Something inside my minds

Alternatif Permodalan untuk Kegiatan Mudhorobah (Kerjasama Bagi Hasil/Rugi)

Posted by dnux on May 8, 2012

Bolehkah mudhorib mendhorobahkan uang shahibul mal ? atau Bolehkan pengelola menginvestasikan uang pemodal kepada orang lain ?

Mudhorobah (Kerjasama Bagi Hasil/Rugi) adalah aqad mengikat antara pemodal dengan pengelola untuk kegiatan bisnis tertentu baik itu perdagangan ataupun untuk usaha produktif lainnya seperti peternakan, industri dan lain sebagainya dengan ketentuan bagi untung ruginya antar kedua belah pihak

Mudhorobah sangat bermanfaat bagi pihak pengelola – yang tidak punya atau kekurangan dana untuk menjalankan atau mengekspansi usahanya – ataupun bagi mereka yang memiliki uang namun tidak pandai dalam menjalankannya.

Prinsip berbisnis : Bila usaha rugi terus jangan diulang2 lagi, lebih baik diinvestasikan ke mereka yang usahanya untung terus namun kekurangan modal itung-itung disamping mendapat keuntungan bagi hasil dapat pula untuk mempelajari bagaimana cara mengelola usaha supaya untung terus

KETAQWAAN DALAM MENCARI MODAL USAHA

Pengusaha yang bertaqwa dan peduli darimana sumber hartanya tentu akan berhati-hati dalam memilih sumber modal. Mereka tidak akan mencari sumber dana dengan cara berhutang ribawi yang tidak peduli bagaimana keadaan bisnis berjalan yang penting penghutang dapat untung sekian persen dari yang disepakti. Pengusaha yang bertaqwa akan mencari sumber modal yang mau diajak bagi hasil atau bagi rugi. Mereka tidak akan resah karena setiap dia tahu setiap usaha yang dijalani dengan berhati-hati tetap saja mengandung potensi rugi

1. MODAL DARI SATU ORANG PEMODAL 

Untuk kegiatan yang sederhana dan tidak membutuhkan modal banyak seorang pengusaha bisa saja mendapatkan dana dari seorang pemodal lalu membuat aqad modhorobah.

2. MENCARI PEMODAL TERPISAH UNTUK SETIAP ITEM KEGIATAN

Hanya saja pengusaha tersebut seringkali terkendala dengan aspek permodalan sebab tidak banyak orang yang memiliki uang cash banyak untuk diajak bekerja sama. Andaikan ada biasanya pemodal juga sudah “menaruh” uangnya untuk berinvestasi di tempat lain. Secara logika mereka yang punya uang tidak akan menyimpan uang cash lama-lama disamping juga dia takut tergolong menjadi penimbun harta yang dikecam oleh Allah SWT dan rasulNya

Maka dalam hal ini dia bisa melakukan bekerja sama dengan banyak pemodal sehingga mencukupi sejumlah uang yang bisa dibuat untuk membangun usahanya. Dalam usaha yang bisa dipecah mungking masih mudah untuk menambaha investor (investor) secara terpisah semisal untuk usaha peternakan bisa mengumpulkan pemodal untuk paket kambing 20 ekor atau paket ayam 2000 ekor. Demikian juga dalam masalah jual beli bisa saja pengelola mencari pemodal terpisah seperti bekerjasama dengan A untuk mendanai pembelian produk B dan bekerja sama dengan C untuk pembelian produk D dan lain sebagainya, masing2 pemodal (A dan C) dibuat akad mudhorobah secara terpisah dengan nisbah yang bisa saja berbeda tergantung kesepakatan dari pengelola dengan A dan C

3. MENGHIMPUN DANA KERJASAMA – “MENJUAL KUPON”

masalah yang lebih kompleks dalam mencari pemodal adalah bila untuk mendanai sebuah paket usaha yang butuh modal sangat besar semisal pembangunan kantor senilai 5 milyar. Dalam pengumpulan pemodal tentu tidak bisa lagi dipecah misal bekerjasama dengan A untuk bangun garasi, lalu bekerjasama dengan B untuk membangun pondasi dan lain lain, karena semua komponen rumah tersebut akan dijual ke satu pihak saja yaitu calon pemilik rumah.

untuk mengatasi hal ini maka pengelola menawarkan patungan/kerjasama ke banyak pihak dari A-01 sampai A-25 dimana masing2 berkontribusi sejumah 20 juta agar tercapai dana yang dibutuhkan yaitu 5 Milyar, atau pengelola bisa saja menawarkan 5000 kupon @1 juta rupiah dan ditawarkan kepada siapapun (A-001 sd A-500) untuk mengambil sejumlah kupon sejumlah kesanggupannya dan kemudian masing lalu kemudian dibuat akad mudhorobah ke tiap-tiap orang yang berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan kantor senilai 5 Milyar tersebut.

Dalam hal ini syara membolehkan mudhorib untuk bekerja sama dengan lebih dari satu pemodal untuk satu kegiatan tertentu selama sahibul/robul mal mengizinkan. Dalam Fiqh Ala Mahazib Arbaah juz 3 halaman 54 disebutkan bahwa

[ وكذلك للمالك الحق في منع العامل من أن يتعاقد مع غيره مضاربة في رأس مال المضاربة فإن فعل ذلك بدون إذن رب المال فسد العقد وله أجر المثل]

pemodal berhak untuk melarang amil/mudhorib untuk berakad (mudhorobah) dengan pihak lain terkait dengah pokok hartanya itu kecuali dengan izin dari si pemodal. Dengan kata lain bila pemodal mengizinkan maka si pengelola boleh mencari pemodal lain dan menjadikan satu harta pemodal tersebut untuk kegiatan yang akan dijalankannya.

Dalam kasus pengelola jauh-jauh hari sudah menawarkan sekian ratus kupon kepesertaan kepada semua orang maka sudah jelas mereka yang akan terlibat dalam kepesertaan tersebut telah mengetahui bahwa hartanya tersebut (modal disetor) akan dicampur dengah harta (modal) dari orang lain.

yang harus diperhatikan adalah jangan sampai terjadi penjualan kupon investasi. kupon hanya mencerminkan kepesertaan dan untuk mengikat kepesertaan tersebut maka dibuat aqad mudhorobah ke masing-masing “pembeli” kupon tersebut

4. MENCARI MODAL DARI MANAJER INVESTASI

wits .. kok jadi kesannya menjadi diarahkan agar mirip praktek perbankan konvensional/syariah atau praktek reksadana. ya .. jangan alergi dululah …

dari contoh diatas yaitu membangun kantor senilai 5M tentu repot bagi pengusaha juga akan kerepotan bila berurusan dengan sekian ratus orang yang menjadi mitra kerjasamanya. demikian juga belum tentu si pengusaha bisa mendapatkan dana dari koneksi-koneksi yang dia kenal sehingga terhimpun sebesar dana tersebut.bisa saja dia mempekerjakan seseorang untuk mencari mitra dan berhubungan dengan mereka dalam pemuatan dan pengiriman laporan ataupun untuk kebutuhan komunikasi lainnya.

Cara yang lebih mudah adalah pengusaha menghubungi manajer investasi (misal MI) yang memang telah memiliki jaringan luas atau telah memiliki koneksi banyak sebagai investor. tinggal menghubungi MI lalu MI yang akan mencari sumber pendaaan.

Bolehkah menjadi manajer investasi ? Bolehkan uang pemodal digunakan untuk investasi ? Bolehkah uang sahibul mal digunakan mudhorib untuk melakukan mudhorobah ??

Dalam Fiqh Ala Mahazib Arbaah juz 3 halaman 55 ada pasal

[مبحث إذا ضارب المضارب غيره *-إذا أعطى محمد مالاً لخالد ليتجر فيه مضاربة فأعطاه خالد لشخص ليتجر فيه مضاربة بجزء من الربح ]

Pembahasan (kasus) ketika Mudhorib memudhorobahkan kepada selain dirinya, misal muhammad membrikan khalid harta mudhorobah lalu khalid memberi seorang lainnya sebagai dana mudhorobah dengan keuntungan parsial

Walaupun berbeda detailnya namun jawaban dari seluruh madzab rata-rata sama yaitu

[إذا تعاقد مع شخص آخر مضاربة فإن كان ذلك بإذن رب المال فهو صحيح وإن لم يكن بإذنه فهو فاسد ]

bila (pengelola) berakad dengan orang untuk (oran lain itu) mekakukan mudhorobah maka bila hal itu atas seizin pemodal maka akad tersebut sohih dan bila tidak maka akad itu menjadi fasid

Dari hal tersebut maka bisa disimpulkan bahwa boleh seseroang menaruh modalnya ke seorang manajer investasi, boleh seseorang menjadi manajer investasi dan boleh seorang pengusaha berhubungan dengan seorang manajer investasi.

Inilah yang kemudian secara umum disebut sebagai mudharabah bertingkat atau two tier mudhorobah. Si pengusaha dalam hal ini hanya menjalin kerjasama dengan satu orang saja yaitu si manajer investasi.

Bila pengusaha berhubungan dengan lebih dari satu manajer investasi ? Jawabannya Boleh, sebagaimana bolehnya seorang pengusaha bekerjasama dan mencampurkan dana dari dua orang selama masing-masing orang tersebut mengetahui bahwa dana mereka akan dicampur oleh si pengusaha tersebut

BATASAN MUDHOROBAH BERTINGKAT (VIA MANAJER INVESTASI)

Walaupun bertingkat maka mudhorobah tetaplah mudhorobah yang harus jelas kegiatannya apa. Pemodal boleh memberikan kebebasan mutlak kepada mudharib/pengelola untuk melakukan kegiatan apa saja terhadap hartanya (mudhorobah mutlaqoh) atau memberi syarat dan batasan tertentu terhadap aktivitasnya (mudhorobah muqoyadah)

1. Mudhorobah Bertingkat Tingkat

Maksudnya A invest ke B lalu B invest ke C lalu C invest ke D dst … Dalam hal ini saya tidak bisa memberi jawaban mengingat literatur klasik hanya memberi penjelasan kepada dua level saja yaitu B (mudharib pertama) ke C (mudharib kedua). Untuk amannya maka sebaiknya cukup berhenti sampai C saja.

2. Menyamaratakan Perolehan/Kerugian Usaha

Mudhorobah adalah mudhorobah, kedua pihak harus saling siap menanggung rugi, jangan asal mau menerima untung saja
Manajer Investasi tidak boleh menyamaratakan resiko kerugian kepada seluruh pemodalnya. Misalnya dia bekerjasama dengan pengusaha X dan Y dimana untuk invest di kegiatan pengusaha X dia gunakan dana dari pemodal A001 sd A100 dan untuk invest di kegiatan pengusaha Y maka dia gunakan dana dari pemodal B001 sd B100. Demikian juga apabila ada kerugian dari X maka B001 sd B100 tidak boleh ditimpakan kerugian

Maka setiap keuntungan dari usaha X hanya boleh dibagikan ke A001 sd A100 saja tidak di distribusikan ke B001 sd B100. Demikian juga sebaliknya keuntungan dari usaha Y hanya boleh didistribusikan ke B001 sd B100 saja tidak boleh ke A001 sd A100 juga. Demikian juga apabila ada kerugian dari Y maka A001 sd A100 tidak boleh ditimpakan kerugian.

Dalam mudhorobah terkandung amanah sekaligus wakalah. Pengelola baik itu pengusaha ataupun manajer investasi harus bisa memberikan laporan secara singkat ataupun detail kegiatan apa saja yang dilakukan kepada dana yang diinvestasikan. Pemodal pun sedikit-banyak modal yang dia percayakan harus perduli juga terhadap aktivitas pengelola, jangan sampai digunakan tanpa kontrol sampai tidak tahu apakah digunakan untuk kegiatan yang halal ataupun mungkin yang haram atau menjalankan praktek ekonomi yang fasad.

Demikian. Wallahu a’lam

Artikel lain : syarat mudharabah, syarat keuntungan dll : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/05/01/mudharabah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: