Something inside my minds

Di dialog Metro TV “Muslim Demokrat”, Andi Mallarangeng harus istighfar dan bertobat.

Posted by dnux on July 5, 2007

Menarik perbincangan di acara “Save Our Nation” Metro TV yang disiarkan langsung semalam (4 Juli 2007 pk 21 Balikpapan), yang secara khusus mengundang Saiful Mujani untuk secara singkat mengupaskan apa pesan inti dari buku barunya “Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru” yang menurutnya adalah hasil kajian empirisnya tentang muslim di Indonesia

Sepertinya metro TV tidak mau ketinggalan acara bedah buku yang sama di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina. Pengulas yang diundang oleh Metro TV masih sama yaitu Andi Mallarangeng & Anis Baswedan hanya berbeda satu orang saja yaitu Jalaludin Rahmat, dimana bila pada acara di Paramadina adalah Hamdi Muluk.

Materi diskusi yang disampaikan-pun sebenarnya gampang ditebak, yaitu sebagai ajang pengokohan identitas bahwa “Muslim Indonesia itu Demokrat”. Andi Mallarangeng sendiri sepertinya pihak yang sangat tidak puas dengan diskusi tarik ulur antara “Islam vs Demokrasi” dan lebih tertarik untuk menyelidiki “Apa sejatinya Muslim Indonesia” yang ternyata hasil kajian Saiful Mujani menunjukkan bahwa Muslim Indonesia tetap Demokrat (alias Sekuler). Bahkan terucap perkataan dari Andi Mallarangeng bahwa dia bangga menjadi muslim Indonesia (maksudnya muslim yang “saleh” dan moderat).

Kebanggaan Andi Mallarangeng itu sebenarnya adalah pandangan pragmatis dan ashobiya tidak ubahnya pandangan pendukung team sepak bola (persija, persebaya, arema, persiba, dll) yang saling bangga kehebatan teamnya dan kalau ada yang mengatakan teamnya itu jelek, segera pasang argumen bahkan kalau perlu si penghujat itu akan dipukuli. Padahal dalam benak hati pasti semua tahu bahwa kejayan itu sifatnya sementara dan cepat atau lambat kondisi itu akan berubah, bahkan bisa bisa terdegradasi dari divisi utama ke divisi 1.

Jamaludi Racmat menegaskan bahwa kesimpulan hasil studi empiris itu sangat subjektif dikarenakan oleh penyusunan variabel yang dikaji termasuk kriteria variable “soleh”. Saiful Mujani akhirnya mengatakan bahwa yang dimaksud soleh adalah sebagai “pelaku rukun islam” (syahadat, sholat, zakat, puasa, haji). Tidak hanya itu, masih ditegaskan oleh Saiful Mujai “Ya semua orang tahulah bahwa saleh itu ya menjalankan rukun 5 itu”, dengan intonasi agak jengkel karena kriteria soleh-nya dipertanyakan Jalaludin Rachmat.

Justru pertanyaan fundamental (yang tidak ingin dibahas Andi/Saiful karena sifatnya filosofis bukan empiris) yang harus diajukan untuk menguji buku tersebu adalah (1) Apakah Islam bisa berjalan dengan demokrasi (2) Apa kriteria saleh (3) Mungkinkah orang saleh itu demokratis. Dan sebenarnya ketiga pertanyaan itu cukup dijawab dengan ayat2 (yang tentu saja dibenci orang2 sekuler/demokrat) “Barang siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah, maka mereka itulah orang2 kafir/fasiq/dzalim “[dnux >> tergantung sebab/level penolakannya]

Jadi, ketika kita sama2 paham bahwa demokrasi adalah “suara rakyat adalah suara Tuhan” (vox populi vox dei), maka jelas demokrasi adalah kufur dan bertolak belakang dengan Islam yang mewajibkan hambaNya taat sepenuhnya hanya kepada Dia, tidak menjadikan tandingan2 baik tandingan dalam peribadatan maupun tandingan dalam mengambil sumber hukum. Sehingg a tidak boleh disebut saleh bila membuat hukum dengan meninggalkan hukum Allah SWT seperti tercermin pada QS AlBaqoroh -11 “Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Disini Allah SWT menggambarkan jelas bahwa orang yang ngaku ngaku saleh itu justru sebenarnya adalah perusak dunia. Karena perbuatan saleh menurut kriteria mereka itu bertentangan dengan Syariat Islam pembawa rahmat.

Andi Mallarangeng menegaskan : Kalau menggunakan syariat maka hanya akan menjadi negara teokrasi dimana kebenaran hanya didominasi orang tertentu saja. Andi Mallarangeng lupa Allah telah memberikan hak para ulama yang memiliki kemampuan ijtihad untuk berijtihad menentukan hukum. Perbedaan pendapat antar ulama tentang hukum pasti sangat2 kecil dibandingkan perbendaan pendapat ulama dengan awam yang kebanyakan berpandangan tanpa ilmu dang mengikuti hawa nafsu. Dan Allah memang telah menegaskan itu “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

argentum

Jadi, jangan bangga menjadi muslim Indonesia demikian pula jangan bangga jadi muslim arab, muslim pakistan, muslim inggris, dll. Cukuplah hanya Islam dan muslim, tanpa embel embel lain. Dan sebenarnya, kalau mau jujur dan cermat .. nggak ada itu namanya vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan), yang ada hanyalah Vox Populi, Vox Argentum (suara rakyat, suara gemricing uang) .. karena sekuler dan kapitalisme sebenarnya adalah kendaraan kaum kapitalis untuk mengeruk uang sebanyak2nya dengan cara apapun, kalau perlu dengan membenturkan sesama umat Islam. sadarlah !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: