Something inside my minds

Fakta Pengopinian Terorisme = Islam

Posted by dnux on September 29, 2010

Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno mengeluarkan pernyataan yang berseberangan dengan Mabes Polri soal teroris di Sumut. Kapolda menegaskan, serentetan peristiwa yang menghebohkan Kota Medan dan sekitarnya, mulai perampokan Bank CIMB Niaga, hingga penyerbuan Mapolsekta Hamparan Perak, dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris.

Lho  … mengapa kok hanya disebut separatis pak ? mengapa mereka tidak disebut teroris ? dan mengapa aksinya tidak disebut terorisme ? bukankah mereka juga menimbulkan teror di masyarakat karena melakukan kontak senjata dengan aparat khsusunya masih ada yang lolos dan bisa jadi masih membawa senapan.

Mari pak dibuka lagi kembali kamus terorisme :

  1. Di website dictionary.reference.com dijelaskan arti terorisme sebagai berikut : (1) the use of violence and threats to intimidate or coerce, esp. for political purposes. (2) the state of fear and submission produced by terrorism or terrorization. (3) a terroristic method of governing or of resisting a government.
  2. Dalam penjelasan RUU Pemberantasan Terorisme (yang diusulkan pada masa Megawati), pada Bagian Penjelasan pasal 1 diseebutkan Terorisme adalah : suatu kejahatan yang berlatar belakang atau bertujuan politik yangmenggunakan kekerasan dan atau ancaman kekerasan yang sangat membahayakan bagi kehidupan bennasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Singkat kata : terorisme adalah penggunaan teror yang membahayakan masyarakat untuk mencapai maksud maksud politis. Lalu apa yang terkategori tujuan politis ? Monopoli diskusi di media televisi khususnya Metro TV dan khususnya lagi TV One yang menghadirkan “pakar” terorisme bolak balik mengarahkan pada opini bahwa maksud politis dari para teroris adalah pembentukan negara islam atau khilafah.

Padahal masih banyak lagi cakupan dari “kekerasan dengan tujuan politis”, antara lain  :

  1. Separatisme atau pemisahan wilayah. Beberapa daerah yang rawan antara lain Aceh, Riau, Kalimantan, Maluku, Papua dan tentu saja yang sudah terjadi adalah di Timor Leste.  Dalam tingkatan aksi terorisme bersenjata, di Papua telah terjadi beberapa kali serangan kepada polisi atau regu patroli dan juga kepada kantor polsek. Namun entah mengapa mereka tidak disebut teroris padahal jelas jelas melakukan teror kepada aparat. Lucunya lagi — dan ini adalah super lucu — Australia yang memiliki andil dalam melatih dan membiayai Densus 88 malah marah ketika ada laporan Densus 88 memakan korban anggota RMS …
  2. Pemilihan Umum. Teror berupa intimidasi kepada pemilih untuk memilih calon tertentu (atau partai tertentu) kerap kali terjadi. Bila tidak maka dipastikan akan mendapat kesulitan baik fisik, birokrasi, pemutusan bantuan dan lain sebagainya. Demikian pula sangat sering terjadi teror kepada KPU ketika terjadi konflik kemenangan pilkada dimana salah satu calon gagal menang pemilu ataupun kalah dalam gugatan kekalahan. Entah mengapa yang seperti ini juga tidak disebut terorisme bukankah mereka melakukan aksi teror yang membahayakan untuk tujuan politis ?

Demikian juga masih ada beberapa jenis aksi teror untuk motif lainnya diantaranya motif ekonomi. contohnya seperti (1) pemaksaan penguasaan lahan tanah, perkebunan, pangsa pasar dsb (2) membungkam pekerja atau wartawan untuk menutupi kasus korupsi atau pengabaian hak hak buruh. Namun karena scope terorisme adalah tujuan politis maka contoh diatas tidak dicakupkan dalam definisi terorisme walaupun terjadi aksi teror kepada orang banyak.

Lha lalu apa salah bila kemudian masyarakat berpresepsi bahwa terrorimse selalu identik dengan Islam ? Apalagi diopinikan bahwa ciri khas teroris adalah berjenggot, celana cingkrang, dahi hitam, terutup dari lingkungan, istrinya bercadar dsb … ? Padahal sebagaian besar dari ciri2 itu adalah anjuran Rasulullah SAW yang semata2 ingin dilaksanakan oleh mereka yang mencintai beliau SAW tanpa tendensi apapun ?

Lebih dari itu  … kalau dipikir pikir justru sekarang ini Densus 88 lah yang menciptakan teror baru di masyarakat – khususnya aktivis Islam –  dengan tindakan tindakan brutal dan over acting atas nama tindakan Anti Terorisme ….

Setelah dipikir pikir dan melihat uraian diatas, barangkali pak Oegroseno (Kapolda Sumut) memang benar bahwa yang melakukan perampokan di Padang itu memang bukan “teroris” …

Dan untuk sedikit refreshing, tidak ada salahnya bila cerpen saya dibaca kembali …

Cerpen : Pengadilan Pohon Korma

Ya .. pohon kurma masih terus dicurigai dan didesak untuk dilarang tumbuh. Batang dan akarnya harus menjauh. Kalaupun ada maka batangnya tidak boleh terlalu tegap dan akarnya tidak boleh terlalu menancap. Cukup buahnya saja yang boleh masuk ke negeri ini karena bisa diperdagangkan, itupun syaratnya harus dikemas rapi dan ditulis “DATES” biar keren dan sesuai dengan keinginan pasar.  https://dnuxminds.wordpress.com/2009/08/11/cerpen-pengadilan-pohon-korma/

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: