Something inside my minds

Akibat Kesalahan Memamahi Ruh dan Dunia : Menghindari Dunia atau Malah Kecebur Basah

Posted by dnux on July 11, 2007

pre-reading : kesalahan memahami ruh penyebab sekulerisme juga

.. akhirnya kita ketahui bahwa kita tidak bisa sama sekali membedakan mana itu kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruh (bukan rohani), yang hanya bisa kita rasakah adalah tubuh kita membutuhkan pemenuhan lahiriah dan pemenuhan batiniah. Pemenuhan lahiriah antara lain berupa makan, minum, tidur, olahraga, dll sedangkan pemenuhan batiniah dapat berupa apa saja yang membuat hati menjadi tenang. Dan ternyata yang membuat hati tidak tenang bukan sekedar karena merasa jauh dari Allah karena rindu atau karena maksiat. Ketidaktenangan juga terjadi karena kangen seseorang atau karena keselamatan diri terancam.

Ketika kita kangen atau takut dibunuh, maka penyelesaian bukan dengan dzikir (meski dzikir bisa menenangkan hati). Untuk mengatasi kangen bisa juga dilakukan dengan menulis surat [hari gene🙂], telpon, sms, atau sekedar memandangi foto. Sedangkan untuk mengatasi rasa takut karena ancaman pembunuhan maka kita bisa melakukan dengan jalan ishlah, melarikan diri, lapor polisi, belajar kung fu, beli samurai, dll. Dengan melakukan pemenuhan itu maka perasaan kangen dan takut dibunuh akan lebih tertenteramkan juga.

Itu contoh2 manusia sebagai akibat. Sebagai sebab, manusia bisa juga menjadi yang dikangeni atau yang ditakuti. Keduanya itu bisa karena karena alami atau karena adanya keinginan untuk dipuja dan ditakuti. Pendeknya, memang melekan pada diri manusia kebutuhan ruhani, kebutuhan jinsiyah (keturunan, sexual, dll), dan kebutuhan kekal (survival). Tiga hal abstrak atau batiniah tersebut disebut kebutuhan naluri (ghorizah). Karenanya, kebutuhan ruhani sebenarnya adalah bagian dari kebutuhan naluri disamping kebutuhan jinsiyah dan survival yang memiliki ciri sama : ketika tidak dipenuhi akan menyebabkan keresahan.

Syekh Taqyuddin AnNabhani mengatakan bahwa 2 jenis kebutuhan tersebut (lahiriah dan batiniah) adalah potensi hidup (thoqotul hayyawiyah), yang justru dengan adanya 2 hal tersebut maka manusia bergerak memenuhi kebutuhannya, berinteraksi dengan satu sama lain sehingga melahirkan patern interaksi, melahirkan perasaan2 antar individu, melahirkan kesepakatan2 peraturan interaksi dan akhirnya membentuk sebuah komunitas (masyarakat) yang tinggal atas tujuan kepentingan hidup yang sama.

Kembali ke ….

Walhasil, sekali lagi kita tidak bisa membedakan mana itu kebutuhan jasad dan mana kebutuhan “ruh”. Yang bisa diidentifikasi adalah kebutuhan fisik dan kebutuhan naluri. Kesalahan fatal dari filsafat ruh hasil pola pikir Hindu (yang bahkan meracuni hampir semua filsafat dan agama2 lainnya) adalah bahwa karena jasad dan ruh itu memiliki kebutuhan, maka pemenuhan kebutuhan jasmani dan ruhani harus seimbang. Ketika kebutuhan jasadiah dipenuhi, maka ruh itu akan terdesak. Dan pemenuhan kebutuhan ruh adalah kebalikan dari pemenuhan kebutuhan jasmani, yaitu dengan puasa dll yang menyebabkan fisik menjadi lemah. Inilah pemahaman yang juga merasuk ke relung2 kaum muslimin di Indonesia pada umumnya. Sehingga banyak sekali melahirkan term : Keseimbangan Jasmani dan Rohani

Akibatnya, mereka harus setengah2 dalam mencari dunia. Karena mereka berpresepsi kalau kebanyakan mencari uang maka akan menyebabkan tubuh dikuasai nafsu dunia dan mengalahkan ruhani sehingga jauh dari Allah SWT. Atau disatu sisi, banyak yang berangapan urusan dunia itu tidak ada kaitannya dengan agama, jadi apapun bisnisnya (halal dan haram) yang penting tetep dzikir, sholat, puasa, sedekah, naik haji dll … Inipun juga karena salah persepsi akan tobat. Padahal hanya dosa manusia dengan Allah SWT yang bisa dimaafkan dengan dzikir, dll. Namun dosa manusia terhadap manusia lainnya karena kedzoliman, makan harta orang, merendahkan kehormatan orang lain tidak bisa dihilangkan kecuali harus dengan meminta maaf dan menebus kesalalahan itu pada pihak yang bersangkutan atau warisnya.

Apa benar dunia dan harta itu harus di hindari ?

Orang memandang bahwa yang disebut Dunia ya bumi dan segala isinya ini yaitu mobil, rumah, rupiah, istri, anak, hp, televisi, ancol, dll. Padahal pengertian dunia menurut pandangan Al-Ghozali seperti yang tertuang dalam Minhajul Tholibin adalah dunia = sesuatu yang tidak bermanfaat untuk Akhirat. Tidak disebut dunia segala aktivitas yang bermanfaat untuk akhirat. Dari pengertian itu, maka jelas bahwa pengertian dunia yang seperti kebanyakan orang pahami sekarang beda 180 derajad dengan para ulama Islam terdahulu. Padahal masa Imam Al-Ghozali, pengaruh2 filsafat Yunani dan Hindia sudah begitu merasuk, namun pemahaman terhadap makna dunia yang dicela masih tetap terjaga.

Jelas sekali pengertian dunia kebanyakan kita sekarang juga akibat filsafat hindu yang memisahkan dunia roh (arwah) dan dunia manusia (dunia). Walhasil, kekeliruan memahami dunia ini menjadi faktor yang menyebabkan manusia males nyemplung ke dunia atau kalau mau nyemplung ya nyemplung saja sekalian tanpa aturan agama + cukup bertobat setelah maksiat, diulang dan diulang terus.

Dunia yang harus dihindari dalam pandagan Islam adalah dunia yang haram. Dunia yang halal wajib direngkuh. Dan tiada lain dunia yang halal itu adalah benda2 dan jasa2 yang halal dan digali, dikelola dan di maksimalkan dengan cara cara yang halal. Dan para sahabat telah melakukan itu di depan Rasulullah SAW tanpa celaan dari baginda. Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar, Utsman, Ali, dll mereka adalah pedagang. Demikian juga para Abu Hanifah adalah pedagang Sutra, sehingga kadang orang susah mebedakan apakah pekerjaannya (kegiatannya) itu adalah sebagai ulama atau pedagang.

Kesalahan ini semakin bertambah fatal ketika salah dalam mengartikan ayat :

وَٱبْتَغِ فِيمَآ آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلآخِرَةَ وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا 
Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi” (Q.S. Al Qashash 28 :77)

Ayat ini sering dipersepsikan salah menjadi : banyak2lah berdzikir dan jangan bekerja secukupnya atau sekedarnya saja dan sedapetnya saja. Padahal ayat ini maknanya adalah [dalam tafsir Baghowy – Ma’alim Tanzil] : pengertian  وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلأَخِرَةَ  : Carilah dari apa yang Allah berikan pada kamu berupa harta, nikmat dan kebun untuk bersyukur kepada Allah dan menginfakkannya untuk mendapatkan ridho Allah SWT” dan pengertian  وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْ  adalah  (menurut Ali RA) : jangan lupakan kesehatanmu, kekuatanmu dan juga mohon keselamatan di akhirat

Karena itu makna dari QS 28:77 sebenarnya menuntut kita untuk bekerja optimal dan maksimal pada  bidang dan dengan jalan yang benar sehingga mendapatkan keuntungan maksimal dan menggunakan harta itu untuk infaq shodaqoh dan berzuhud dari menggunakan harta itu untuk kenikmatan sendiri. Inilah pemahaman yang dimiliki para salafus sholeh tersebut, sehingga mereka melihat dunia sebagai lahan untuk memanen akhirat.

Kesimpulan 

Islam tidak mengenal pembedaan dunia-akhirat, jasmani-rohani. Islam lahir untuk menyatukan dunia-akhirat, dan menyatukan jasmani-rohani. Karenanya, mari kita bekerja maximum mengelola dunia ini. Jangan tertipu oleh filsafat India yang mebedakan dunia – akhirat sehingga kita telantarkan sumber daya alam kita yang akhirnya malah dunia ini di kuasai kaum kufar, fasiq dan dzolim yang menyebabkan kerusakan dimana mana. Atau efek buruknya justru : kita mengambil pola pikir, jalan hidp, dan ideologi mereka untuk mengelola dunia ini sehingga kita malah berperan sebagai agen kerusakan, bukan sebagai agen kebaikan, bukan sebagai Hamba Allah SWT.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: