Something inside my minds

Pemahaman saya tentang Hadits Hudzaifah : Dukhan, Duat Ilaa Abwabi Jahannam & Itazilu Firqah (Asap, Penyeru ke Pintu Neraka, Menjauhi Firqah)

Posted by dnux on September 16, 2011

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

”Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan.Sedangkan aku bertanya kepada beliau saw mengenai keburukan, karena khawatir keburukan itu akan menimpaku.Aku bertanya, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya, kami dahulu berada di masa jahiliyyah dan keburukan.Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini.Lantas, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?Nabi saw menjawab, ”Ya”. Saya bertanya lagi,”Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan? Nabi saw menjawab, ”Ya, dan di dalamnya terdapat ”dukhan (asap/kotoran)”Aku bertanya, ”Apa asap itu?” Beliau menjawab, ”Kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku; yang mana kamu mengenal mereka, dan kamu akan mengingkari”.Aku bertanya lagi, ”Apakah setelah kebaikan itu akan datang keburukan lagi? Nabi saw menjawab, ”Ya, orang-orang yang mengajak ke pintu-pintu neraka.Siapa saja yang menerima ajakan mereka menuju pintu-pintu neraka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka”.Aku bertanya lagi, ”Ya Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka kepada kami”.Nabi saw menjawab, ”Mereka memiliki kulit yang sama dengan kita, dan berbicara dengan bahasa-bahasa kita”.Aku bertanya lagi, ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami, jika hal itu menimpaku?Nabi saw menjawab, ”Tetapilah jama’at al-Muslimiin dan imam mereka”.Aku bertanya, ”Lalu, bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam”.Nabi saw bersabda, ”Jauhilah semua firqah tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, hingga kematian menjemputmu, sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.[HR. Bukhari Muslim]

Dalam hadits di atas ada dua hal yang Allah dan RasulNya perintahkan kepada kita untuk mewaspadai dua golongan orang yaitu dakhonun (asap/bau) dan du’at ilaa abwabi jahanam atau penyeru pada pintu neraka  serta memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada imam dan jamaah serta menghindari firqah manakala tidak ada imam dan jama’ahnya.

1.      Mewaspadai adanya dukhon (دَخَنٌ) atau asap/bau

دَخَنٌ (asap/bau) yang dimaksud dalam hadits di atas diterangkan maknanya pada anak kalimat berikutnya yaitu قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْي  suatu kaum yang memberi petunjuk selain dengan petunjukku. Menurut hemat saya yang dhoif ini yang dimaksud adalah orang orang yang bukan dari  umat Islam seperti yahudi, nasrani, hindu, budha dan lain lain. sebab disitu Rasulullah SAW menggunakan kata قَوْمٌ  atau golongan tidak menggunakan kata sekelompok umatku dan sebagainya. Kepada mereka ini insyaAllah umat Islam akan mengenal betul dan susah mengidentifikasi mereka sebab mereka memang benar benar bukan umat Islam. Hal itu diperkuat dengan lanjutan hadits tersebut تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ  kamu mengenali mereka dan kalian mengingkarinya, yaitu karena tahu benar ciri mereka beda dengan umat Islam.

Apa istimewanya sehingga disebut khusus sebagai dukhon ? bukankah Yahudi Nasrani dll sudah ada dari dulu ? Istimewanya adalah : mereka bisa mendakwahkan ajarannya itu dengan bebas di tengah umat Islam, hal ini belum pernah terjadi kecuali sejak runtuhnya khilafah karena sejak masa Rasulullah SAW di Madinah mereka memang ada dan berbaur dengan umat Islam, namun mereka tidak memiliki kebebasan untuk bisa mendakwahkan agamanya secara bebas ditengah kaum muslimin sehingga seakan ibarat asap/bau ditengah udara normal yang bersih.

2.      Mewaspadai  (دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ) atau penyeru kepada pintu neraka

ini adalah golongan yang bahkan sulit diidentifikasi oleh umat Islam sebab merekaitu  مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَ dari warna kulit kita dan berbicara denga bahasa kita yaitu maksudnya adalah bagian dari umat Islam (berpenampilan seperti umat Islam) dan berbicara dengan bahasa umat Islam.

Sesungguhnya penggalan hadits ini plus hadits terpecahnya Islam menjadi 73 golongan dan 1 golongan saja yang selamat telah umum digunakan oleh umat Islam sebagai bahan untuk saling mewaspadai sesama umat Islam yag berbeda golongan karena menganggap golongan selain mereka adalah yang dimaksud sebagai penyeru pada pintu neraka, sebagai korelasi positif atas keyakinan bahwa mereka lurus sedangkan yang lainnya sesat, masuk neraka.

Tentu saja kita memahami bahwa banyak hal yang dapat menyebabkan orang masuk pintu neraka, baik karena maksiat aqidah seperti syirik rububiyah dan syirik uluhiyah/hukumiyah atau karena maksiat syariat seperti pelanggaran aturan berpakaian, ekonomi, sosial pergaulan, politik, pemerintahan, ibadah mahdhah, pendidikan, dan lain sebagainya, termasuk juga penyeru kepada ideologi kapitalisme sosialisme, penyeru demokrasi yaitu mengajak untuk menentukan halal-haram (legal/ilegal) atas pendapat manusia baik minoritas ataupun mayoritas, bukan karena penggalian dalil syara. Demikian juga penyeru kepada ashobiyah nasionalisme sukuisme yang membuat umat Islam terpecah belah. Segala yang menyeru pada pelanggaran itu bisa saja termasuk dari duat ilaa abwabi jahanam.

Apakah tidak boleh mewaspadai umat Islam yang diduga duat abwabi jahanam ? Tentu boleh ! Tidak ada yang meralang bahkan menjadi keharusan kita untuk berhati hati supaya tetap berpegang teguh pada tali Islam sehingga kita terseret kesana apa lagi bila sampai menjadi penyeru itu sendiri. Tentu hal yang sangat tidak kita inginkan. Sehingga memang wajar bila akhirnya masing-masing golongan memproteksi diri dan jamaahnya supaya terhindar dari mereka. Wajar bila kelompok A memproteksi dirinya dari dakwah kelompok B dan sebaliknya.

3.      Berpegang teguh kepada jamaah Islam dan menjauhi firqah

Ini adalah point akhir sekaligus point penting bagi umat Islam. Bila pada dua nomor diatas itu adalah terkait sikap mewaspadai, maka yang di nomor tiga ini langsung berkaitan dengan bagaimana dan apa yang harus dilakukan ! Resep yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada kita untuk selamat dari dukhan dan du’at abwabi jahanam adalah adalah iltizam atau berpegang teguh pada jamaah Islam dan Imam mereka. Yang dimaksud dengan imam jamaah adalah umat Islam yang menetapi tempat di bumi ini dan yang dimaksud dengan Imam adalah khalifah.

Mengapa khalifah itu penting dan bisa melindungi dari dua fitnah itu ? Karena imam itulah yang akan membentengi umat Islam dari seruan orang orang yang mengajak kepada kekufuran dan/atau seruan kepada maksiat.

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ»

Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya. (HR Muslim).

Imam/Khalifah-lah yang akan mengadili dan menindak pelaku bid’ah dan penyebar kesesatan. Imamlah yang merupakan tangan pertama pelaksanaan syariat sekaligus menghalangi siapapun yang berusaha menjauhkan umat dari syariat. Karena itu walaupun ada dukhan (asap) dan ada du’at ilaa abwabi jahanam – penyeru pada pintu neraka, Imam akan menghalangi atau setidaknya meminimalisir dengan jalan mempersempit ruang gerak mereka.

 Yang menjadi masalah adalah : bagaimana bila suatu saat tidak ada jama’ah dan Imam mereka ? Maka Rasulullah SAW memberi resep : jauhilah firqah yang ada itu semuanya. Hadits ini kemudian disalahpahami oleh sebagaian umat bahwa umat Islam tidak boleh berfirqah, karena semua firqah harus dihindari. Padahal makna semua firqah yang harus dihindari disana adalah : firqah yang menyeru kepada pintu neraka dan/atau firqah yang tidak berusaha menegakkan jamaah umat Islam. Karena menegakkan jamaah hukumnya wajib. Sementara tugas ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan membentuk suatu kelompok/jamaah/firqah yang terorganisir sebagaimana dulu Rasulullah SAW dan para sahabat berjamaah untuk mendakwahkan Islam dan mencari kekuasaan pemerintahan.

Perbedaan madzhab fiqih ataupun mazab aqidah dari jaman khulafaur rasyidin telah ada. Baik itu madzhab yang bertentangan ekstrim seperti khawarij, mu’tazilah, asy’ariyah, maturidiyah, jabariyah, muathilah, syiah, murjiah dan ratusan variannya yang  sering menimbulkan friksi fisik dalam sejarah antara umat Islam semuanya itu bisa diredam oleh Imam yang diakui bersama yaitu khalifah. khalifah lah yang menyatukan atau menjembatani persoalan antar umat Islam sesuai dengan kaidah: “أمر الإمام يرفع الخلافPerintah/Keputusan Imam menyelesaikan perselisihan. Termasuk dalam perbedaan pendapat yang berimbang di suatu kampung dalam pengangkatan Imam pun menurut Imam Mawardi dalam Ahkam Sulthoniyah disebutkan bahwa imam/khalufah atau wakilnya bisa mengangkat salah satu imam dan harus dipatuhi oleh warga kampung tersebut. Namun lihatlah, tanpa imam begitu mengerikannya perpecahan umat Islam, menempel kakinya ketika sholat namun hatinya saling berjauhan. persatuan semu ! Belum lagi peperangan antar mereka karena masing masing pihak merasa wajib untuk memberanas kesesatan yang lainnya.

Kesimpulannya : dalam ketiadaan khilafah ini, memang kita harus kerja lebih keras dari masa sebelumnya untuk melindungi diri, keluarga, orang terdekat, lingkungan atau siapapun dari  دَخَنٌ dan dari دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ . Namun apakah itu efektif bila kita lakukan sendiri ? sejauh mana dan seberapa lama pengaruh kita bisa menahan umat dari gempuran mereka yang makin mengeras. Sesungguhnya cara paling efektif untuk menjauhkan diri kita dan umat Islam dari mereka adalah bahu membahu segera mewujudkan jamaah Islam dan Imam/Khalifah mereka yang akan menjaga aqidah, menjalankan syariat, yang akan menghalangi mereka dari mempengaruhi umat serta akan menghukum mereka bila berani menyebarkan dakwah mereka di tengah umat. Wallahu muwafiq ilaa aqwamith thariq.

Wassalam. dWiNugroho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: