Something inside my minds

Bertanyalah kepada Ahlul Dzikri. Mengapa bukan ke Ahlul Ilmi ?

Posted by dnux on June 1, 2015

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِيۤ إِلَيْهِمْ فَٱسْأَلُواْ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنْتُم لاَ تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl:43)

Makna Ahlul Dzikri

Secara ringkas di Tafsir Jalalayn dikatakan bahwa
 فَٱسئَلُواْ أَهْلَ ٱلذّكْرِ } العلماء بالتوراة والإِنجيل} ahludz dzikri adalah ulama yang menguasai taurot dan injil.

Di dalam tafsir Thobary dikatakan :
يقول تعالـى ذكره لنبـيه مـحمد صلى الله عليه وسلم: وما أرسلنا من قبلك يا مـحمد إلـى أمة من الأمـم، للدعاء إلـى توحيدنا والانتهاء إلـى أمرنا ونهينا، إلاَّ رجالاً من بنـي آدم نوحي إلـيهم وحينا لا ملائكة، يقول: فلـم نرسل إلـى قومك إلاَّ مثل الذي كنا نرسل إلـى من قَبلهم من الأمـم من جنسهم وعلـى منهاجهم. { فـاسْئَلُوا أهْلَ الذّكْرِ } يقول لـمشركي قريش: وإن كنتـم لا تعلـمون أن الذين كنا نرسل إلـى من قبلكم من الأمـم رجال من بنـي آدم مثل مـحمد صلى الله عليه وسلم وقلتـم هم ملائكة أي ظننتـم أن الله كلـمهم قبلاً، { فـاسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ } وهم الذين قد قرأوا الكتب من قبلهم: التوراة والإنـجيـل، وغير ذلك من كتب الله التـي أنزلها علـى عبـاده.
تفسير جامع البيان في تفسير القرآن/ الطبري (ت 310 هـ) مصنف و مدقق

Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa tidaklah Kami mengutus sebelum dirimu Y Muhammad kepada suatu umat untuk menyeru agar mentauhidkan kami serta menyempurnakan hingga ke perintah dan larangan – melainkan dia adalah seorang lelaki bani adam yang diwahyukan kepada mereka, bukan malaikat. Allah SWT juga berkata, dan tidak juga diutus ke kaummu kecuali seperti yang pernah kami utus ke kaum2 sebelum mereka kecuali dengan jenis dan manhaj/metode yang sama.

{ فـاسْئَلُوا أهْلَ الذّكْرِ } bertanyalah ke ahladz dzikri, yakni agar mengatakan hal tersebut kepada musyrikin Quraisy : jika kalian tidak mengetahui bahwa orang2 yang kami utus ke umat sebelum kalian itu tidak lain adalah laki2 (manusia) dari bani Adam seperti Muhammad SAW, dan sementara kalian mengatakan mereka itu malaikat atau mengira bahwa Allah SWT berkata kepada mereka sebelumnya

{ فـاسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ } bertanyalah ke ahladz dzikri yakni mereka yang telah membaca Al-Kitab sebelum mereka yakni Taurot dan Injil dan selainnya dari Kitab2 Allah SWT yang diturunkan kepada hamba2Nya*** 

Jadi secara asbabul Nuzul, pengertian dari Ahlul Dzikri di ayat tersebut adalah orang2 yang memahami Taurot dan Injil

Demikian juga yang tertulis di dalam Tafsir Qurthuby diterangkan bahwa Sufyan (Ats-Tsauri ?) berkata bahwa Ahlul Dzikri adalah golongan beriman dari ahlul kitab. Ini juga sebagaimana yang ditafsirkan oleh Al-Baghawy dalam Ma’alim Tanzil dan Samarqondi dalam Bahrul Ulum. Sedangkan Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa Ahlul Dzikri adalah Ahlul Al-AlQuran. Dikatakan pula bahwa ahlul dzikri adalah ahlul ilmu, kedua istilah tersebut berdekatan.

Makna Adz-Dzikr

Adapun penggunaan Adz-Dzikr sendiri yang bermakna Kitab Allah SWT baik Al-Quran maupun yang lainnya diantaranya selain pada ayat di atas (An-Nahl : 43) juga digunakan pada Surat Al-Hijr:9

{ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَـٰفِظُونَ } Sesungguhnya Kami yang menurunkan Dzikr (Kitab AlQuran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya

dalam Surat Al-anbiya : 105

{ وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى ٱلزَّبُورِ مِن بَعْدِ ٱلذِّكْرِ أَنَّ ٱلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِىَ ٱلصَّـٰلِحُونَ } Dan telah kami tetapkan di Zubur sesudah Dzikr (Taurat) bahwa bumi akan kami mariskan kepada hamba-hamba Kami yang soleh.

Dan juga dalam Surat Thaha : 124

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Jadi makna Dzikr tiada lain adalah peringatan Allah SWT yakni kitab-2 yang diturunkanNya.

Karena itu didalam tafsir Mafatih Ghoib, Imam Rozi mengatakan bahwa diantara penafsiran Dzikr adalah tertuju kepada Taurat sebagamana dalam ayat tersebut “Kami tetapkan di Zubur setelah Dzikr”. Mengutip Zujaj, Imam Rozi juga memberikan definisi ahlul dzikri sebagai ahlul ilmu

أهل الذكر أهل العلم بأخبار الماضين، إذ العالم بالشيء يكون ذاكراً له
ahlu dzikri adalah ahlul ilmu yang mengetahui kabar (pengetahuan) perkara lampau, Ketiua seseorang mengetahui (alim) sesuatu, maka dia menjadi orang yang tahu dan bisa menjadi referensi (dzakir lahu)*** 

Masih mengutip dari Imam Zujaj makna dari { فَٱسئَلُواْ أَهْلَ ٱلذّكْرِ } adalah
معناه سلوا كل من يذكر بعلم وتحقيق tanyailah setiap orang yang mengetahui dengan ilmu dan dengan tahqiq (penyelidikan)

Selanjutnya Imam Razi mengatakan dalam persoalan penggunaan Qiyas
احتج نفاة القياس بهذه الآية فقالوا: المكلف إذا نزلت به واقعة فإن كان عالماً بحكمها لم يجز له القياس، وإن لم يكن عالماً بحكمها وجب عليه سؤال من كان عالماً بها لظاهر هذه الآية،
Seorang mukalaf bila dia mengetahui fakta sesuatu, bila dia adalah orang ‘alim dengan hukum permasalahan tersebut maka dia tidak boleh berqiyas. Sedangkan bila dia bukan orang alim terhadap ilmu tersebut, maka dia wajib bertanya kepada orang alim berdasarkan dzahir ayat ini.

Makna Ahlul Ilmu

Di dalam Tafsir Lathoif Isyarot, Imam Qusyairi mengatakan bahwa ahludz dzikri adalah ulama. Namun beliau menjelaskan ulama itu ada dua jenis yakni fuqoha dan arifiin. Bila kaum awam hendak bertanya masalah hukum perintah dan larangan maka bertanyalah ke fuqoha, sedangkan bila hendak bertanya perihal suluk (jalan ma’rifat) maka bertanyalah kepada kaum arifin

هم العلماء؛ والعلماء مختلفون: فالعلماءُ بالأحكام إليهم الرجوعُ في الاستفتاء من قِبَل العوام فَمَنْ أُشْكِل عليه شيءٌ من أحكام الأمر والنهي يرجع إلى الفقهاء في أحكام الله، ومن اشتبه عليه شيءٌ من علم السلوك في طريق الله يرجع إلى العارفين بالله،

Ath-Thusi membawa keterangan Imam Zujaj “المعني بذلك اهل العلم بأخبار من مضى من الامم، سواء كانوا مؤمنين او كفاراً” bahwa bertannya ke ahlul ilmu adalah maknanya adalah untuk memberi informasi yang terjadi pada umat masa lampau sama saja bertanya ke kaum mukmin atau ke orang kafir. Ath-Thusi memberikan batasan dari ahlul-ilmu adalah “ان كان من اهل العقول السليمة من آفة الشبه” bila dia itu ahlul uqul – yakni memiliki rasional yang baik dan selamat dari kecacatan berlogika (logical fallacy)***

Pemahaman dan Kesimpulan sayamonggo kalau beda

Maka bertanyalah kepada mereka yang mempunyai keilmuan yang spesifik. Yakni mereka yang memang layak menjadi referensi dalam kasus-kasus tertentu. Mereka iti bisa para fuqoha, arifiin atau mungkin ilmuwan fisika, biologi, ahli sejarah dll dan jujur. Untuk masalah bidang agama tentu harus orang muslim. Namun untuk kesemuanya, yang penting mereka adalah orang yang jujur ilmiah, tidak menutup-nutupi pendapat atau pandangan yang berbeda.

Merujuk pada tafsir Imam Qusyairi, maka alangkah baiknya apabila seorang ahlul ilmu itu sekaligus bisa menggabungkan dua hal tersebut, bahwa dia adalah seorang fuqoha dan juga sekaligus adalah seorang arifin. Pasti menjadi sosok yang asyik untuk bertanya segala apapun, bisa menjelaskan fiqih dengan adab dan suluk yang baik dan bisa menjelaskan adab-adab yang baik tanpa meninggalkan batasan fiqih .. tidak ada lagi sekat antara fiqih dengan hakekat dan ma’rifat .. demi berjalan denga benar dan tulus untuk mendapatkan cintaNya ..

Terakhir, karena makna ilmu itu sendiri adalah penafsiran dari lafadz dzikr dalam ahlu-dzikri, maka tetap yang dipegang utama adalah lafadz dzikr itu sendiri, yakni kitab Allah SWT. Dan konsukuensi dari bahwa ilmu adalah penjabaran makna dari dzikir adalah :

  • Ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa menghantarkan kepada Allah SWT.
  • Ahlul ilmi yang baik adalah ahlul ilmi yang bisa mengingatkan kepada Allah SWT
  • Bila ada ilmu umum yang bertentangan dengan kitab Allah, maka pelaksanaan dari ilmu tersebut ditinggalkan dan berpegangan kepada syariat yang aspek pelaksanaannya.

Inilah menurut saya rahasia penggunaan lafadz Ahlu Dzikr, bukan menggunakan lafadz ahlul-ilmu, sebab semoga penggunaan kata itu membatasi kita untuk selalu dzikir, mengingat Allah SWT setelah mengetahui berbagai banyak dan berbagai macam ke-ilmuan, mukan semata menjadi ahlul pikir yang sekuler …

dnux 1 Juni 2015

*** bila kurang pas, mohon disumbang terjemahan/arti yg pas ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: