Something inside my minds

Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah

Posted by dnux on March 31, 2011

lebih lengkapnya judul artikel ini adalah : Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah. Kalau melalui Bank Konvensional (dengan mekanisme seperti skarang ini), tentu tidak ragu lagi kalau itu batil sehingga haram untuk dilakukan

Ada 5 keraguan saya terhadap praktek kredit mobil melalui bank Syariah yang saya alami dan setelah direview ternyata bisa jadi aqad jual beli yang saya lakukan itu statusnya ternyata batil ataupun fasad. Tulisan ini bukan untuk menimbulkan keragua-raguan pada bank syariah apalagi kemudian dianggap menghambat perkembangan bank Syariah apalagi dikatakan mendorong masyarakat kembali ke bank ribawi, naudzubillah. Semangat dari tulisan ini adalah untuk sama sama jeli dalam melakukan aqad sehingga sebagai pribadi kita bisa melakukan aqad yang sesuai tuntunan syariat khususnya dalam masalah kredit mobil atau yang lainnya. Bagi bank syariah sendiri apabila ada kebenaran dalam tulisan saya maka tidak ada salahnya untuk mengkoreksi diri.

Sebuah aqad akan bernilai sah bila memenuhi rukun dan syarat wajib dalam jual beli sebaliknya bila ada pelanggaran pada rukun dan/atau syarat wajib jual beli maka aqad tersebut bernilai batil dan tidak boleh dilakukan sama sekali. Apabila ada cacat pada syarat yang tidak wajib maka akan tersebut menjadi fasad dan harus dibenahi agar akad tersebut bernilai sah dimata hukum syara.

Contoh sederhananya adalah nikah. Nikah sah bila ada mempelai lelaki & wanita, dua orang saksi serta wali dari mempelai wanita. Nikah menjadi batal bila tidak ada wali ataupun kekurangan saksi, status pernikahannya tidak sah di mata syariat. Adanaya wali walaupun sah namun bila wali itu tidak terkategori wali mujbir sesuai urutan seperti paman lelaki padahal ayah kandungnya masih sehat dan tidak berhalangan serta tidak meminta diwakilkan maka ini adalah akad nikah yang sah namun fasad dan harus diulang ijab qobulnya dengan menghadirkan si ayah tersebut.

Rukun dari Akad Jual Beli adalah :

  1. Adanya penjual dan pembeli
  2. Adanya barang yang dijual / dibeli
  3. Adanya redaksional (sighat) aqad yang dikuatkan dengan ijab qobul

Beberapa ulama menambahkan harga sebagai bagian dari rukun, yang lainnya tidak. Bahkan dalam madzhab hanafi yang menganggap sighat aqad sebagai satu satunya rukun jual beli.

Barang yang dijual harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. suci (tidak najis)
  2. bisa dimanfaatkan
  3. milik sendiri
  4. ma’lum / jelas
  5. Kemampuan penjual menyerahkan barang
  6. memenuhi ketentuan qobidh

pengalaman saya pada waktu mengambil kredit mobil pada salah satu bank syariah dimana ada kerjasama dengan kantor dimana saya bekerja insyaAllah urutannya sebagai berikut :

  1. Pembeli datang ke sebuah dealer untuk melihat apakah ada barang yang dia inginkan
  2. Pembeli datang ke Bank untuk menyebutkan spesifik mobil yang ingin dibeli di dealer tersebut
  3. Bank menelpon dealer untuk melakukan pembelian mobil tersebut
  4. Bank mensyaratkan pembeli untuk mengikat jaminan dengan asuransi, apakah itu penjaminan barang ke asuransi konvensional ataupun ke asuransi syariah
  5. Bank menaruh mengirim uang ke rekening pembeli lalu uang tersebut langsung ditransfer otomatis ke dealer
  6. Pembeli menandatangani perjanjian dengan Bank terkait pembelian mobil ke bank tersebut
  7. Pembeli mengambil mobil di dealer termasuk bertanya apakah kelengkapannya (+bonusnya) sudah lengkap atau tidak

Di site http://www.kreditmotormobilsyariah.com/product/kredit-mobil-syariah saya dapatkan adanya ketentuan membayar Down Payment (Urbun) untuk syarat pembelian. Beruntung saya sendiri tidak mengalami hal tersebut. Berikut detail tata cara pengkreditan yang di post di site tersebut :

  1. Calon pembeli mencari sendiri mobil yang akan kami biayai.
  2. Jika pembeli sudah mendapatkan mobil yang akan di beli , siapkan data-data untuk aplikasi pengajuan kredit mobil syariah berupa copy ktp, kk, listrik, pbb, slip gaji atau copy rek tabungan 3 bulan (untuk pengusaha).
  3. Konfirmasi via call/ SMS ke 0813******** ( Nama, Jns Mbl, Harga, Telp, Alamat )
  4. Tim Survey akan telepon Anda untuk janjian kerumah Anda, membawakan formulir aplikasi kredit mobil syariah dan mengambil data-data yang telah disediakan.
  5. Data kami proses, bila disetujui maka Tim Survey akan kontak Anda untuk lihat mobil yang akan dibeli, di dealer atau di perorangan.
  6. Siapkan minimal Total DP 20% dari harga mobil (TDP sudah termasuk asuransi, administrasi, uang muka murni).
  7. Setelah kami cek keadaan mobil yang akan dibeli serta surat-suratnya sudah lengkap. Maka terjadilah akad kredit mobil syariah.
  8. Anda serahkan TDP kepada kami, dan kami beli cash mobil tersebut.
  9. Bulan depan mulai cicil kepada kami, bisa bayar langsung ke kantor cabang kami atau transfer via bca, mandiri, bni, muamalat, dsb. Jangan lupa di fax bukti pembayarannya.

Beberapa keraguan saya terkait sah tidaknya kredit tersebut secara syar’i ada pada beberapa poin :

  1. Keraguan terkait syarat milik : Apakah mobil yang dijual bank benar benar milik bank
  2. Keraguan terkait syarat benda tersebut memenuhi ketentuan bisa diserahkan.
  3. Keraguan terkait syarat benda tersebut memenuhi criteria qobidh (dipegang/ditakar)
  4. Keraguan terkait syarat tambahan : keharusan asuransi
  5. Keraguan terkait perkara bank mewakilkan kepada pembeli untuk membeli barang pada dirinya

Detail :

1.       Kepemilikan

  • Nabi SAW bersabda : “Janganlah kau menjual barang yang belum kau miliki.'” (HR. Abu Daud). Bank harus menjual sesuatu yang benar benar telah menjadi miliknya. Pembeli (misal Fulan) harus benar benar membeli mobil milik bank bila bermaksud untuk kredit mobil dari Bank, bukan kredit mobil melalui bank. Karena itu maka akan lebih meyakinkan lagi bila Fulan langsung datang ke warehouse/ showroom milik Bank untuk memilih mobil yang akan dibeli. Namun sepertinya idealitas bank memiliki warehouse berisi barang2 milik bank untuk dijual/dibeli belum terjadi di Indonesia walaupun di negeri lain seperti Sudan, Bank syariah benar benar memiliki warehouse berisi barang barang yang dijual bank (source : ascarya)
  • BKPB atas nama Fulan. Bahwa BPKP yang menyertai mobil keluar dari dealer tertulis atas nama pembeli serta tidak tertulis nama pemilik sebelumnya (yaitu bank), memang tidak serta mera menunjukkan bahwa mobil itu bukan milik bank (pembeli pertama). Namun untuk memastikan keabsahan kepemilikan bank atas mobil yang dijual ke Fulan tersebut, maka alangkah baiknya bila Bank Syariah menunjukkan bukti tertulis pembelian mobil tersebut dari dealer. Memang pembelian bank syariah ke dealer bisa saja dengan lisan tanpa ada bukti tertulis selama memenuhi rukun aqad jual beli, namun adanya kertas tertulis semacam kuitansi tentu akan menambah keyakinan dan menghapus keraguan. Rasulullah SAW pun bersabda : Tinggalkan yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu (hadits)
  • Saling Mempercayai. Bank bisa saja berkilah bahwa harusnya fulan cukup percaya ucapan pegawai bank syariah bahwa mobil itu benar benar milik bank tanpa perlu meminta bukti keabsahan kepemilikan bank atas mobil tersebut sebagai bukti pelaksanaan kepercayaan antara sesame muslim. Namun sebaliknya apakah bank juga mau percaya bahwa Fulan pasti mampu melunasi kredit tersebut walaupun si fulan tidak menunjukkan buktinya semacam slip gaji atau juga bukti kepesertaan asuransi atas mobil tersebut ? Kepercayaan akan wujud bila ada bukti. Terlebih lagi pada bank bank yang masih menginduk kepada bank konvensional kuatirnya prosedur bank konvensional masih terbawa di bank syariah itu atau bisa jadi pegawainya yang melanggar prinsip prinsip syariah yang sudah ada di bank syariah itu sendiri.

2.       Memenuhi Ketentuan Bisa Diserahkan

  • Kepemilikan Bank Syariah atas mobil semta masih belum memenuhi kriteria bahwa mobil tersebut boleh dijual kepada Fulan sampai mobil tersebut diserah terimakan dari Dealer ke Bank, sesuai hadits “Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah dia menjualnya hingga dia melakukan serah terima dengan pemilik pertama.” (HR. Bukhari, Muslim). Wallahu a’lam apakah proses ini dulu pernah dilakukan atau tidak saya tidak ingat karena pada waktu itu syarat ini masih belum menjadi pengetahuan saya. Barangkali yang bisa dilakukan oleh Bank untuk memenuhi syarat ini adalah kunci mobil telah dipegang oleh Bank dan diserahterimakan ke Fulan pada saat selesainya tandatangan ijab qobul, tidak dititipkan di Dealer.
  • Demikian juga pelaksanaan penjualan mobil Bank Syariah ke Fulan dimana mobil tersebut masih berada di Dealer bisa jadi tidak memenuhi ketentuan bahwa syarat barang tersebut harus dipindahkan dari tempat jual pertama untuk mengindikasikan bahwa mobil itu benar benar telah lepas dari penjual pertama (Bank). Dari Ibnu Umar, “Pada suatu hari, aku membeli minyak di pasar. Setelah aku selesai mengadakan transaksi, ada orang yang menemuiku dan dia mau membeli minyak tersebut dengan memberi keuntungan yang bagus untukku. Di akhir-akhir pembicaraan, aku ingin menjabat tangannya sebagai pertanda terjadi akad jual beli, namun dari belakang terdapat seseorang yang memegangi tanganku. Setelah kutoleh, ternyata dia adalah Zaid bin Tsabit. Zaid mengatakan, ‘Jangan kau jual minyak di tempat engkau membelinya, sampai kau pindah dulu ke tempatmu, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang barang dagangan yang dibeli itu dijual kembali di tempat pembelian, sampai para pedagang membawanya ke tempatnya masing-masing.’” (HR. Abu Daud). Menurut hemat saya cara mengatasi hal ini adalah Bank membawa mobil yang dibeli Fulan ke kantor bank tersebut. Saya rasa ini adalah hal yang sangat mudah dan sangat mungkin dilakukan

3.       Memenuhi Ketentuan Qobidh (sudah dipegang oleh Bank)

  • Complaint Kekurangan pada Mobil dll. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa membeli makanan, maka janganlah ia menjualnya sampai ia menakarnya terlebih dahulu.” HR Muslim no 2187 dll. Maksud dari hadits diatas adalah agar pembeli tidak menjual barang tersebut sebelum diperiksa benar tidak hitungannya, takarannya, unitnya dll sebelum diaqadkan jual beli dengan pembeli berikutnya. Sesudah mobil diterima Fulan, bila Fulan melihat ada kekurangan item pada mobil  yang dibeli dari Bank (ataupun kekurangan bonus pembelian), maka Fulan harusnya bertanya kepada Bank tentang kekurangan kekurangan itu, bukan bertanya kepada Dealer karena banklah pemilik sebelumnya, bukan dealer. Tanggung jawab mobil sepenuhnya ada pada bank, bukan pada dealer.
  • Namun kejadian yang saya ketahui adalah justru Fulan datang ke dealer untuk bertanya atau untuk menagih kekurangan kekurangan item, bukan kepada Bank. Satu sisi bila dealer kemudian memberikan kekurangan2 item tersebut langsung kepada Fulan diluar sepengetahuan Bank, maka jelas ini adalah pemberian yang batil karena barang tersebut sebenarnya adalah harusnya diserahkan dealer kepada Bank dan menjadi milik Bank. Kemudian terserah kepada bank apakah bank akan memberikan item tersebut kepada Fulan atau tidak. Dari fakta ini sebenarnya mobil ketika dibeli Fulan itu sebenarnya sudah dikuasai Bank atau masih belum ??
  • Sekali lagi faktanya bisa jadi berbeda, karenanya tulisan saya ini sifatnya sangat relative dan tidak bisa disimpulkan bahwa praktek di perbankan syariah memang begitu semuanya. Karenanya kita sendiri yang sudah sadar criteria aqad sah/batal/fasad harus cermat dan  kalau bisa ikut mengarahkan agar aqad jual beli bisa comply dengan aturan syariat

4.       Syarat Tambahan – Asuransi

  • Jual Beli Kredit yang adalam istilah perbankan syariah dikenal dengan Murabahah (jual beli untung) lebih tepatnya sebutanya dengan Bay’ Taqsith (Kredit/Hutang). Dalam Bay’ Taqsith dan sebagaimana dalam keumuman qardh (hutang) maka penjual diperbolehkan meminta rahn (rungguhan/gadaian) atau juga meminta jaminan (dhoman) dimana pihak ketiga menjamin bank bahwa si Fulan akan menyelesaikan hutangnya kepada bank. Rukun asuransi (dhoman) adalah :
  1. Al-Madhmun lahu (orang yang diberikan jaminan atau yang dihutangi/dikredit
  2. Al-Madhmun ‘anhu (orang yang dijamin atau orang yang berhutang/mengkredit)
  3. Adh-Dhamin (orang yang menjamin)
  4. Al-Madhmun (objek jaminan) berupa hutang, uang, barang atau orang
  5. Sighah Aqad (ijab/qobul)
  • Dalam hal ini andaikan dikatakan bahwa asuransi adalah Adh-Dhamin atau pihak penjamin, maka sesungguhnya pada praktenya pihak asuransi tidak pernah menghubungi bank untuk mengatakan mereka siap menanggung hutang fulan bila fulan gagal menyelesaikan angsurannya kepada bank. Bahkan pihak asuransi tidak ada urusan sama sekali dengan Bank (silahkan dikoreksi bila saya salah) kecuali sekedar Fulan menunjukkan kepada Bank bahwa mobil yang dikredit itu telah diasuransikan ke PT asuransi tertentu.
  • Sementara asuransi yang kita kenal saat ini hamper tidak ada beda pemberlakuan kepada barang yang sedang dikredit atau yang sudah lunas. Asuransi saat ini adalah hubungan dua arah (bukan tiga arah) antara pihak asuransi dengan pemilik/pengkredit mobil untuk mengganti kerusakan mobil tersebut mengalami kecelakaan sesuai dengan kondisi kondisi yang disebutkan dalam perjanjian dan tentu saja selama si Fulan membayar premi asuransi senilai sekian % dari estimasi harga mobil pada saat itu.
  • Praktek asuransi seperti ini tentu berbeda degan ketentuan aqad pada system asuransi/dhaman yang dikenal syariat Islam sehingga asuransi seperti ini hukumnya adalah batil karena tidak sesuai dengan rukun aqad penjaminan yang syar’i. Dengan demikian bila Bank Syariah memberikan syarat wajib bahwa Fulan harus mengasuransikan mobilnya pada perusahaan2 asuransi sebagaiaman yang dikenal umum pada saat ini maka ini adalah syarat yang batil dan bisa merusak aqad jual beli.
  • Ada pula yang bilang bahwa mobil yang dikredit itulah jaminan dari Fulan kepada Bank. Bila seperti ini jelas itu adalah kesalahan dua kali lipat pada aqad dhaman karena pada keadaan ini justru Fulan bertindak dobel baik sebagai madhmun lahu (orang yang terjamin) sekaligus sebagai dhaamin (penjamin). Bila ini mengikuti rukun aqad rahn (gadai) bukan dhaman (jaminan) maka letak kesalahannya adalah menggadaikan barang yang dihutang. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata,”Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 2/287). Imam Ibnu Hazm berkata,”Tidak boleh menjual suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah telanjur terjadi, harus dibatalkan.” (Al-Muhalla, 3/427). Memang ada ulama yang membolehkan menjaminkan barang yang dihutang namun pendapat ini lemah dan berlawanan dengan tujuan hutang itu sendiri yang berakibat pada pembatasan tashoruf atas barang serta barang yang digadaikan sekaligus digunakan itu bisa rusak atau berkurang nilainya tidak sesuai dengan nilai hutang.
  • Solusi mudah dari masalah ini adalah aqad asuransinya yang harus diperbaiki dimana pihak asuransi harusnya berakad dengan bank untuk menjamin si Fulan atau bank meminta jaminan dari pihak ketiga lainnya semisal perusahaan dimana Fulan bekerja ataupun dari keluarganya dll bahwa mereka siap bertanggungjawab bila Fulan gagal bayar hutang (kredit) mobil. Adapun bila terjadi kecelakaan pada mobil maka itu sepenuhnya tanggungjawab si Fulan atau tanggung jawab pihak yang mencedarai mobil tersebut (kasus tabrakan dll), bukan pihak asuransi. Inilah pelaksanaan aqad asuransi/dhaman yang benar sesuai aqad dhaman/penjaminan.

5.       Bank mewakilkan kepada pembeli untuk membeli mobil dari Dealer

  • Dalam literatur klasik seperti fathul muin disebutkan “(ولا يبيع) الوكيل لنفسه وموليه، وإن أذن له في ذلك” wakil tidak boleh menjual barang kepada dirinya sendiri atau kepada yang dibawah perwaliannya sekalipun itu diizinkan oleh muwakal (yang diwakili). Namun argument itu disanggah oleh sebagian ualam lainnya sebagaimana yang dicantumkan dalam DSN no 41 tentang obligasi syariah disana disebukan bahwa adanya kebolehan selama itu diizinkan dari pihak yang mewakilkan (pemilik barang). Menurut hemat saya (dwi Nugroho) semangat larangan itu adalah supaya pemilik barang tidak rugi karena wakil menjual dengan harga yang tidak menguntungkan pemilik barang. Karenanya pada barang yang sudah ditetapkan harganya dan sesuai dengan harga pasar barangkali boleh saja pemilik barang memperbolehkan wakil menjual pada dirinya sendiri.
  • Barangkali tidak semua bank melakukan hal seperti itu namun ketentuan itu secara hukum diperbolehkan oleh DSN di fatwa no 4. “Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.”
  • Adapun perhatian saya terkait penunjukan bank syariah kepada Fulan untuk mewakili bank syariah membeli mobil ke dealer yang mana sekaligus nantinya si Fulan akan membeli barang itu sendiri adalah
  1. Kemungkinan terjadinya tadlis (penipuan) semisal (a) barang yang dibelikan tidak sesuai dengan sepesifikasinya walaupun harganya sama (b) ada cashback pembelian yang diterima Fulan dan tidak dilaporkan ke bank (c) Fulan sebenarnya membeli mobil seharga cuman 100 juta lalu dia sampaikan ke bank syariah bahwa harganya adalah 120 juta, lalu bank akan mengirimkan uang 120 juta ke rekening Fulan dan otomatis tertrasfer senilai 120 juta ke dealer lalu oleh dealer dikembalikan lagi ke rekening Fulan kelebihan pembelian senilai 20 juta.
  2. Rentan barang dijual bank ke Fulan tanpa diperiksa dahulu sehingga melannggar ketentuan syarat barang yang dijual haruslah memenuhi criteria qobidh yaitu barang harus sudah bisa dipegang/dikuasai atau telah dihitung ulang sebelum dijual
  • Karena itu alangkah bagusnya bila pegawai bank sendiri yang melakukan pembelian dan tidak mewakilkan ke Fulan untuk menghindari conflict of interest dari penujukan pembeli sebagai wakil bank untuk membeli mobil ke dealer.

Demikianlah 5 keraguan besar pada kredit mobil di Bank Syariah hasil pengalaman dan penimbangan saya. Sekali lagi tulisan ini bukan untuk menimbulkan keragu raguan namun sebagai concern agar kia semakin comply dalam melaksananakan ekonomi sesuai aturan syariat baik ketika berpartner dengan bank syariah atau dengan individu/ lembaga lain.

Ringkas kata, harapan saya dalam kredit mobil syariah adalah :

  1. Bank membeli secara tuntas baik itu dengan memberikan bukti pembelian serta telah mencheck mobil yang dibeli sebelum dijual ke nasabah
  2. Ketika aqad tandatangan pembelian bank – nasabah maka mobil dibawa ke kantor bank agar memenuhi kriteria qobidh (on hand) dan qudrotu taslim (bisa diserahkan)
  3. Menggunakan aqad dhaman (jaminan) atau rahn (gadai) yang sesuai syariah
  4. Tidak mewakilkan pembelian ke nasabah

Bagaimana bila terlanjur kredit yang tidak syari?

  1. Pada umumnya barang yang tidak sah dibeli tidak sah untuk dimiliki demikian juga termasuk tidak sah dijual kembali, maka bila ragu dengan pembelian itu sebaiknya datangi saja bank bersangkutan untuk menanyakan status mobil tersebut apakah benar telah milik bank ketika sudah dibeli. Kalau memang bukan miliknya yak embalikan saja ke bank tersebut dan minta yang benar2 milik bank :)
  2. Kalau masalah barang itu sudah dibeli namun masih ada di dealer maka itu adalah kesalahan dari bank yang menjual sebelum dipindahkan dan tentu kesalahan kita juga karena tidak mengerti aturan itu. yang jelas itu fasad dan susah diulang.
  3. Memang tidak enak berada pada status barang yang meragukan, maka kalau segera melunasi ya segera saja dilunasi, namun jangan ada uang pengembalian lebih karena itu adalah riba nasiah atau riba (penambahan uang) akibat penundaan atau penyegeraan.

Wallahu a’lam & Wassalam

 

note 12 Agustus 2013 :

  • hendaknya artikel ini tidak dipakai mentah2, yang harus diperhatikan adalah aspek per-aspek dari transaksi kredit melalui bank syariah yang bisa jadi tiap2 bank syariah berbeda-beda. Bisa jadi ada bank yang sudah memenuhi harapan di atas dan layak untuk dipercaya.
  • hal ini tidak berlaku untuk bank saja, namun untuk semua kegiatan kredit baik kelembagaan atau personal, semuanya mesti memenuhi rambu2 diatas
  • bagi yang punya informasi adanya lembaga2 yang telah sesuai maka boleh dishare ke kami. terimakasih

9 Responses to “Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah”

  1. sd said

    yang jelas jika pemilik modal/uang membelikan mobil tsb ke orng yg butuh mobil tp gak sanggup tunai, & orng yg butuh mobil tsb nyicil ke pemilik modal tsb, maka itu bukan syar’i. Tapi RIBA!! Model gini yg banyak terjadi..

  2. abu musa said

    saya suka tulisan-mencari-kebenaran seperti ini, sangat bermanfaat di saat saya googling cara membeli mobil kredit yang tidak melanggar sunnah, jazzakallohu khoiron!

  3. abusarah said

    masyaAllah …….penjalasan yg sesuai realita, memang kita harus berhati-hati terhadap istilh syar’i yg begitu mudah disematkan di bank, yg kenyataan nya masih terdapat praktek riba di dalamnya, allahu musta’an,
    jazakallahu khoiron katsira..

  4. Edy Erwanta said

    Assalamu ‘alaikum wr. wb…. saat ini saya mencari kredit mobil yang bener-benar syar’i… Ya Allah berilah petunjuk-Mu tentang kebenaran.. bagi saudaraku muslim, tolong beri petunjuk bagaimana saya mendapatkan mobil secara kredit yang diridhloi Allah.. Jazakallah khoiron katsira.. alamat : erwantaedy@yahoo.com atau HP: 082324645599 …. Wassalamu’alaikum wr.wb.

    • Edy Erwanta said

      Siapa saja hamba Allah, saya mau pinjam uang secara syariah. mungkin ada semacam jaminan sebagai menambah kenyakinan/amanah. Isya Allah Saya sanggup. Saya PNS hampir tidak punya hutang di Bank. tinggal angsuran kecil. dan saya akan lepas dari Bank. Semoga Balasan yang lebih baik dari Allah menyertai Muslim yang sholeh dan amanah. Amiin.. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

  5. Syukran ya akhii atas sharing yg bermanfaat.
    Sangat bermanfaat bagi ana yg juga lagi mencari informasi kredit mobil yg benar2 syar’i..
    Mohon informasi jika antum menemukan kredit mobil syar’i..
    Jazakallahu,

  6. Darul said

    Rupanya ini yg terjadi di bank syariah.lemah deh semangat gua tuk kuliyah di prodi perbankan syariah

  7. Hasbullah said

    Assalamu ‘alaikum wr. wb…. saat ini saya mencari kredit mobil yang bener-benar syar’i… Ya Allah berilah petunjuk-Mu tentang kebenaran.. bagi saudaraku muslim, tolong beri petunjuk bagaimana saya mendapatkan mobil secara kredit yang diridhloi Allah.. Jazakallah khoiron katsira.. alamat : hasbullah041@pln.co.id

  8. subadi said

    pinjem uang kemertua aja gak riba kan
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 953 other followers

%d bloggers like this: