Something inside my minds

Tentang Meng-qoshor dan Men-jama’ Sholat

Posted by dnux on April 18, 2007

Bagi yang biasa keluar kota, mengetahui aturan tentang meng-qoshor & men-jama’ sholat adalah keharusan agar aktivitas sholat yang adalah tanda minimal dari status kemusliman seseorang tersebut dapat dilakukan dengan benar. Dalam msalah tersebut, berikut petikan dari kitab Minhajul Muslim karya Abu Bakar Aj-Jaziry dalam, terbitan Dar-AsSalam cetakan IV. Di halaman 188-190 disebutkan:

Meng-qoshor Sholat

  • Pada dasarnya hukum meng-qoshor sholat adalah “diperbolehkan” sesuai firman Allah dalam An-Nisaa:101 “dan apabila engkau berpergian, maka tidak apa apa (boleh) bagimu untuk meng-qoshor sholat”. Namun karena rasulullah SAW selalu meng-qoshor dalam berpergian, maka hukumnya menjadi sunnah muakad
  • Telah menjadi ijma jumhur bahwa Rasulullah meng-qoshor sholat pada perjalanan minimal 4 barid atau sekitar 48 miles (dnux : sekitar 78 km).
  • Qoshor diperbolehkan selama berpergian sejak berangkat hingga pulang, kecuali apabila muqim di suatu tempat sama lebih dari 4 hari (dnux: kok sepertinya sama dengan batesan jumlah hari kebolehan mengusap khuf ya ?).
  • Musafir boleh melakukan sholat sunnah ketika meng-qoshor terutama qobliyah subuh dan witir.
  • Hukum safar ini berlaku baik bagi mereka yang berjalan, naik motor, mobil, pesawat. Sedangkan bagi penumpang kapal laut, menurut syekh abu bakar aj-jaziry tidak disunahkan meng-qoshor sholat kecuali apabila dia turun dari kapal (dnux : transit dalam waktu yang lama)-
  • Diperbolehkan bagi orang muqim untuk berma’mum pada musafir (yang meng-qoshor) dan wajib meneruskan sholat sampai sempurna bilangan rokaatnya setelah imam selesai salam (hal 182, bab imamah [sholat]).

Men-jama’ sholat

  • Berbeda dengan qoshor yang hukumnya sunnah muakad bagi musafir, maka menjama’ sholat hukumnya adalah mubah karena “rukhshoh” (diringankan)
  • Musafir juga diperbolehkan menjama’ sholat (hal 106, bab adabul safar)-
  • Diperbolehkan jama’ pada saat hujan deras atau cuaca dingin sekali, angin kencang yang hal hal tersebut menghalangi berkumpul di masjid untuk sholat berjama’ah.
  • Demikian juga orang sakit juga diperbolehkan menjama’ bila memang sulit untuk sholat pada tiap2 waktunya.

Menurut saya, sepertinya Syekh Abu Bakar Aj-Jaziry hendak mengatakan bahwa illat (penyebab munculnya hukum) jama’ adalah karena masyaqoh (kesulitan), sehingga beliau juga mengatakan bahwa diperbolehkan jama’ bila sedang ketakutan baik jiwa, kehormatan atau harta (dirampok kali) bila ilatnya adalah masyaqoh. Wallohu a’lam.

Saya sendiri berpegangan pada kaedah syara : tidak ada illat atau tidak boleh dicari cari illat dalam ibadah mahdhoh [sholat, zakat, puasa, haji, dll]. Ibadah mahdhoh harus tauqifi (manut) dan datang dari nash yang shorih (jelas). Andaikan ibadah mahdhoh diambil illatnya, ya bisa nanti orang pada gampangan & sembarangan dalam melakukan ibadah tersebut, dan akhirnya akan merusak tertib aturan ibadah itu sendiri.

Btw, dari buku (minhajul muslim) tersebut saya belum mendapat keterangan : “apakah musafir tidak boleh menjama sholat apabila menetap ditempat yang sama lebih dari 4 hari sebagaimana aturan qoshor ?”

Sedangkan dari Syekh Ali Raghib dalam Ahkamus Sholat (diterjemahkan menjadi Hukum Hukum Seputar Sholat terbitan PKSII, th 2002) dijelaskan

  • Bagi musafir, qoshor lebih afhol dilakukan daripada sholat biasa (sementara aj-jaziry mengatakan sebagai sunnah muakad)
  • Jarak qoshor adalah 81 km. Tidak boleh menq-qoshor kurang dari jarak itu sebab Rasulullah tidak meng-qoshor sholat ketika berpergian ke Baqi. Juga tidak boleh meng-qoshor kecuali setelah keluar dari daerahnya.
  • Lama hari meng-qoshor tidak ditentukan. Namun seorang musafir harus menghentikan qoshor apabila sudah bertekad untuk menetap ditempat tersebut dalam jangka waktu yang lama.
  • Jama’ adalah kekhususan hanya 1) bagi musafir, (berbeda dengan aj-jaziry yang mengatakan sebagai rukhshoh), 2) pada kondisi hujan dan 3) ketika wukuf di Arofah dan Mudzalifah saja
  • Sebagaimana qoshor, seorang musafir diperbolehkan menjama’ sholat selama memang masih dalam status “sedang berpergian“. Ketika dia sudah bertekad untuk menetap dalam jangka waktu yang lama disuatu tempat, maka dia wajib menghentikan qoshor dan jama’-nya. (dnux: yang dimaksud menetap adalah dianggap menjadi warga, meski hanya 6 bulan dst, yang penting sudah dianggap itu kegiatan menetap)

So, jama’ dan qoshor itu dua hal yang berbeda treatment-nya. Qoshor hukumnya sunnah muakad sedangkan jama’ adalah rukhshoh (menurut Aj-Jaziry). Sedangkan menurut syaikh Ali Raghib hukumnya adalah “lebih afdhol” dan “pengecualian“. Dalam masalah jama’ qoshor, dnux lebih memilih taqlid pada pendapat syaikh Ali Raghib

Musafir tidak harus selalu menggabungkan jama dan qoshor . Boleh saja musafir menjama’ sholat tanpa meng-qoshor atau meng-qoshor sholat tanpa menjama. Meski, memang yang paling praktis adalah menjama’ sekaligus meng-qoshor sholat.

5 Responses to “Tentang Meng-qoshor dan Men-jama’ Sholat”

  1. sutrisno said

    jarak minimal yang dipebolehkan menjamak dan mngqashar shala. teima kasih.menuut fiqih klasik maupun temporer. teima kasih banget

  2. Abdillah said

    Hebat sekali anda mencantumkan kata-kata “Menurut saya….” ternyata anda sudah terbiasa berijma.
    Sebagai gambaran saja, temen-temen yang sudah doktor dan kuliah di Universitas Islam Madinah tidak pernah membuat tulisan dengan kata-kata “menurut saya…”

    Hati-hati dalam menulis dan selalu mencantumkan sumbernya baik itu dari Quran maupun Hadits…bukan “Menurut Saya”

    • dnux said

      @Akhi Abdillah,
      coba anda baca perhatikan tulisan “menurut saya” di artikel ini adalah terhadap analisa tentang alasan Syaikh Al-Jaziry mengeluarkan membolehkan jama pada beberapa kondisi saja, tidak pada keumuman safar. Kalau “menurut saya” itu dikaitkan hukum misalnya “menurut saya sholat jama itu hanya pada keadaan tertentu” dll maka ini tidak boleh. karena itu berarti saya telah berijtihad. sebagai seorang muqalid tentu saya lancang kalau berani mengatakan hal seperti itu.
      koreksi : mungkin maksud anda saya berijtihad, bukan berijma .. karena saya kan sendirian. wslm

  3. Suryo Sumpeno said

    Assalamu’alaikum wr.wb. saya orang dengan pengetahuan agama yang pas-pasan. bagi saya sangat menarik untuk mengkaji perbedaan pengertian “afdhol dan sunnah muakkad”, bolehkan disampaikan dasar hukum/nash yang mendasari pendapat tersebut. Dan bagaimana menurut ustadz, jika dalam perjalanan (misal pulang dari tempat kerja ke rumah yang jaraknya 100 km), lebih baik melakukan jamak ataukah jamak sekaligus qoshor. Terima kasih

    • dnux said

      Wa’alaykum salam wrwbkt.
      Afdhol berbeda dengan sunnah atau apalagi bila dispesifikkan menjadi sunnah muakkad. Makna afdhol adalah lebih utama, berarti hal ini menunjukkan skalia proritas. Misal : melakukan kewajiban lebih afdhol (utama) daripada melakukan sunnah, melakukan fardhu ‘ain lebih afdhol dari malakukan fardhu kifayah, melakukan sunnah muakad lebih afdhol daripada melakukan sunnah ghoiru muakkad, meninggalkan keharamam lebih afdhol daripada meninggalkan makruh dll. Kadang dalam masalah hal yang mubah pun ada afdholiyat karena adab semisal melewati yang lebih tua dengan mengucapkan permisi, tidur dengan menghadap qiblat dll.
      Sedangkan sunnah adalah bagian dari hukum takflifi (hukum perbuatan), yang dicirikan oleh adanya pujian ketika melakukannya atau penekanan untuk melakukannya tanpa ada celaan atau sangsi yang pasti apabila meninggalkannya. semisal perkataan sholat berjamaah, melakukan aktivitas tersebut banyak penekanan dan pujiannya dan ada hadits pula yang mengecam mereka yang meninggalkannya, namun dengan kecaman yang tidak pasti, karena itu jatuhnya menjadi sunnah muakad.
      Sedangkan dalam masalah safar ini, baik melakukan jama hukum asalnya adalah mubah, boleh melakukan atau tidak melakukan dua-duanya boleh dilakukan. Bagi yang mengatakan afdhol seperti syaih Ali Raghib maknanya melakukan sholat qoshor itu walaupun sama2 mubah dengan tidak melakukannyam namun “lebih utama” untuk dilakukan. Mengapa tidak disebut sunnah muakad, karena menurut pemahaman saya (dnux), untuk mengatakan sesuatu itu sunnah atau apalagi sunnah muakkad, musti ada qorinah (indikasi) bahwa ada ungkapan pujian dengan pahala berlipat bila dilakukan, tidak sekedar dicontohkan oleh Nabi SAW saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: