Something inside my minds

Kesalahan Memahami Ruh : Faktor penyebab sekulerisme juga

Posted by dnux on July 10, 2007

Pemahaman sekuler yaitu memisahkan urusan agama dengan dunia sebenarnya telah mengakar pada kesadaran kita akibat penjelasan yang salah tentang jasmani dan rohani. Kita menganggap pada tubuh kita ada badan halus dan badan kasar. Dan kita pun membedakan kebutuhan masing masing. Kebutuhan dari jasmani adalah makan, minum, tidur .. sampai dulu itu ada namanya : senam kesegaran jasmani. Sedangkan kebutuhan rohani itu sholat, puasa, dzikir dan lain lain. Pertanyaanya : kalau ngomel itu untuk memenuhi kebutuhan apa ? Demikian juga melamun, jalan jalan di pantai, belajar bahasa inggris itu masuk urusan memenuhi kebutuhan jasmani atau rohani ?

Sebenarnya sih kalau mau jujur bahwa sebelum kita dikenalkan dengan istilah ruhani, ruh dan lain lain . Pembahasan antara klasifikasi jasmani dan ruhani itu tidak pernah kita pedulikan. Yang penting kalau lapar ya makan, kalau ngantuk tidur dan kalau resah ya cari jalan menetralisir keresahan baik dengan melamun, curhat, atau sholat. Baru kemudian di sekolah kita di definisikan dengan kebutuhan jasmani dan rohani. Iya kalau definisinya itu benar, kalau salah . .bisa fatal.

Pertanyaan lagi : Apakah pernah Rasulullah SAW memberikan statement bahwa jasmani dan rohani itu terpisah ? Memang dalam Islam (dan dalam agama manapun) meyakini bahwa ada “ruh” sebagai faktor penggerak kehidupan yang merupakan unsur di luar jasmani. Namun apakah benar bahwa kebutuhan rohani itu sama dengan kebutuhan ruh ?

Apakah kita bisa membedakan bahwa sholat, puasa dll itu adalah kebutuhan roh ? (bukan rohani). Jawabannya sederhana saja. Kalau memang ruh itu adalah unsur kehidupan yang ada pada setiap makhluq hidup – termasuk hewan-, maka harusnya hewan itu juga merasakan kebutuhan berpuasa, berkhalwat, berdzikir, dll. Dan kalau tidak tercapai kebutuhan itu, maka dia akan resah. Nah .. apakah ada hewan yang ngamuk2 karena kebutuhan rohani nya (puasa, berkhalwat, dll) tidak terpenuhi ?

Ternyata tidak. Oleh karena itulah maka kita tidak bisa mendefinisikan bahwa sholat, puasa, berkhalwat, dll adalah kebutuhan roh. Kita cukup mendefinisikan adanya kebutuhan rohani saja, tanpa harus mengatakan bahwa kebutuhan rohani itu adalah tuntutan ruh manusia, karena memang ruh itu tidak bisa di identifikasi bentuk, sifat dan kebutuhannya.

Kesalahan mendasar dari masyarakat muslim sekarang adalah terjebak pada filsafat ruh, yang dikembangkan terutama oleh Filsafat Yunani yang sebenarnya juga transferan dari filsafat India. Pythagoras -filsuf yunani- mengatakan bahwa keberadaan ruh atau jiwa dan menganggap ruh terperangkap dalam tubuh jasmani sebagai hukuman karena suatu dosa. Ruh tersebut terkutuk harus menjalani berbagai bentuk inkarnasi, baik sebagai manusia atau pun hewan.

Bahkan Rasulullah SAW yang paling dekat dengan Allah SWT — pencipata dan pemilik ruh2 — tidak tahu atau bahkan tidak diberitahu mengenai masalah ruh kecuali hanya sedikit saja

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ‌ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلاً۬
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)

Kerancuan ini semakin merajalela di negeri kita Indonesia yang memang sangat kental mewarisi kebudayaan dus tsaqofah hindu yang penuh dengan keyakinan bahwa badan dan ruh adalah dua benda yang berbeda kebutuhannya. Sehingga pemahaman ruh dari agama hindu masaih melekat sekali, seperti adanya roh penasaran, dll.

Jasad, Jiwa (nafs) dan Ruh

Dalam Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang? Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).

Secara umum beliau menjelaskan bahwa Ruh dalam AlQuran maknanya adalah “Nyawa” (sirruh hayah) dan juga Jibril. Sedangkan perasaan2 ketidak tenangan, kegundahan, keresahan dll itu menurut AlQuran adalah pengaruh dari NAFS (jiwa) bukan dari ruh. Nafsu sendiri tingkatannya ada 3 yaitu nafsu muthmainnah, nafsu amarah dan nafsu lawwamah

Nafsu muthmainnah adalah nafsu/jiwa yang tenang karena yakin mendapatkan ridho Allah, yaitu nafsu yang berada pada kondisi mengikuti Islam baik secara ma’rifat (aqidah), amalan dzohir (sholat, dagang, dll) dan amalan bathin (tawadhu, ikhlas, dll). Manusia harus selalu pada kondisi perbuatan fisik yang baik dan perbuatan batin yang baik agar bisa mendapatkan ketenangan. Dan tidak lain makna baik adalah semua yang baik menurut Allah , yaitu sesuatu yang wajib, mandub dan mubah dilakukan, bukan yang makruh atau yang haram. Barang yang dipergunakan pun harus barang yang halal, bukan barang yang haram. Buruk adalah semua yang buruk menurut Allah

Kesimpulan

Kembali ke …  Jadi. Kebutuhan rohani yang kita sebut sebut itu sebenarnya bukan kebutuhan roh, tapi adalah kebutuhan untuk mendapatkan jiwa yang tenang (nafs muthmainnah).

Karenanya, tidak benar bila memenuhi kebutuhan rohani itu cuman dengan sholat, puasa tok .. tapi setiap amal perbuatan yang tidak menentramkan hati (maksian) juga harus dihindari. Dan semua perbuatan yang menentramkan hati (menjalankan amal ikhlas dan benar menurut syariat) harus dilaksanakan agar kita mendapatkan kesehatan rohani.

Jangan sesorang itu korupsi, melacur, mabuk, durhaka pada orang tua, aborsi dilakukan, lalu agar hatinya tenang langsung ditutupi kondisinya itu dengan melakukan sholat, puasa dan sedekah. Itu namanya mempermainkan tobat. Memang sholat puasa dan sedekah itu menentramkan hati, namun kalau selesaninya dan mengingat lagi ancaman serta siksa yang menanti di akhirat akibat maksiat itu, maka pasti – dan harusnya, kalau memang beriman – kembali tidak akan tenang karena teringat dosa dosa maksiat itu.

3 Responses to “Kesalahan Memahami Ruh : Faktor penyebab sekulerisme juga”

  1. […] WordPress.org « Kesalahan Memahami Ruh : Faktor penyebab sekulerisme juga […]

  2. […] sana ke […]

  3. Adi Sucipto said

    Good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: