Something inside my minds

Dalil Wajibnya Khilafah di AlQuran

Posted by dnux on July 17, 2017

KETIKA ORANG PINTAR MENDADAK AWAM ..

Kalau orang awam ditanya “khilafah dalilnya apa ?“, maka yang  mereka bayangkan adalah mereka harus menunjukkan cuplikan ayat/hadits yang  langsung mengandung kata khilafah. Padahal didalam ilmu ushul fiqih, yang  namanya dilalah (petunjuk) yang bisa dijadikan dalil (bukti) atau hujah (argumen) itu tidak harus apa yang  tertulis persis dengan apa yang diminta atau ditanyakan. Dan sudah mestinya orang pintar tidak bersikap seperti orang awam.

Misalnya

  • Ketika saya (warga kota) pergi ke kampung X di pelosok desa Jawa Timur dan bertanya : “apakah disini ada Mushola Al-Ikhlas?” Maka bisa jadi sebagian warga akan mengatakan ada namun akan ada juga yang mengatakan tidak ada sebab istilah Mushola memang jarang ditemukan. Yang umum diketahui di daerah itu adalah Langgar untuk menyebut tempat yang saya sebut sebagai mushola.
  • Kemudian ketika saya mencari pak Ali Mukti di alamat XYZ, warga di kampung tersebut tidak tahu sama sekali nama tersebut. Namun setelah saya sebutkan ciri-ciri semisal usia dan tingginya serta asal desanya, warga kampung tersebut baru tahu kalau yang saya maksud adalah Mbah Herman karena ternyata nama H. Ali Mukti di KTPnya, H-nya bukan Haji tapi Herman.

Karena itu pemahaman dan penjelasan makna bahasa baik tekstual maupun kontekstual sangat diperlukan agar antar dua belah pihak nyambung dengan apa yang dimaksud oleh lawan bicara .

Kembali ke masalah dilalah (petunjuk text) sebagai landasan utama berdalil (bukti argumentasi). Yang pertama harus diketahui adalah bahwa istilah dilalah (petunjuk) itu didefiniskan sebagai memahami sesuatu dari sesuatu yang lain (fahmu amrin min amrin). Para ulama ushul fiqih mengkategorisasikan dilalah dengan bermacam-macam kategorisasi :

  • Pengketegorian pertama,  (sebagai pengantar) dilalah terbagi atas
    • Dilalah muthobiqiyah (makna persis), misalnya perkataan “ini adalah rumah budi”, maka yang dimaksu adalah rumah tempat tinggal dengan segala isinya termasuk halaman dan gentingnya
    • Dilalah tadhomuniyah (makna sebagian), misalnya perkataan “perbaikilah rumah saya”, maka yang dimaksud bisa semua bagian rumah namun biasanya yang dimaksud adalah bagian rumah seperti memperbaiki ruang tamu, ruang tidur, lantai dapur dll
    • Dilalah iltizamiyah (makna lazim yang dipahami diluar lafadz yang diungkapkan) misalnya “perbaikilah ledeng air rumah saya”, maka yang dimaksud tentu tidak hanya ledengnya melainkan juga keran airnya termasuk juga mengganti pipa bila rusak, menjebol tembok dan merapikannya dst
  • Pengketegorian kedua (dari hanafiyah) : dilalah terbagi atas
    • Dilalah Lafdziyah (dilalah berupa lafadz/text), meliputi
      • ibarotun nash (maksud langsung atau tidak langsung) semisal Allah SWT berfirman tentang halalnya jual beli dan haramnya riba (QS 2:275), maka bolehnya jual beli dan haramnya riba langsung bisa dipahami tanpa perlu dita’wilkan atau ditafsirkan
      • isyarotun nash (makna tersembunyi) semisal ketika Allah SWT berfirman dihalalkan bagi kamu pada malam puasa melakukan rofats (kata-kata mesum) dengan istri-istri kamu”. (QS 2:187), maka yang dimaksud bukan berkata-kata saja melainkan juga untuk berjima’
      • dilalah an-nash (makna yg sesuai) semisal ketika Allah SWT melarang untuk mengucapkan “uf” kepada orang tua (QS 17:23) maka yang dimaksud adalah segala ucapan yang mengesankan keengganan kepada orang tua semisal “ah”, “aduh”, “yah” dst
      • dilalah al-iqtidha (membutuhkan lafadz lain utk memahami yg dimaksud), semisal ketika Allah SWT berfirman “diharamkan atas kamu ibumu” (QS 4:23) maka yang dimaksud adalah diharamkan untuk menikahinya, kata menikahi tidak diadakan dari text tersebut karena maksudnya sudah dipahami dari ayat-ayat sebelumnya.
    • Dilalah ghoiru lafdziyah (dilalah yang tidak berupa lafadz/text), bisa dalam bentuk
      • tabi’iyah, semisal wajah cerah berarti gembira, wajah merah berarti menahan emosi atau maul dst
      • wadh’iyah, semisal gesture (sikap tubuh) seperti geleng-geleng pada umumnya dimaknai tidak kecuali di India dimana geleng-geleng justru dimaknai iya
      • aqliyah, semisal hilangnya hp di meja yang barusan diletakkan menunjukkan adanya orang yang mengambil apakah itu pencuri atau seoarang yang sekedar mengambil tanpa izin
  • Kategorisasi 3 (menurut mutakalimin), dilalah terbagi atas
    • Manthuq (textual)
      • Manthuq Sharih terdiri yang sama dengan istilah ibaroh an-nash yakni larangan Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Jual beli dan riba masing-masing telah dipahami maknanya demikian juga halalnya jual beli dan haramnya riba itu sendiri
      • Manthuq ghoyru sharih yang merupakan makna iltizamiyah (pengertian lazim meski tidak sama persis dengan yang diucapkan) meliputi
        • Dilalah Iqtidha sama seperti contoh sebelumnya yakni perintah “diharamkan atas kamu ibumu” maka yang dimaksud adalah diharami menikahi ibumu
        • Dilalah isyaroh sama seperti contoh sebelumnya makna dihalalkan melakukan rofats pada malam hari Romadhon yang dimaksud adalah dibolehkan untuk berjima
        • Dilalah ima (makna yg dimaksud dg disertai illat) semisal ketika Allah SWT memerintahkan untuk memotong tangan pencuri (laki/perempuan) maka disitu terdapat alasan (illat) yakni sebab mencuri. Bila tidak karena mencuri maka hukum potong tersebut tidak otomatis berlaku.
    • Mafhum (kontekstual). mafhum terbagi atas
      • mafhum muwafaqoh (berkesusaian) sama dengan dilalah an-nash yakni perkataan uf kepada orang tua sama tidak bolehnya dengan ah, aih, yah dst
      • mafhum mukhalafah (kebalikannya) semisal ketika Allah berfirman “dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” (QS 2:222) maka mukhalafahnya adalah kamu boleh mendekati mereka ketika mereka sudah suci (selesai haid dll)

Contoh penerapan mencari dilalah (suatu hal untuk memahami hal lainnya) :

  • Allah SWT di QS 4:59 mewajibkan umat Islam utk mematuhi ulil Amri minkum. Jangan ditanya ada gak keterangan di AlQuran tentang wajibnya memilih/ mengadakan ulil amri atau juga mendirikan keimarohan. Karena gak akan anda temukan perintah “wahai orang-orang beriman, angkatlah ulil amri dari kalian” atau juga “wahai orang-orang beriman, dirikanlah keimarohan dan angkatlah ulil amri serta patuhilah ulil amri tersebut.
  • Dari adanya perintah mematuhi ulil amri (QS 4:59) itu sudah cukup untuk memahami keharusan adanya ulil amri untuk diataati serta kemestian adanya suatu keimarohan yang disitu ada ulil amrinya untuk diataati. Masak Allah SWT menyuruh manusia mematuhi sesuatu yg gak ada atau gak mungkin bisa diadakan ? Ya gak mungkin lah ..
  • Contoh lagi : ketika Allah SWT memerintahkan manusia untuk wudhu sebelum bersholat, ada gak perintah untuk mencari air baik dengan ke sungai, nampung air hujan, menimba atau menggali sumur bor dll. Itu sudah kemestian sodara .. gak usah harus tertulis kalau apakah boleh dengan air kemasan dalam mineral dll.
  • Lalu bagaimana kriteria ulil amri dan juga air bersih untuk wudhu  ? Itu penjelasan detailnya disampaikan oleh Rasulullah SAW. Lihat di alhadits kecuali sampean termasuk dari golongan ingkarus-sunnah.

Nah  .. Very Easy kan ..?

Dilalah kewajiban adanya khilafah

Setelah kita mengetahui bahwa bagaimana suatu  perintah tidaklah harus tertulis langsung namun bisa dari dilalah (petunjuk) baik yang langsung maupun tidak langsung, maka mestinya dari dua ayat ini (QS 5:49 dan 50) sudah bisa terbayang wajibnya untuk mengadakan suatu sistem ketatanegaraan yang benar-benar hanya bersumberkan pada hukum Allah SWT saja :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik [49]. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? [50]”

Sistem tersebut mau sampean khilafah boleh, mau disebut Imamah boleh, mau disebut Daulah atau Negara Islam juga boleh, atur saja .. yang penting memenuhi kriteria yang dimaksud. Bukan semata istilahnya, tapi substansi pelaksanaan tuntutan-nya yakni mewujudkan sistem yang diatur menurut syariat Islam sepenuhnya dan tidak ada aturan jahiliyahnya. Apakah itu aturan jahiliyah ? Monggo dibuka kitab tafsirnya masing-masing …

Wassalamu’alaykum Warrahmatullahi wabarakatuh. Salam Ukhuwan Islamiyah.

DwiNugroho, 17-07-2017

===========
keterangan : diambil dari berbagai sumber yang tidak disebutkan, sehingga ini bukanlah untuk referensi, hanya sebagai pengantar untuk pengkajian yang lebih mendalam mengenai dilalah. Alhamdulillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: