Something inside my minds

Masalah (yang katanya) Riba pada Tabungan Syariah

Posted by dnux on August 11, 2008

Di tengah maraknya geliat Bank Islam yang membuat raksasa bank kapitalis seperti HSBC, Lloyds TSB, Standard Chartered, Citigroup latah membuka Unit Bank Islam, persoalan bank syariah di Indonesia mash menumpuk, diantaranya adalah adanya keraguan masyarakat untuk menggunakan bank syariah dengan anggapan masih mengandung riba. Apa benar ?

Tentu pembahasan rinci mengenai hal tersebut tidak cukup hanya dituangkan di blog, lha wong berbagai makalah & seminar nasional + internasional sudah banyak dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Kareneanya tulisan lebih kearah pendapatan penabung dari bank, tidak fokus ke pendapatan bank karena njilmet meski kesimpulannya juga menyentuh hal itu. ..

Di bank syariah, nasabah dapat menabung dengan dua cara yaitu dengan Skim Titipan (Wadiah) atau  dengan Skim Investasi (Mudharabah).

Akad Wadhiah terbagi dua yaitu :

  1. Wadhiah Dhamanah  : Titipan dengan izin tertitip boleh pemanfaatan harta titipan. Diletakkan dalam pool of fund untuk dikembangkan oleh tertitip.
  2. Wadhiah Amanah : Titipan tanpa kebolehan izin memanfaatkan harta titipan: contoh : Safe Deposit Box

Sedangkan Akad Mudharabah juga ada dua :

  1. Mudharabah Mutlaqah (Bagi Hasil Mutlak): Bank berkuasa penuh menentukan jenis dan tempat investasi. Nasabah tidak perlu menentukan ke mana dananya akan diinvestasikan oleh bank syariah.
  2. Mudharabah Muqayyadah (Bagi Hasil Terikat): Bank berwenang terbatas dalam menentukan jenis dan tempat investasi. Skim ini biasanya digunakan untuk mewadahi kebutuhan nasabah (umumnya adalah nasabah besar seperti perusahaan dan pemerintah) untuk menggunakan bank syariah sebagai perpanjangan tangannya untuk berinvestasi pada sektor bisnis tertentu. Dana tidak disatukan dalam pool-of-fund bank syariah, namun dikelola secara terpisah.

Produk umum yang biasanya dijumpai adalah Wadhiah Dhamanah biasanya disebut dengan Giro dan Mudhorobah Muthlaqoh atau biasanya disebut dengan Deposito. Sebagaimana pada umumnya, beda antara Giro Wadhiah Dhamanah dan Deposito Mudhorobah Muthlaqoh adalah :

  1. mekanisme pengambilan, dimana Deposito biasanya berjangka sedangkan tabungan bisa sewaktu waktu
  2. revenue sharing Deposito lebih besar daripada Giro, misal Deposito 6.64% Giro 2.94% (muamalat april 2008)

Pertanyaan yang sering saya dapatkan & jawaban dari saya :

  • Pertanyaan (sangat sering)
    • apa beda antara bank konvensional (riba) dengan bank syariah bila sama sama menjanjikan keuntungan di awal (walau estimasi) ?
  • jawaban (paling sering) :
    • Menjanjikan keuntungan itu diperbolehkan seperti saya bilang pada anda. Saya minta anda menitipkan/meninjamkan motor buat ngojek karenea motor dirumah lagi mace. Karena biasanya dapet 30 ribu sehari, saya janjikan adan sepertiga  keuntungan alias 10 ribu. Boleh tidak kalau begitu ?
    • Hanya, pada bank konvensional perhitungannya berdasarkan riba sementara bank syariah berdasarkan bagi hasil yaitu pada kemungkinan untung/rugi. Beda tipis tapi akibatnya fatal (nikmat sorga vs siksa neraka)
    • Pada kenyataanya riba pada bank konvensional juga fluktuatif, tergantung suku bunga yang ditetapkan dari bank bersangkutan apalagi pas musim si Fed lagi gonjang ganjing …
  • Pertanyaan : 
    • kok saya untung terus tidak pernah rugi ? kok  tabungan saya tidak pernah berkurang ?
  • Jawaban : 
    • karena anda menitipkan pada sebuah perusahaan yang untung terus. Ibarat nitip uang pada agen travel untuk dibelikan sebagai travel chek lalu dijual oleh agen travel yang bisnisnya lancar, maka anda pun akan keciptratan untung. Si agen travel itu menyediakan layanan : akad investasi berjangka atau akad titipan yang sewaktu waktu akan digunakan. Tentu saja yang investasi berjangka akan diutamakan karena lebih jelas waktu penarikannya, karenanya diberi imbalan yang lebih besar.
    • Justru inilah yang sering di tanyakan orang, bank syariah kok maunya bisnis yang pasti untung saja. Jawaban : bank syariah itu emang didirikan buat bisnis bukan buat donor.
    • Kalau tidak mau untung & tidak mau rugi, taruh saja di safety deposit box (Wadhiah amanah)
  • Pertanyaan : 
    • Kenapa saya boleh mengambil uang sewaktu waktu, bukannya yang namanya akad itu harus jelas kapan awal dan akhirnya ?
  • Jawaban : 
    • Yang bisa diambil sewaktu waktu itu adalah jenis Wadhiah Dhamanah (Titipan yang dengan hak pengembangan oleh tertitip). Kalau yang Mudhorobah (deposito) harus pada waktu tertentu
  • Pertanyaan : 
    • Apakah sudah pasti uang bagi hasil itu bebas riba.
  • Jawaban : 
    • Tidak tahu. Harus ditanyakan ke bank bersangkutan & sangat tergantung kepercayaan anda pada bank tersebut.
    • Yang jelas semua bank di Indonesia itu masuk dalam penjaminan. Artinya, bisa jadi bila bank syariah itu kolaps maka uang anda akan di kembalikan oleh bank Indonesia, mungkin dengan uang riba. Hehehe
  • Pertanyaan : 
    • Apakah sudah pasti uang bagi hasil itu sudah pasti halal ? (diluar kasus riba)
  • Jawaban : 
    • Ini pertanyaan paling sulit. Saya sendiri sangat ragu ragu. Kenapa ? Karena Bank bisa jadi mendapatkan keuntungan dari akad akad yang belum sempurna (belum full syar’i) seperti akad ganda pada leasing, pembiayaan pertanian dll. Tentu saja pada prakteknya setiap bank berbeda, karena itu tidak boleh menyamaratakan namun harus jeli dalam melihat mana akad akad yang benar dan mana yang tidak, sebagaimana menurut Cecep Maskanul Hakim dari Tim Penelitian dan Pengembangan Bank Syariah-DPNP dalam makalahnya (Problem Pengembangan Produk dalam Bank Syariah)  yang menyebutkan bahwa terdapat kendala dalam menjalankan aturan perbankkan Islam pada beberapa kasus Murabahah yang memungkinkan bankir cenderung membuat produk yang lebih dekat dengan produk konvensional daripada yang Islami. Alasannya sederhana, lebih mudah dihitung, lebih mudah dibandingkan dan jelas ukurannya.

Kesimpulan : 

  • meski bank syariah (dapat diduga kuat) sudah bebas dari riba dan dari sisi akad penitipan sesuai dengan akad syariah, namun terdapat keraguan dalam menggunakan Bank Syariah akibat adanya pendapatan dari akad akad yang tidak sesuai. Kendala nya jelas : sistem yang sekuler sehingga menyebabkan benturan antara aturan normatif (syariah) dengan aturan positif (undang undang RI)
  • Dari sisi aulawiyat, jelas bank syariah lebih utama digunakan dalam proses yang mubah seperti transfer dana, safety deposit box dll. Sebab tindakan itu membawa pada syi’ar menumbuh kembangkan sikap penyadaran ekonomi islam dan wujud benci riba atau kepada institusi riba itu sendiri.
  • Jelilah dalam memilih bank syariah & akad yang dipilih. Bila ragu, manfaatkan saja jenis transaksi di bank syariah yang menurut anda tidak meragukan. Seperti tidak menabung, tapi tetap memanfaatkan untuk transfer dll .. jangan serampangan menghalalkan atau mengharamkan, karena perlu studi dan analisa yang detail terhadap fakta sebelum mengharamkan sesuatu.
  • Kalau nabung : emas saja … syar’i banget & jelas menguntungkan. Tidak kena inflasi dll

Wassalam
dnux

One Response to “Masalah (yang katanya) Riba pada Tabungan Syariah”

  1. sumardi said

    benar, beli emas, simpan dan bebas riba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: