Something inside my minds

Archive for the ‘darul islam’ Category

Hadits Dhoif – Menasehati Penguasa Dengan Diam Diam

Posted by dnux on July 25, 2013

أحاديث ــ سرية النصيحة ــ رواية ودراية

Hadits menasehati dengan diam diam – riwayat dan diroyat

بسم الله الرحمن الرحيم

( أحاديث ــ سرية النصيحة ــ رواية ودراية )

أخرج أحمد في المسند (3/404) { جلد عياض بن غنم صاحب دارا ــ رجل من أهل الذمة ــ حين فتحت ، فأغلظ له هشام بن حكيم القول حتى غضب عياض ، ثم مكث ليالي فأتاه هشام فاعتذر إليه ، وقال هشام لعياض: ألم تسمع النبي ــ صلى الله عليه وسلم ــ يقول :” إن من أشد الناس عذاباً أشدهم عذاباً في الدنيا للناس “فقال عياض: ياهشام ألم تسمع رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ يقول ” من أراد أن ينصح لذي سلطان بأمر فلا يبد له علانية وليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه

Imam Ahmad dalam musnad 3/304 mengeluarkan hadits “Iyadh tengah menjlid seorang penduduk dari ahlu dzimah ketika penaklukan, maka Hisyam bin Hakim meninggikan suaranya (mengecamnya) hingga marahlah Iyadh. Selanjutnya (Hisyam) tinggal berapa malam kemudian mendatanginya (Iyadh) dan memperingatkan Hisyam : “Apakah engkau tidak mendengar bahwa Nabi SAW telah bersabda : Sesunggunya yang paling keras siksanya dihari kiamat adalah mereka yang paling keras siksanya di dunia kepada manusia” Maka Iyadpun berkata : “Ya Hisyam apakah engkau juga tidak mendengar bahwa rasulullah SAW bersabda : Siapa yang hendak menasehati penguasa maka jangan menampakkannya terang terangan, namun hendaklah menarik tangannya lalu menyendiri (menasehatinya). Kalau dia menerima maka itulah (yg diharapkan), dan bila dia menolak maka sungguh kau telah melaksanakan tugasmu”

 

وروى هذا الحديث ابن أبي عاصم في السنة (2/521) بثلاثة طرق كلها لم تصح ، الأول منها في إسناده ــ كما هو في المسند ومعرفة الصحابة لأبي نعيم (4/18) ــ شرحبيل بن عبيد الحضرمي تابعي ثقة يرسل كثيراً ( التقريب 1/349) ، وفيه أيضاً بقية بن الوليد له غرائب ومناكير لا يحتج به ( الميزان 1/339)

Yang meriwayatkan hadits ini adalah Abi Ashim di sunnahnya (2/251) dengan tiga jalur yang semuanya tidak sahih. Yang pertama dari sanadnya sebagaimana di musnad dan diketahui dari Sahabat dari Abu Hatim (4/18) Syuraih bin ‘Ubaid Al Hadlromi tabiin tsiqoh namun kebanyakan mursal (taqrib 1/349) dan disana juga ada baqyah bin walid yang padanya sering ghoring dan mungkar dan tidak bisa digunakan sebagai hujah “

  Read the rest of this entry »

Posted in darul islam, darul kufur, hizbut tahrir, manhaj, pencerahan | Leave a Comment »

Politik Air untuk Mengusir Israel Tanpa Senjata

Posted by dnux on November 20, 2012

Balikpapan 20 November 2012 – DwiNugroho

Sebagaimana daerah timur tengah umumnya, Israel juga berada di daerah sulit air yang secara geogrfis memang sulit air. Kesulitan itu lebih parah lagi karena hakekatnya negara tersebut dikungkung oleh negara2 tetangga yang merupakan daerah sumber air.

Sumber air bersih Israel :

Sumber Convensional (alami) :

  1. Ground water dari Coastal Acuifer + Mountain Basin – terbesar
  2. Danau Tiberias / Laut Galiela yang airnya mengalir dari Suriah via dataran Golan – bukan utama tapi relatif paling mudah
  3. Sungai2 kecil yang merupakan mengalir dari Mt Lebanon atau kunung2 kecil sepanjag Tepi Barat seperti Mt Ebal, Mt Gerizim, Mt Gilboa, Mt Tabor
  4. Sumber non Convensional
  5. Artificial ground water recharge
  6. Reclaimed Water (re-use water) untuk pertanian
  7. Desalination air laut

Ada juga sumber air yang besar namun tidak bisa digunakan sebagai air bersih yaitu Laut Mati karena airnya asin (33.7% salinity)

Read the rest of this entry »

Posted in darul islam, israel, jihad | 1 Comment »

Jangan pisahkan antara Iman (Tauhid), Khilafah dan Jihad

Posted by dnux on December 7, 2011

Setidaknya ada beberapa seruan yang khas terdengar dari dua kelompok tertentu yaitu :

  1. Dakwah itu harus tauhid dulu jangan terburu buru menyerukan Khilafah karena khilafah akan terwujud bila tauhid sudah tertanam dengan benar diantara kaum muslimin Tak usah berteriak-berteriak khilafah di jalan.
  2. Jihad tidak harus menunggu khilafah. Mengatakan jihad hanya bisa dilakukan apabila ada khilafah maka bisa jadi perkataan ini adalah titipan penjajah asing untuk melemahkan semangat jihad

Semua perkataan diatas tidak bermaksud bahwa mereka menolak atau tidak merindukan Daulah Islam, namun hanya sebatas berbeda dalam masalah prioritas, fikroh ataupun thoriqoh/manhaj dengan kelompok yang dimaksud oleh dua peryataan diatas yaitu Hizbut Tahrir (HT) yang memang terlihat sangat getol dalam menyuarakan khilafah dan mungkin dinilai gatal bila dalam setiap ceramah tidak menyinggung masalah khilafah dalam materi ceramah, khutbah ataupun artikelnya.

Tidak ada yang salah dalam dua kalimat di atas, bahkan kedua statement di atas mengandung makna yang benar dan samar kesalahannya yaitu :

  1. bila mereka menisbatkan tuduhan itu kepada HT seakan akan yang mereka katakan itu 100% mencerminkan pikiran/ langkah dakwah HT padahal faktanya tidak demikian
  2. pembiasan atau pelebaran masalah yaitu yang harusnya adalah perbedaan thariqah/manhaj kemudian dilebarkan dilebarkan ke masalah ide/fikrah fiqh, tauhid dll

Kesalahan yang tidak bisa dideteksi dari dua ungkapan diatas adalah masalah fikiran/hati yaitu apakah sebenarnya pada si pengucapnya ada peluang dia menolak khilafah dan lebih memilih mempertahankan status quo saat ini yaitu berbagai bentuk negara yang terpecah belah dalam nasionalisme dan diterapkannya undang-undang jahiliyah di tiap-tiap negara tersebut. Wallahu’alam, yang jelas Allah sesungguhnya memuji dan merangkaikan tiga aspek di atas (Iman, Khilafah dan Jihad) dalam ayat-Nya yang mulia :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. al-Baqarah [2]: 218).

Kok tidak ada khilafah di ayat itu ? Sekilas memang demikian, tapi bila dicermati makna hijrah yang hakiki yang dilakukan Nabi SAW adalah berpindahnya dari darul kufur (Makkah) ke Darul Islam (Madinah) maka sesungguh- nya urgensi hijrah pada saat ini adalah merubah atau mengalihkan status negeri Islam saat ini dari Darul Kufur ke Darul Islam. Hal itu dipertegas kemudian oleh Rasulullah SAW setelah beliau menakulkkan Makkah maka beliau bersabda :

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ فَتْحِ مَكَّةَ

Tidak ada Hijrah sesudah penaklukkan Mekkah

Sebab dengan ditaklukannya Mekkah maka seketika itu Makkah telah berubah (bergabung) menjadi Darul Islam sehingga tertutup peluang lagi untuk hijrah bagi penduduknya.

Dan khilafah adalah represntasi dari hijrah. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang dibangun diatas pondasi tauhid/ iman untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Hijrah bisa dilakukan dengan berpindah ke wilayah yang telah menjadi Daulah Islam atau dengan merubah negeri mereka menjadi Darul Islam sebagaimana umat Islam di Yatsrib merubah wilayah mereka dari sebelumnya berpecah-pecah dalam kabilah menjadi satu entitas Darul Islam yang dipimpin oleh Baginda SAW

Pada masa sekarang maka ketika tiada Daulah Islam maka akan terbuka peluang hijrah ke Daulah Islam sebagaimana kaum Muhajirini atau terbuka peluang juga untuk menjadi kaum penolong yang wilayahnya mereka rubah secara sukarela menjadi Darul Islam (Khilafah) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Anshar.

Tauhid dulu baru khilafah vs Rancangan UUD HT yang mendahulukan aqidah

Tentu HT juga berpendapat bahwa tauhid/iman adalah masalah yang harus diutamakan. Bahkan khilafah itu tidak akan tegak bila tauhid/ iman tidak tertancap dengan benar terutama kepada penyerunya atau kepada aktivis dakwahnya. Yang menjadi persoalan adalah: (1) sejauh mana dakwah tauhid itu dilakukan ? (2) sejauh mana cakupan dari tauhid yang dimaksud ? (3) apakah harus menunggu 100% bertauhid benar baru kemudian menyerukan khilafah ? (4) atau masyarakat harus 100% dulu bertauhid baru didengarkan kata khilafah kepada mereka ? (5) apakah buletin yang menyuarakan khilafah harus diboikot dulu karena tauhid masyarakat belum mantap ?

Rancangan Dustur/UUD yang dibuat HT pada Pasal 1 menyebutkan pentingnya aqidah dalam khilafah  : Akidah Islam adalah dasar negara. Segala sesuatu yang menyangkut institusi negara, termasuk meminta pertanggungjawaban atas tindakan negara, harus dibangun berdasarkan akidah Islam. Akidah Islam menjadi asas undang-undang dasar dan perundang-undangan syar’i. Segala sesuatu yang berkaitan dengan undang-undang dasar dan perundang-undangan, harus terpancar dari akidah Islam.

Pemaknaan pasal ini tidak berdiri sendiri dalam praktenya sebab aqidah adalah sesuatu yang abstrak. Karena itu harus diterjemahkan ke pasal 2 : Darul Islam adalah negeri yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum Islam, dan keamanannya didasarkan pada keamanan Islam. Darul kufur adalah negeri yang di dalamnya diterapkan peraturan kufur, dan keamanannya berdasarkan selain keamanan Islam. Maka makna negara dibangun diatas tauhid adalah apabila keseluruhan hukum di negara itu adalah hukum Islam dan tidak ada satu undang-undang yang bertentangan dengan hukum Islam yang boleh dilegislasikan dan diterapkan di dalam negara.

Namun kemudian muncul pertanyaan : hukum Islam kan banyak dan kadang ada yang saling bertentangan. Maka hal ini dijawab di pasal ke 3 : Khalifah melegislasi hukum-hukum syara’ tertentu yang dijadikan sebagai undang-undang dasar dan undang-undang negara. Undangundang dasar dan undang-undang yang telah disahkan oleh Khalifah menjadi hukum syara’ yang wajib dilaksanakan dan menjadi perundangundangan resmi yang wajib ditaati oleh setiap individu rakyat, secara lahir maupun batin. Hukum Islam boleh berbilang, namun khalifah/imam-lah yang menetapkan aturan mana dari sekian aturan Islam yang berbeda yang diterapkan di masyarakat khususnya dalam ranah muamalah supaya terhindar dari sengketa. Mematuhi Imam pada hal yang dima’rufkan adalah kewajiban sebagaimana dalam QS 4:59

Meski demikian, khalifah/imam tidak boleh kebablasan. Dia tidak boleh menutupi kebebasan masyarakat dalam ber-pendapat, menyebarkan ilmu Islam yang bisa jadi tidak sesuai dengan pendapat Imam. Yang dilarang adalah masyrarakat dilarang menerapkan pendapat yang berbeda dengan Imam. Imam tidak boleh mengadopsi madzab aqidah ataupun madzhab fiqh secara mutlak. Dia cukup mengadopsi hukum hukum yang sekiranya tidak diadopsi/ditetapkan maka akan terjadi konflik di masyarakat.

Dalam pasal 4 disebutkan : Khalifah tidak melegislasi hukum syara’ apa pun yang berhubungan dengan ibadah, kecuali masalah zakat dan jihad. Khalifah juga tidakmelegislasi pemikiran apapun yang berkaitan dengan akidah Islam. Hanya saja keluasan dalam RUU pasal 4 diatas kemudian direspon secara serampangan dengan perkataan berikut “Hal ini berarti sekulerisasi dan liberalisasi terhadap syari’at Ibadah selain zakat dan jihad bahkan aqidah Islam. Padahal di zaman Nabi dan era Khulafaur rasyidin mereka jugalah yang menentukan batasan-batasan aqidah dan ibadah yang shohih, tidak hanya dalam perkara zakat dan jihad semata.” Sekulerisasi dan Liberalisasi itu apa ? jangan menafsirkan istilah yang jauh panggang dari api. Membolehkan berbedanya tata cara ibadah justru merupakan hasil dari memahami syara khususnya hadits nabi yang memang memungkinkan terjadinya perbedaan dalam ibadah sebagaimana perbedaan imam madzab

Ketidakpantasan khalifah mengadopsi sebuah madzab juga tercerminkan dari sikap Imam Malik yang dua kali menolak permintaan Khalifah Al-Manshur untuk menyebarluaskan alMuwatho ke seluruh negara sebagai pegangan para Qodhi. Penolakan itu beliau ulang pada masa khalifah berikutnya yaitu Harun AlRasyid yang juga bermaksud untuk menjadikan kitab Muwatho sebagai kitab resmi negara. Terlebih yang dimaksud dalam pasal 4 diatas bukan berarti kemudian Daulah membiarkan penyimpangan dalam masalah ibadah ataupun aqidah. Tentu hal-hal yang menyimpang secara qothi akan dilanggar. Pembahasan hal tersebut secara panjang lebar dituangkan dalam buku HT lainnya yang berjudul “Nidzom Uqubat fil Islam” atau “Sistem Sanksi dalam Islam”

Tauhid dulu baru Khilafah ? bagaimana dengan kajian Ekonomi Islam ?

Apakah urutan itu adalah dari Rasulullah SAW bukan ? Sebab bila itu adalah perkataan Rasulullah SAW maka mutlak harus kita terima dan langsung dilaksanakan bila tidak ada dalil lain yang bertentangan atau memungkin penafsiran lain. Namun pada faktanya pernyataan diatas adahal saran dari manusia biasa saja yang tidak mutlaq kebenarannya. Bukan berarti tidak benar, namun ada kemungkinan tidak benar.

Penerapan pada Individu : saat ini dalam keadaan apapun kualitas iman dan islam kaum muslimin pada saat ini maka mereka pada dasarnya beraqidah Islam ketika mereka beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab, nabi2, hari kiamat & qodho qodar. Mereka juga wajib melaksanakan seluruh kewajiban Islam sejak mereka menjadi mukalaf yaitu melaksakan sholat, berpuasa, zakat, bermuamalah Islam, berhukum dengan hukum Islam termasuk untuk berbaiat kepada Khalifah bila ada.  Lalu bagaimana meletakkan tauhid dulu baru khilafah ? Bila yang dimaksud adalah seseroang harus beraqidah Islam dulu baru kemudian melaksanakan hukum Islam maka hal itu tentu sangat benar dan sepertinya tidak perlu panjang lebar dibahas. Demikian juga untuk mendalami aqidah supaya terbebas dari syirik yang bisa menggu-gurkan amal atau menyebabkan dosa besar maka hal tersebut jelas harus selalu dikaji dan dikaji beriringan dengan peng-kajian, penelaahan hukum Islam yang juga harus dijalankan seperti sholat, puasa termasuk pula hukum pemerintahan yaitu khilafah.

Penerapan pada Masyarakat : ada yang mengatakan bahwa masyarakat harus baik dulu aqidahnya agar khilafah tegak. Maka hal itu sangat benar 100%. Yang menjadi pertanyaan adalah : apakah mengunggu semua anggota masyarakat baik dulu aqidahnya atau cukup sebagian dari mereka ? Bercermin dari fakta dakwah Rasulullah SAW ternyata dijumpai bahwa Rasulullah SAW tidak menunggu masyarakat Makkah atau Madinah beriman 100% untuk kemudian menerapkan Islam secara kaffah dalam wujud pemerintahan Islam, namun ternyata baru sebagian dari mereka saja yang beriman baru kemudian beliau hijrah ke Madinah. Kunci sukses dari dakwah Rasulullah SAW adalah dukungan tokoh-tokoh masyarakat Yatsrib yang tentu mereka sudah beriman dan membaiat beliau SAW sebagai penguasa atas mereka.

Karena itu maka seruan kepada khilafah juga tidak ada dalilnya untuk dibatasi hanya boleh disampaikan ketika masyarakat sudah beriman seluruhnya. Adapun firman Allah SWT berikut :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

yang artinya : Allah berjanji kepada orang orang yang beriman diantara kalian dan (mereka) beramal sholeh, bahwa mereka akan dijadikan khalifah dimuka bumi (QS 24:55), maka di ayat mulia tersebut tidak ada indikasi pembatasan bahwa khalifah (pergantian kekuasaan) hanya akan diberikan setelah mereka semuanya beriman dan beramal sholeh. Justru ayat itu menunjukkan bahwa khalifah hanya akan diberikan kepada sebagian dari mereka yaitu yang beriman dan beramal sholeh, tidak kepada seluruh masyarakat. Artinya memang akan tetap ada dari masyarakat yang tidak beriman dan/atau tidak beramal sholeh pada saat khilafah itu tegak atau pada saat upaya perwujudannya.

Sesungguhnya apabila aktivitas dan seruan HT yang sering terlihat di public adalah tuntutan penegakan khilafah, maka tidak berarti HT tidak mendahulukan aqidah ataupun melalaikan kajian akhlaq dan muamalah syababnya. Setiap daris atau calon anggota HT wajib untuk memulai dengan kitab Nidzomul Islam yang dua bab pertama membahas fundamental aqidah Islam yaitu mengenai Thoriqul Iman (Jalan Mencapai Iman) diikuti dengan Qodho Qodar. Dua pembahasan itu mengeluarkan siapapun yang ikut halaqoh untuk membangun aqidah dengan penuh kesadaran, bukan atas dasar taqlid dimana taqlid dalam aqidah merupakan seburuk-buruknya taqlid. Demikian pula dengan mengkaji qodho qodar yang benar maka syabab HT akan menjadi syabab dinamis yang termotivasi dan tergerak untuk menjadi agen perubahan, bukan menjadi seorang fatalis yang menunggu perubahan tanpa aktif merubah faktor penyebab keadaan itu sendiri.

mendakwahkan Ibadah & Ekonomi tapi tidak mendakwahkan Khilafah

Satu sisi ketika mereka mengatakan bahwa dakwah harus dari Tauhid dulu namun toh pada kenyataanya mereka juga berceramah masalah fiqh ibadah dan muamalat bahkan membuat jaringan komunitas penguasa muslim. Hal ini sangat bagus bahkan saya juga senang membaca artikelnya. Namun menjadi pertanyaan dan sekaligus menjadi kontradiksi ketika mereka pada prakteknya ternyata tidak membatasi dakwah pada tauhid saja, namun mereka berdakwah yaitu memperbaiki seluruh aspek dari umat Islam: minus aspek khilafah. Apa yang menyebabkan harus dibedakan antar hukum Islam itu ?  Dakwah tauhid jangan dipisahkan dari khilafah karena dua hal itu sebenarnay tidak terpisah. Imam Ghazali dalam Ihya berkata : “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak punya pondasi akan ambruk, dan suatu yang tidak punya penjaga pasti akan lenyap

Menggembar-gemborkan Khilafah di jalan-jalan

Memang apa masalahnya? Mari simak perkataan sahabat ketika membaiat Rasulullah SAW di Aqobah : Dari Sahabat Ubadah bin Shamit “Kami telah berbai’at kepada Nabi saw untuk senantiasa mendengar dan mentaati perintahnya, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun yang tidak kami senangi, dan kami tidak akan merebut kekuasaan dari yang berhak (sah), dan agar kami senantiasa mengerjakan atau mengatakan yang haq dimanapun kami berada, tidak takut akan celaan dari orang-orang yang mencela.” (HR. Bukhari). Itulah janji yang dikatakan oleh para sahabat Anshar : Mengatakan yang haq dimanapun kami berada, tentu ini adalah kalimat mutlaq yang menunjukkan arti dimanapun, baik itu di depan penguasa itu ataupun di tempat umum ataupun membicarakannya di tengah masyarakat untuk membentuk opini, menyatukan pendapat dan gerak masyarakat untuk meluruskan penguasa agar kembali kepada jalan yang benar.

Lebih mengherankan bila kemudian mengkritik dakwah Islam di jalan-jalan yang Islami namun tidak mengkritik demonstrasi yang mendakwahkan solusi-solusi yang berasal dari ide/hukum kufur ? Demikian juga tidak ada kritik ketika banyak lelaki wanita berduyun duyun mengikuti jalan sehat dengan bercampur baur tanpa batas. boleh kritik namun harus adil dan proposional juga. Pandangan saya tentang hukum syara terkait masalah demonstrasi bisa dijumpai di blog saya : http://dnuxminds.wordpress.com/2011/04/14/penjelasan-dan-hukum-syara-terkait-demonstrasi-unjuk-rasa/

Menyerukan Khilafah, berpangku tangan dan Meninggalkan Jihad

“Khilafah tidak akan terwujud dengan berteriak teriak di jalanan saja”. Demikian ungkapan yang disampaikan oleh ikhwan jihadis. Ungkapan ini mengadung kemajuan daripada kelompok pertama yang diam saja terhadap upaya penegakkan khilafah walau sebenarnya mereka tidak mau disebut berdiam diri. Setidaknya ungkapan diatas lebih terlihat visi masa depan umat Islam untuk hidup dibawah Khilafah (Darul Islam) dan ada upaya keras untuk meninggalkan hukum jahiliah.

Yang perlu diluruskan disini adalah, yakini apabila ungkapan diatas sekaligus tuduhan ke HT. Kalau dikatakan HT tidak mengorganisir jihad maka itu benar. Namun bukan berarti HT meninggalkan Jihad. HT berpen-apat bahwa jihad tetap ada hingga hari kiamat sebagaimana sabda masyhur dari Nabi SAW, namun HT adalah partai politik yang bergerak dibidang politik khususnya dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar bil lisan. Lagipula yang wajib melakukan jihad adalah individu sebab seruan syari itu jatuh ke individu. Syabab HT dipersilahkan bahkan didorong untuk berjihad bila negerinya diserang oleh kaum kafir. Namun aktivitas itu adalah aktivitas individu, bukan aktivitas HT. HT berjuang secara politis yaitu melalui seruan dan himbauan-himbauan. Contoh praktenya adalah HT selalu menyerukan kepada penguasa negeri Islam agar mengirimkan pasukan ke Palestina, bukan sekedar mengirimkan dana dan obat-obatan saja. HT juga memotivasi petinggi petinggi militer di seluruh negeri untuk bergerak membantu saudara-saudara mereka yang tertindas di negara negara yang sedang dijajah. Mengenyahkan Israel adalah solusi tunggal bagi Palestina, bukan perundingan & perdamaian.

Bahkan lebih dari yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam termasuk kelompok yang menekankan jihad adalah untuk mengusir pasukan asing dari negeri yang terjajah, maka sesungguhnya visi jihad dalam pandangan HT bukan hanya untuk mempertahankan dan mengusir pasukan penjajah (defensif), namun termasuk untuk meluaskan wilayah Daulah Islam (Offensive) hingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Dalam kitab Daulah Islamiyah syaikh Nabhani mengatakan : Politik luar negeri ini berdiri di atas pemikiran yang tetap dan tidak akan berubah, yaitu penyebarluasan Islam ke seluruh dunia pada setiap umat dan bangsa. Inilah asas yang di atasnya dibangun politikluar negeri Daulah Islam. Politik luar negeri tersebut dijalankan dengan metode yang tetap dan tidak pernah berubah yaitu jihad, walaupun para pemegang kekuasaan berbeda-beda. Metode ini tetap berlaku di sepanjang masa semenjak Rasul saw menetap di Madinah hingga berakhirnya Daulah Islam yang terakhir.

Mengusir penjajah dengan jihad adalah kewajiban. Namun jangan setelah penjajah terusir justru umat Islam saling berperang karena perbedaan visi antara ingin menegakkan daulah Islam dan menegakkan negara sipil sekuler. Karena itu disamping jihad mengusir pasukan asing, yang harus dilakukan adalah “berjihad” mengusir pemikiran kufur, menyamakan pikiran dan perasaan masyarakat untuk hidup dibawah Daulah Islam yang akan menegakkan Tauhid dan Jihad.

Kontradiksi ungkapan “Tegakkanlah Daulah Islam dalam hati kalian niscaya akan ditegakkan Daulah Islam di negara kalian”

Kalimat teresebut sangat masyhur disampaikan oleh Syaikh Albani. Saya tidak hendak meyoroti makna sekaligus metodologi yang dimaksud dalam ungkapan itu. Hanya sering sekali terjadi kontradiksi dengan statement dari banyak syabab pendakwah yang mengatakan bahwa negeri Islam semisal Arab Saudi atau Indonesia adalah Daulah Islam. Lha bila Arab Saudi adalah Daulah Islam, lalu buat apa syaikh Albani menyampaikan ungkapan yang seakan akan belum ada Daulah Islam saat ini sehingga perlu dimulai dengan menancapkan di hati dulu ? Tentu korelasi positif dari ungkapan itu adalah saat tidak ada daulah Islam atau darul islam atau khilafah maka perlu ditancapkan di hati semoga wujud Daulah Islam (khilafah) sebenarnya. Hanya saja memang banyak dari kita yang segan untuk mengakui bahwa negara kita adalah termasuk Darul Kufur, karena kuatir istilah Darul Kufur itu berimplikasi pada kekufuran seluruh anggota masyarakat di dalamnya. Padahal yang dimaksud disini yang kufur adalah sistem hukumnya, sebagaimana Rasulullah SAW sendiri juga pernah tinggal di Darul Kufur Makkah sebelum hijrah.

Demikian juga ada beberapa ikhwan yang mengatakan “kami juga ingin tegakknya Daulah Islam, namun bukan dengan cara yang yang berteriak teriak di jalan, tapi menasehati penguasa diam diam”. Bagi saya hal itu tidak masalah karena sah untuk ikhtilaf dalam hal fikrah dan/ataupun thariqah, namun selayaknya tujuan khilafah itu disampaikan dengan jelas kepada masyarakat agar masyarakat tidak terjadi bingung dalam menanggapi perlu tidaknya atau urgensitas dari Khilafah.

Karena itu maka sekarang bukan lagi membeda dan memisahkan antara dakwah tauhid, khilafah dan jihad, karena tiga hal itu adalah serangkaian aktivitas yang dengannya akan tercapai kejayaan Islam dan muslimin, tidak salah satunya tidak salah duanya, tapi harus ketiga tiganya wujud dalam dunia Islam saat ini dan selamanya. Khilafah tak akan tegak tanpa tauhid dan amal sholeh pejuangya, demikian juga tanpa khilafah maka dakwah tauhid akan berjalan tidak optimal karena tidak bisa membungkam mereka yang menjadi sumber kerusakan aqidah. Demikian pula jihad tidak akan memberikan hasil maksimal bila hanya diorganisir oleh kelompok sipil saja, dan tidak digerakkan oleh sebuah negara. Wassalam. dnux-

 

Posted in aqidah, darul islam, darul kufur, hizbut tahrir, jihad, manhaj | Leave a Comment »

Me-Yatsrib-kan Indonesia

Posted by dnux on October 31, 2011

Pikiran positif akan menghasilkan tindankan positif . Kita mengibaratkan negara dan masyarakat tempat kita hidup, apakah sebagai kota Makkah atau mengibaratkannya sebagai kota Yatsrib ??

Keseluruhan umat Islam saat ini di dunia ini berada pada periode Makkah, termasuk juga di Indonesia maupun di Arab Saudi. Makna periode makkah adalah dimana periode dimana aqidah dan syaraiat Islam tidak menjadi landasan dalam kehidupan sosial hukum kenegaraan. Inilah periode yang disebut dengan periode jahiliyah dimana situasinya sama ketika Rasulullah SAW masih berada di Makkah.

Eits .. banyak yang tersinggung karena dikatakan masyarakat sekarang sama dengan masyarakat jahiliah. Bukankah masjid ada dimana mana ? gerakan dzikir dimana mana ? bank syariah ? pesantren ? dll … kok bisa bisanya disebut masyarakat jahiliah ?

Sabar bro ..  dulu ketika Muhammad SAW di Makkah dan sudah diangkat menjadi nabi dan rasul sejak usia 40th dengan membawa agama Islam, tidak serta merta masyarakat Makkah langsung disebut masyarakat Islam. demikian jugaketika dakwah sudah berkembang ke semua kalangan dan sudah banyak orang sholeh menjaga ibadah dan pergaulannya, serta ada  juga masjid/mushola milik pribadi seperti milik Abu Bakar RA, namun toh waktu itu masih dalam kurun “periode jahiliah”. Baru disebut periode Islam ketika Rasulullah SAW menapakkan kakinya di bumi Hijrah, yaitu kota Yatsrib yang kemudian disebut Madinatun Nabi.

Karena itu, seluruh tanah arab dan seluruh dunia pada waktu itu kita sebut sebagai masyarakat jahiliah, walaupun di utara sana ada daerah Syam dan Mesir yang dihuni oleh banyak kaum Yahudi dan Nasrani yang mereka itu juga ada yang tinggal di tanah arab termasuk di Makkah dan juga di Yastrib.

Yang menjadi masalah adalah – dengan mengasosiakan pada keadaan masa lalu kala Nabi SAW berjuang sebelum hijrah – dimanakah dan seperti apakah wilayah kita tinggal ?? Apakah kita mengibaratkan negara dan masyarakat kita sebagai kota Makkah atau mengibaratkannya sebagai kota Yatsrib dimana kedua-duanya adalah kota jahiliah sebelum hijrah yang akhirnya memuliakan Yatsrib dan menghinakan Makkah hingga kelak ditaklukkan dalam Futuh Makkah

Apa bedanya ??  Kan sama saja …

Jelas sangat beda. Pikiran positif akan menghasilkan tindankan positif . 

Pikiran yang terbangun dengan mengasosiakan wilayah kita tinggal sebagai Makkah :

  • kita asosiasikan semua benda yang dikultuskan masyarakat adalah sebaga berhala berhalaseperti latta uzza yang harus dirobohkan atau dihancurkan
  • kita asosiasikan orang yang belum menerima dakwah sebagai abu jahal, abu lahab, walid bin mughirah, abu sufyan dll yang mana tidak ada ampun kecuali harus dicerca, dikafirkan dll
  • kita merasakan begitu banyak penghalang dalam dakwah dan sedikit peluang munculnya penolong, kita bersikap bertahan dan siap melawan propaganda dsb, gerah pada “penentang dakwah”
  • atau parahnya kita mungkin melihat masyarakat ini sebagai masyarakat yang kelak akan diperangi

Pikiran yang terbangun dengan mengasosiakan wilayah kita tinggal sebagai Yatsrib:

  • kita tidak melihat  benda yang dikultuskan masyarakat sebagai berhala yang mendominasi masyarakat
  • kita asosiasikan orang yang belum menerima dakwah sebagai Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz  yang kelak adalah penggerak masyarakat untuk menerima dakwah dan menjadi garda terdepan di medan pertempuran
  • kita merasakan begitu banyak peluang adanya penolong dakwah dan bersabar untuk mendapatkan pertolongan dari mereka
  • kita merasakan wilayah kita tinggal sebagai cikal bakal menyatukan hati-hati umat beriman

Karena itu, sudah selayaknya kita berpikir ulang untuk mengasossiasikan hal hal yang positif agar terbangun gerak dan pengaruh yang positif bagi kita maupun yang berinteraksi dengan kita. Meminimalisasi friksi dan kontraproduktif yang tidak perlu akibat pengaosiassian negatif kita sendiri. Wallahu A’lam

Posted in darul islam, darul kufur | Leave a Comment »

Amil Zakat Dhoruri

Posted by dnux on August 23, 2011

Amil Zakat biasanya kita deskripsikan sebagai petugas yang ditunjuk masjid atau lembaga zakat untuk menerima dan membagikan zakat serta mendapat bagian dari zakat tersebut. Benarkah penafsiran tersebut ? Demikian juga ada beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta yang membentuk Lembaga Amil Zakat, apakah benar mereka bisa disebut amil Zakat ?

Amil zakat yang biasa kita kenal pada masa sekarang ini walaupun secara fungsi ada kesamaanya, namun bukanlah amil zakat yang dimaksudkan dalam Al-Quran Surat At-Taubah:60 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ‘amil-amil zakat ….”.

Menurut Mu’jam Lughatil Fuqoha – karya Dr. Rawwas Qal’ahji , ‘Amil memiliki makna “Seseorang yang diberi mandat oleh Amirul Mu’minin untuk memimpin suatu wilayah” dengan sinonim bahasa inggris sama dengan “ruler” alias penguasa. Sedangkan Amil Shodaqoh (Zakat) maknanya adalah “Seseorang yang diberi mandat oleh imam (kepala negara Islam) untuk menarik shodaqoh yang tampak”. Dalam Fiqh ‘Alaa Madzahib ‘Arbaah karya Syaikh Al-Jazairy disebutkan juga definisi Amil Zakat menurut madhzab Hanafi adalah “seseorang yang ditunjuk imam untuk menarik zakat dan usyur serta mengambil bagian dari apa yang diperolehnya”

Dari beberapa definisi di atas maka Amil Zakat dalam prespektif fiqh Islam adalah sebuah jabatan resmi pemerintahan dengan tugas untuk menarik, mengumpulkan dan membagi zakat dan memiliki hak untuk mendapatkan bagian zakat atas jerih payahnya itu. Lebih tepatnya lagi, amil zakat merupakan jabatan struktural dalam sistem pemerintahan Islam. ‘Alamah Syaikh Taqyuddin An-Nabhani dalam Nidzom Hukum fil Islam menempatkan Amil sebagai penguasa Imalat (kabupaten) dibawah Wali yaitu pemimpin Wilayah (propinsi) dimana wali berada dibawah Khalifah. Dalam pelaksanaan pemerintahannya Wali dikontrol oleh Majelis Wiyalah. Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, darul islam, darul kufur, puasa, zakat | 3 Comments »

Fakta Pengopinian Terorisme = Islam

Posted by dnux on September 29, 2010

Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno mengeluarkan pernyataan yang berseberangan dengan Mabes Polri soal teroris di Sumut. Kapolda menegaskan, serentetan peristiwa yang menghebohkan Kota Medan dan sekitarnya, mulai perampokan Bank CIMB Niaga, hingga penyerbuan Mapolsekta Hamparan Perak, dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris.

Lho  … mengapa kok hanya disebut separatis pak ? mengapa mereka tidak disebut teroris ? dan mengapa aksinya tidak disebut terorisme ? bukankah mereka juga menimbulkan teror di masyarakat karena melakukan kontak senjata dengan aparat khsusunya masih ada yang lolos dan bisa jadi masih membawa senapan.

Mari pak dibuka lagi kembali kamus terorisme :

  1. Di website dictionary.reference.com dijelaskan arti terorisme sebagai berikut : (1) the use of violence and threats to intimidate or coerce, esp. for political purposes. (2) the state of fear and submission produced by terrorism or terrorization. (3) a terroristic method of governing or of resisting a government.
  2. Dalam penjelasan RUU Pemberantasan Terorisme (yang diusulkan pada masa Megawati), pada Bagian Penjelasan pasal 1 diseebutkan Terorisme adalah : suatu kejahatan yang berlatar belakang atau bertujuan politik yangmenggunakan kekerasan dan atau ancaman kekerasan yang sangat membahayakan bagi kehidupan bennasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Singkat kata : terorisme adalah penggunaan teror yang membahayakan masyarakat untuk mencapai maksud maksud politis. Lalu apa yang terkategori tujuan politis ? Monopoli diskusi di media televisi khususnya Metro TV dan khususnya lagi TV One yang menghadirkan “pakar” terorisme bolak balik mengarahkan pada opini bahwa maksud politis dari para teroris adalah pembentukan negara islam atau khilafah.

Padahal masih banyak lagi cakupan dari “kekerasan dengan tujuan politis”, antara lain  :

  1. Separatisme atau pemisahan wilayah. Beberapa daerah yang rawan antara lain Aceh, Riau, Kalimantan, Maluku, Papua dan tentu saja yang sudah terjadi adalah di Timor Leste.  Dalam tingkatan aksi terorisme bersenjata, di Papua telah terjadi beberapa kali serangan kepada polisi atau regu patroli dan juga kepada kantor polsek. Namun entah mengapa mereka tidak disebut teroris padahal jelas jelas melakukan teror kepada aparat. Lucunya lagi — dan ini adalah super lucu — Australia yang memiliki andil dalam melatih dan membiayai Densus 88 malah marah ketika ada laporan Densus 88 memakan korban anggota RMS …
  2. Pemilihan Umum. Teror berupa intimidasi kepada pemilih untuk memilih calon tertentu (atau partai tertentu) kerap kali terjadi. Bila tidak maka dipastikan akan mendapat kesulitan baik fisik, birokrasi, pemutusan bantuan dan lain sebagainya. Demikian pula sangat sering terjadi teror kepada KPU ketika terjadi konflik kemenangan pilkada dimana salah satu calon gagal menang pemilu ataupun kalah dalam gugatan kekalahan. Entah mengapa yang seperti ini juga tidak disebut terorisme bukankah mereka melakukan aksi teror yang membahayakan untuk tujuan politis ?

Demikian juga masih ada beberapa jenis aksi teror untuk motif lainnya diantaranya motif ekonomi. contohnya seperti (1) pemaksaan penguasaan lahan tanah, perkebunan, pangsa pasar dsb (2) membungkam pekerja atau wartawan untuk menutupi kasus korupsi atau pengabaian hak hak buruh. Namun karena scope terorisme adalah tujuan politis maka contoh diatas tidak dicakupkan dalam definisi terorisme walaupun terjadi aksi teror kepada orang banyak.

Lha lalu apa salah bila kemudian masyarakat berpresepsi bahwa terrorimse selalu identik dengan Islam ? Apalagi diopinikan bahwa ciri khas teroris adalah berjenggot, celana cingkrang, dahi hitam, terutup dari lingkungan, istrinya bercadar dsb … ? Padahal sebagaian besar dari ciri2 itu adalah anjuran Rasulullah SAW yang semata2 ingin dilaksanakan oleh mereka yang mencintai beliau SAW tanpa tendensi apapun ?

Lebih dari itu  … kalau dipikir pikir justru sekarang ini Densus 88 lah yang menciptakan teror baru di masyarakat – khususnya aktivis Islam –  dengan tindakan tindakan brutal dan over acting atas nama tindakan Anti Terorisme ….

Setelah dipikir pikir dan melihat uraian diatas, barangkali pak Oegroseno (Kapolda Sumut) memang benar bahwa yang melakukan perampokan di Padang itu memang bukan “teroris” …

Dan untuk sedikit refreshing, tidak ada salahnya bila cerpen saya dibaca kembali …

Cerpen : Pengadilan Pohon Korma

Ya .. pohon kurma masih terus dicurigai dan didesak untuk dilarang tumbuh. Batang dan akarnya harus menjauh. Kalaupun ada maka batangnya tidak boleh terlalu tegap dan akarnya tidak boleh terlalu menancap. Cukup buahnya saja yang boleh masuk ke negeri ini karena bisa diperdagangkan, itupun syaratnya harus dikemas rapi dan ditulis “DATES” biar keren dan sesuai dengan keinginan pasar.  http://dnuxminds.wordpress.com/2009/08/11/cerpen-pengadilan-pohon-korma/

Wassalam

Posted in darul islam, hendropriyono, terorisme | Leave a Comment »

Fitnah Basi ala Majalah Sabili

Posted by dnux on May 5, 2010

Persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) sesungguhya bukanlah kata manis nan basa basi diatas mimbar ataupun di media dakwah lainnya. Persaudaran Islam adalah pujian sekaligus tuntutan dari Allah SWT kepada semua umat Islam di dunia sebagaimana firmannya dalam surat AlHujurat ayat 10 : “Sesungguhnya  orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara saudara saudaramu”.  Di dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk membentuk dan menjaga persaudaraan berlandaskan aqidah Islam. Ayat tersebut juga mengandung tuntutan agat umat Islam mengutamakan kepentingan Islam di atas kepentingan golongan (hizb/firqoh/jama’ah). Entah berapa yang tahu makna ayat tersebut namun secara tersurat terkesan mengabaikannya

Termasuk diantaranya adalah Majalah Sabili  yang pada terbitan no 21 – Mei 2010 yang secara khusus menulis artikel dengan judul “Menguak Hizb At-Tahrir”. Artikel sepanjang 8 halaman tersebut penuh dengan fitnah dan pembunuhan karakter terhadap hizb Tahrir walaupun sedikit dipolesan beberapa informasi positif dan bumbu wawancara dengan jubir HTI Ustadz Ismail Yusanto agar terkesan seimbang.

Sebenarnya tidak ada hal baru dari artikel di Majalah Sabili tersebut karena content semacam itu sudah banyak berserakan di buku buku, internet, radio, audio video, artikel internet ataupun ceramah ceramah dai yang rata rata pada sok tau terhadap aktivitas hizbut Tahrir dan pemikiran yang diadopsi (ditabani) oleh hizb Tahiri. Bahkan judulnya masih terlalu halus dibandingkan judul dari salafi seperti “Membongkar/Membedah Selubung Kelompok Sesat Hizbut Tahrir”. Namun pada hakekatnya keduanya sama saja karena  sama sama mengacu pada buku Gerakan Pemikiran Keagamaan terbitan WAMY (Word Assembly of Muslim Youth) .

Secara pribadi saya sudah bersinggungan dengan buku WAMY sejak pertama kali mendarat kuliah di IPB Bogor th 1993 dimana beberapa teman kuliah mewanti wanti saya agar berhati hati dan tidak terlibat pembinaan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang ditengarai dikendalikan oleh Hizb Tahrir. Teman saya tersebut memberikan saya buku WAMY yang isinya sedikit informasi tentang hizb Tahrir dan kesesatannya. Namun hanya orang bodoh saja yang menerima dan mengamini informasi tanpa bukti plus konfirmasi. Tentu saya tidak percaya kecuali membuktikan sendiri dan ternyata hingga saat ini apa yang ditulis di WAMY tentang kesesatan hizb Tahrir hanyalah kedustaan saja. Cukuplah orang itu disebut pendusta bila membicarakan tiap apa yang didengarnya (HR Muslim) Kasihan teman saya yang dikibulin habis buku itu sehingga alergi terhadap hizb Tahrir dan ide idenya yang cemerlang dalam membangun umat.

Hizbut Tahrir tidak pernah bersusah payah membantah fitnah dari WAMY. Cukuplah masyarakat sendiri yang pernah bersinggungan dengan tubuh dan ide hizbut Tahrir yang akan menilai bahwa tulisan dari WAMY itu hanyalah kedustaan. Sementara hizb Tahrir akan tetap fokus pada perjuangannya menegakkan syariah Islam dan tidak mau terganggu oleh riak riak perjuangan seperti fitnah WAMY. Namun dengan semakin banyaknya media informasi untuk menghembuskan fitnah murahan itu maka para syabab pun mulai tergerak untuk memberikan bantahan bantahan. Hal ini bukan dilakukan karena ashobiya namun agar umat Islam tidak terjerumus pada kedustaan dan menjadi pendusta. Bantahan bantahan dari syabab Hizbut Tahrir baik itu di Indonesia ataupun di Negara lainnya juga sudah banyak berserakan di internet ataupun di media cetak audio video.

Dan berikut adalah bantahan saya terhadap content majalah sabili (no 21 – Mei 2010) :

  1. Paragraf awal : partai ini mengeluarkan ijtihad syar’i yang kontroversial dan mengundang kecaman ulama ulama. Komentar : Perbedaan ijtihad adalah hal Read the rest of this entry »

Posted in darul islam, darul kufur, hizbut tahrir, pandangan politik | 18 Comments »

Imam Al-Ghazali : Agama dan Kekuasaan adalah Saudara Kembar

Posted by dnux on April 27, 2010

الإمام أبي حامد الغزالي – إحياء علوم الدين-    كتاب العلم
الباب الثاني: في فرض العين وفرض الكفاية….

dari ihya ulumuddin – bab ilmu bagian kedua tentang fardhu ‘ain fardhu kifayah …

فاعلم أن الله عز وجل أخرج آدم عليه السلام من التراب وأخرج ذريته من سلالة من طين ومن ماء دافق فأخرجهم من الأصلاب إلى الأرحام ومنها إلى الدنيا ثم إلى القبر ثم إلى العرض ثم إلى الجنة أو إلى النار فهذا مبدؤهم وهذا غايتهم وهذه منازلهم وخلق الدنيا زادا للمعاد ليتناول منها ما يصلح للتزود فلو تناولوها بالعدل لانقطعت الخصومات وتعطل الفقهاء ولكنهم تناولوها بالشهوات فتولدت منها الخصومات فمست الحاجة إلى سلطان يسوسهم واحتاج السلطان إلى قانون يسوسهم به فالفقيه هو العالم بقانون السياسة وطريق التوسط بين الخلق إذا تنازعوا بحكم الشهوات فكان الفقيه معلم السلطان ومرشده إلى طرق سياسة الخلق وضبطهم لينتظم باستقامتهم أمورهم في الدنيا ولعمري إنه متعلق أيضا بالدين لكن لا بنفسه بل بواسطة الدنيا فإن الدنيا مزرعة الآخرة ولا يتم الدين إلا بالدنيا.

والملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان وطريق الضبط في فصل الحكومات بالفقه وكما أن سياسة الخلق بالسلطنة ليس من علم الدين في الدرجة الأولى بل هو معين على ما لا يتم الدين إلا به فكذلك معرفة طريق السياسة فمعلوم أن الحج لا يتم إلا ببذرقة تحرس من العرب في الطريق ولكن الحج شيء وسلوك الطريق إلى الحج شيء ثان والقيام بالحراسة التي لا يتم الحج إلا بها شيء ثالث ومعرفة طرق الحراسة وحيلها وقوانينها شيء رابع.

sumber : http://www.ghazali.org/ihya/arabic/vol1-bk1.htm

Maka ketahuilah bahwa Allah Azza Wa Jalla telah mengeluarkan Adam AS dari tanah dan mengeluarkan anak cucuka dari tanah liat dan air yang mengalur lalu di keluarkanlha mereka kepada rahih (ibu) dan dari rahim itu ke alam dunia kemudian ke kubur kemudian ke hari kebangkitan kemudian masuk ke surga atau ke neraka. maka ini adalah awal permulaan dan tujuan akhir mereka. dan ini adalah manzilah2 mereka. dan diciptakan dunia sebagai tempat persiapan bagi hari kebangkitan dan tempat berbuat baik sebagai tambahan bekal

andaikan saja manusia melangsungkan urusannya dengan adil maka akan hilanglah sekala permusuhan dan menganggurlah fukoha, akan teta[i manusia melangsungkan urusan dunia dengan sahwat sehingga melahirkan permusuhan sehingga membuat mereka membutuhkan sulthon / penguasa yang mengurusi mereka. Sementara sulthon sendiri membutuhkan qonun untuk mengatur (masyarakat) dengan (qonun) itu.

sedangkan seorang fakih, maka dia adalah ilmu ‘alim dengan undang undang siyasah dan metode untuk moderasi antara makhluq (manusia2) ketika mereka manusia itu hendak berhukum dengan syahwat (dnux : dg keinginan – bukan dg syara), maka seroang fakih adalah pengajar (mu’alim) sulthon dan pembimbing (mursyid) nya sulthon kepada qonun yang mengatur manusia dengannya dan mengontrol/meneguhkan mereka untuk mengatur (manusia) dengan keistiqomahan mereka terhadap perkara2 di dunia

Karenanya maka saya menyatakan bahwa hal itu (pengaturan manusia) terkain dengan agama tidak secara langsung akan tetapi dengan perantara dunia karena dunia adalah ladang akherat. dan tidak akan sempurna agama kecuali dengan (perkara) dunia

Maka kekuasaan dan agama adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi/pokok-nya (ushul) sedangkan penguasa adalah penjaganya. dan apa2 yang tidak ada pondasinya maka dia akan runtuh sedangkan apa2 yang tidak memiliki penjaga maka dia akan lenyap

Tidak sempurna kekuasaan dan kontrol kecuali dengan penguasa (sulthon) dan metode untuk menyelesaikan masalah hukum dengan fikih (pengetahuan agama) sebagaimana untuk pengaturan manusia (siyasah kholq) bukan bagian aspek utama agama tetapi keberadaan dia pada posisi tertentu dimana tidak sempurna agama kecuali dengan hal itu (siyasah kholq)

Karena itu mengetahui cara/metode mengatur manusia itu adalah suatu hal yang ma’lum (pekara yang keberadaanya wajar diketahui) sebagaimana (misal) haji tidak sempurna (prosesnya) kecual dengan kepolisian yang menjaga mereka dari gangguan badui di jalan. Meski demikian haji itu itu adalah satu hal (tersendiri), route haji juga merupakan satu hal (tersendiri) pengaturan pengamanan route haji dimana tidak sempurna haji tanpa hal itu juga merupakan satu hal (tersendiri)

– mohon koreksi apabila ada kesalahan dalam penerjemahan  —

Posted in aqidah, darul islam, darul kufur, hizbut tahrir, islam, manhaj, pandangan politik | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 953 other followers