Something inside my minds

Archive for April, 2008

EQ (Kecerdasan Emosional) Bukan Pembeda Manusia – Hewan

Posted by dnux on April 7, 2008

Setelah tulisan “Manusia bukan Hewan Berfikir” maka saya sekarang sedikit merasakan ganjalan adanya pemahaman bahwa beda manusia dengan hewan itu adalah karena manusia memiliki kecerdasan emosional. Jadi benarkah bahwa itu yang membuat manusia lebih mulia daripada hewan ?

Definisi EQ,

  • menurut Goleman (1971) EQ adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. 
  • menurut Cooper dan Sawaf (1998) EQ adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi.
  • Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, EQ merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi.

Jadi, sesuai dengan judulnya dan keterangan para ahli diatas – menurut saya EQ adalah kepintaran untuk mengatur emosi, agar tidak bertindak secara reaktif terhadap rangsangan2 dari luar yang membangkitkan emosi, dan diatur sedemikian rupa agar bisa berlaku subyektif terhadap permasalahan.

contoh :

  1. bagaimana sikap seseorang di jalan raya ketika di salip secara sembarangan
  2. bagaimana sikap bila anak/istri diganggu orang lain
  3. bagaimana bila dilanggar hak dan kehormatan, difitnah atau dipermalukan di depan umum

Untuk kasus no 1 yang seperti ini agak susah membandingkan antara manusia dan hewan, sebab saya tidak punya pengalaman ada hewan marah kalau disalip larinya :) & untuk yang no 3 juga masih abstain .. karena saya belum pernah melihat hewan memaki hewan yang lain apalagi memfitnahnya :)

belum ada hewan yang mempermalukan hewan lainnya. kalau manusia .. banyak sekali yang saling mengejek dan mempermalukan sesamanya. tentu karena tidak aple to aple maka tidak bisa dikatakan hewan punya kecerdasan emosional lebih dari manusia sebab hewan tidak marah bila disalip larinya atau dipermalukan didepan hewan lain

tapi untuk kasus no 2 saya sering melihat bagaimana ayam babon itu berantem karena anaknya diganggu, atau beruang yang daerahnya dimasuki oleh beruang lain tentu akan dikejar beruang yang berani melanggar batas teritorialnya. Nah, untuk masalah seperti ini

  • hewan kalah dengan manusia dalam kapasitasnya mengendalikan emosi, sebab dia bergerak berdasarkan naluri untuk mempertahankan keuasaannya, sehingga akan sangat agresif terhadap gangguan yang datang mengancam existensi dan kekuasaanya. sedangkan manusia unggul karena mampu menahan diri tidak reaktif dan mencari solusi yang terbaik untuk mempertahankan existesinya
  • namun manusia bisa kalah dengan hewan, dan bahkan ada diantara manusia yang lebih biadab dari hewan, sebab :
    1. ada yang tidak lagi peduli dengan anaknya sendiri. dia jual atau diperkosa untuk pemuasan syahwatnya
    2. ada yang tidak peduli dengan kemanusiaannya. mempekerjakan dan memperlakukan manusia seperti binatang
    3. atau malah membunuh manusia dengan gas beracun, napalm death ..

dari sini masih menunjukkan bahwa EQ bukan pembeda manusia dengan hewan, namun kadang yang ngaku punya EQ ternyata bisa lebih biadab dari yang katanya tidak punya EQ

Yang jelas : kalau anda mengatakan hewan tidak punya EQ .. maka itu salah besar. Hewan pun bisa diajari untuk ber-EQ tinggi dan menjadi trainer bagi manusia. Contoh : anjing dilatih supaya menjadi anjing yang sabar, percaya diri, dan mudah menyesuaikan keadaan. Jadi, sebagaimana manusia dilatih dan dididik untuk sabar, PD dll – maka demikian juga kucing dan hewan2 lain yang dilatih emosinya untuk mencapai hasil tertentu.

1. Therapy dogs.
Therapy Dog refers to a dog trained to provide affection and comfort to people in hospitals, retirement homes, nursing homes, mental institutions, schools, and stressful situations such as disaster areas.
Therapy dogs come in all sizes , breeds and colors. The most important aspect of a therapy dog is temperament. A good therapy dog must be friendly, patient, confident, at ease in all situations, and gentle. Therapy dogs must enjoy human contact and be content to be petted and handled, sometimes clumsily.

2. Therapy Cats
Therapy cat owners say the most important traits for a therapy cat include a laid-back, steady, calm personality and a tolerance for the unusual. A cat who reacts before thinking is not a good therapy cat. Therapy cats must be able to tolerate sights and sounds that are unusual, petting that could be different or a bit rough, poking or pulling, and any number of other things that are out of the ordinary. Therapy cats are also affectionate, purring, snuggling on a lap or on the bed, or offering other gestures of affection.

Jadi .. menurut anda bagaimana ? apakah hewan tidak punya EQ ?

Menurut saya, Manusia beda manusia dan hewan itu bukan karena masalah IQ dan EQ, tapi lebih tinggi lagi .. yaitu manusia diistewakan oleh Allah SWT dengan meniupkan ruh langsung ke jasadnya. next 

Posted in pencerahan | Leave a Comment »

Puisi : Rindu Kekasih di Taman yang Hijau

Posted by dnux on April 3, 2008

Duhai kekasihku Muhammad alMustafa
kekasih segenap penghuni alam
dan kekasih Sang Penguasa Segenap Alam hingga ke penjurunya,
jangan bayanganmu semakin memburam
tersamarkan oleh debu debu badai di dunia yang fana
sungguh aku tak mau terjatuh dalam fatamorgana

jangan kau berhenti
mengajakku tertatih melewati jalan terjal mendaki
jalan yang kau tapaki untuk menggapai ilahi
dengan basah peluh, darah, dan doa
yang tak pernah sedikitpun kau terlelah kala melewati jalan itu
Ajak aku,
atau tariklah rantai yang membelenggu leherku
walau kuterseret, terhempas dan tertindas
biarlah ..
kan kuciumi setiap tanah yang pernah kau lewati
ku takkan peduli setiap kafilah yang berlalu

disini, di tempat kuberpijak
harum aroma nafasmu makin tak terjangkau mereka
yang tertipu busuk bangkai syahwat
yang menyengat dan menyesakkan setiap dada dan fikiran.
Siapa yang menghirupnya apatah lagi menyentuhnya
pasti akan terhalunisasi pula oleh kemilau emas permata
lalu tejerembab kakinya di lumpur yang pekat
terperosok jiwanya dalam nikmat dusta yang menjebak
tak kan bisa berdiri kecuali tergontai
tak kan mampu melihat jalan hakekat

dan bila demikian,
lalu bagaimana aku bisa mengejar larimu ?
atau gegas gegap jalan para sahabatmu ?
yang kini tengah beristirahat dalam suka cita di pinggir telaga
di taman hijau, di bawah ‘arsy
sementara rinduku telah berlari mendahuluiku

oh engkau diriku dan juga nafsuku
yang meraung melolong dalam raga yang hampa
yang merindu teduhnya rembulan,
kan kubawa kau esok ke padang para salihin dan para muqorobin
yang memenuhi harinya dengan indahnya taqwa
atau kubawa kau esok ke padang para ksatria,
bila kau tak sanggup menahan setiap hasrat yang menggelora
atau tak mampu bertenang dalam masa penantian
setiap mendengar jeritan mereka yang terlindas zaman

Kan ku pinta izin kepada Allah Sang Pemilik Segala Ketetapan
agar ruhmu diperkenankan melayang dalam damai, menembus semesta
menyusul kekasihku,
Muhammad alMustafa

dnux – 03/04/08

Posted in puisi | Leave a Comment »