Something inside my minds

Idul Adha 2007 (1428 H) – Ikut Mayoritas Muslim yang mana ?

Posted by dnux on December 14, 2007

Lagi lagi berbeda. Demikianlah selintas pikiran yang mencuat di benak kita manakala Departemen Agama RI mengumumkan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada hari Kamis tanggal 20 Desember 2007, sementara Pemerintah Arab Saudi sendiri menetapkan bahwa Arafah jatuh pada tanggal 18 Desember 2007 yang artinya Idul Adha jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember 2007.

Berdasarakan informasi dari moonsighting.com, negara yang menyelenggarakan Idul Adha 1428 H pada 19 Desember disamping Arab Saudi adalah Qatar, Bahrain, Kuwait, Libya, Mesir, UEA, Denmark, Luxemburg, dll. Sedangkan negara menyelenggarakan pada tanggal 20 Desember adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Turki, Afrika Selatan, Tanzania, dll. Ada juga negara yang ber-Idul Adha tanggal 21 Desember, yaitu Australia, Pakistan, India, Bangladesh, Iran, Senegal dll. Di USA sendiri Idul Adha akan dilaksanakan tanggal 19, 20 dan 21 Desember.

Perbedaan ini disamping menambah panjang rentetan cemoohan dari non muslim yang melihat umat Islam terpecah belah dalam masalah politik, militer dan ibadah, maka perbedaan ini juga semakin menambah panjang daftar kebingungan masyarakat umum yang mayoritas tidak memahami pembahasan rumit seputar fikih penetapan tanggal Idul Fitri/Adha. Masyarakat umum karena keawamannya tentu hanya berpatokan pada ketetapan pemerintah saja meskipun mereka sendiri tidak mengerti mengapa sholat Idul Fitri/Adha yang mereka lakukan berbeda waktunya dengan yang dilaksanakan di Masjidil Haram atau di tempat tempat lainnya.

Penetapan Idul Adha seharusnya lebih sederhana dibandingkan dengan penetapan awal/akhir Ramadhan. Penyelenggaraan idul Adha itu cukup disesuaikan waktunya dengan rangkaian pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Umat Islam diluar wilayah Mekkah tinggal menyesuaikan sholat Idul Adha-nya sehari setelah jama’ah haji wuquf di ‘Arafah. Hal ini sesuai dengan sabda Baginda Rasulullah SAW : “Idul Fitri adalah hari orang-orang (kaum muslimin) berbuka puasa. Dan Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya sebagai hadits shahih). Imam Syafi’i di dalam Al-Umm juga menyebutkan Rasulullah bersabda : “ Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah.” (al-Umm, juz I, hal. 230)

al-umm-yaumahdakum2.jpg

Jadi, berdasarkan hadits diatas harusnya dipamahi dengan mudah bahwa Idul Adha adalah hari dimana jama’ah haji sedang menyembelih kurban yaitu sehari sesudah mereka wukuf di Arofah.  Namun kenyataanya, saat ini banyak sekali negara yang kreatif menyelenggarakan sholat Idul Adha pada hari-hari tasyriq disebabkan mereka menetapkan sendiri waktu pelaksanaanya berdasarkan ru’yatul hilal di wilayah masing masing dengan alasan perbedaan mathla’ . Padahal Imam Shon’any dalam Subulus Salam telah menegaskan bahwa perbedaan mathla bukanlah alasan dalam penentuan awal/akhir puasa (termasuk juga Idul Adha). Beliau juga menegaskan bahwa rukyat suatu negeri berlaku untuk semua negeri yang lain.

Disamping itu, praktek rukyat masing masing negeri untuk menentukan ‘idul adha ini mengandung dua kesalahan. Pertama, tidak ada riwayat langsung dari Rasulullah SAW  yang menunjukkan beliau (ketika di Madinah) melakukan ru’yatul hilal sendiri untuk menentukan hari Idul Adha. Bahkan Rasulullah sendiri jelas jelas telah menyerahkan amanah penentuan pelaksanaan hari hari manasik haji (termasuk Idul Adha) kepada Amir Makkah, sebagaimana dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali yang berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata ” Rasulullah saw. telah mengamanatkan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).

Kesalahan kedua, menqiyaskan cara penetapan hari Idul Adha dengan cara penetapan Idul Fitri yaitu melalui ru’yatul hilal masing masing individu/masyarakat berdasarkan hadits “shumu li ru’yatihi” (berpuasalah kamu bila melihat bulan). Padahal qiyas tidak boleh digunakan didalam masalah pelaksanaan ibadah mahdhoh (ritual). Pelaksanaan ibadah ritual haruslah tauqifiyah (mengikuti dan mencukupkan pada nash apa adanya, tidak ada illat sehingga tidak boleh tidak diqiyaskan). Lagipula, jelas jelas perintah “shumu li ru’yatihi’ itu jelas jelas ditujukan untuk tatacara pelaksanaan ibadah puasa, bukan Idul Adha. Untuk idul Adha, umat Islam tidak usah repot repot menentukan tanggal sendiri, cukup berpatokan pada sabda Rasulullah yang menerangkan bahwa Idul Adha adalah hari dimana para jama’ah haji menyembelih kurban, yaitu sehari setelah jamaah haji wukuf di Arofah.

Sebagian ulama di Indonesia berpendapat bahwa warga tidak diperbolehkan untuk mengadakan ibadah puasa, idul Fitri dan idul Adha sendiri. Semua ibadah itu harus dilaksanakan bebarengan dengan jamaah atau mayoritas umat Islam (ma’al jama’ah wa ma’dzumun naas). Tentu saja pendapat tersebuut sangat benar menurut kitab fiqh manapun, dan memang umat Islam harus berada dalam satu jamaah serta tidak terpecah belah. Namun yang harus didudukkan permasalahannya adalah : jamaah dan mayoritas umat Islam yang mana yang dimaksud oleh para ulama salaf tersebut ? Bukannya sekarang jama’ah itu telah terpecah belah tanpa imamah (khilafah) menjadi berpuluh puluh negara lemah serta terbungkus rapat pada sekat sekat bernama nasionalisme ? Bahkan virus nasionalisme inipun membuat bid’ah ukuran mathla yang direkayasa dari 24 farsakh ( 133 km) – menurut literatur klasik –  menjadi meluas/menyempit mengikuti batas batas nasionalismenya.

Menyangkut penggunaan kata sakti “mayoritas”, maka lagi lagi yang dimaksud dengan mayoritas itu maksudnya dalam scope nasional atau scope internasional ? Karena bila kita konsisten dengan penggunaan kata mayoritas – dalam artian umat Islam sedunia -, maka harusnya muslim Indonesia melaksanakan sholat Idul Adha Hari Jumat 21 Desember 2007, bukan 20 Desember atau 19 Desember, Sebab negara negara berpopulasi umat Islam terbesar no 2,3,4 (Pakistan, India, Bangladesh) yang kira kira sejumlah 449 juta itu sholat Idul Adha tanggal 21 Desember (muslim Indonesia = 205 juta)

Oleh karenanya, benar tidaknya penentuan Idul Adha sama sekali bukan karena faktor mayoritas, namun semata mata digali dari dalil terkuat yaitu bahwa Idul Adha adalah hari jamaah haji menyembelih kurban yang tanggal pelaksanaannya ditetapkan oleh Amir Makkah, baik ada atau tiadanya Daulah Khilafah.  Karenanya penyelenggaraan Idul Adha tahun 1428 H ini yang tepat adalah tanggal 19 Desember 2007 seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Allah berfirman ” dan jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS 4 : 59)

Ada juga sebagian umat Islam ragu dalam bersikap. Mereka berencana berpuasa Arofah tanggal 18 Desember karena yakin hari itulah hari wuquf Arofah namun mereka sholat Idul Adha pada tanggal 20 Desember, Padahal, harusnya momen Idul Adha ini menjadi saat yang tepat bagi umat Islam sedunia untuk menunjukkan persatuan dan kebersamaanya dengan berpuasa Arofah di hari yang sama dan sholat Idul Adha di hari yang sama, sehingga takbir tahmid dan tahlil akan menggema bersama sama serentak diseluruh pelosok dunia.

Perbedaan dan perpecahan ini akan senantiasa muncul dan menjadi kesedihan  bagi kita semua sekaligus bahan ejekan umat non muslim, selama umat Islam masih terpecah belah, ukhuwah Islamiyahnya dikalahkan oleh fanatisme golongan dan nasionalismenya, serta belum berada di dalam naungan yang menyatukannya, yaitu Khilafah Islamiyah.

Wallahu A’lam

Lihat juga tulisan KH Shiddiq Al-Jawi Penentuan Idul Adha Wajib Berdasarkan Rukyatul Hilal Penduduk Makkah

One Response to “Idul Adha 2007 (1428 H) – Ikut Mayoritas Muslim yang mana ?”

  1. anto said

    Setuju krn dalilnya kuat, perlu juga penyatuan metode pembuatan almanak shg penentuan awal bulan bisa sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: