Something inside my minds

Wali Songo Tidak Pernah melakukan Dakwah Ke-Indonesiaan

Posted by dnux on February 5, 2008

Dalam Harlah NU ke-82 di Stadion Gelora Bung Karno pada hari Ahad 3 Feb 2008, ada hal beberapa hal yang menarik.

Yang pertama adalah seruannya kepada segenap nahdhiyin untuk kembali ke kitab kitab kuning. Artinya, beliau mengajak warga nahdhiyin untuk kembali merujuk pada tsaqofah Islam dan pelan pelan meninggalkan taklid buta.  Harapan saya adalah semoga seruan ini bukan hanya ditujukan membebaskan buta terhadap masalah ‘ubudiyah semata, namun juga membebaskan diri dari taklid buta terhadap sistem kenegaraan, sosial, politik, ekonomi, pidana, perdata, dll yang selama ini dengan mudahnya umat muslim taklid kepada Undang Undang atau Perda Perda di Indonesia yang bisa jadi sangat bertentangan dengan yang ada di kitab kuning yang menjadi rujukan para nahdhiyin seperti Al-Iqna, Fathul Mu’in, dsb

Hal menarik kedua adalah pernyataan dari KH Hasyim Muzadi di forum tersebut yang sebetulnya sudah sering beliau lontarkan (orang lain juga) yaitu :   “Ciri khas ahlussunnah waljamaah yang dibawa dan diterapkan oleh para Wali Songo, lanjut Hasyim, adalah gerakan Islam yang Indonesiawi melalui perjuangan keindonesiaan yang diisi dengan nilai-nilai agama”. sumber.

Saya bingung dengan maksud kata kata “gerakan Islam yang Indonesiawi melalui perjuangan keIndonesiaan” ?  Bingung sebingung bingung-nya. Mungkin, yang dimaksud pak Hasyim itu adalah Warga NU harus bersikap tawassuth dan I’tidal (garis tengah dan lurus) sehingga membedakan dirinya dengan gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi (ekstrim dengan kekerasan) maupun tatharruf tasaahuli (ekstrim liberalis) yang keram melakukan kesembronoan, yang keduanya bukanlah ciri khas perjuangan Islam domestik Indonesia. Gitu loh …

Lalu apakah benar gerakan wali songo itu adalah dakwah keIndonesaan seperti yang digambarkan itu ? Menurut saya tidak dan sama sekali tidak pernah walisongo melakukan dakwah keIndonesiaan.

Pertama, dari segi istilah dakwah keIndonesiaan, bagaimana mungkin mereka melakukan gerakan keIndonesiaan, lha wong para wali itu pada asalnya adalah bukan orang Indonesia tetapi dari wilayah handramaut, arab, gujarat, samarqand, syam dan lain lain yang mereka itu sengaja diutus oleh khalifah untuk menyebarkan/menguatkan dakwah di wilayah nusantara. Hanya beberapa orang akhir saja yang asli Nusantara yang itupun juga masih “keturunan” arab.

Kedua, istilah dakwah keIndonesiaan sangat kental dengan ashobiya nasionalisme. Apakah benar dakwah di Indonesia berbeda dengan dakwah di Malaysia, Filipina, dan lain lain. Mengapa tidak disebut dakwah keAsiaTenggara-an saja yang mana memang Islam masuk ke wilayah tersebut melalui dakwah, bukan melalui futuhat.

Ketiga, mengapa tidak disebut dakwah kejawaan saja, bukankan walisongo itu dakwahnya di tanah jawa saja ? sekali lagi ini adalah sekedar masalah klaim nasionalisme sehingga disebutlah dakwah kejawaan menjadi dakwah keIndonesiaan. Lagi pula jamannya para wali itu, nama Indonesia masih belum ada dan belum pernah terlintas untuk disebut sebut ..  yang nyebut istilah Indonesia itu pertama kali adalah wong Londo. Sendangkan umat Islam sedunia pada waktu itu (sd awal abad 20) hanya mengenenal istilah jazirah jawi untuk menyebut istilah nusantara.

Keempat, apakah benar dakwah para wali itu tawassuth dan i’tidal ? Bukankah mereka juga melakukan jihad untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu yang masih bertahan. Contohnya seperti Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati.

Kesimpulan saya, sebenarnya para wali itu tidak melakukan dakwah keIndonesiaan. Mereka hanya melakukan dakwah Islam saja tanpa embel embel keIndonesia-an atau keJawa-an. Metode yang mereka lakukan beragam, baik via strutural atau kultural, baik via perdangangan, pendidikan, kesenian dan lain lain, semuanya hanyalah cara dan pendekatan umum sekaligus strategis yang praktis dan apliklatif yang  digunakan di seluruh baik oleh da’i Islam atau da’i jahiliah (kristen, komunis, kapiltalis, liberalis, dll) untuk memasukkan ide dan pengaruhnya ke/di masyarakat.

Dan buktinya, ketika Islam di Jawa telah berhasil menapaki kekuasaan sebagaimana Rasulullah telah hijrah ke Madinah, para wali pun merubah strategi dari dakwah lisan saja menjadi dakwah plus jihad. Lalu kira kira di Indonesia kita (umat Islam Indonesia) masih mengikuti napak tilas para wali di fase mana ? fase sebelum berdirinya Demak Bintoro yang dakwah lisan saja atau fase sesudah berdirinya Demak Bintoro yang sudah mulai memasuki fase Jihad ?

Walhasil, kita harus hati hati ketika mendefinisikan dan mengklaim metode dakwah walisongo, jangan sampai nanti di yaumil hisab kita malah diprotes oleh para wali yang mulia itu dan dituduh melakukan menyalahgunakan nama mereka untuk klaim klain nasionalisme dan keengganan menegakkan Khilafah.

Wallahu a’lam, Wallahu musta’an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: