Something inside my minds

Ramadhan sebagai Bulan Ekonomi Umat

Posted by dnux on August 20, 2010

Disamping merupakan bulan puasa, bulan Ramadhan bisa kita sebut sebagai bulan ekonomi dan wiraswasta. Bayangkan, orang orang yang sehariannya bukanlah pedagang, mendadak menjadi pedagang di bulan ini baik itu pedagang makanan kecil, hidangan buka puasa, baju islami, dan sebagainya.  Jauh jauh hari para pengusahan ini telah menyiapkan analisa dan survey pasar serta menabung rupiah/emas untuk dijadikan sebagai modal usaha ketika bulan Ramadhan datang.

Demikian juga para konsumen, apabila seharinya bersantap dengan menu secukupnya, namun pada bulan Istimewa ini mereka tidak ragu membeli makanan berlebih untuk menu buka puasa dan sahur walaupun harga sembako naik tajam selama bulan Ramadhan ini. Demikian juga dalam pembelanjaan baju koko, mukena, buku buku islami pun meningkat karena didorong faktor diskon dan lain sebagainya. Dan terakhir tidak ketinggalan adalah pembelanjaan tiket pesawat terbang atau kapal laut untuk pulang kampung  sebagai alternatif mahalnya harga tiket pesawat terbang.

Inflasi (kenaikan harga) pada keadaan seperti ini adalah kenaikan yang wajar disebabkan oleh tingginya permintaan (demmand) barang sehingga menimbulkan opportunity (peluang) bagi masyarakat untuk meningkatkan atau mneambah jumlah penawaran (supply) barang yang dibutuhkan konsumen sehingga tercapai equilibrium (keseimbangan) harga baru memang yang secara umum memang lebih tinggi daripada diluar bulan Ramadhan. Inilah “the true invisible hand” dimana pasar digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan yaitu mekanisme pasar itu sendiri.

Namun sayangnya pergerakan ekonomi itu hanya bertahan di  bulan Ramadhan. Pada bulan selanjutnya ekonomi pasar kembali ke bentuk semula. Para usahawan yang memilki kemapuan kembali ke aktivitas semula karena permintaan menurun ataupun karena modal dan keuntungan digunakan sudah untuk belanja lebaran. Para konsumen pun kembali menjadi penabung dan menunggu keuntungan berupa menunggu bunga (bank Konvensional) ataupun bagi hasil (bank Syariah). Mereka memilih saving daripada memutarkan uangnya untuk kegiatan ekonomi berupa belanja ataupun usaha.

Ekonomi Islam adalah ekonomi produktif sementara sesungguhnya menabung (saving) bukanlah kegiatan produktif dan berpotensi dicela oleh Allah SWT : “Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, kepada mereka beritahukanlah bahwa mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih. (QS at-Taubah : 34). Apalagi bila menabungnya di Bank Konvensional yang ber-riba maka sesungguhnya hanya akan menuai murka Allah SWT “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “ (QS 2:279)

Menabung di Bank Syariah walaupun tidak mendapatkan bunga namun biasanya uang penabung digunakan oleh Bank dalam sektor konsumtif seperti pembiayaan kredit baik itu properti ataupun kendaraan bermotor. Dan tentu saja hanya orang orang kaya yang mendapatkan kredit tersebut. Padahal Allah SWT  berfirman : “ .. supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu (saja)” (QS Al Hasyr: 7)

Umat Islam harusnya membantu satu sama lain. Karenanya alangkah indahnya bila selepas Ramadhan ini kebiasaan menabung masyarakat diganti dengan kebiasaan berinvestasi riel yang jelas jelas merupakan penobang bangunan ekonomi masyarakat, bukan sektor moneter yang penuh riba dan gharar serta berpotensi menimbulkan tsunami moneter dan tsunami finansial. 

Para pemilik modal hendaknya mencari rekanan yang jujur dan kredibel untuk bekerjasama mengembangkan atau pembiayaan lunak. Bukankah dengan cara demikian masing masing dapat untung. Bagi rekanan akan melancarkan usaha mereka baik berupa rintisan atau expansi, bagi pemodal akan mendapatkan pengalaman bisni, mengetahui seluk beluk usaha serta terhindar dari kufur nikmat penimbunan harta. Dalam Ihya, Imam Ghazali berkata : “… seseorang yang hanya menyimpan(harta)-nya saja dirumahnya, ia benar benar menganiaya fungsi harta dan uang itu, serta melalaikan nikmat yang terkandung dalam penciptaan emas dan perak atau secara umum dia menganggurkan tujuan pembuatan uang itu”. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: