Something inside my minds

Riba, Dinar Dirham dan Inflasi

Posted by dnux on August 18, 2010

Tahun demi tahun kita  merasakan betapa uang  yang kita hasilkan dari bekerja semakin tidak cukup untuk membeli benda baik itu untuk kebutuhan sehari hari seperti sembako ataupun untuk membeli material bangunan ataupun uang pendidikan dan lain sebagainya meski memang ada beberapa jenis barang semakin murah seperti barang elektronik hp tv dan lain sebagainya. Kenaikan harga tersebut yang kita sebut dengan istilah inflasi yang oleh para ahli ekonomi.

Kenaikan harga harusnya adalah sebab terjadi kelangkaan jumlah barang (supply) atau meningginya permintaan (demmand) sehingga terbentuk keseimbangan harga baru (equilibrium). Namun pada kenyataanya walaupun penawaran dan permintaan tetap namun harga pun tetap terus merangkak naik, tidak ada pilihan bagi pedagang dan pembeli untuk mengikuti kenaikan harga barang tersebut. Mengapa hal tersebut terjadi ?

Sebenarnya  kenaikan harga pada masa sekarang ini bukan disebabkan karena kenaikan meningkatnya permintaan atau menurunnya penawaran barang saja atau karena faktor ekonomi mikro semata, baik dalam scope regional atau internasional (seperti melambungnya harga minyak dunia). Penyebab utama inflasi saat ini justru disebabkan oleh faktor ekonomi makro (sektor moneter) seperti semakin membanjirnya likuiditas uang di tengah masyarakat karena Bank Indonesia mencetak uang untuk memenuhi permintaan uang berupa gaji pegawai negeri, pembiayaan proyek, pencairan  Sertifikat Bank Indonesia (SBI), pelunasan Surat Utang Negara (SUN), pembayaran hutang luar negeri dan lain lain.

Karena jumlah barang tetap namun jumlah uang beredar meningkat maka otomatis harga barang-pun  menjadi meningkat sebagai bentuk keseimbangan terhadap meningkatnya uang beredar.  Sebagai gambaran sederhana misalnya harga susu bayi adalah Rp 100rb/kg pada jumlah uang beredar senilai Rp 100X lalu pada tahun berikutnya uang beredar 10X (10%) menjadi Rp 110X  maka secara perlahan harga beras akan naik menjadi 10% yaitu Rp 110Rb/kg. Demikian tiap tahun harga akan terus meningkat menyesuaikan dengan jumlah uang yang diciptakan terus menerus oleh Bank Indonesia.

Pencetakan uang baru yang menyebabkan inflasi sangat terkait karena kewajiban membayar bunga (riba). Jadi, dengan sederhana kita bisa menyimpulkan  bahwa inflasi tidak akan terjadi apabila kita menghentikan riba di tengah tengah kita. Riba adalah buah tangan manusia yang sangat merusak manusia baik dari tatanan ekonomi berdampak pada aspek sosial akhlaq politik pemerintahan dan lain sebagainya. Maka wajar bila Allah SWT mengancam memerangi pelaku riba : “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “ (QS 2:279)

Riba menyebabkan kegoncangan ekonomi. Riba semakin menjadi jadi manakala ditopang oleh instrumen berupa fiat money yaitu uang kertas yang tidak disandarkan pada asset emas/perak dan bebas dicetak sesuai keperluan (kemauan) Bank Central. Riba pada jaman dahulu yang masih menggunakan emas tidak akan seliar sekarang sebab bagaimanapun juga emas terbatas dan tidak akan terlalu mempengaruhi inflasi dalam negeri kecuali bila emas emas tersebut dilarikan ke luar negeri. Karena itu, bila kita menghendaki kestabilan harga dan kestabilan ekonomi maka : (1) Riba harus segera dihentikan (2) Fiat money harus segera  dan diganti dengan mata uang yang stabil yaitu emas/perak (3) Perilaku menabung masyarakat pun harus digantikan dengan perilaku investasi langsung sesuai syariah baik kepada keluarga, tetangga, rekan dsb yang memerlukan biaya pengembangan usaha.

Kestabilan emas sebagai mata uang terbukti berdasar hadits berikut : “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan uang 1 dinar kepadanya untuk dibelikan seekor kambing untuk beliau. Lau dengan uang tersebut ia membeli 2 ekor kambing, kemudian ia jual 1 ekor dengan harga 1 dinar. Ia pulang membawa 1 dinar dan 1 ekor kambing. Nabi SAW mendoakannya denan keberkatan jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debu pun, ia pasti beruntung.” (HR Bukhari) Harga kambing pada masa nabi adalah 1 dinar  yaitu senilai 4.25 gram emas atau  Rp 1.4 jt, dan hingga sekarang  pun harga kambing tetap seperti pada kisaran itu.  Artinya, tidak akan ada inflasi bila kita menggunakan uang dinar/dirham.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: