Something inside my minds

Urgensi Konferensi Khilafah 12 Agustus 2007

Posted by dnux on August 8, 2007

Hari ahad tanggal 12 Agustus 2007 ini, bertepatan dengan 27 Rajab 1428 H, di Gelora Senayan Jakarta akan berlangsung Konferensi Khilafah yang diperkirakan akan dihadiri oleh 100.000 peserta dari dalam dan luar negeri. Konferensi ini bertujuan antara lain untuk mengingatkan umat Islam di seluruh dunia dan khususnya yang di Indonesia, bahwa di dunia ini pernah tegak selama 14 abad sebuah Institusi Agung yang menaungi umat Islam sejagat dan menjadi pelindung bagi umat Islam ataupun non Islam yang ingin mendapatkan kemakmuran dan keadilan sejati. Institusi itu bernama Khilafah atau juga dikenal dengan nama Daulah Islamiyah.

Institusi itu telah berdiri sejak masa Rasulullah SAW. Dan untuk menandai kemuliaan kemunculannya, Khalifah Umar RA menetapkan tahun kalender Islam bermula dengan tahun berdirinya Daulah Islamiyah tersebut. Institusi itu kemudian mengalami kemunduran secara teratur akibat semakin melemahnya aqidah umat serta semakin melemahnya pemahaman umat Islam terhadap syariat, sehingga pelan pelan mereka menengok sistem barat untuk memecahkan masalah ekonomi dan sosialnya, sehingga virus virus kapitalisme Barat menyusup dalam tubuh umat Islam dan menggerogoti jiwa dan eksistensinya.

Kondisi ini semakin parah ketika pada akhir abad ke-19, Barat Salibis dan Yahudi semakin gencar menanamkan rasa nasionalisme di benak umat Islam untuk mencongkel ikatan aqidah Islam yang selama ini telah mengikat umat Islam menjadi satu tubuh. Ikatan ini pelan pelan membuat umat Islam menjadi benci kepada Khilafah Turki Utsmani dan merasa tidak membutuhkannya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Kemal Attaturk yang murtad yang didukung oleh Yahudi dan Barat Salibis untuk menggulingkan Khilafah serta menggantikannya dengan Sistem Sekulerisme tepat pada 27 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M).

Konferensi Khilafah 27 Rajab 1428 H di Jakarta ini juga bertujuan untuk mengingatkan umat Islam Indonesia bahwa para founding fathers mereka dahulu ikut andil dalam penegakan khilafah kembali setelah keruntuhannya. Para ulama dari kalangan modernis dan tradisionalis bahu membahu menyelenggarakan Kongres Luar Biasa Umat Islam di Surabaya pada Desember 1924 dengan keputusan penting untuk melibatkan diri dalam pergerakan Khilafah dan mengirimkan utusan yang harus dianggap sebagai wakil umat Islam Indonesia ke kongres dunia Islam serta mengirim Surjopranoto (Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab (tradisionalis) sebagai duta Umat Islam Indonesia ke Konferensi Khilafah I di Kairo bulan Maret 1925 M atas prakarsa Amir Makkah untuk menegakan khilafah kembali.

Dan saat ini, setelah sekian lama dunia Islam hidup tanpa khilafah dan setelah dipecah hingga menjadi 57 negara dengan propaganda “Kemerdekaan Nasional”, maka pada hari ini ide Khilafah dan ide penyatuan bangsa-bangsa di bawah panji Khilafah telah menjadi momok yang sangat menakutkan Barat sehingga mereka berhalunisasi akan kehancuran mereka sendiri. Lembaga  eksekutif Amerika yaitu NIC (National Intelligence Council) pada tahun 2004 telah menerbitkan dokumen “Mapping The Global Future” yang isinya antara lain memprediksikan bahwa Khilafah akan berdiri pada tahun 2020 dan akan menjadi ancaman serius bagi existensi serta dominasi Amerika di panggung dunia ini.

Namun, bertolak belakang dengan optimisme Amerika akan tegaknya Khilafah, justru umat Islam Indonesia malah diliputi keraguan akan tegaknya Khilafah. Propaganda dan stigmatisasi negatif Barat terhadap penegakan khilafah malah dijadikan sebagai uswah hasanah oleh kelompok liberalis dan moderat untuk membuat umat Islam Indonesia tetap pada jalur moderat (sekuler). Mereka bekerja keras menjauhkan umat dari Hizbut Tahrir atau dari siapapun yang berupaya menegakkan Khilafah. Mereka tanpa sadar telah menjadi agen propagandis Barat dalam menghambat tegaknya Khilafah dengan membuat statement bahwa Khilafah saat ini tidak diperlukan karena sistem yang ada sudah cukup memberikan ruang gerak bagi umat Islam untuk melaksanakan syariat Islam.

Apakah benar bahwa bisa syariat ditegakkan tanpa khilafah ? Imam Ghazali dalam kitab al-Iqtishad fil-I’tiqad mengatakan ”Syariah dan Khilafah bagaikan dua sisi dari keping mata uang, di mana agama adalah tiang dan kekuasaan adalah penjaga, sesuatu yang tidak ada asasnya akan runtuh dan apa saja yang tidak ada penjaganya akan hilang.” Karenanya dapat disimpulkan bahwa tidak akan sempurna pelaksanaan syariah tanpa khilafah, sedangkan melaksanakan syariat secara sempurnah dan utuh adalah kewajiban asasi tiap umat Islam.

Ada pula segolongan orang yang mempropagandakan bahwa ide Syariat dan Khilafah di Indonesia adalah ide asing yang harus ditolak sebab berasal dari ideologi trans-nasionalisme yang tidak memiliki akar di Indonesia. Padahal dalam benaknya mereka juga menyadari bahwa nasionalisme, demokrasi dan sistem republik-pun berasal dari ideologi transnasionalisme yang bahkan ditanamkan oleh penjajah. Lagi pula, berdirinya puluhan kerajaan Islam di Indonesia dari Aceh hingga Biak yang menerapkan undang undang Islam sepanjang kurun abad IX – XIX M plus peninggalan – peninggalannya yang masih bisa disaksikan hingga sekarang adalah saksi hidup bahwa penerapan syariat Islam sebenarnya telah mendarah daging di Nusantara.

Adapun kekhawatiran non Muslim bahwa bila Khilafah tegak maka mereka akan dipaksa masuk Islam atau akan dilarang melaksanakan rukun ibadahnya, sebenarnya adalah akibat stigmatisasi negatif semata. Sejarah justru membuktikan bahwa selama 14 abad sistem Khilafah di dunia, tidak pernah terjadi pemberontakan umat non Islam kepada Khilafah, karena mereka memang merasa nyaman dan tenteram tinggal di Daulah Khilafah. Tetap terpeliharanya peribadatan umat non Islam seperti Borobudur, Prambanan dan lain lain semasa kerajaan Islam Nusantara adalah bukti nyata terdekat bahwa Islam menjamin kebebasan beribadah umat not muslim.

Sebagai penutup, Konferensi Khilafah 12 Agustus 2007 ini juga bertujuan untuk mengingatkan umat Islam ataupun non Islam sedunia, bahwa dunia ini membutuhkan lahirnya Khilafah agar terlepas dari hegemoni dan perbudakan Kapitalisme. Sesungguhnya motif kalangan penentang ide khilafah secara umum adalah karena tiga kemungkinan yaitu 1) Takut terhadap intimidasi barat 2) Takut kehilangan kebebasan berbuat maksiat 3) Takut kehilangan harta dan kekuasaan. Dan demi ketakutan ketakutan itu, mereka tega menghambat tegaknya Khilafah sehingga rakyat semakin menderita akibat kapitalisme dan imperialisme Barat.

Adapun kekuatiran mengenai bahwa masyarakat belum siap dengan Syariah dan Khilafah, maka sebenarnya hal tersebut akan dengan mudah bisa diatasi dengan jalan melakukan sosialisasi bersama mengenai apa dan bagaimana sebenarnya Syariah dan Khilafah yang penuh rahmat itu, bukannya justru malah dengan menciptakan stigma-stigma negatif untuk menakut nakuti masyarakat sehingga tercipta Syariah phobia.

Bagaimanapun juga, upaya penegakan khilafah bagi umat Islam juga merupakan pembuktian keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT dan kesabaran didalam melaksanakan ketaatan perintah untuk menegakkan Khilafah, walau aral tajam melintang ditapak jalan. Kesungguhan semangat ini didorong juga oleh khabar mutawatir dari Rasulullah SAW bahwa berdirinya Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah di akhir zaman adalah janji dan kepastian dari Allah SWT.

Allahu Akbar !.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: