Something inside my minds

Archive for the ‘aqidah’ Category

Absurditas Penolakan Penuntasan Penistaan Islam dengan menggunakan Hadits Palsu Hubbul Wathon Minal Iman

Posted by dnux on January 9, 2017

Argumen yang sering digunakan oleh sebagian masyarakat yang tidak menghendaki diterapkannya hukum Islam ungkapansuk tuntuan hukuman kepada Ahok yang dilaporkan menista Islam diantaranya dengan mengusung ungkapan “حب الوطن من الإيمان ” atau “Hubbul Wathon minal Iman” atau “Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman”. Pengusungan ungkapan Hubbul Wathon minal Iman juga muncul untuk melawan aksi GNPF MUI yang mengawal pelaksanaan fatwa MUI 11 Oktober 2016 tentang penodaan AlQuran dan Ulama oleh gubernur DKI pada waktu itu : Ahok.

Perlawanan terhadap gerakan GNPF MUI dengan mengunakan ungkapan “Hubbul Wathon minal Iman” ini setidaknya ada mengandung tiga kesalahan/kelemahan.

Pertama, dari segi sumber dalil.

  • Semua ahli hadits mengakatan bahwa ungkapan Hubbul wathon minal iman bukanlan hadits dan tidak tepat juga untuk disebuh sebut sebagai hadits karena memang tidak ada asal-usul dan sanadnya yang bisa sampai kepada Rasulullah SAW. Tidak bisa dicari dalam kitab hadits manapun ! Dan karena bukan hadits, maka ungkapan tersebut tidak bisa dijadikan landasan beraktivitas seorang muslim.
  • Hubbul wathon minal iman-pun juga bukan kaedah fiqih. Kalaulah ungkapan itu adalah sebuah qoidah fiqhiyah dan qoidah tersebut disebut disepakati oleh para imam/ulama, maka masih bisa dipertimbangkan untuk digunakan selama batasan-batasannya (dowabit)-nya terpenuhi. Namun pada faktanya ungkapan Hubbul Wathon minal Iman juga tidak akan dijumpai ada di dalam buku Qowaid Fiqhyiah manapun.

Kesimpulannya, secara argumentasi dalil ungkapan hubbul wathon minal iman tidak bisa digunakan sebagai landasan perbuatan umat Islam karena bukan dalil ataupun juga kaedah fiqih yang bisa berimplikasi pada petunjuk pelaksanaan hukum.

Read the rest of this entry »

Posted in aqidah, pandangan politik, terorisme | Leave a Comment »

Treatment of Jews and Christians as citizens of a true Islamic State

Posted by dnux on August 11, 2016

by Dwi P Nugroho (July 1st, 2016)

Allah created mankind as the descendants of Adam and Eve. And as the population growth and spread around the world, they organized their selves into tribes and peoples. Latter on they established a state based on their believe or ideology. There were a Buddha kingdom, Christian kingdom, and Islamic state that established by a religion and for now, most of states are based on nationality or ideology such as Indonesia, Malaysia, Saudi Arabia, America, Britain, China and else.

If the state is established based on a specific religion, nationality and ideology, it doesn’t mean there are no others religion, nationality or ideology in the state. An Islamic state doesn’t mean all the citizenship are Muslim, in an nation state Indonesia there are also non Indonesians native citizens  and in a communism state China there are also many of capitalist and liberal persons.

Islamic state is a state which the government based on the application of  sharia or the implementation of Islamic Laws are prominent in the daily life and all regulations applied are based on the Islamic principles. Islamic state first model are Madinah state established by Rasulullah where Muslim and non Muslims inside or around Madinah are bond in the so called Constitution of Madinah that promulgated by Rasulullah his self. Read the rest of this entry »

Posted in aqidah, darul islam, darul kufur, islam, israel | Leave a Comment »

Apakah Makkah saat ini adalah Darul Islam ? Bagaimana dengan Saudi Arabia ?

Posted by dnux on February 29, 2012

(Artikel belum selesai)

Judul di atas sekaligus adalah sebuah pertanyaan muncul ketika petugas kultum menyampaikan hadits

لا هجرة بعد الفتح ولكن جهاد ونية

Tidak ada lagi hijrah setelah Fathul Makkah, melainkan (yang tinggal) adalah  jihad dan niat” (Muttafaqun ‘alayh)

lalu si kultumer juga mebacakan syarah yang kalau tidak salah adalah tulisah Syekh Iyad Hilali yang menyampaikan bahwa Makkah hingga saat ini adalah Darul Islam. Penasaran dengan hal itu maka saya (dnux) menocoba membuka syarah namun yang ketemu adalah dari Syekh Utsaimin yang isnyaAllah pemahaman keislamannya hampir sama dengan Syekh Hilali dan mendapatkan keterangan berikut :

وفي هذا دليل على أن مكة لن تعود لتكون بلاد كفر، بل ستبقى بلاد إسلام إلى أن تقوم الساعة، أو إلى أن يشاء الله

yang insyaAllah terjemahannya (secara bebas) “dan berdasarkan dalil ini maka Makkah tidak akan pernah kembali menjadi Darul Kufur akan tetapi akan tetap kekal menjadi Darul Islam hingga hari Kiamat atau hingga waktu yang dikehendaki Allah SWT” sumber :  http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18002.shtml

disini  Syaikh Utsaimin telah berani dengan tegas menyatakan bahwa Makkah tidak akan berubah selalu menjadi DArul Islam sejak Futuh Makkah dan selamanya tidak akan menjadi Darul Kufur lagi.

Lalu saya membayangkan barangkali betapa teman2 salafy ngotot menyatakan Sasudi Arabia adalah Darul Islam mungkin karena imbas pemahaman dari hadits ini. Andaikan iya, maka mungkin sebenarnya pembahasan bisa dipecah menjadi dua yaitu :

  1. Makkah selamanya Darul Islam
  2. Status Saudi Arabia mengikuti status Makkah yaitu selamanya Darul Islam ?

Tentu saya yang bodoh ini tidak berani melawan pendapat itu, dan hanya bisa ditengah2 kesibukan bekerja, berusaha untuk menggali pendapat para Ulama khususnya para ahlul hadits terhadap hal tersebut. InsyaAllah  …

bila ada saudara/i yang bisa memberi saya masukkan/rujukan baik yang mendukung atau menentang pendapat Syaikh Utsaimin boleh langsung kirimkan saya link ke artikel tersebut

Jazakallahu & Wassalam

Posted in aqidah, hadits | 11 Comments »

Jangan pisahkan antara Iman (Tauhid), Khilafah dan Jihad

Posted by dnux on December 7, 2011

Setidaknya ada beberapa seruan yang khas terdengar dari dua kelompok tertentu yaitu :

  1. Dakwah itu harus tauhid dulu jangan terburu buru menyerukan Khilafah karena khilafah akan terwujud bila tauhid sudah tertanam dengan benar diantara kaum muslimin Tak usah berteriak-berteriak khilafah di jalan.
  2. Jihad tidak harus menunggu khilafah. Mengatakan jihad hanya bisa dilakukan apabila ada khilafah maka bisa jadi perkataan ini adalah titipan penjajah asing untuk melemahkan semangat jihad

Semua perkataan diatas tidak bermaksud bahwa mereka menolak atau tidak merindukan Daulah Islam, namun hanya sebatas berbeda dalam masalah prioritas, fikroh ataupun thoriqoh/manhaj dengan kelompok yang dimaksud oleh dua peryataan diatas yaitu Hizbut Tahrir (HT) yang memang terlihat sangat getol dalam menyuarakan khilafah dan mungkin dinilai gatal bila dalam setiap ceramah tidak menyinggung masalah khilafah dalam materi ceramah, khutbah ataupun artikelnya.

Tidak ada yang salah dalam dua kalimat di atas, bahkan kedua statement di atas mengandung makna yang benar dan samar kesalahannya yaitu :

  1. bila mereka menisbatkan tuduhan itu kepada HT seakan akan yang mereka katakan itu 100% mencerminkan pikiran/ langkah dakwah HT padahal faktanya tidak demikian
  2. pembiasan atau pelebaran masalah yaitu yang harusnya adalah perbedaan thariqah/manhaj kemudian dilebarkan dilebarkan ke masalah ide/fikrah fiqh, tauhid dll

Kesalahan yang tidak bisa dideteksi dari dua ungkapan diatas adalah masalah fikiran/hati yaitu apakah sebenarnya pada si pengucapnya ada peluang dia menolak khilafah dan lebih memilih mempertahankan status quo saat ini yaitu berbagai bentuk negara yang terpecah belah dalam nasionalisme dan diterapkannya undang-undang jahiliyah di tiap-tiap negara tersebut. Wallahu’alam, yang jelas Allah sesungguhnya memuji dan merangkaikan tiga aspek di atas (Iman, Khilafah dan Jihad) dalam ayat-Nya yang mulia :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. al-Baqarah [2]: 218).

Kok tidak ada khilafah di ayat itu ? Sekilas memang demikian, tapi bila dicermati makna hijrah yang hakiki yang dilakukan Nabi SAW adalah berpindahnya dari darul kufur (Makkah) ke Darul Islam (Madinah) maka sesungguh- nya urgensi hijrah pada saat ini adalah merubah atau mengalihkan status negeri Islam saat ini dari Darul Kufur ke Darul Islam. Hal itu dipertegas kemudian oleh Rasulullah SAW setelah beliau menakulkkan Makkah maka beliau bersabda :

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ فَتْحِ مَكَّةَ

Tidak ada Hijrah sesudah penaklukkan Mekkah

Sebab dengan ditaklukannya Mekkah maka seketika itu Makkah telah berubah (bergabung) menjadi Darul Islam sehingga tertutup peluang lagi untuk hijrah bagi penduduknya.

Dan khilafah adalah represntasi dari hijrah. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang dibangun diatas pondasi tauhid/ iman untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Hijrah bisa dilakukan dengan berpindah ke wilayah yang telah menjadi Daulah Islam atau dengan merubah negeri mereka menjadi Darul Islam sebagaimana umat Islam di Yatsrib merubah wilayah mereka dari sebelumnya berpecah-pecah dalam kabilah menjadi satu entitas Darul Islam yang dipimpin oleh Baginda SAW

Pada masa sekarang maka ketika tiada Daulah Islam maka akan terbuka peluang hijrah ke Daulah Islam sebagaimana kaum Muhajirini atau terbuka peluang juga untuk menjadi kaum penolong yang wilayahnya mereka rubah secara sukarela menjadi Darul Islam (Khilafah) sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Anshar.

Tauhid dulu baru khilafah vs Rancangan UUD HT yang mendahulukan aqidah

Tentu HT juga berpendapat bahwa tauhid/iman adalah masalah yang harus diutamakan. Bahkan khilafah itu tidak akan tegak bila tauhid/ iman tidak tertancap dengan benar terutama kepada penyerunya atau kepada aktivis dakwahnya. Yang menjadi persoalan adalah: (1) sejauh mana dakwah tauhid itu dilakukan ? (2) sejauh mana cakupan dari tauhid yang dimaksud ? (3) apakah harus menunggu 100% bertauhid benar baru kemudian menyerukan khilafah ? (4) atau masyarakat harus 100% dulu bertauhid baru didengarkan kata khilafah kepada mereka ? (5) apakah buletin yang menyuarakan khilafah harus diboikot dulu karena tauhid masyarakat belum mantap ?

Rancangan Dustur/UUD yang dibuat HT pada Pasal 1 menyebutkan pentingnya aqidah dalam khilafah  : Akidah Islam adalah dasar negara. Segala sesuatu yang menyangkut institusi negara, termasuk meminta pertanggungjawaban atas tindakan negara, harus dibangun berdasarkan akidah Islam. Akidah Islam menjadi asas undang-undang dasar dan perundang-undangan syar’i. Segala sesuatu yang berkaitan dengan undang-undang dasar dan perundang-undangan, harus terpancar dari akidah Islam.

Pemaknaan pasal ini tidak berdiri sendiri dalam praktenya sebab aqidah adalah sesuatu yang abstrak. Karena itu harus diterjemahkan ke pasal 2 : Darul Islam adalah negeri yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum Islam, dan keamanannya didasarkan pada keamanan Islam. Darul kufur adalah negeri yang di dalamnya diterapkan peraturan kufur, dan keamanannya berdasarkan selain keamanan Islam. Maka makna negara dibangun diatas tauhid adalah apabila keseluruhan hukum di negara itu adalah hukum Islam dan tidak ada satu undang-undang yang bertentangan dengan hukum Islam yang boleh dilegislasikan dan diterapkan di dalam negara.

Namun kemudian muncul pertanyaan : hukum Islam kan banyak dan kadang ada yang saling bertentangan. Maka hal ini dijawab di pasal ke 3 : Khalifah melegislasi hukum-hukum syara’ tertentu yang dijadikan sebagai undang-undang dasar dan undang-undang negara. Undangundang dasar dan undang-undang yang telah disahkan oleh Khalifah menjadi hukum syara’ yang wajib dilaksanakan dan menjadi perundangundangan resmi yang wajib ditaati oleh setiap individu rakyat, secara lahir maupun batin. Hukum Islam boleh berbilang, namun khalifah/imam-lah yang menetapkan aturan mana dari sekian aturan Islam yang berbeda yang diterapkan di masyarakat khususnya dalam ranah muamalah supaya terhindar dari sengketa. Mematuhi Imam pada hal yang dima’rufkan adalah kewajiban sebagaimana dalam QS 4:59

Meski demikian, khalifah/imam tidak boleh kebablasan. Dia tidak boleh menutupi kebebasan masyarakat dalam ber-pendapat, menyebarkan ilmu Islam yang bisa jadi tidak sesuai dengan pendapat Imam. Yang dilarang adalah masyrarakat dilarang menerapkan pendapat yang berbeda dengan Imam. Imam tidak boleh mengadopsi madzab aqidah ataupun madzhab fiqh secara mutlak. Dia cukup mengadopsi hukum hukum yang sekiranya tidak diadopsi/ditetapkan maka akan terjadi konflik di masyarakat.

Dalam pasal 4 disebutkan : Khalifah tidak melegislasi hukum syara’ apa pun yang berhubungan dengan ibadah, kecuali masalah zakat dan jihad. Khalifah juga tidakmelegislasi pemikiran apapun yang berkaitan dengan akidah Islam. Hanya saja keluasan dalam RUU pasal 4 diatas kemudian direspon secara serampangan dengan perkataan berikut “Hal ini berarti sekulerisasi dan liberalisasi terhadap syari’at Ibadah selain zakat dan jihad bahkan aqidah Islam. Padahal di zaman Nabi dan era Khulafaur rasyidin mereka jugalah yang menentukan batasan-batasan aqidah dan ibadah yang shohih, tidak hanya dalam perkara zakat dan jihad semata.” Sekulerisasi dan Liberalisasi itu apa ? jangan menafsirkan istilah yang jauh panggang dari api. Membolehkan berbedanya tata cara ibadah justru merupakan hasil dari memahami syara khususnya hadits nabi yang memang memungkinkan terjadinya perbedaan dalam ibadah sebagaimana perbedaan imam madzab

Ketidakpantasan khalifah mengadopsi sebuah madzab juga tercerminkan dari sikap Imam Malik yang dua kali menolak permintaan Khalifah Al-Manshur untuk menyebarluaskan alMuwatho ke seluruh negara sebagai pegangan para Qodhi. Penolakan itu beliau ulang pada masa khalifah berikutnya yaitu Harun AlRasyid yang juga bermaksud untuk menjadikan kitab Muwatho sebagai kitab resmi negara. Terlebih yang dimaksud dalam pasal 4 diatas bukan berarti kemudian Daulah membiarkan penyimpangan dalam masalah ibadah ataupun aqidah. Tentu hal-hal yang menyimpang secara qothi akan dilanggar. Pembahasan hal tersebut secara panjang lebar dituangkan dalam buku HT lainnya yang berjudul “Nidzom Uqubat fil Islam” atau “Sistem Sanksi dalam Islam”

Tauhid dulu baru Khilafah ? bagaimana dengan kajian Ekonomi Islam ?

Apakah urutan itu adalah dari Rasulullah SAW bukan ? Sebab bila itu adalah perkataan Rasulullah SAW maka mutlak harus kita terima dan langsung dilaksanakan bila tidak ada dalil lain yang bertentangan atau memungkin penafsiran lain. Namun pada faktanya pernyataan diatas adahal saran dari manusia biasa saja yang tidak mutlaq kebenarannya. Bukan berarti tidak benar, namun ada kemungkinan tidak benar.

Penerapan pada Individu : saat ini dalam keadaan apapun kualitas iman dan islam kaum muslimin pada saat ini maka mereka pada dasarnya beraqidah Islam ketika mereka beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab, nabi2, hari kiamat & qodho qodar. Mereka juga wajib melaksanakan seluruh kewajiban Islam sejak mereka menjadi mukalaf yaitu melaksakan sholat, berpuasa, zakat, bermuamalah Islam, berhukum dengan hukum Islam termasuk untuk berbaiat kepada Khalifah bila ada.  Lalu bagaimana meletakkan tauhid dulu baru khilafah ? Bila yang dimaksud adalah seseroang harus beraqidah Islam dulu baru kemudian melaksanakan hukum Islam maka hal itu tentu sangat benar dan sepertinya tidak perlu panjang lebar dibahas. Demikian juga untuk mendalami aqidah supaya terbebas dari syirik yang bisa menggu-gurkan amal atau menyebabkan dosa besar maka hal tersebut jelas harus selalu dikaji dan dikaji beriringan dengan peng-kajian, penelaahan hukum Islam yang juga harus dijalankan seperti sholat, puasa termasuk pula hukum pemerintahan yaitu khilafah.

Penerapan pada Masyarakat : ada yang mengatakan bahwa masyarakat harus baik dulu aqidahnya agar khilafah tegak. Maka hal itu sangat benar 100%. Yang menjadi pertanyaan adalah : apakah mengunggu semua anggota masyarakat baik dulu aqidahnya atau cukup sebagian dari mereka ? Bercermin dari fakta dakwah Rasulullah SAW ternyata dijumpai bahwa Rasulullah SAW tidak menunggu masyarakat Makkah atau Madinah beriman 100% untuk kemudian menerapkan Islam secara kaffah dalam wujud pemerintahan Islam, namun ternyata baru sebagian dari mereka saja yang beriman baru kemudian beliau hijrah ke Madinah. Kunci sukses dari dakwah Rasulullah SAW adalah dukungan tokoh-tokoh masyarakat Yatsrib yang tentu mereka sudah beriman dan membaiat beliau SAW sebagai penguasa atas mereka.

Karena itu maka seruan kepada khilafah juga tidak ada dalilnya untuk dibatasi hanya boleh disampaikan ketika masyarakat sudah beriman seluruhnya. Adapun firman Allah SWT berikut :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

yang artinya : Allah berjanji kepada orang orang yang beriman diantara kalian dan (mereka) beramal sholeh, bahwa mereka akan dijadikan khalifah dimuka bumi (QS 24:55), maka di ayat mulia tersebut tidak ada indikasi pembatasan bahwa khalifah (pergantian kekuasaan) hanya akan diberikan setelah mereka semuanya beriman dan beramal sholeh. Justru ayat itu menunjukkan bahwa khalifah hanya akan diberikan kepada sebagian dari mereka yaitu yang beriman dan beramal sholeh, tidak kepada seluruh masyarakat. Artinya memang akan tetap ada dari masyarakat yang tidak beriman dan/atau tidak beramal sholeh pada saat khilafah itu tegak atau pada saat upaya perwujudannya.

Sesungguhnya apabila aktivitas dan seruan HT yang sering terlihat di public adalah tuntutan penegakan khilafah, maka tidak berarti HT tidak mendahulukan aqidah ataupun melalaikan kajian akhlaq dan muamalah syababnya. Setiap daris atau calon anggota HT wajib untuk memulai dengan kitab Nidzomul Islam yang dua bab pertama membahas fundamental aqidah Islam yaitu mengenai Thoriqul Iman (Jalan Mencapai Iman) diikuti dengan Qodho Qodar. Dua pembahasan itu mengeluarkan siapapun yang ikut halaqoh untuk membangun aqidah dengan penuh kesadaran, bukan atas dasar taqlid dimana taqlid dalam aqidah merupakan seburuk-buruknya taqlid. Demikian pula dengan mengkaji qodho qodar yang benar maka syabab HT akan menjadi syabab dinamis yang termotivasi dan tergerak untuk menjadi agen perubahan, bukan menjadi seorang fatalis yang menunggu perubahan tanpa aktif merubah faktor penyebab keadaan itu sendiri.

Mendakwahkan Ibadah & Ekonomi tapi tidak mendakwahkan Khilafah ?

Satu sisi ketika mereka mengatakan bahwa dakwah harus dari Tauhid dulu namun toh pada kenyataanya mereka juga berceramah masalah fiqh ibadah dan muamalat bahkan membuat jaringan komunitas penguasa muslim. Hal ini sangat bagus bahkan saya juga senang membaca artikelnya. Namun menjadi pertanyaan dan sekaligus menjadi kontradiksi ketika mereka pada prakteknya ternyata tidak membatasi dakwah pada tauhid saja, namun mereka berdakwah yaitu memperbaiki seluruh aspek dari umat Islam: minus aspek khilafah. Apa yang menyebabkan harus dibedakan antar hukum Islam itu ?  Dakwah tauhid jangan dipisahkan dari khilafah karena dua hal itu sebenarnay tidak terpisah. Imam Ghazali dalam Ihya berkata : “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak punya pondasi akan ambruk, dan suatu yang tidak punya penjaga pasti akan lenyap

Menggembar-gemborkan Khilafah di jalan-jalan 

Memang apa masalahnya? Mari simak perkataan sahabat ketika membaiat Rasulullah SAW di Aqobah : Dari Sahabat Ubadah bin Shamit “Kami telah berbai’at kepada Nabi saw untuk senantiasa mendengar dan mentaati perintahnya, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun yang tidak kami senangi, dan kami tidak akan merebut kekuasaan dari yang berhak (sah), dan agar kami senantiasa mengerjakan atau mengatakan yang haq dimanapun kami berada, tidak takut akan celaan dari orang-orang yang mencela.” (HR. Bukhari). Itulah janji yang dikatakan oleh para sahabat Anshar : Mengatakan yang haq dimanapun kami berada, tentu ini adalah kalimat mutlaq yang menunjukkan arti dimanapun, baik itu di depan penguasa itu ataupun di tempat umum ataupun membicarakannya di tengah masyarakat untuk membentuk opini, menyatukan pendapat dan gerak masyarakat untuk meluruskan penguasa agar kembali kepada jalan yang benar.

Lebih mengherankan bila kemudian mengkritik dakwah Islam di jalan-jalan yang Islami namun tidak mengkritik demonstrasi yang mendakwahkan solusi-solusi yang berasal dari ide/hukum kufur ? Demikian juga tidak ada kritik ketika banyak lelaki wanita berduyun duyun mengikuti jalan sehat dengan bercampur baur tanpa batas. boleh kritik namun harus adil dan proposional juga. Pandangan saya tentang hukum syara terkait masalah demonstrasi bisa dijumpai di blog saya : https://dnuxminds.wordpress.com/2011/04/14/penjelasan-dan-hukum-syara-terkait-demonstrasi-unjuk-rasa/

Menyerukan Khilafah = berpangku tangan dan Meninggalkan Jihad ?

Khilafah tidak akan terwujud dengan berteriak teriak di jalanan saja”. Demikian ungkapan yang disampaikan oleh ikhwan jihadis. Ungkapan ini mengadung kemajuan daripada kelompok pertama yang diam saja terhadap upaya penegakkan khilafah walau sebenarnya mereka tidak mau disebut berdiam diri. Setidaknya ungkapan diatas lebih terlihat visi masa depan umat Islam untuk hidup dibawah Khilafah (Darul Islam) dan ada upaya keras untuk meninggalkan hukum jahiliah.

Yang perlu diluruskan disini adalah, yakini apabila ungkapan diatas sekaligus tuduhan ke HT. Kalau dikatakan HT tidak mengorganisir jihad maka itu benar. Namun bukan berarti HT meninggalkan Jihad. HT berpen-apat bahwa jihad tetap ada hingga hari kiamat sebagaimana sabda masyhur dari Nabi SAW, namun HT adalah partai politik yang bergerak dibidang politik khususnya dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar bil lisan. Lagipula yang wajib melakukan jihad adalah individu sebab seruan syari itu jatuh ke individu. Syabab HT dipersilahkan bahkan didorong untuk berjihad bila negerinya diserang oleh kaum kafir. Namun aktivitas itu adalah aktivitas individu, bukan aktivitas HT. HT berjuang secara politis yaitu melalui seruan dan himbauan-himbauan. Contoh praktenya adalah HT selalu menyerukan kepada penguasa negeri Islam agar mengirimkan pasukan ke Palestina, bukan sekedar mengirimkan dana dan obat-obatan saja. HT juga memotivasi petinggi petinggi militer di seluruh negeri untuk bergerak membantu saudara-saudara mereka yang tertindas di negara negara yang sedang dijajah. Mengenyahkan Israel adalah solusi tunggal bagi Palestina, bukan perundingan & perdamaian.

Bahkan lebih dari yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam termasuk kelompok yang menekankan jihad adalah untuk mengusir pasukan asing dari negeri yang terjajah, maka sesungguhnya visi jihad dalam pandangan HT bukan hanya untuk mempertahankan dan mengusir pasukan penjajah (defensif), namun termasuk untuk meluaskan wilayah Daulah Islam (Offensive) hingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Dalam kitab Daulah Islamiyah syaikh Nabhani mengatakan : Politik luar negeri ini berdiri di atas pemikiran yang tetap dan tidak akan berubah, yaitu penyebarluasan Islam ke seluruh dunia pada setiap umat dan bangsa. Inilah asas yang di atasnya dibangun politikluar negeri Daulah Islam. Politik luar negeri tersebut dijalankan dengan metode yang tetap dan tidak pernah berubah yaitu jihad, walaupun para pemegang kekuasaan berbeda-beda. Metode ini tetap berlaku di sepanjang masa semenjak Rasul saw menetap di Madinah hingga berakhirnya Daulah Islam yang terakhir.

Mengusir penjajah dengan jihad adalah kewajiban. Namun jangan setelah penjajah terusir justru umat Islam saling berperang karena perbedaan visi antara ingin menegakkan daulah Islam dan menegakkan negara sipil sekuler. Karena itu disamping jihad mengusir pasukan asing, yang harus dilakukan adalah “berjihad” mengusir pemikiran kufur, menyamakan pikiran dan perasaan masyarakat untuk hidup dibawah Daulah Islam yang akan menegakkan Tauhid dan Jihad.

Kontradiksi ungkapan “Tegakkanlah Daulah Islam dalam hati kalian niscaya akan ditegakkan Daulah Islam di negara kalian”

Kalimat teresebut sangat masyhur disampaikan oleh Syaikh Albani. Saya tidak hendak meyoroti makna sekaligus metodologi yang dimaksud dalam ungkapan itu. Hanya sering sekali terjadi kontradiksi dengan statement dari banyak syabab pendakwah yang mengatakan bahwa negeri Islam semisal Arab Saudi atau Indonesia adalah Daulah Islam. Lha bila Arab Saudi adalah Daulah Islam, lalu buat apa syaikh Albani menyampaikan ungkapan yang seakan akan belum ada Daulah Islam saat ini sehingga perlu dimulai dengan menancapkan di hati dulu ? Tentu korelasi positif dari ungkapan itu adalah saat tidak ada daulah Islam atau darul islam atau khilafah maka perlu ditancapkan di hati semoga wujud Daulah Islam (khilafah) sebenarnya. Hanya saja memang banyak dari kita yang segan untuk mengakui bahwa negara kita adalah termasuk Darul Kufur, karena kuatir istilah Darul Kufur itu berimplikasi pada kekufuran seluruh anggota masyarakat di dalamnya. Padahal yang dimaksud disini yang kufur adalah sistem hukumnya, sebagaimana Rasulullah SAW sendiri juga pernah tinggal di Darul Kufur Makkah sebelum hijrah.

Demikian juga ada beberapa ikhwan yang mengatakan “kami juga ingin tegakknya Daulah Islam, namun bukan dengan cara yang yang berteriak teriak di jalan, tapi menasehati penguasa diam diam”. Bagi saya hal itu tidak masalah karena sah untuk ikhtilaf dalam hal fikrah dan/ataupun thariqah, namun selayaknya tujuan khilafah itu disampaikan dengan jelas kepada masyarakat agar masyarakat tidak terjadi bingung dalam menanggapi perlu tidaknya atau urgensitas dari Khilafah.

Karena itu maka sekarang bukan lagi membeda dan memisahkan antara dakwah tauhid, khilafah dan jihad, karena tiga hal itu adalah serangkaian aktivitas yang dengannya akan tercapai kejayaan Islam dan muslimin, tidak salah satunya tidak salah duanya, tapi harus ketiga tiganya wujud dalam dunia Islam saat ini dan selamanya. Khilafah tak akan tegak tanpa tauhid dan amal sholeh pejuangya, demikian juga tanpa khilafah maka dakwah tauhid akan berjalan tidak optimal karena tidak bisa membungkam mereka yang menjadi sumber kerusakan aqidah. Demikian pula jihad tidak akan memberikan hasil maksimal bila hanya diorganisir oleh kelompok sipil saja, dan tidak digerakkan oleh sebuah negara.

Wassalam. dnux 12/7/2011

Posted in aqidah, darul islam, darul kufur, hizbut tahrir, jihad, manhaj | 1 Comment »

Pemahaman saya tentang Hadits Hudzaifah : Dukhan, Duat Ilaa Abwabi Jahannam & Itazilu Firqah (Asap, Penyeru ke Pintu Neraka, Menjauhi Firqah)

Posted by dnux on September 16, 2011

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

”Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan.Sedangkan aku bertanya kepada beliau saw mengenai keburukan, karena khawatir keburukan itu akan menimpaku.Aku bertanya, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya, kami dahulu berada di masa jahiliyyah dan keburukan.Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini.Lantas, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?Nabi saw menjawab, ”Ya”. Saya bertanya lagi,”Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan? Nabi saw menjawab, ”Ya, dan di dalamnya terdapat ”dukhan (asap/kotoran)”Aku bertanya, ”Apa asap itu?” Beliau menjawab, ”Kaum yang memberi petunjuk bukan dengan petunjukku; yang mana kamu mengenal mereka, dan kamu akan mengingkari”.Aku bertanya lagi, ”Apakah setelah kebaikan itu akan datang keburukan lagi? Nabi saw menjawab, ”Ya, orang-orang yang mengajak ke pintu-pintu neraka.Siapa saja yang menerima ajakan mereka menuju pintu-pintu neraka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka”.Aku bertanya lagi, ”Ya Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka kepada kami”.Nabi saw menjawab, ”Mereka memiliki kulit yang sama dengan kita, dan berbicara dengan bahasa-bahasa kita”.Aku bertanya lagi, ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami, jika hal itu menimpaku?Nabi saw menjawab, ”Tetapilah jama’at al-Muslimiin dan imam mereka”.Aku bertanya, ”Lalu, bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam”.Nabi saw bersabda, ”Jauhilah semua firqah tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, hingga kematian menjemputmu, sedangkan engkau tetap dalam keadaan seperti itu”.[HR. Bukhari Muslim]

Dalam hadits di atas ada dua hal yang Allah dan RasulNya perintahkan kepada kita untuk mewaspadai dua golongan orang yaitu dakhonun (asap/bau) dan du’at ilaa abwabi jahanam atau penyeru pada pintu neraka  serta memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada imam dan jamaah serta menghindari firqah manakala tidak ada imam dan jama’ahnya.

1.      Mewaspadai adanya dukhon (دَخَنٌ) atau asap/bau

دَخَنٌ (asap/bau) yang dimaksud dalam hadits di atas diterangkan maknanya pada anak kalimat berikutnya yaitu قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْي  suatu kaum yang memberi petunjuk selain dengan petunjukku. Menurut hemat saya yang dhoif ini yang dimaksud adalah orang orang yang bukan dari  umat Islam seperti yahudi, nasrani, hindu, budha dan lain lain. sebab disitu Rasulullah SAW menggunakan kata قَوْمٌ  atau golongan tidak menggunakan kata sekelompok umatku dan sebagainya. Kepada mereka ini insyaAllah umat Islam akan mengenal betul dan susah mengidentifikasi mereka sebab mereka memang benar benar bukan umat Islam. Hal itu diperkuat dengan lanjutan hadits tersebut تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ  kamu mengenali mereka dan kalian mengingkarinya, yaitu karena tahu benar ciri mereka beda dengan umat Islam.

Apa istimewanya sehingga disebut khusus sebagai dukhon ? Read the rest of this entry »

Posted in aqidah, hizbut tahrir, islam, kapitalisme, pencerahan | Leave a Comment »

Hadits Hadits Motivasi Menuntut dan Menyebarkan Ilmu

Posted by dnux on November 23, 2010

diambil dari hadits Tirmidzi di lidwa.com/app bab Ilmu

Sesungguhnya orang yang menunjuki kebaikan, sama (pahalanya) dengan orang yang melakukan itu  (hasan sahih)

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Seorang yang faqih itu lebih berat bagi setan daripada seribu orang ahli ibadah. (gharib – dhaif)

فَقِيهٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Barangsiapa yang di kehendaki Allah kebaikan padanya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama (hasan sahih)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang sengaja berbohong atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di neraka. (sahih – mutawatir)

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (hasan)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa yang belajar ilmu maka itu adalah kafarat bagi apa yang pernah lalu (dhaif)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dicambuk pada hari kiamat dengan cambuk dari neraka (hasan)

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa belajar Ilmu untuk selain Allah atau menginginkan selain Allah, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya (kelak) di neraka (hasan)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Kalimat hikmah adalah barang seorang mukmin yang hilang, maka dimana saja ia menemukannya ia lebih berhak untuk mengambilnya (gharib – dhoif)

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga (hasan gharib)

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka (dhaif)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika Dia tidak meninggalkan seorang alim (di muka bumi) maka manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan. (sahih)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataanku, dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, bisa jadi orang yang mengusung fiqih menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya. Dan tiga perkara yang mana hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amalan karena Allah, saling menasehati terhadap para pemimpin kaum muslimin, berpegang teguh terhadap jama’ah mereka, sesungguhnya da’wah meliputi dari belakang mereka.” (sahih)

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun“. ( hasan shahih)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mensunnahkan sunnah kebaikan, lalu dia diikuti atasnya, maka dia mendapatkan pahalanya dan seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mensunnahkan sunnah kejelekan, lalu dia diikuti atasnya, maka dia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun (hasan sahih)

مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا فَلَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةَ شَرٍّ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian,  kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (gharib – sahih)

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.(sahih)

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذ

faf

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya (HR Bukhari) خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah ‘azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah.” (HR Abu Daud) – ada perawi yang tidak kuat مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
“Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR Ibnu Majah, Abi Daud) وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِهُدَاكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim dan mengajarkan ilmunya. (HR Ibnu Majah 4102) الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah) مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku di utus dengannya.” HR Bukhari Muslim إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ 

 

 

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya (HR Bukhari)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah ‘azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah.” (HR Abu Daud) – ada perawi yang tidak kuat

مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR Ibnu Majah, Abi Daud)

وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِهُدَاكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim dan mengajarkan ilmunya. (HR Ibnu Majah 4102)

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku di utus dengannya.” HR Bukhari Muslim

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

 

Posted in akhlaq, aqidah, ilmu, islam, kapitalisme, pencerahan, puisi | 3 Comments »

Mensyukuri Nikmat Al-Quran

Posted by dnux on August 22, 2010

Allah berfirman dalam surat At-Takatsur ayat 8 :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

(kemudian kamu akan ditanya terhadap setiap nikmat yang kamu dapatkan)

Definisi Syukur.  Secara bahasa makna syukur adalah menampakkan dan memuji. Secara makna, Imam Al-Qosimy menjelaskan : “ Tidaklah seorang hamba disebut bersyukur kepada tuannya kecuali menggunakan nikmat tersebut terhadap hal hal yang menyenangkan tuannya atau menggunakannya dalam rangka beribadah kepadanya bukan untuk kemauan pribadinya. Sebaliknya apabila dia menggunakannya pada hal hal yang dibenci tuannya maka sesungguhnya dia kufur nikmat” (dari kitab Mauidzotul Mu’min min Ihya Ulumddin)

Bentuk Syukur. Dzun Nun al Mishri mengatakan bahwa bentuk syukur itu adalah : “kepada atasan adalah dengan taat kepadanya, kepada yang sederajad adalah dengan perlakuan setara dan kepada yang lebih rendah adalah dengan balasan yang lebih baik dan penghormatan” (dari kitab taqarub ilallah : fauzi sinurqoth)

Petunjuk Allah berupa kitab suci adalah nikmat Allah sebagaimana yang disiratkan dalam surat Al-Baqarah 211 :

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُم مِّنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ وَمَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُ فَإِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : “Tanyakanlah kepada Bani Israel: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka. Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.”  Makna nikmat di ayat tersebut adalah kitab Allah yaitu Taurat dan Injil (Tafsir Ma’alim Tanzil – Baghawy dll)

Karenanya Al-Quran  adalah nikmat Allah bahkan sebesar besar nikmat Allah bagi manusia di dunia ini. Tentang kegunaan Al-Quran bagi manusia, Allah berfirman dalam QS Yunus 57 :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Selama ini kita telah mengkufurni nikmat AlQuran dengan cara tidak menjadikan dia sebagai penyembuh bagi penyakit di dada kita sekaligus tidak menggunakannya sebagai petunjuk dalam kehidupan kita. Kita memilih jalan mengenyampingkan Al-Quran dan membuat aturan aturan lain serta metode metode penyebuhan jiwa yang tidak sesuai dengan Al-Quran. Kita pergunakan teori ekonomi kapitalis liberalis atau susun sendiri yang namanya ekonomi kerakyatan seraya mengesampingkan bagaimana AlQuran mengatur masalah ekonomi. Kita pergunakan teori trias politika, demokrasi, HAM untuk membuat undang undang seraya mengabaikan AlQuran sebagai satu satunya acuan dalam membuat undang undang padahal Allah SWT mengancam : “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itulah orang kafir” (QS 5:44), atau “dzolim” (QS 5:45) atau “fasik” (QS 5:47).

Kita benar benar telah menguras habis energi otak kita untuk merumuskan filsafat filsafat yang sekedar angan angan,  kita menghabiskan trilliunan rupiah untuk pilpres, pilkada dll guna memilih pemimpin yang akan membuat dan menjalankan hukum yang sesuai dengan kemauan manusia yang justru terbukti mencelakakan manusia. Kita habiskan energi untuk mendengarkan dan membaca berita perdebatan di parlemen untuk membuat undang undang plus friksi dan berita berita korupsi yang menyertainya. Kita ibarat anak kecil hendak membuat aturan main sendiri tanpa didampingi orang tua maka sering permainan itu mencelakakan mereka sendiri. demikian juga manusia yang paling pintar sekalipun tanpa di dampingi oleh yang Maha Pintar maka akhirnya justru akan mencelakakan sendiri.

Hukum diAl-Quran sudah sangat jelas dan mudah dibaca kemauannya secara general ataupun secara spesifik. yang dibutuhkan kita adalah keimanan terhadap perintah Allah serta kepasrahan bahwa kita manusia adalah makhluq bodoh dan lemah dan hanya Allah SWT yang Maha Sempurna dan Maha Tahu bagaimana cara mengatur kehidupan manusia. Hukum Islam itu irit energi, irit otak, irit waktu tapi sudah pasti maknyus & cespleng menyelesaikan segala persoalan manusia

Wallahu A’lam, Wallahu Musta’an

Posted in aqidah, pencerahan, puasa | Leave a Comment »

Pornografi, Sex Bebas dan Pesantren Ramadhan

Posted by dnux on August 15, 2010

Para pembaca sekalian, Bisakah angka angka ini bisa masuk di akal dan hati kita  ? (1) 97 Persen Siswa SMP dan SMA di Indonesia sudah pernah menonton video porno dan situs-situs porno (2) 62,7 persen siswa pernah melakukan hubungan badan. dan (3) Yang mencengangkan 21 persen siswa pernah melakukan aborsi (4) ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Angka angka tersebut disampaikan secara resmi oleh MenInfo, BKBN, KPI dan sebagainya

Siapakah yang salah dalam terciptanya angka angka itu ? mungkinkah anak anak itu sendiri yang dengan kreatifnya menghasilkan dekadensi moral tersebut ? seberapa besar sex bebas (+ aborsi) disebabkan oleh internet dibanding dengan media televisi, koran, majalah, vcd/dvd porno ? ataukah hal tersebut terjadi di generasi berikutnya karena memang telah menjadi budaya generasi generasi sebelumnya yang ditularkan oleh saudara, kakak kelas, tetangga ataupun oleh mereka yang dianggap orang tua  ?

Karenanya, di tengah dekadensi moral saat ini, sungguh merupakan suatu kebahagiaan bagi kita bila melihat sekolah sekolah marak dengan program pesantren ramadhan selama 3 – 4 hari untuk memberikan pelajaran agama tambahan kepada siswa/i sekolah tersebut dengan harapan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka

Pertanyaanya adalah : bukankah pesantren ramadhan di sekolah sekolah itu telah berjalan sedemikian rutin tiap tahun ? bukankah pelajaran agama juga telah diberikan tiap pekan setidaknya seminggu dua jam mata pelajaran ? namun mengapa angka pornografi dan sex bebas (+ aborsi)  malah semakin tinggi angka kejadiannya ? Tentu ada yang salah di sistem kita dalam melindungi generasi muda dan melindungi masa depan bangsa ini.

Penyebab dekandensi sosial bangsa ini adalah kesalahan dalam azas berfikir dan prinsip berinteraksi. (1) Azas berfikir bangsa ini pada mulanya adalah halal haram, namun seiring waktu dan terpinggirkannya agama dari pemerintahan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan maka azas berfikir bangsa ini perlahan namun pasti mulai mementuk prinsip sekulerisme. Agama cukup di masjid saja dan jangan sampai agama dibawa ranah publik. Agama cukup sebagai nilai tak usah sebagai pengatur.  (2) prinsip interaksi bagsa ini yang pada awalnya adalah saling menasehati kini berubah menjadi individualistik. Siapapun termasuk pemerintah (apalagi agama) tidak boleh masuk atau mengusik hak privat warga negara. dan akhirnya hilanglah sifat kebersamaan yang ada tinggal sifat saling mengacuhkan dan tidak mau tahu urusan orang lain, termasuk dalam perusakan moral.

Bila ini tidak segera dibenahi, barangkali sekitah tahun ke depan tidak mustahil angka sex bebas dikalangan sekolah akan menjadi 80% dan sex bebas itu tidak hanya terjadi di SMP saja bahkan mungkin sudah meramah ke siswa/i SD. innalillahi wa atubu ilaihi. karenanya itu, pembekalan agama tidak cukup dibebankan kepada siswa/i sekolah saja melalui jam umum atau lewat pesantren ramadhan. pembekalan agama haruslah dilakukan pada semua kalangan khususnya pada aparat dan birokrat yang bertanggung jawab mengurusi umat.  pandangan sekuler dan individualisme harus dicampakkan diganti dengan pandangan islam dan persaudaraan. Pemerintah harus terjun pada perbaikan moral, bukan menyerahkan kepada keluarga dan ulama sementara pornografi dan hiburan porno terus beredar bebas di masyarakat

Imam Ghazali  berkata : “Agama dan Kekuasaan adalah Saudara Kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Apa apa yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Apa apa yang tidak ada penjaganya maka akan lenyap”. Tanpa  ada penguasa yang menjaga moral, maka pastilah moral bangsa ini juga akan lenyap. Wallahu musta’an.

Posted in akhlaq, aqidah, hilangnya amanah, pornografi | 1 Comment »