Something inside my minds

Archive for the ‘pandangan politik’ Category

Ulasan Buku Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (AM Hendropriyono)

Posted by dnux on November 24, 2009

Ulasan Buku Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam
AM Hendropriyono, Penerbit Kompas Oktober 2009

Oleh M.Nugroho

Buku yang ditulis oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN 2001 – 2004) ini merupakan desertasi ujian doktoralnya di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada 15 Juli 2009. Penulis mencoba menggambarkan penyebab dan faktor faktor yang bisa mendorong tumbuh suburnya terorisme dengan cara melakukan kajian analitis bahasa terhadap ungkapan ungkapan pelaku teror .

Pada Bab Pendahuluannya dengan judul Arah Baru Terorisme, AMH menyampaikan bahwa terorisme adalah perbuatan yang tergantung pada sistem nilai dan cara pandang dunia sehingga untuk memahaminya diperlukan suatu kerangka dan metodologi pemikiran yang digunakan pada filsafat. Terorisme pada masa kini telah berkembang lingkupnya menjadi global dengan disponsori oleh negara ataupun oleh organisasi transnasional seperti AlQaeda. Terorisme yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh lulusan perang Afghanistan (Amrozi cs) dan masih terkait erat dengan alQaeda khususnya dalam kesamaannya sebagai pengikut Wahabi garis keras. Di sisi lain, meningkatnya jumlah terorisme juga diikuti dengan meningkatnya jumlah dan kualitas kerjasama internasional untuk memberantas terorisme. Berbagai studi mutakhir mencoba mengkaitkan antara terorisme dengan pemikiran keras Wahabi. Dalam konteks keIndonesiaan, terorisme yang dilakukan anak bangsa mengganggu elemen bangsa lainnya yang tidak bisa memahami bagaimana mungkin terorisme muncul disebuah negara pluralis yang damai berdasar Pancasila dan bersemboyan Bhineka Tunggal Ika. Disini AMH mencoba menjawab kegelisahan tersebut dengan melakukan studi terorisme melalui pendekatan filsafat analitis bahasa terhadap pelaku teroris dengan mengambil dua sample yang representatif yaitu Osama bin Laden (OBL) dan George Walker Bush (GWB)

Di Bab Pertama (Terorisme, Pengertian dan Sejarahnya), AMH menyampaikan bahwa terorisme sebenarnya telah terjadi sejak awal sejarah manusia itu sendiri. AMH mengambil berbagai contoh terorisme pada semua era baik pada masa Yunani – Romawi, Kesultanan di Baghdad, India, Inggris, perang kemerdekaan Amerika, demikian juga berbagai aksi terorisme yang terjadi dari awal Perang Dunia I hingga akhir dari Perang Dunia II termasuk terorisme Yahudi di tanah Palestina. Hanya saja untuk terorisme Islam, AMH memberikan bonus bagi pembaca dengan menguraian panjang lebar sejarah dan perkembangan terorisme AlQaeda yang juga disebut AMH sebagai Wahabi Kontemporer yang bercirikan penafsiran literal yang kaku terhadap text agama dan menolak dialog. Masih di bab yang sama, AMH menjelaskan perbedaan antara perang dengan terorisme meskipun dalam keduanya terdapat kemiripan keluarga (family resemblance) antara bahasa yang dipergunakan dalam perang maunpun dalam terorisme. AMH juga menyatakan universalisme Protestanisme sekuler yang mengusung kapitalisme bertemu dengan universalisme Islam OBL yang mengusung kekhilafahan berdiri pada posisi saling ingin meniadakan satu sama lainnya sehingga keduanya lebih mengutamakan terorisme daripada dialektika untuk menghasilkan perdamaian.

Read the rest of this entry »

Posted in aqidah, pandangan politik, terorisme | Leave a Comment »

Absurditas Teori Invisible Hands & Etika Bisnis Adam Smith

Posted by dnux on October 21, 2009

summary : adam smith sendiri pada masa akhirnya ternyata kuatir bila teori invisible hands & pasar bebas justru memunculkan ketimpangan/ ketidakdilan.

Teori invisibadamsmith-sentimentsle hands dikenalkan oleh Adam Smith (1723-1790) di dalam bukunya The Wealth of Nation (1776). Pandangan tersebut mengatakan bahwa pasar yang baik adalah pasar yang dibentuk oleh kompetisi antara penawaran dan permintaan. Negara harus tidak boleh mengintervensi pasar dalam bentuk apapun (semisal penetapan harga barang, upah kejra, dll) agar tercipta harga yang wajar sebagai wujud keseimbangan dari kompetisi bebas antara kekuatan penawaran dan kekuatan permintaan. Biarkan pasar digerakkan oleh kekuatan tersembunyi yang akan menyeimbangkan antara supply dan demand. Peran Negara dianggap justru akan mengganggun terciptanya efisiensi produksi dan distribusi yang seharusnya terjadi karena dorongan untuk memenuhi peningkatan permintaan.

Ide invisible hands secara langsung mendorong tuntutan kebebasan berekonomi termasuk diantaranya adalah kebebasan berproduksi dimana individu individu haruslah dapat mengembangkan kemampuan dan kuantitas produksinya sehingga diharapkan tercapainya kemakmuran yaitu kondisi dimana masyarakat bisa mendapatkan barang dan jasa semurah mungkin. Untuk mewujudkan hal itu maka masyarakat harus bisa mengakses semua bentuk resources baik itu berupa modal capital, bahan baku industri, mesin, tenaga kerja, dan lain lain agar tercipta produksi secara missal. Inilah semangat dari kapitalisme klasik yang melahirkan revolusi industri

Revolusi industri sendiri dalam sejarahnya disamping meninggalkan efek positif berupa inovasi tekhnologi produk dsb, namun justru lebih banyak efek negatifnya baik dalam aspek sosial maupun dalam aspek ekonomi itu sendiri. Revolusi industry terbukti justru hanya menciptakan kemakmuran bagi kalangan kapitalis borjuis saja sementara kalangan masyarakat khususnya pekerja buruh tidak merasakan hal yang sama. Derita buruh pabrik pada revolusi industry tidak ada bedanya dengan penderitaan kaum buruh tani pada masa feodalisme merkantilisme. Ibaratnya, revolusi industri kapitalisme klasik tiada lain sekedar melanjutkan sejarah feodalisme dan merkantilisme yang menciptakan masyarkat menderita

Karenanya ide invisible hands dikritik habis baik oleh kalangan Marxis mapupun kapitalis Keynessian yang intinya mengatakan tugas negaralah untuk melindungi warga dari penindasan sehingga Negara harus intervensi ke pasar. Dan tidak tepat pula untuk mengatakan invisible hands adalah God’s hand sebagaimana yang disampaikan oleh Adiwarman Karim dalam sebuah bukunya dimana beliau beralasan bahwa bisa jadi Adam Smith terinspirasi oleh perdagangan maju bangsa Arab (Islam) dimana Negara dilarang untuk mengintervensi harga di pasar sebagaimana perintah dari nabi Muhammad SAW terkait hal tersebut. Adiwarman Karim sendiri sebenarnya juga menggarisbawahi bahwa bedanya Invisible Hands dengan ekonomi Islam adalah bahwa ekonomi islam sendiri masih mengenal intervensi ke pasar namun bukan berupa kebijakan penetapan harga, upah dll.

Read the rest of this entry »

Posted in ekonomi islam, krisis ekonomi, pandangan politik, pencerahan | Leave a Comment »

kepada burung merak (ws rendra)

Posted by dnux on August 7, 2009

ah dirimu,
anak manusia bernama wahyu sulaiman rendra …
jutaan sanjung dan kagum telah tertuju padamu
sebelum dan sesudah jasadmu terbujur kaku
dan masih banyak lagi pujian kan diungkapkan walau itu palsu
mengantar kepergianmu setelah jumatan
rintihan dan auman pecinta tertutupi sirine ambulan
atau oleh pidato pidato populis pejabat
yang hatinya membatu pada jerit rakyat
senyum sinis pun sudah tak tahan tuk dilukiskan
pada wajah wajah pendengki pendendam
mengusik keteduhan pohon rindang …

masihkah perlu kau kudoakan ?
mungkinkah kata yang terbata melampaui suara malaikat
atau aku harus berpura pura menggombal seperti pendosa lainnya ?

di dhuha ini aku hanya perlu mengaku padamu
sebelum mayatmu dimasukkan ke liang lahat
sebelum tanah kuburan diinjak injak padat
dan sebelum kafan dikoyak koyak ribuan ulat
bahwa aku sungguh tak berarti dibanding lugumu
yang jujur mengisahkan pedihnya ranah sosial
yang tak sungkan mengoyak topeng pejabat tak bermoral
membuka rencana jahat politikus politikus bejat
menghentikan doa doa pesanan aparat
untuk memulai penggusuran atas nama pembangunan
pembangunan untuk siapa ?

aku berikrar padamu dan pada nabimu
tuk tak lagi malu menceritakan kejujuran
tak peduli sinis bibir yang mencibir

dnux, Jumat 070809

Posted in pandangan politik, puisi, social illness | Leave a Comment »

Ketika moderator dialog cawapres adalah seorang tokoh sekuler

Posted by dnux on June 26, 2009

ini adalah pada saat dialog cawapres pada tanggal 23 Jun 09 yang dimoderatori oleh Komarudin Hidayat

Pertanyaan saya (moderator) berkisar antara hubungan agama & negara. Ada satu pandangan bahwa pertama indonesia masyarakatnya dikenal religious. agama tanpa instrumen politik negara lemah sulit melakukan perubahan sehingga hub agama & politik begitu kental.

Tapi persoalannya, ketika agama masuk pada wilayah politik itu menimbulkan ketidak sehatan. Kadang kadang pembusukan. Agama dipolitisir lalu politik di agamakan. Dan situasi menjelang pemilu atau apa saja itu nampak sekali. Nah nampaknya kita belum punya format bagaimana mestinya hubungan negara dan agama. Apakah agama itu diatas negara, atau agama dibawah (subordinate), atau agama disamping. Karena agama itu bersifat abosult sacral sementara negara itu rasional dan profane. Ketika dua duanya digabungkan selalu menimbulkan masalah.

Nah menurut sodara, kira-kira bagaimana memposisikan agama dan negara ?

——————-

Nampak sekali kesekulerannya memaksakan suatu pandangan “agama itu bersifat abosult sacral sementara negara itu rasional dan profane” untuk memisahkan antara agama dan keduniaan (negara). Agama itu adalah benda sakral yang tidak boleh masuk dunia yang kotor. Agama itu adalah benda ghoib (irasional atau setidaknya supra rasional) sementara dunia itu adalah rasional. Lebih fatal lagi adalah opini yang dipaksakan “Ketika dua duanya digabungkan selalu menimbulkan masalah

——————-

Kritik atas statement si moderator yang berbahaya kalau di iyakan :

1. Apakah agama itu absolut ?

a. Jawaban = iya dalam pengertian aqidah. Aqidah tidak boleh ditawar tawar b. Jawaban = tidak dalam pengertian bahwa ada bagian dari agama kemungkinan untuk berbeda diantaranya adalah masalah tatacara ibadah, muamalah dll

2. Apakah agama itu sakral ?

a. Jawaban = iya untuk pengertian alQuran sebagai sumber utama agama Islam adalah kalam Allah SWT, harus memegang dalam keadaan suci dari hadats kecil ataupun besar

b. Jawaban = tidak untuk pengertian bahwa agama juga mengatur hal tetek bengek seperti thoharoh dari hadats besar dan hadats kecil

3. Apakah agama itu tidak rasional ?

a. Jawaban = (1) iya kalau itu untuk selain Islam. (2) untuk beberapa bagian dari agama seperti cara sholat dll. Itu harus ngikut saja gak usah dicari cari alasannya mengapa sholat subuh itu 2 rokaat dll

b. Jawaban = tidak dalam hal aqidah Islam. semua bisa dibuktikan dengan akal/rasio atau sesuatu yang dipastikan kebenarannya menurut rasio. Demikian juga hukum Islam bisa dipahami secara rasional. Larangan riba bisa dichalange effet dan deffectnya

4. Apakah negara itu profan ?

a. Jawaban = iya kalau negara itu tidak memang berdasar agama tertentu sehingga kehilangan panduan bagaimana bernegara yang benar menurut agama

b. Jawaban = tidak yaitu bahwa negara itu masuk dari bagian agama. Seperti kata imam Ghozali : negara dan agama adalah saudara kembar.

5. Apakah agama dan negara itu kalau digabungkan selalu menimbulkan masalah ?

TIDAK ! (tidak ada kemungkinan jawaban iya). yang disoroti orang2 sekuler seperti komarudin hidayat hanya kasus kasus kedzoliman negara kepada masyarakat atas nama agama. Padahal apapun landasan negara itu, baik itu agama atau non agama sperti komunisme dan demokrasi, selalu terjadi pendzaliman atas nama dasar negara tersebut.

Lihatlah betapa atas dasar sosialis maka uni soviet melarang orang untuk menjalankan ritualnya. Artinya sosialis pun menyebabkan penzaliman warganya. Demikian juga turki atas nama sekulerisme maka Mustafa Kemal memaksa simbol simbol agamapun diberangus dan adzan pun tidak boleh dikumandangkan dalam bahasa arab.

Lihat pula atas nama demokrasi dan HAM maka amerika menghajar Iraq, Afghanistan, Somalia, dsb. Tengok pula bagaimana praktek penerapan Islam sebagai landasan dan hukum negara tidak pernah menjadi masalah kecuali sekedar perebutan kekuasaaan diantara pembesar2 kerajaan. Sedang rakyatnya selalu gemah ripah loh jinawi.

Terbukti bahwa landasan apapun itu dalam sebuah negara maka sangat mungkin terjadi penzaliman. Jadi statement bahwa agama dan negara kalau digabungkan itu selalu menjadi masalah adalah pertanyaan ambigu moderator sekuler untuk penggiring agar yang ditanya menyetujui pendapat sekulernya untuk menjauhkan agama dari negara dengan menutupi fakta baha sebenarnya bahwa hubungan dasar negara (agama atau ideologi apapun ) dengan negara itu sendiri bisa menimbulkan masalah bagi warganya.

Lha herannya kok yang ditanya mantuk mantuk saja yah ? apakah mereka setuju dengan statement moderator ? wallahu a’lam ..

Wassalam

dnux

Posted in aqidah, pandangan politik, pencerahan | Leave a Comment »

Saatnya Caleg Ulama Menjadi Politisi Sesungguhnya

Posted by dnux on April 13, 2009

Pemilu 2009 belum juga usai penghitungannya, namun di beberapa tempat telah beredar berita munculnya caleg yang stress karena jumlah suara tidak mencapai target yang diharapnkan. Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Jiwa dan juga tempat pengobatan alternatif pun jauh hari telah bersiap diri menerima order dari keluarga caleg sebelum caleg tersebut bertambah parah stressnya atau mencegah si caleg mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri akibat tidak kuat menanggung resiko moril ataupun resiko materiil dari kekalahan tersebut.
Penyebab stress caleg bisa terjadi bila si caleg terlalu PD dan gagal mencapai target terutama bila niatnya hanya menjadikan DPR sebagai ajang permak image dan penghasilan alias memperjuangkan egonya semata melalui dana kampanye yang sangat besar sebagai ajang pertaruhan. Bila seperti ini bagaimana diharapkan menyisihkan egonya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tentu dia akan lebih memilih egonya daripada suara masyarakat yang katanya diwakilinya.
Munculnya caleg – caleg stress tersebut sebenarnya menunjukkan kepada kita betapa banyaknya caleg yang sebenarnya memang tidak pantas menjadi anggota legislatif karena tidak memiliki mental yang kuat yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang negarawan. Seorang negarawan haruslah pejuang. Seorang pejuang harusnya memiliki mental tanding yang kuat, bukan mental tempe walau tidak terpilih dalam pemilu legistlatif.
Caleg stress juga menunjukkan mereka bukan caleg yang ideologis atau mungkin malah tidak memiliki ideologi tertentu selain sekedar klaim saja. Caleg yang ideologis memiliki semangat luar biasa didorong keyakinan kebenarnan ideologinya. Mereka tidak akan pernah berhenti berjuang karena hanya gagal menjadi anggota legislatif. Dia akan tetap memperjuangkan ideologi dan kepentingan politiknya baik di dalam atau di luar parlemen karena dia yakin bahwa hanya ideologi nya yang layak diperjuangkan dan diterapkan di masyarakat dan menjadi pijakan peraturan perundang undangan.
Demikian juga bagi ulama yang pada saat ini juga banyak mengikuti ajang pemilu caleg, maka banyak yang menyambut mereka karena sesungguhnya umat  sudah sejak lama umat juga rindu munculnya ulama politisi yang lantang dalam menegakkan Islam atau beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap kebijakan kebijakan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Syariat Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin. Undang undang yang tidak sesuai dengan syariat Islam meski tampak baik dzohirnya atau menawarkan solusi cerdas untuk waktu sesaat, namun sesungguhnya solusi diluar Islam adalah virus yang sewaktu waktu merusak tubuh dan jiwa masyarakat dalam entah dalam rentang waktu menengah atau dalam waktu panjang.
Barangkali sebenarnya ulama juga banyak beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap pemerintah daerah dan mungkin seringkali disampaikan dalam pengajian umum atau bahkan bisa jadi dalam mimbar jumat. Aktivitas tersebut sebenarnya juga adalah politik dan mereka sebenarnya telah menjadi politisi, namun tidak disadari. Hanya saja aktiitas politik mereka hanya bersifat fire fighting saja. Pemadam kebakaran terhadap realitas yang telah terjadi. Bukan bersifat mengendalikan sebagaimana makna term politik itu sendiri, yaitu untuk mengatur/mengendalikan urusan umat (riayatus su’unil umat)
Aktivitas politik yang benar adalah memandang realitas politik dan keterkaitan realitas tersebut dengan kepentingan kepentingan ideologis dibelakangnya. Dengan kata lain, ulama politisi harus selalu memandang realitas berdasarkan sudut pandang ideologis terhadap sesuatu yang bakal terjadi menimpa masyarakat. Diataranaya adalah selalu mengkritisi draft undang undang, peraturan daerah dan lain lain yang sekiranya akan membahayakan umat sebab tidak sesuai dengan syariat Islam.
Lebih dari itu, aktivitas politik tingkat tinggi ulama politisi adalah dengan mengarahkan masyarakat untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang sesuai dengan syariat Islam. Menyadarkan umat bahaya dunia akhirat bila tidak menerapkan sistem Islam. Menggambarkan kepada mereka tatanan sistem Islam yang adil dan mensejahterakan serta membongkar kejahatan sistem demokrasi yang sekian lama mmbuat mereka terdzolimi, terambil hak hak dasarnya dan menjauhkan mereka dari kehidupan yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Kita patut berkaca pada Imam Ghozali yang dalam uzlahnya “menjadi oposisi pemerintah” dengan tidak mendukung Madarasan Nidzamiyah yang dicapnya hanya menjadi setempel kedzaliman penguasa. Beliau juga mengeluarkan kitab Nashihatil Mulk yang berisi kritik + nashihat kepada pemerintah & jajarannya. Demikian juga yang dilakukan para sahabat dan para tabi’in dalam mengotrol menasehati penguasa agar tetap berjalan pada sistem Islam. Kita tidak perlu menjadi oposisi, karena mu’min adalah bersaudara. Kewajiban kita adalah untuk saling menasehati. Meluruskan bila ada kekeliruan dari saudara kita.
Jadi, caleg ulama yang gagal terpilih seharusnya tidak berhenti karir politiknya karena tidak jadi duduk di DPR. Bahkan ini adalah saat yang tepat untuk menjadi politisi sesungguhya, yang senantiasa aktif mengontrol dan mengoreksi penguasa (termasuk juga anggota DPR) agar berjalan sesuai dengan syariat Islam, baik terhadap undang undang yang telah disahkan atau yang sedang diusulkan.
Itulah sikap ulama sejati pewaris nabi. Menjadi politisi untuk melindungi umat dari kedzoliman sistem dan undang undang yang tidak adil. Hanya undang undanga yang keluar dari aqidah dan syariah Islam lah yang pasti memberi keadilan dan memberi kesejahteraan pada masyarakat, bukan demokrasi.
Wassalam
Dwi Nugroho

Posted in pandangan politik, pencerahan, social illness | Leave a Comment »

Saat untuk Menuntut Qishosh pada Zionis Israel & Amerika

Posted by dnux on January 23, 2009

Sangat menarik bila ditinjau bahwa  penarikan tentara Israel dari jalur Gaza terjadi menjelang menjelang pengangakatan Obama menjadi presiden AS menggantikan GW Bush Jr. Setidaknya momen itu mengurangi kritikan kepada AS yang selalu membela setiap tindakan Zionis Israel. Obama mun menunjukkan muka manis AS kepada dunia Islam dengan menandatangani penutupan penjara  Guantanamao serta dukungannya terhadap pembentukan negara Palestina.

Pengangkatan Obama sebagai presiden AS yang baru memang memberi harapan bagi dunia bagi perubahan politik luar negeri AS yang haus darah demi nafsu kapitalismenya. Dan begitu mudah pula sebagian orang di negeri ini berharap banyak kepada Obama semata mata karena dia seorang yang lahir dari seorang Ayah yang muslim dan pernah tinggal di Indonesia sehingga dianggap lebih memahami dan lebih bijak menghadapi Indonesia dan menghadapi dunia Islam.

Hal ini tentu sangat absurd. Karena lama tidaknya seseorang tinggal di Indonesia tidak menjamin dia mengerti akan keinginan dan harapan masyarakat Indonesia. Andaikan mengerti pun, belum tentu juga bisa berbuat untuk mengatasi penderitaan bangsa. justru bisa jadi knowledge tersebut malah dia jadikan untuk membuat strategi menundukkan dan mengexploitasi bangsa Indonesia, seperti yang dilakukan VOC pada jaman dahulu yaitu melakukan devide et impera, atau yang dilakukan Snouck Hurgronje di Padri, ataupun trick trick busuk yang dilakukan pengusaha/pejabat/birokrat untuk berkolusi menipu rakyat pada masa sekarang karena nafsu duniawinya.

Sebenarnya perubahan yang terjadi pada politik Amerika setelah pelantikan Obama sama sekali bukan karena faktor Obama yang pernah tinggal di Menteng, tapi lebih karena realita yang Amerika hadapi bahwa mereka tengah di pintu kebangkrutan ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya. Dari sisi ekonomi Amerika memiliki hutang $53 trillion ( Rp200 juta/orang) dan dari krisis finansial yang per 1 Jan 2009 saja telah membangkrutkan Amerika sebesar $6.9 trillion. Dari sisi politik militer, Amerika tidak mampu lagi memperpanjang atau sekedar mempertahankan pasukannya di Iraq atau Afghatnistan. Demikian juga amerika memiliki masalah sisi sosial budaya yang sangat parah dan mengkhawatirkan kelangsungan entitasnya sebagai sebuah bangsa.

Karenanya, sekarang bukan waktunya untuk takut lagi kepada Amerika. Sekarang adalam momentum tepat dimana dunia Islam harus bangkit menegakkan kepalanya menantang Amerika yang sakit parah. Sebagaimana bangsa Eropa pada abad 19 mulai berani menegakkan kepala menantang Khilafah Turki Utsmani pada PD I karena melihat Turki mulai banyak hutang dan memiliki masalah internal yang sangat parah akibat digerogoti virus-virus kesukuan dan nasionalisme yang ditanamkan barat ke tubuh dunia Islam

Israel pun bukan apa apa. Tank Merkava-4 sebagai tank generasi ke-4 yang sering digembar-gemborkan sebagai tank kebanggaan militer Israel, karena memiliki perlindungan paling canggih di dunia pun ternyata remuk dihajar bom jenis ‘Shawaz 4’ oleh pejuang dari Al-Qosam. Hanya karena adanya penguasa penguasa yang khianat saja maka negeri Islam tidak bisa berniat dan bersatu melenyapkan Israel dari bumi Syam. Tidak cukupkah tentara dari dunia Islam di Timteng yang jumlahnya 68x kali lebih banyak dari Israel ? Tidak cukupkah jumlah senjata termasuk pesawat dll yang totalnya 18x lebih banyak dari yang dimiliki Israel ? Yang diperlukan hanya Iman dan keberanian meningalkan persahabatan dengan Amerika dan Israel.

Pada saatnya umat akan bersatu dan menegakakan kembali Daulah Khilafah beserta supremasinya, yang akan menuntut Qishos kepada Zionis Israel terhadap pembunuhan pembunuhan yang mereka lakukan kepada warga Palestina sebagaimana yang akan dilakukan untuk menuntut Amerika terhadap kerusakan yang mereka timbulkan di muka bumi ini. Jangan takut. Allah SWT bersama kita.

Wassalam.
Dnux

Posted in pandangan politik | Leave a Comment »

Puisi : Mantra Anti Sihir Statistika Kenaikan Harga BBM

Posted by dnux on May 29, 2008

Pecah kepalaku ..
Puyeng ndasku …

karena rumus rumus matematika
dan proyeksi plus estimasi dari survei
didukung kemampuan olah statistika
yang diolah sedemikan canggih dan sangat menakjubkan
agar rakyat tidak panik
saat harga BBM diumumkan naik
dibacakan pada 24 Mei 2008 pukul 00:00 WIB
pada saat aku sedang bermimpi dibuai rintik
tentang saudaraku disana yang gapleknya kehujanan
sementara nasi akingnya sudah mlempem rasanya
biarpun sudah dicampur jagung dan garam + sedikit gula

dia tengah mencoba menatapku sambil tersenum tipis
dan memaksakan diri untuk menatap optimis
namun kemudian tak bisa dan benar benar tak bisa
kupon BLT masih tersimpan rapi dilusuh dompetnya yang berpeluh
terlipat di antara resep obat generic yang tak terbeli

Pecah kepalaku ..
Puyeng ndasku …

karena angka proyeksi selamatnya APBN 2008
menyihir otak kiriku yang mudah terbuai oleh cerita angka
namun untung nuraniku terbiasa basah dengan bismillah
sehingga otak kananku tak terjamah
oleh mantra dan sugesti defisit anggaran
Karenanya, otak kananku tetap bisa bekerja kreatif
membayangkan dan kemudian mengilustrasikan
penderitaan yang menumpuk diatas lapisan kesengsaraan
membangunkanku dari buaian cerita angka

kini
sejak malam gelap itu hingga pagi yang tak mau cerah ini
telah kubacakan AlBaqoroh di pintu masjid dan di pasar sebagi ruqyah
namun jamaah dan pedagang tetap saja tersihir
melangkah kosong dalam tatapan gontai tanpa asa
bagaikan zombi yang tak dapat menemukan mangsa
akibat lafadz yang tertera di UU APBN-P 2008 pasal 14 ayat 2
yang ditiupkan oleh jin jin statistika
bahwa pemerintah bisa berbuat apa saja dalam hal BBM ”bersubsidi”
untuk menyelamatkan APBN 2008
namun tidak dalam hal korupsi apalagi dalam hal BLBI
takut

pecah ndasku
namun tidak hatiku.
Semoga tetap begitu.
Amin

Dnux 29/05/08

Posted in ekonomi islam, hilangnya amanah, krisis ekonomi, pandangan politik, pencerahan, puisi, social illness | Leave a Comment »

Wali Songo Tidak Pernah melakukan Dakwah Ke-Indonesiaan

Posted by dnux on February 5, 2008

Dalam Harlah NU ke-82 di Stadion Gelora Bung Karno pada hari Ahad 3 Feb 2008, ada hal beberapa hal yang menarik.

Yang pertama adalah seruannya kepada segenap nahdhiyin untuk kembali ke kitab kitab kuning. Artinya, beliau mengajak warga nahdhiyin untuk kembali merujuk pada tsaqofah Islam dan pelan pelan meninggalkan taklid buta.  Harapan saya adalah semoga seruan ini bukan hanya ditujukan membebaskan buta terhadap masalah ‘ubudiyah semata, namun juga membebaskan diri dari taklid buta terhadap sistem kenegaraan, sosial, politik, ekonomi, pidana, perdata, dll yang selama ini dengan mudahnya umat muslim taklid kepada Undang Undang atau Perda Perda di Indonesia yang bisa jadi sangat bertentangan dengan yang ada di kitab kuning yang menjadi rujukan para nahdhiyin seperti Al-Iqna, Fathul Mu’in, dsb

Hal menarik kedua adalah pernyataan dari KH Hasyim Muzadi di forum tersebut yang sebetulnya sudah sering beliau lontarkan (orang lain juga) yaitu :   “Ciri khas ahlussunnah waljamaah yang dibawa dan diterapkan oleh para Wali Songo, lanjut Hasyim, adalah gerakan Islam yang Indonesiawi melalui perjuangan keindonesiaan yang diisi dengan nilai-nilai agama”. sumber.

Saya bingung dengan maksud kata kata “gerakan Islam yang Indonesiawi melalui perjuangan keIndonesiaan” ?  Bingung sebingung bingung-nya. Mungkin, yang dimaksud pak Hasyim itu adalah Warga NU harus bersikap tawassuth dan I’tidal (garis tengah dan lurus) sehingga membedakan dirinya dengan gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi (ekstrim dengan kekerasan) maupun tatharruf tasaahuli (ekstrim liberalis) yang keram melakukan kesembronoan, yang keduanya bukanlah ciri khas perjuangan Islam domestik Indonesia. Gitu loh …

Lalu apakah benar gerakan wali songo itu adalah dakwah keIndonesaan seperti yang digambarkan itu ? Menurut saya tidak dan sama sekali tidak pernah walisongo melakukan dakwah keIndonesiaan.

Pertama, dari segi istilah dakwah keIndonesiaan, bagaimana mungkin mereka melakukan gerakan keIndonesiaan, lha wong para wali itu pada asalnya adalah bukan orang Indonesia tetapi dari wilayah handramaut, arab, gujarat, samarqand, syam dan lain lain yang mereka itu sengaja diutus oleh khalifah untuk menyebarkan/menguatkan dakwah di wilayah nusantara. Hanya beberapa orang akhir saja yang asli Nusantara yang itupun juga masih “keturunan” arab.

Kedua, istilah dakwah keIndonesiaan sangat kental dengan ashobiya nasionalisme. Apakah benar dakwah di Indonesia berbeda dengan dakwah di Malaysia, Filipina, dan lain lain. Mengapa tidak disebut dakwah keAsiaTenggara-an saja yang mana memang Islam masuk ke wilayah tersebut melalui dakwah, bukan melalui futuhat.

Ketiga, mengapa tidak disebut dakwah kejawaan saja, bukankan walisongo itu dakwahnya di tanah jawa saja ? sekali lagi ini adalah sekedar masalah klaim nasionalisme sehingga disebutlah dakwah kejawaan menjadi dakwah keIndonesiaan. Lagi pula jamannya para wali itu, nama Indonesia masih belum ada dan belum pernah terlintas untuk disebut sebut ..  yang nyebut istilah Indonesia itu pertama kali adalah wong Londo. Sendangkan umat Islam sedunia pada waktu itu (sd awal abad 20) hanya mengenenal istilah jazirah jawi untuk menyebut istilah nusantara.

Keempat, apakah benar dakwah para wali itu tawassuth dan i’tidal ? Bukankah mereka juga melakukan jihad untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu yang masih bertahan. Contohnya seperti Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati.

Kesimpulan saya, sebenarnya para wali itu tidak melakukan dakwah keIndonesiaan. Mereka hanya melakukan dakwah Islam saja tanpa embel embel keIndonesia-an atau keJawa-an. Metode yang mereka lakukan beragam, baik via strutural atau kultural, baik via perdangangan, pendidikan, kesenian dan lain lain, semuanya hanyalah cara dan pendekatan umum sekaligus strategis yang praktis dan apliklatif yang  digunakan di seluruh baik oleh da’i Islam atau da’i jahiliah (kristen, komunis, kapiltalis, liberalis, dll) untuk memasukkan ide dan pengaruhnya ke/di masyarakat.

Dan buktinya, ketika Islam di Jawa telah berhasil menapaki kekuasaan sebagaimana Rasulullah telah hijrah ke Madinah, para wali pun merubah strategi dari dakwah lisan saja menjadi dakwah plus jihad. Lalu kira kira di Indonesia kita (umat Islam Indonesia) masih mengikuti napak tilas para wali di fase mana ? fase sebelum berdirinya Demak Bintoro yang dakwah lisan saja atau fase sesudah berdirinya Demak Bintoro yang sudah mulai memasuki fase Jihad ?

Walhasil, kita harus hati hati ketika mendefinisikan dan mengklaim metode dakwah walisongo, jangan sampai nanti di yaumil hisab kita malah diprotes oleh para wali yang mulia itu dan dituduh melakukan menyalahgunakan nama mereka untuk klaim klain nasionalisme dan keengganan menegakkan Khilafah.

Wallahu a’lam, Wallahu musta’an.

Posted in pandangan politik, pencerahan | Leave a Comment »