Something inside my minds

Absurditas Penolakan Penuntasan Penistaan Islam dengan menggunakan Hadits Palsu Hubbul Wathon Minal Iman

Posted by dnux on January 9, 2017

Argumen yang sering digunakan oleh sebagian masyarakat yang tidak menghendaki diterapkannya hukum Islam ungkapansuk tuntuan hukuman kepada Ahok yang dilaporkan menista Islam diantaranya dengan mengusung ungkapan “حب الوطن من الإيمان ” atau “Hubbul Wathon minal Iman” atau “Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman”. Pengusungan ungkapan Hubbul Wathon minal Iman juga muncul untuk melawan aksi GNPF MUI yang mengawal pelaksanaan fatwa MUI 11 Oktober 2016 tentang penodaan AlQuran dan Ulama oleh gubernur DKI pada waktu itu : Ahok.

Perlawanan terhadap gerakan GNPF MUI dengan mengunakan ungkapan “Hubbul Wathon minal Iman” ini setidaknya ada mengandung tiga kesalahan/kelemahan.

Pertama, dari segi sumber dalil.

  • Semua ahli hadits mengakatan bahwa ungkapan Hubbul wathon minal iman bukanlan hadits dan tidak tepat juga untuk disebuh sebut sebagai hadits karena memang tidak ada asal-usul dan sanadnya yang bisa sampai kepada Rasulullah SAW. Tidak bisa dicari dalam kitab hadits manapun ! Dan karena bukan hadits, maka ungkapan tersebut tidak bisa dijadikan landasan beraktivitas seorang muslim.
  • Hubbul wathon minal iman-pun juga bukan kaedah fiqih. Kalaulah ungkapan itu adalah sebuah qoidah fiqhiyah dan qoidah tersebut disebut disepakati oleh para imam/ulama, maka masih bisa dipertimbangkan untuk digunakan selama batasan-batasannya (dowabit)-nya terpenuhi. Namun pada faktanya ungkapan Hubbul Wathon minal Iman juga tidak akan dijumpai ada di dalam buku Qowaid Fiqhyiah manapun.

Kesimpulannya, secara argumentasi dalil ungkapan hubbul wathon minal iman tidak bisa digunakan sebagai landasan perbuatan umat Islam karena bukan dalil ataupun juga kaedah fiqih yang bisa berimplikasi pada petunjuk pelaksanaan hukum.


Kedua, dari segi pemaknaan. Tidak diketahui kapan asal-usul ungkapan Hubbul Wathon minal Iman pertamaka kali muncul. Namun Imam Ajluni (1087H / 1676M) di dalam kitabnya Kasyuf Khofa telah menerbitkan kritik terhadap ungkapan ini pada poin nomor 1102. Disebutkan bahwa Imam Sakhowi mengatakan Hubbul Wathon bukan hadits namun makna ungkapan tersebut benar (sahih). Ppendapat ini disanggah oleh AlQooriy karena memang tidak ada korelasinya antara iman dengan wathon. Beberapa ayat AlQuran justru mengindikasikan Allah SWT memerintahkan manusia untuk pergi dari negerinya. Bahkan berperang karena membela tanah air disitir dalam Surat AlBaqarah sebagai tindakan orang-orang yahudi yang mereka tidak mau berjihad namun baru mau berjihad ketika telah terusir dari negerinya. Karena itu Imam Ajluni mengatakan bahwa kalaulah ungkapan itu hadits maka penafsiran tepat atas wathon adalah Akhirat ataupun Makkah Mukaromah, bukan yang lainnya.

Ketiga, dari segi penggunaan Penerapan Hubbul wathon minal iman di masyarakat yang plural harusnya bukan dengan membiarkan kemaksiatan, karena membiarkan kemaksiatan berarti membiarkan negeri lama kelamaan menjadi hancur. Apabila memang mencintai negeri dan masyarakatnya, maka seorang muslim harus ditunjukkan dengan cara memperbaiki negeri tersebut terutama dengan berdakwah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Karena cinta dan menghendaki kebaikan maka Rasulullah SAW menaklukkan Makkah dan negeri-negeri lainnya untuk kemudian mendakwahkan tauhid dan menerapkannya syariat Islam seutuhnya tanpa halangan. Rasulullah SAW tidak membiarkan Makkah dan negeri-negeri lainnya terus terkungkung oleh aqidah dan system jahiliyah. Upaya ini terus dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin dan generasi seterusnya. Mereka tidak pernah memaksa orang pindah agama, namun mereka membuat muslim maupun non muslim hidup dalam aturan Islam yang adil dan akan memberikan kebaikan bagi mereka semua.

Islam adalah agama yang sempurna dari Allah SWT untuk menjadi panduan hidup bagi seluruh manusia agar tercapai kebahagiaan dan keamaanan selama manusia hidup di dunia serta menjadi jaminan bagi manusia untuk mendapatkan Ridho dan Sorga-Nya selama manusia mematuhi dan menjalankan semua perintahNya. Islam itu rahmatan lil’alamiin dalam pengertian bahwa penerapan Islam akan memberikan Rahmat bagi seluruh alam semesta. Islam rahmatan lil ‘alamiin bukan berarti membiarkan Islam merahmati pelaku kemaksiatan. Islam justru sangat keras menindak pelaku kemaksiatan agar anggota masyrakat lainnya terhindar dari dampak kerusakan manusia-manusia gemar maksiat tersebut. Allah SWT berfirman “Dan dalam (pelaksanaan) qishâsh itu ada kehidupan bagimu, hai orang-orang yang berakal, agar kalian bertakwa.” [al-Baqarah/2:179].

Diabaikannya syariat dan aturan Islam telah jelas membawa petaka bagi bangsa Indonesia. Akibat hutang ribawi untuk pembangunan, maka pada tahun 2017 ini nanti masyarakat akan menyerahkan 282Trilliun jerih payahnya untuk membayar bunga hutang. Penderita HIV di Kaltim sejak 1993 tercatat 4.947 orang dan yang sudah menjadi penderita AIDS 987 orang 437 meinggal dunia. Akibat perzinahan dan pornografi, kasus kekerasan seksual dan anak tahun 2016 tercatat 149 kasus atau meningkat 359 persen dibanding tahun 2015 yakni sebanyak 27 kasus. Beberapa fakta diatas harusnya menyadarkan kita semua bahwa perlu ada perbaikan individu dan juga perbaikan aturan kemasyarakatan sesuai dengan Islam agar tidak lagi terjadi lagi kedzaliman dan juga korbannya yang notabene adalah saudara-saudara kita sendiri.

Penistaan kepada Islam pada hakekatnya adalah ancaman terhadap masyarakat itu sendiri sebab penistaan kepada Islam adalah upaya untuk meragukan ajaran Islam itu sendiri. Keragu-raguan yang muncul itu lebih jauhnya akan menyebabkan masyarakat mulai menjauhi aturan-aturan Islam yang rahmatan lil’alamiin dan kemudian mencari alternatif aturan lain yang menurut mereka lebih sesuai dan lebih cocok bagi masyarakat. Karena itu maka setiap upaya penistaan kepada Islam harus benar-benar dihadapi dengan serius sebagai bentuk penjagaan terhadap aturan Islam itu sendiri.

Upaya mengawal kasus penistaan Islam tidak boleh dibenturkan dengan isu keragaman masyrakat (pluralitas) dimana seakan-akan dibuat kesan penerapan syariat Islam akan merusak keragaman masyrakat. Islam mengakui keramagaman manusia baik keragaman suku bangsa maupun agama. Allah SWT sendiri menyatakan bahwa tidak mungkin semua manusia itu akan beriman kepada Allah SWT (QS Yunus 10:99). Meski demikian, Allah SWT menetapkan kepada umat Islam untuk berpegang teguh kepada Islam dan berhukum kepada hukum Allah SWT saja. Pluralitas adalah alasan yang absurd untuk mengusut kasus penistaan agama Islam, sebab andaikanpun pelakunya adalah muslim maka penista tersebut juga akan tetap diusut sebagaimana yang menimpa Dr “O” di Balikpapan yang dilaporkan oleh masyrakat akibat status FBnya menanggapi peristiwa 411 dianggap melecehkan ajaran Islam.

Sebagai penutup, maka kami mengajak segenap Umat Islam untuk terus peduli terhadap Islam menjaga kemuliaan dan ajaran Islam dengan jalan mencegah setiap penistaan kepada Islam. Membenturkan upaya pengawalan kasus penistaan Islam dengan ungkapan (bukan hadits) hubbul wathon minal iman justru salah alamat sebab mencintai negeri adalah dengan mengeliminasi sumber perpecahan itu sendiri yakni oknum yang melecehkan agama Islam dan berbicara tentang keimanan, justru bagian dari pembuktian keimanan itu justru adalah dengan nahi mungkar yaitu mencegah kemungkaran yang lebih besar berupa kerusakan akibat dijauhinya agama Islam dan diantara caranya adalah dengan menuntut hukuman bagi mereka yang menistakan Islam.

— sekian —

kasyful-khofa-hubbul-wathon

petikan dari kitab Kasyful Khofa Imam Ajluni pembahasan tentang Hubbul Wathon minal Iman .. (sumber : googlebook)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: