Something inside my minds

Archive for the ‘akhlaq’ Category

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai / Tanah

Posted by dnux on March 4, 2013

Hukum Meletakkan AlQuran di Tanah/Lantai menurut Syaikh Utsaimin & Bin Baz + Hukum Menghormati Mushaf AlQuran oleh Imam Nawawy dalam Kitab Tibyan …

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai (1)

Jawaban Syaikh Utsaimin

مما لا شك فيه أن القرآن كلام الله عز وجل تكلم به سبحانه وتعالى ونزل به جبريل الأمين على قلب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنه يجب على المسلم احترامه وتعظيمه ولهذا لا يجوز للمسلم أن يمس القرآن إلا وهو طاهر من الحدثين الأصغر والأكبر ولا يجوز أن يوضع القرآن في مكان يكون فيه إهانة له وأما وضع القرآن على الأرض أثناء السجود للمصلى فلا بأس بذلك لأنه ليس فيه إهانة لكنه يجب أن يبعد عن ما يقرب من القدمين بمعنى أنه لا ينبغي بل لا يجوز أن يضعه الإنسان عند قدمه وهو قائم مثلا وإنما يجعله بين يديه أو قدام موضع سجوده كذلك أيضا لا يجوز أن يوضع بين النعال كما لو كان الناس يضعون نعالهم في مكان فيأتي هذا الإنسان ويضعه بين النعال فإن هذا لا يجوز لأنه إهانة للقرآن الكريم.

Terjemah bebas :  Tidak diragukan lagi bahwa AlQuran adalah kalamullah azza wajalla dimana Allah SWT berkalam dan menurunkannya melalui Jibril AS kepada rasulullah SAW dan bahwasanya wajib atas umat Islam untuk menghormati dan mengagungkannya. Karena itu maka tidak boleh bagi umat Islam untuk memegang AlQuran kecuali dia telah suci dari hadats kecil apalagi dari hadats besar. Tidak diperbolehkan juga untuk meletakkan AlQuran di tempat yang menyebabkan kehinaan padanya. Sedangkan meletakkan AlQuran ketika sujud (sedang sholat) maka tidak mengapa, sebab hal itu bukan bentuk penghinaan. Akan tetapi wajib bagi dia untuk menjauhkan agar pelewat dari AlQuran yang diletakkan di lantai tsb. Bahkan tidak boleh seorang menempatkan AlQuran dikakinya sedangkan dia berdiri, seharusnya dia letakkan didepannya atau didepan tempat sujudnya. Demikian juga tidak boleh untuk meletakkan AlQuran ditempat sandal yang biasanya orang orang meletakkan sandalnya disitu. Sebab hal ini merupakan bentuk dari penghinaan kepada AlQuran. Sumber : http://www.nquran.com/index.php?group=view&rid=2379

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai (2)

Jawaban Syaikh bin Baz :

Read the rest of this entry »

Posted in akhlaq, al-quran, ilmu, islam, sholat | 3 Comments »

Celakalah Para Penunggak Zakat

Posted by dnux on August 12, 2011

Tidak Mebayar Zakat ? Apa kata Akhirat ?

Zakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Di dalam Al-Quran terdapat 32 ayat tentang zakat, dimana 28 ayat diantaranya kata zakat selalu digandengkan dengan kata sholat.[1] Zakat adalah termasuk tiang dari agama Islam sebagaimana disabdakan Baginda SAW : “Islam dibangun atas 5 perkara yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji” (Al-Hadits). Perintah zakat juga diberikan Allah SWT kepada umat terdahulu setidahknya kepada Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang tertulis di dalam Taurat dan Injil.

Zakat adalah ibadah maliyah (harta) dimana Allah SWT memang tidak hanya memerintahkan manusia untuk beribadah badaniah saja namun juga beribadah maliyah. Manusia tidak hanya dituntut untuk meluangkan waktu dan tenaga dalam beribadah kepada-Nya, namun juga dituntut untuk meluangkan hartanya untuk beribadah kepada-Nya yaitu dengan membayar Zakat dan kewajiban harta lainnya semisal fidyah, dam haji, dan dhoribah (pajak).  Imam Thobrusi dalam Majma’ul Bayan Fii Tafsir Quran dalam menafsirkan ayat “kami tidak memberi makan orang miskin” (QS Mudatsir 44) beliau memaknainya dengan tidak membayar zakat atau kafarat puasa

Salah satu hikmah dari Zakat adalah untuk membersihkan harta dan hati manusia.

Read the rest of this entry »

Posted in akhlaq, bisnis islami, zakat | Leave a Comment »

Menghapuskan Kekikiran

Posted by dnux on August 11, 2011

Bulan itu (Ramadhan) adalah bulan memberi pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada Mukmin di dalamnya (HR Khuzaimah)

Sebagaimana kita saksikan sendiri bahwa Ramadhan memang identik dengan bulan panen rezeki. Para pegawai kantoran baik itu pegawai negeri ataupu swasta pada bulan Ramadhan biasanya selalu mendapatkan THR, yang tidak bekerja kantoran semisal sopir, buruh, pedangang pasar hingga pedagang besar-pun biasanya memecah tabugannya khusus untuk menyukseskan ramadhan, baik itu untuk belanja keperluan puasa ataupun persiapan lebaran. Demikan juga bagi panti asuhan biasanya bulan Ramadhan panen sumbangan dari dermawan yang ingin membagi kebahagiaan kepada yatim piatu.

Tingginya permintaan barang dan jasa akibat antusiasme masyarakat dalam berRamadhan otomatis meningkatkan harga barang dan jasa itu sendiri. Tingginya permintaan barang dan jasa otomatis juga memicu munculnya pedagang pedangan musiman di pasar pasar ataupun di pinggir jalan baik pedagang makanan, pakaian, sandal, mainan dan selainnya. Ibaratnya bisa kita katakan bahwa Ramadhan adalah bulan ekonomi dan bulan wiraswasta umat.

Inflasi selama Ramadhan adalah bulan inflasi sehat karena kenaikan harga benar benar didorong oleh kenaikan real permintaan, bukan kenaikan karena spekulasi ataupun karena hambatan distribusi. Walaupun peluang hambatan distribusi semisal karena penimbunan itu ada, tapi sungguh rasanya tidak akan terjadi banyak pada bulan Ramadhan ini dimana setiap orang ingin mendapatkan rezeki dengan cara yang sehat sesuai tuntunan syariat.

Inflasi sehat menciptakan peluang pergerakan ekonomi.

Read the rest of this entry »

Posted in akhlaq, ekonomi islam | Leave a Comment »

Hadits Hadits Motivasi Menuntut dan Menyebarkan Ilmu

Posted by dnux on November 23, 2010

diambil dari hadits Tirmidzi di lidwa.com/app bab Ilmu

Sesungguhnya orang yang menunjuki kebaikan, sama (pahalanya) dengan orang yang melakukan itu  (hasan sahih)

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Seorang yang faqih itu lebih berat bagi setan daripada seribu orang ahli ibadah. (gharib – dhaif)

فَقِيهٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Barangsiapa yang di kehendaki Allah kebaikan padanya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama (hasan sahih)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang sengaja berbohong atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di neraka. (sahih – mutawatir)

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (hasan)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa yang belajar ilmu maka itu adalah kafarat bagi apa yang pernah lalu (dhaif)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dicambuk pada hari kiamat dengan cambuk dari neraka (hasan)

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa belajar Ilmu untuk selain Allah atau menginginkan selain Allah, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya (kelak) di neraka (hasan)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Kalimat hikmah adalah barang seorang mukmin yang hilang, maka dimana saja ia menemukannya ia lebih berhak untuk mengambilnya (gharib – dhoif)

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga (hasan gharib)

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka (dhaif)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika Dia tidak meninggalkan seorang alim (di muka bumi) maka manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan. (sahih)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataanku, dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, bisa jadi orang yang mengusung fiqih menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya. Dan tiga perkara yang mana hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amalan karena Allah, saling menasehati terhadap para pemimpin kaum muslimin, berpegang teguh terhadap jama’ah mereka, sesungguhnya da’wah meliputi dari belakang mereka.” (sahih)

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun“. ( hasan shahih)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mensunnahkan sunnah kebaikan, lalu dia diikuti atasnya, maka dia mendapatkan pahalanya dan seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mensunnahkan sunnah kejelekan, lalu dia diikuti atasnya, maka dia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun (hasan sahih)

مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا فَلَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةَ شَرٍّ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian,  kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (gharib – sahih)

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.(sahih)

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذ

faf

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya (HR Bukhari) خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah ‘azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah.” (HR Abu Daud) – ada perawi yang tidak kuat مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
“Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR Ibnu Majah, Abi Daud) وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِهُدَاكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim dan mengajarkan ilmunya. (HR Ibnu Majah 4102) الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah) مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku di utus dengannya.” HR Bukhari Muslim إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ 

 

 

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya (HR Bukhari)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah ‘azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah.” (HR Abu Daud) – ada perawi yang tidak kuat

مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR Ibnu Majah, Abi Daud)

وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِهُدَاكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim dan mengajarkan ilmunya. (HR Ibnu Majah 4102)

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku di utus dengannya.” HR Bukhari Muslim

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

 

Posted in akhlaq, aqidah, ilmu, islam, kapitalisme, pencerahan, puisi | 3 Comments »

Pornografi, Sex Bebas dan Pesantren Ramadhan

Posted by dnux on August 15, 2010

Para pembaca sekalian, Bisakah angka angka ini bisa masuk di akal dan hati kita  ? (1) 97 Persen Siswa SMP dan SMA di Indonesia sudah pernah menonton video porno dan situs-situs porno (2) 62,7 persen siswa pernah melakukan hubungan badan. dan (3) Yang mencengangkan 21 persen siswa pernah melakukan aborsi (4) ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Angka angka tersebut disampaikan secara resmi oleh MenInfo, BKBN, KPI dan sebagainya

Siapakah yang salah dalam terciptanya angka angka itu ? mungkinkah anak anak itu sendiri yang dengan kreatifnya menghasilkan dekadensi moral tersebut ? seberapa besar sex bebas (+ aborsi) disebabkan oleh internet dibanding dengan media televisi, koran, majalah, vcd/dvd porno ? ataukah hal tersebut terjadi di generasi berikutnya karena memang telah menjadi budaya generasi generasi sebelumnya yang ditularkan oleh saudara, kakak kelas, tetangga ataupun oleh mereka yang dianggap orang tua  ?

Karenanya, di tengah dekadensi moral saat ini, sungguh merupakan suatu kebahagiaan bagi kita bila melihat sekolah sekolah marak dengan program pesantren ramadhan selama 3 – 4 hari untuk memberikan pelajaran agama tambahan kepada siswa/i sekolah tersebut dengan harapan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka

Pertanyaanya adalah : bukankah pesantren ramadhan di sekolah sekolah itu telah berjalan sedemikian rutin tiap tahun ? bukankah pelajaran agama juga telah diberikan tiap pekan setidaknya seminggu dua jam mata pelajaran ? namun mengapa angka pornografi dan sex bebas (+ aborsi)  malah semakin tinggi angka kejadiannya ? Tentu ada yang salah di sistem kita dalam melindungi generasi muda dan melindungi masa depan bangsa ini.

Penyebab dekandensi sosial bangsa ini adalah kesalahan dalam azas berfikir dan prinsip berinteraksi. (1) Azas berfikir bangsa ini pada mulanya adalah halal haram, namun seiring waktu dan terpinggirkannya agama dari pemerintahan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan maka azas berfikir bangsa ini perlahan namun pasti mulai mementuk prinsip sekulerisme. Agama cukup di masjid saja dan jangan sampai agama dibawa ranah publik. Agama cukup sebagai nilai tak usah sebagai pengatur.  (2) prinsip interaksi bagsa ini yang pada awalnya adalah saling menasehati kini berubah menjadi individualistik. Siapapun termasuk pemerintah (apalagi agama) tidak boleh masuk atau mengusik hak privat warga negara. dan akhirnya hilanglah sifat kebersamaan yang ada tinggal sifat saling mengacuhkan dan tidak mau tahu urusan orang lain, termasuk dalam perusakan moral.

Bila ini tidak segera dibenahi, barangkali sekitah tahun ke depan tidak mustahil angka sex bebas dikalangan sekolah akan menjadi 80% dan sex bebas itu tidak hanya terjadi di SMP saja bahkan mungkin sudah meramah ke siswa/i SD. innalillahi wa atubu ilaihi. karenanya itu, pembekalan agama tidak cukup dibebankan kepada siswa/i sekolah saja melalui jam umum atau lewat pesantren ramadhan. pembekalan agama haruslah dilakukan pada semua kalangan khususnya pada aparat dan birokrat yang bertanggung jawab mengurusi umat.  pandangan sekuler dan individualisme harus dicampakkan diganti dengan pandangan islam dan persaudaraan. Pemerintah harus terjun pada perbaikan moral, bukan menyerahkan kepada keluarga dan ulama sementara pornografi dan hiburan porno terus beredar bebas di masyarakat

Imam Ghazali  berkata : “Agama dan Kekuasaan adalah Saudara Kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Apa apa yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Apa apa yang tidak ada penjaganya maka akan lenyap”. Tanpa  ada penguasa yang menjaga moral, maka pastilah moral bangsa ini juga akan lenyap. Wallahu musta’an.

Posted in akhlaq, aqidah, hilangnya amanah, pornografi | 1 Comment »

definisi ikhlas (menurutku)

Posted by dnux on January 31, 2010

definisi adalah mafhum (persepsi) atau makna makna yang tertancap pada benak pencetusnya atau mereka yang mengambilnya. suatu definisi mencerminkan pemahaman pemikiran dan/atau ungkapan perasaan dari pencetus terhadap sebuah kata.

definisi bisa datang dari siapa saja yang memiliki pikir dan rasa atas sebuah kata. namun karena ikhlash adalah perkara hati tentu dalam masalah urusan hati ini definisi dari Imam Al-Qusyairi (ahli tasauf terkemuka) tentu lebih plong untuk disimak :

إفراد الحق سبحانه في الطاعة بالقصد، وهو: أنه يريد بطاعته التقرب إلى الله سبحانه دون أي شيء آخر؛ من تصنع لمخلوق، أو اكتساب محمدة عند الناس، أو محبة مدح من الخلق، أو معنى من المعاني سوى التقرب به إلى الله تعالى، ويصح أن يقال: الإخلاص تصفية الفعل من ملاحظة المخلوقين

Artinya : Ikhlas adalah mengesakan haq Allah swt dalam segala amalan ketaatan dengan niat, iaitu dia melakukan amalan ketaatannya hanyalah untuk menghampirkan diri kepada Allah swt, tiada apapun selain itu, iaitu mereka yang melakukannya kerana Makhluk, atau kerana ingin mendapat pujian mereka, serta kecintaan kepada pujian makhluk, atau apa jua sebab-sebab yang selain redha Allah. Boleh juga dikatakan, bahawa Ikhlas itu adalah pembersihan (niat) diri (semasa amalan) dari segala segala perhatian manusia. ( Al-Risalah al-Qusyairiah, tahqiq Abd Halim Mahmud, 1/443), dari http://www.zaharuddin.net/content/view/892/72/

asal muasal definisi yang beragam tentu diperbolehkan selama masih dalam koridor dari Rasulullah SAW, pernah suatu ketika menjelaskan keisitimewaan seorang ahli sorga yang hadir di majelis Rasulullah SAW dan orang itu tidak dianggap istimewa yang lainnya. Beliau menjelaskan keistimewaannya : Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridha Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.”

Menurut Hafidz Abdurrahman (sebagaimana penjelasan umum pada ilmu mantiq/logika), sebuah definisi yang baik adalah bila memenuhi syarat (1) jami’ – menghimpuan merangkum (2) mani’ – mencegah/membatasi scope atau dari kemungkinan milik sebuah istilah lain (3) sesuai dengan realita (HA dalam Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam) Artinya, definisi haruslah berupa penjelasan pikir dan rasa, bukan sekedar pengalaman rasa yang diungkapkan atau semacam tamsil pengandaian ibarat dll yang sebenarnya itu adalah deskripsi (penjabaran)

Dari segala literatur dan segala rasa yang saya dapatkan maka saya hendak menyimpulan sendiri sebuah definisi ikhlash yaitu :

melakukan perbuatan yang baik untuk mewujudkan hasil dunia dan/atau akhirat dengan tujuan mendapatkan ridho Allah SWT saja, tanpa mengharapkan puji dari manusia, jin ataupun syetan

penjelasan dalam definsi saya :

  1. ikhlas itu terjadi apabila ada amal, kalau tidak ada amal maka tidak terjadi hasil yang disodorkan kepada yang dipersembahkan
  2. amal itu harus yang baik atau setidaknya disangka baik oleh pelakunya, sebaba amal yang buruk pastilah tidak disodorkan kepada Allah SWT.
  3. amal itu harus maksimal, bila tidak maksimal maka sudah jelas tidak niat untuk mendapatkan sesuatu yang akan dipersembahkan. maksimal disini tidak sampai pada definisi ihsan (terbaik)
  4. digunakan istilah baik, bukan benar … sebab syarat amal diterima Allah SWT adalah ikhlas dan benar, sehingga istilah amal benar harus dikeluarkan dari definisi ikhlas, namun tetap secara realita bisa disaksikan amal yang ikhlas adalah amal yang baik atau disangka baik
  5. amal itu tentunya untuk mewujudkan hasil dunia dan/atau akhirat seperti orang bekerja, memasak, puasa, sholat dll. amal yang menghasilkan tujuan spesifik dunia seperti bekerja atau memasak tentu akan menghasilkan tujuan akhirat juga.
  6. tujuan mengharapkan ridho Allah saja. Ridho mencakup keseluruhan hal seperti pahala.
  7. tidak mengharapkan pujian. Yang tidak diharapkan adalah pujian saja, bukan hasil/imbalan. seorang bekerja tentu mengharapkan hasil imbalan baik itu sebagai pedangang, kantoran, petani dll
  8. manusia dari jin. menjaga dari pujian manusia atau jin baik yang nampak ataupun yang tidak nampak disekitarnya
  9. pujian syetan. artinya amal itu haruslah amal yang tidak dipuji syetan. syetan memuji manusia bila melakukan perbutan yang disenangi syetan yaitu amal2 ma’shiyat. ini sekaligus menguatkan kata “amal yang baik”

demikianlah ikhlash yang saya pahami. sebagai pembanding, berikut berbagai definisi ikhlas dari berbagai ulama …

  1. Menyendirikan Alloh sebagai tujuan dalam ketaatan.
  2. Membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk.
  3. Menjaga amal dari perhatian manusia dan termasuk pula diri sendiri.
  4. Seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan mendapatkan keridhaanNya.
  5. Sesuatu yang paling mulia didunia
  6. Rahasia antara Alloh dan HambaNya yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat yang mencatatnya.
  7. Membersihkan amal dari segala campuran.

(numpang kompilasinya http://els.fk.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=3143)

Imam Fudhail bin Iyadh mengatakan “ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك” Meninggalkan amal karena manusia adalah riya sedangkan melaksanakan amal karena manusia adalah syirik.

Wassalam
dwi

Posted in akhlaq, aqidah, pencerahan, pribadi mulia | 2 Comments »