Something inside my minds

Tidak jelasnya hukum syara tentang menabung di Bank Syariah !!!

Posted by dnux on January 31, 2012

Hehehe … provokatif banget judulnya. Tapi memang begitu, jangan menabung di bank syariah sampai anda tahu benar makna tabungan atau menabung itu sendiri. Kalau menabung di celengan rumah atau di bawah bantal sudah jelas, yaitu menaruh di tempat kita sendiri, tidak melibatkan orang lainnya sehingga tidak masuk dalam cakupan istilah muamalah. Kalau menabung di bank Ribawi yang dengan bunga, tentu gak usah dibahas panjang lebar disini, cukup satu kata : Haram ! (yang ngotot halal ya silahkan saja mempertanggung-jawabkan pendapatnya tersebut di hari kiamat) [ notes : saya garis bawahi kemudian di bold kata2 “yang dengan bunga”, sebab ternyata ada Bank Ribawi yang bisa menghapuskan item riba, untuk detailnya tanyakan pada CS bank tsb apakah bisa menghapus item riba-nya]

Sedangkan “menabung” di bank itu tentu melibatkan pihak kedua yaitu bank itu sendiri sehingga terkategori sebagai aktivitas muamalah. Dalam muamalah harus jelas hukumnya, apakah menabung di bank masuk kategori (1) menitipkan uang ke Bank ? atau (2) meminjamkan uang kepada Bank ? atau (3)  menghutangi si Bank ? atau  (4) menginvestasikan uang untuk diolah bank tersebut ?

Semisal seorang laki dan wanita berumah tangga, harus jelas apakah aktivitas ber-rumah tangga itu merupakan nikah atau sekedar kumpul kebo. Jadi istilah berumah tangga itu sendiri harus jelas aktivitasnya, karena beda aktivitas tentu beda konsukuensinya.

Demikian pula dalam “menabung”, konsukuensi (hak/kewajiban) antara menitipkan tentu berbeda dengan menghutangi. Barangkali diantara kita ada yang berkata : “kan sama saja, yang penting naruh uang lalu kembali sejumlah itu + keuntungannya”. Ya, ini adalah akibat dari pemikiran yang tidak tahu atau tidak peduli bagaimana Syariat Islam mengatur masalah muamalah, karena walupun sama-sama menghasilkan anak yang membahagiaan rumah tangga, namun nikah dan kumpul kebo tentu beda hukum dan konsukuensi di dunia dan di akherat.

Tulisan ringkas ini mencoba menyajikan mendetailkan makna terselubung dari istilah menabung serta sedikit menyajikan konsukuensi dari beberapa hukum muamalah yang biasanya dianggap orang masuk dalam pengertian menabung :

1.    Menitipkan

Dalam fiqh, akad mentipkan disebut sebagai akad Wadi’ah yaitu “Akad yang dilaksanakan untuk menjaga sesuatu yang dititipkan”. Akad ini pada dasarnya adalah akad tolong menolong, bukan akad imbal jasa dengan upah (ijaroh)

Konsukuensi Hukum Syara :

  • Wadi’ah adalah amanah yang harus dijaga baik-baik oleh pihak tertitip.
  • Pihak tertitip boleh meminta uang perawatan, boleh juga tidak. Demikian pula penitip boleh memberikan uang perawatan yang digunakan untuk merawat barang tersebut agar tidak rusak
  • Pihak tertitip pada dasarnya tidak mengganti titipan apabila rusak kecuali apabila dia sendiri yang merusakkan atau tidak amanah dalam menjaga barang titipan tersebut.
  • Demikian juga apabila ternyata penitip tidak memberikan uang perawatan dan tertitip sendiri tidak memiliki uang untuk merawat barang itu sehingga barang itu rusak maka pihak tertitip tidak harus menanggung kerusakan itu. Karenanya dari awal harus disepakati bagaimana biaya perawatan barang.
  • Apabila anda menitipkan uang, maka anda tidak boleh menerima tambahan uang dari penitipan tersebut (dari tertitip), saya tekankah obyeknya disini adalah uang, untuk hukum barang (bukan uang) atau yang lainnya bisa dibahas dilain waktu

Fakta di perbankan :

  • beberapa bank syariah membuat produk rekening Wadi’ah, diantaranya (1) ada rekening yang memberikan bonus/hadiah (2) ada rekening yang memberikan bonus/hadiah namun bisa meminta bank untuk menghilangkan bonus tersebut (3) ada rekening yang murni wadi’ah, tidak memberikan bonus/hadiah pada aqad awalnya

Sikap :

  • buka rekening yang murni wadi’ah, tidak memberikan bonus/hadiah pada aqad awalnya, atau paling buruk adalah apabila anda membuka rekening yang memberikan bonus, tanyailah petugas apakah bisa tidak diberikan kelebihan bonus/hadiah ? bila bisa maka itu juga tidak mengapa, bila tidak maka tinggalkan rekening tersebut.

Syubhat :

  • bila tidak boleh menerima kelebihan hasil pengembalian barang titipan lalu bagaimana dengan ATM, internet banking dll ? apakah itu bukan kelebihan yang diberikan dari penitipan ?

analisa : menurut saya itu bukan kelebihan. Itu hanyalah alat yang diberikan oleh bank untuk memudahkan transaksi perbankan seperti transfer, bayar rekening air dll. Kalau semua yang diberikan bank lalu dianggap kelebihan penitipan, jangan2 nanti fasilitas parkir juga dianggap kelebihan yang tidak boleh diterima🙂

2.    Meminjamkan

Dalam fiqh, akad meminjamkan disebut sebagai akad ‘Ariyah, dengan definisi umum “Pemilikan manfaat secara cuma-cuma dalam waktu tertentu dengan tanpa imbalan”. (al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah). Meminjamkan tidak sama dengan menghutangkan (Qordh) walau ariyah kadang juga diistilahkan sebagai Qordhu Hasan diantaranya mengikuti tekstual dari QS 2:245  : “مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً”  yang artinya “Barang siapa yang mau memberi pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan balasannya dengan lipat ganda yang banyak.”

Namun dalam masalah hukum, kita kembalikan ke istilah semula yaitu ‘Ariyah,

Konsukuensi Hukum Syara :

  • ‘Ariyah (pinjaman) tidak boleh terjadi pada uang, ariyah hanya terjadi pada barang. Bila aktivitas peminjaman itu uang maka aktivitas tersebut masuk dalam kategori hutang (Qordhun), bukan lagi masuk kategori ‘ariyah.
  •  ‘Ariyah pada dasarnya mirip dengan wadi’ah namun ‘ariyah lebih bersifat izin mu’ir (pemberi pinjaman) kepada musta’ir (peminjam) untuk memanfaatkan atau mengambil manfaat dari benda yang dipinjamkan.
  • Secara umum dibagi dua yaitu mutlaq dan muqoyyad (tertentu). Mutlaq artinya adalah benda itu boleh digunakan untuk apa saja, sedangkan muqoyyad artinya boleh digunakan untuk keperluan tertentu semisal motor/mobil dipinjamkan namun hanya untuk dalam kota saja
  • Peminjam tidak dikenakan penggantian biaya kerusakan kecuali dia melanggar ketentuan atau berlebihan dalam penggunaan yang sesuai izin semisal menggunakan motor/mobil dengan mengebuat atau 24 jam nostop.
  • Peminjam (barang) boleh mengembalikan dengan barang yang lebih baik misalnya meminjam baju namun rusak dipakai dan diganti dengan yang lebih baik. Dalam masalah pinjaman uang (baca : hutang > bukan lagi ariyah), diharamkan memberikan kelebihan uang.

Fakta di perbankan :

  • saya tidak menemukan bentuk rekening ‘ariyah/qordhu hasan pada bank yaitu tidak ada akad dari nasabah (pemilik uang) untuk meminjamkan uang kepada bank, yang ada adalah bank membuka produk qordhu hasan yaitu berupa pinjaman atau pembiayaan atau kredit tanpa untung kepada UKM dan semisalnya

3.    Menghutangi

Dalam fiqh, akad hutang piutang disebut sebagai Qordh, namun secara khusus untuk hutang uang yang lahir dari pembelian barang kredit disebut dengan Dayn.

Kadang ada kerancuan antara istilah memijamkan dengan menghutangkan karena ada kesamaan untuk “mengembalikan”. Bedanya :

  • dalam Ariyah (pinjaman) barang yang dipinjamkan (misal motor) kepada Y, adalah tetap milik empunya (misal si X) dan motor tersebut harus dikembalikan kepada si X
  • dalam Qordh (Hutang), terjadi perngantian kepemilikan yani si motot tersebut adalah menjadi milik Y dan Y harus mengembalikan uang yang sejumlah disepakati, hutang kredit seperti ini secara khusus menjadi istilah Dayn

 Konsukuensi Hukum Syara :

  • Dalam masalah pinjaman uang, diharamkan memberikan kelebihan uang.

Fakta di perbankan :

  • saya tidak menemukan bentuk rekening qorh di perbankan syariah, yang ada justru bank syariah memberikan produk qordh pada nasabah semisal untuk kebutuhan kartu kredit, cash advance dll. Scope artikel ini adalah menabung, jadi pembahasan qordh pada nasabah dilewati saja. wslm.

Syubhat :

  • ada hadits yang membolehkan mengembalikan dengan lebih baik, mengapa tidak boleh mengembalikan uang yang lebih baik misal dari warna biru (Rp 50.000,-) menjadi warna merah yang kertasnya lebih baik(Rp 100.000,00)

analisa : hadits tentang bolehnya mengembalikan lebih baik “Sebaik baik manusia adalah yang paling baik pengembaliannya (HR Jamaah kecuali Bukhari) konteksnya adalah mengembalikan barang, bukan uang sedangkan dalam menghutangi uang ada haditsnya sendiri yaitu “Setiap qorh (hutang uang) yang mengambil manfaat maka itu adalah riba

  • yang dilarang kan bila mengambil manfaat, bagaimana bila diberi ?

analisa : lha emang barang (bonus) yang diberi otomatis bermanfaat kalau tidak diambil manfaatnya oleh si pemberi hutang ? baik memberi atau menerima pemberian kelebihan uang adalah tidak dibolehkan

4.    Investasi

Investasi artinya adalah pihak pemilik modal bekerja sama dengan pengelola (misal: bank) untuk melakukan kegiatan bisnis tertentu yang menghasilkan keuntungan sekalgius mengandung resiko terentu dimana antara pemodal dan pengelola saling berbagi untung dan rugi. Dalam fiqh, akad investasi antara pemodal dan pengelola inidisebut sebagai akad Mudhorobah

Konsukuensi Hukum Syara :

  • Pengelola adalah partner, bukan pegawai dari si pemodal, hubungan antar keduanya adalah partnership atas dasar trust.
  • Pemodal boleh meminta laporan rutin untuk melihat apakah si pengelola menjalankan usaha sesuai dengan kesepakatan, bila tidak maka si pengelola bisa memutuskan atau malah meminta ganti rugi dari si pengelola terhadap sejumlah uang yang telah “diselewengkan” yaitu tidak sesuai peruntukan dalam pernjanjian
  • Menggunakan prinsip Profit-Loss Sharing. Bagi untung dan bagi rugi. Dua-duanya harus untung atau dua-duanya harus rugi. Tidak ada salah satu pihak yang untung sedangkan yang lainnya rugi, vise versa
  • Pemodal dan pengelola mendapatkan hasil keuntungan dan dibagi sesuai dengan kesepakatan nisbah/rasio bagi hasil sedangkan dalam hal kerugian, maka pemodal menanggung kerugian harta investasi dan si pengelola rugi dalam waktu dan tenaga operasional
  • Kerjasama dapat diputuskan sewaktu waktu dan sempurna setelah semua pembagian selesai dilakukan hingga tidak ada lagi tanggungan antara dua pihak tersebut

Fakta di perbankan :

  • banyak tabungan mudhorobah di perbankan syariah yang menggunakan nisbah bagi hasil namun nisbah bagi hasil ini ditentukan sepihak oleh bank tanpa kesepakatan dari investor (pemilik uang)

Syubhat :

  • sah-kah akad mudhorobah di bank syariah ? bolehkah membuka dan menerima bagia hasilnya ?

analisa : (1) akad mudhorobah ini menjadi cacat akibat perubahan nisbah secara sepihak oleh pihak bank tanpa ada ijab qobul dengan pemilik modal (2) walaupun menyerahkan modal secara mutlaq namun menerima bagi hasil dari bank tersebut berarti harus tahu diapakan uang tersebut ? apakah diusahakan untuk hal yang benar atau tidak, ketidaktahuan akan membuat syubhat terus. dan karen syubhat maka sebaiknya uang bagi hasil tersebut dihindari

  • kalau uang syubhat tersebut dihindari alias tidak diambil, percuma dong akad mudhorobah (investasi bagihasil)-nya

jawab : karena itu maka berinvestasilah yang benar. cari saudara, teman, atau kenalan yang sudah punya usaha dan perlu suntikan modal🙂 …

wassalam

3 Responses to “Tidak jelasnya hukum syara tentang menabung di Bank Syariah !!!”

  1. sahabat said

    Semoga 4JJI rahmati ekonomi kita shg jd murni syariah.
    Apa yg terjadi sekarang adl BELUM SEPENUHNYA syariah, namun kita husnuzhon bahwa para pejuang perbankan Syariah terus berjuang tuk SYARIAH 100%.

    Perlu diketahui memperjuangkan kata SYARIAH di perbankan adl TIDAK MUDAH, krn para petinggi umumnya ANTI SyariaT, mk mrkpun memakai H bukan T, & alhamdulillah berhasil.

  2. azrul said

    hmmmm….uang vs barang ???? merupakan alat tukar sebagaimana dahulu tidak adanya uang namun benda yang dimiliki. Kemudian bila membutuhkan sesuatu maka benda yang dimiliki ditukarkan kepada benda yang dimiliki orang lain dengan saling butuh untuk memenuhi sesuatu

  3. kiranu said

    alat tukar barang itu kan uang untuk sekarang? lha uang tersebut berasal dari usaha, pemberian, dll?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: