Something inside my minds

Archive for the ‘bisnis islami’ Category

Alternatif Permodalan untuk Kegiatan Mudhorobah (Kerjasama Bagi Hasil/Rugi)

Posted by dnux on May 8, 2012

Bolehkah mudhorib mendhorobahkan uang shahibul mal ? atau Bolehkan pengelola menginvestasikan uang pemodal kepada orang lain ?

Mudhorobah (Kerjasama Bagi Hasil/Rugi) adalah aqad mengikat antara pemodal dengan pengelola untuk kegiatan bisnis tertentu baik itu perdagangan ataupun untuk usaha produktif lainnya seperti peternakan, industri dan lain sebagainya dengan ketentuan bagi untung ruginya antar kedua belah pihak

Mudhorobah sangat bermanfaat bagi pihak pengelola – yang tidak punya atau kekurangan dana untuk menjalankan atau mengekspansi usahanya – ataupun bagi mereka yang memiliki uang namun tidak pandai dalam menjalankannya.

Prinsip berbisnis : Bila usaha rugi terus jangan diulang2 lagi, lebih baik diinvestasikan ke mereka yang usahanya untung terus namun kekurangan modal itung-itung disamping mendapat keuntungan bagi hasil dapat pula untuk mempelajari bagaimana cara mengelola usaha supaya untung terus

KETAQWAAN DALAM MENCARI MODAL USAHA

Pengusaha yang bertaqwa dan peduli darimana sumber hartanya tentu akan berhati-hati dalam memilih sumber modal. Mereka tidak akan mencari sumber dana dengan cara berhutang ribawi yang tidak peduli bagaimana keadaan bisnis berjalan yang penting penghutang dapat untung sekian persen dari yang disepakti. Pengusaha yang bertaqwa akan mencari sumber modal yang mau diajak bagi hasil atau bagi rugi. Mereka tidak akan resah karena setiap dia tahu setiap usaha yang dijalani dengan berhati-hati tetap saja mengandung potensi rugi

1. MODAL DARI SATU ORANG PEMODAL 

Untuk kegiatan yang sederhana dan tidak membutuhkan modal banyak seorang pengusaha bisa saja mendapatkan dana dari seorang pemodal lalu membuat aqad modhorobah.

2. MENCARI PEMODAL TERPISAH UNTUK SETIAP ITEM KEGIATAN

Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, ekonomi islam, kapitalisme | Leave a Comment »

Tidak jelasnya hukum syara tentang menabung di Bank Syariah !!!

Posted by dnux on January 31, 2012

Hehehe … provokatif banget judulnya. Tapi memang begitu, jangan menabung di bank syariah sampai anda tahu benar makna tabungan atau menabung itu sendiri. Kalau menabung di celengan rumah atau di bawah bantal sudah jelas, yaitu menaruh di tempat kita sendiri, tidak melibatkan orang lainnya sehingga tidak masuk dalam cakupan istilah muamalah. Kalau menabung di bank Ribawi yang dengan bunga, tentu gak usah dibahas panjang lebar disini, cukup satu kata : Haram ! (yang ngotot halal ya silahkan saja mempertanggung-jawabkan pendapatnya tersebut di hari kiamat) [ notes : saya garis bawahi kemudian di bold kata2 “yang dengan bunga”, sebab ternyata ada Bank Ribawi yang bisa menghapuskan item riba, untuk detailnya tanyakan pada CS bank tsb apakah bisa menghapus item riba-nya]

Sedangkan “menabung” di bank itu tentu melibatkan pihak kedua yaitu bank itu sendiri sehingga terkategori sebagai aktivitas muamalah. Dalam muamalah harus jelas hukumnya, apakah menabung di bank masuk kategori (1) menitipkan uang ke Bank ? atau (2) meminjamkan uang kepada Bank ? atau (3)  menghutangi si Bank ? atau  (4) menginvestasikan uang untuk diolah bank tersebut ?

Semisal seorang laki dan wanita berumah tangga, harus jelas apakah aktivitas ber-rumah tangga itu merupakan nikah atau sekedar kumpul kebo. Jadi istilah berumah tangga itu sendiri harus jelas aktivitasnya, karena beda aktivitas tentu beda konsukuensinya.

Demikian pula dalam “menabung”, konsukuensi (hak/kewajiban) antara menitipkan tentu berbeda dengan menghutangi. Barangkali diantara kita ada yang berkata : “kan sama saja, yang penting naruh uang lalu kembali sejumlah itu + keuntungannya”. Ya, ini adalah akibat dari pemikiran yang tidak tahu atau tidak peduli bagaimana Syariat Islam mengatur masalah muamalah, karena walupun sama-sama menghasilkan anak yang membahagiaan rumah tangga, namun nikah dan kumpul kebo tentu beda hukum dan konsukuensi di dunia dan di akherat.

Tulisan ringkas ini mencoba menyajikan mendetailkan makna terselubung dari istilah menabung serta sedikit menyajikan konsukuensi dari beberapa hukum muamalah yang biasanya dianggap orang masuk dalam pengertian menabung :

1.    Menitipkan

Dalam fiqh, akad mentipkan disebut sebagai akad Wadi’ah yaitu “Akad yang dilaksanakan untuk menjaga sesuatu yang dititipkan”. Akad ini pada dasarnya adalah akad tolong menolong, bukan akad imbal jasa dengan upah (ijaroh)

Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, ekonomi islam, kapitalisme, pencerahan | 3 Comments »

Renungan : Hukum Membuat, Menjual dan Membagikan eBook Bajakan

Posted by dnux on November 30, 2011

Artikel ini saya beri judul renungan dan bukan kajian ataupun dengan langsung menuliskan hukum membagikan eBook bajakan sebab diri saya tentu masih jauh dari kelayakan untuk menilai hukum sesuatu. Setidaknya ini adalah buah pemikiran saya dari pemahaman pemahaman yang sementara ini saya ketahui.

eBook dan keunggulannya

eBook (Buku elektronik) atau buku digital adalah versi elektronik dari sebuah buku, baik yang ada versi cetaknya (printed book) ataupun yang mungkin memang tidak ada versi cetaknya. Terdapat berbagai format buku elektronik yang populer, antara lain adalah txt, doc , ppt, chm, bok, lit, pdf,  jpeg, html dan lain sebagainya. Koran-koran dan majalah pun saat ini juga berpacu membuat epaper baik yang online ataupun yang bisa di download baik secara gratis maupun langganan.

Beberapa keunggulan eBook dibandingkang dengan printed book :

  1. lebih mudah untuk memperoleh dan mendistribusikannya. eBook dapat dicopy dari computer ataupun di download dari sebuah situs, dikirim dari email dsb. Bandingkan dengan printed book yang harus dibeli atau dipinjam dan memakan waktu untuk mengambil/mengirimkannya
  2. lebih mudah menyimpannya. Sebuah flashdisk 4Gb bisa menampung ribuan buku yang dalam edisi printed tidak cukup apabila ditampung di sebuah lemari buku standard
  3. mudah untuk dipresentasikan. eBook bisa ditampilkan di LCD proyektor untuk dibaca dan direview bersama-sama
  4. (jauh) lebih murah. Satu DVD maktabah syamilah dengah harga puluhan ribu rupiah jauh lebih murah diandingkan dengan beli semua buku yand ada didalamnya yang disamping mahal mungkin printed booknya tidak tersedia di pasar
  5. ramah lingkungan. printed book tentu dibuat dari kertas yang berasal dari pohon yang menyumbangkan oksigen dan mengurangi karbondioksida, mengurangi jumlah printed book berarti membantu kelestarian alam
  6. Awet. Ebook bisa bertahan puluhan atau mungkin ratusan tahun selama dia tetap tersimpan dalam media simpan elektronik dan terus dipelihara agar tidak corrupt dengan jalan membuat backup dan lain sebagainya.

dari semua keunggulan diatas, printed book masih memiliki keunggulan diantaranya alami dipandang mata, tidak mudah lelah membacanya dibandingkan dengan apabila membaca eBook terus menerus dari komputer yang beradiasi.

eBook juga berimplikasi pada keunggulan lain yaitu mendorong distribusi pengetahuan (knowledge) yang lebih cepat dan luas. Seorang knowledge worker akan bisa mengakuisisi pengetahuan lebih cepat, demikian juga seorang pembelajar bisa mendapatkan pengetahuan baru dengan lebih cepat untuk kemudian mensitesa pengetahuan baru dari pengetahuan yang telah dia miliki sebelumnya.

Namun harus dicatat bahwa mudahnya mendapatkan sumber pengetahuan baik melalaui eBook ataupun printed book,  bisa berimplikasi pada kesalahan dalam memahami ilmu dari pembacanya sebab mempelajari sebuah ilmu yang tepat haruslah dengan coaching dari expert dan tidak bisa dengan membaca sendiri. Sebagaimana imam Syafii yang meski sudah hafal muwatho namun beliau tetap mendatangi Imam Malik untuk belajar langsung darinya.

Ungkapan arab mengatakan :  من لا شيخ له ، فشيخه الشيطان Artinya “barang siapa (yang belajar) tanpa guru maka gurunya adalah syaitan”. Maknanya tentu bukan secara letterleks bahwa seorang yang belajar tanpa guru berarti dia belajar dari syaitan. Makna ungkapan diatas bermakna mengadung aspek agar waspada sebab sorang pembelajar bisa salah dalam memahami buku itu apabila tanpa dibimbing oleh mereka yang mengerti benar makna dan maksud buku itu. Seorang pembelajar apabila tidak dibimbing maka cukup menjadikan buku yang dia baca tersebut sebagai maklumat awal ataupun resource informasi saja. Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, ekonomi islam, kapitalisme, liberalisme | 12 Comments »

Amil Zakat Dhoruri

Posted by dnux on August 23, 2011

Amil Zakat biasanya kita deskripsikan sebagai petugas yang ditunjuk masjid atau lembaga zakat untuk menerima dan membagikan zakat serta mendapat bagian dari zakat tersebut. Benarkah penafsiran tersebut ? Demikian juga ada beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta yang membentuk Lembaga Amil Zakat, apakah benar mereka bisa disebut amil Zakat ?

Amil zakat yang biasa kita kenal pada masa sekarang ini walaupun secara fungsi ada kesamaanya, namun bukanlah amil zakat yang dimaksudkan dalam Al-Quran Surat At-Taubah:60 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ‘amil-amil zakat ….”.

Menurut Mu’jam Lughatil Fuqoha – karya Dr. Rawwas Qal’ahji , ‘Amil memiliki makna “Seseorang yang diberi mandat oleh Amirul Mu’minin untuk memimpin suatu wilayah” dengan sinonim bahasa inggris sama dengan “ruler” alias penguasa. Sedangkan Amil Shodaqoh (Zakat) maknanya adalah “Seseorang yang diberi mandat oleh imam (kepala negara Islam) untuk menarik shodaqoh yang tampak”. Dalam Fiqh ‘Alaa Madzahib ‘Arbaah karya Syaikh Al-Jazairy disebutkan juga definisi Amil Zakat menurut madhzab Hanafi adalah “seseorang yang ditunjuk imam untuk menarik zakat dan usyur serta mengambil bagian dari apa yang diperolehnya”

Dari beberapa definisi di atas maka Amil Zakat dalam prespektif fiqh Islam adalah sebuah jabatan resmi pemerintahan dengan tugas untuk menarik, mengumpulkan dan membagi zakat dan memiliki hak untuk mendapatkan bagian zakat atas jerih payahnya itu. Lebih tepatnya lagi, amil zakat merupakan jabatan struktural dalam sistem pemerintahan Islam. ‘Alamah Syaikh Taqyuddin An-Nabhani dalam Nidzom Hukum fil Islam menempatkan Amil sebagai penguasa Imalat (kabupaten) dibawah Wali yaitu pemimpin Wilayah (propinsi) dimana wali berada dibawah Khalifah. Dalam pelaksanaan pemerintahannya Wali dikontrol oleh Majelis Wiyalah. Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, darul islam, darul kufur, puasa, zakat | 3 Comments »

Celakalah Para Penunggak Zakat

Posted by dnux on August 12, 2011

Tidak Mebayar Zakat ? Apa kata Akhirat ?

Zakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Di dalam Al-Quran terdapat 32 ayat tentang zakat, dimana 28 ayat diantaranya kata zakat selalu digandengkan dengan kata sholat.[1] Zakat adalah termasuk tiang dari agama Islam sebagaimana disabdakan Baginda SAW : “Islam dibangun atas 5 perkara yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji” (Al-Hadits). Perintah zakat juga diberikan Allah SWT kepada umat terdahulu setidahknya kepada Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang tertulis di dalam Taurat dan Injil.

Zakat adalah ibadah maliyah (harta) dimana Allah SWT memang tidak hanya memerintahkan manusia untuk beribadah badaniah saja namun juga beribadah maliyah. Manusia tidak hanya dituntut untuk meluangkan waktu dan tenaga dalam beribadah kepada-Nya, namun juga dituntut untuk meluangkan hartanya untuk beribadah kepada-Nya yaitu dengan membayar Zakat dan kewajiban harta lainnya semisal fidyah, dam haji, dan dhoribah (pajak).  Imam Thobrusi dalam Majma’ul Bayan Fii Tafsir Quran dalam menafsirkan ayat “kami tidak memberi makan orang miskin” (QS Mudatsir 44) beliau memaknainya dengan tidak membayar zakat atau kafarat puasa

Salah satu hikmah dari Zakat adalah untuk membersihkan harta dan hati manusia.

Read the rest of this entry »

Posted in akhlaq, bisnis islami, zakat | Leave a Comment »

Syarat Marhun (Barang yang digadaikan)

Posted by dnux on July 25, 2011

Gadai/Rahn adalah aqad yang dimaksudkan untuk menguatkan dan menjamin pelunasan hutang[1]

Rukun gadai:

  1. aqidaani – dua pihak yang bersepakat yakni raahin (pemilik barang) dan murtahin (orang yang diserahi barang)
  2. marhun – barang yang digadaikan
  3. marhun bih ­ – obyek yang dijamin dengan gadai, dalam hal ini adalah hutang
  4. shighat & ijab qobul

diantara syarat sahnya marhun :

  1. Marhun itu harus wujud dan diserahkan ketika terjadi hutang (memenuhi syarat qobidh), sebagaimana yang dimaksud dalam QS 2:283 : “ dan bila kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak memperoleh juru tulis maka hendaklah ada barang tanggungan/gadaian yang dipegang (farihaanun maqudhoh)”
  2. Marhun diserahkan kepada murtahin (orang yang menerima gadai) atau oleh wakilnya[2], dengan dalil yang sama dengan ayat diatas “barang dagangan yang dipegang” yakni dipegang oleh pemberi hutang atau wakilnya. Bila benda tersebut merupakan benda tetap (bukan benda bergerak), maka penyerahannya adalah dengan menyerahkan bukti kepemilikan seperti sertifikat dll
  3. Marhun harus bisa dijual sebagai konsukuensi bila hutang tidak dilunasi hingga waktu yang diaqadkan. Karena itu maka marhun harus memenuhi syarat-syarat benda itu bisa dijual :
    1. miliknya sendiri, atau milik orang lain yang diperbolehkan untuk dijual ketentuan “walaa tabi’ maa laisa ‘indak”  atau “dan jangan kalian menjual barang yang bukan milik kalian”
    2. harus benda yang suci dan bisa dimanfaatkan, bukan barang yang haram dst

Pembahasan: Kredit mobil/rumah dengan jaminan/gadaian sertifikat mobil/rumah tersebut

  1. Untuk  benda bergerak (mobil) maka tidak boleh ada alasan menjaminkan sertifikat. Penyerahan sertifikat hanya berlaku untuk benda benda yang tidak bergerak seperti tanah, rumah, pabrik dsb
  2. Demikian juga marhun berupa benda bergerak yang bisa dipindahkan harusnya bukan dipegang oleh penerima gadai (murtahin), bukan masih digunakan oleh penggadai sehingga menyebabkan mobil itu rusak sehingga apabila dijual berkuranglah nilainya dan tidak cukup untuk menutupi hutang, sehingga hilanglah fungsi dan tujuan gadai sebagai mekanisme penjaminan pelunasan hutang
  3. Mobil tersebut juga masih belum sepenuhnya milik pembeli sehingga tidak bisa dijual kepada orang lain kecuali dengan setelah dilunasi hutang pembeliannya. Dengan kata lain, mobil tersebut baru bisa dikatakan milik sepenuhnya ketika semua hutang sudah dilunasi

Asuransi Mobil vs Jaminan Sertifikat ? Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, ekonomi islam, kapitalisme | Leave a Comment »

Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah

Posted by dnux on March 31, 2011

lebih lengkapnya judul artikel ini adalah : Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah. Kalau melalui Bank Konvensional (dengan mekanisme seperti skarang ini), tentu tidak ragu lagi kalau itu batil sehingga haram untuk dilakukan

Ada 5 keraguan saya terhadap praktek kredit mobil melalui bank Syariah yang saya alami dan setelah direview ternyata bisa jadi aqad jual beli yang saya lakukan itu statusnya ternyata batil ataupun fasad. Tulisan ini bukan untuk menimbulkan keragua-raguan pada bank syariah apalagi kemudian dianggap menghambat perkembangan bank Syariah apalagi dikatakan mendorong masyarakat kembali ke bank ribawi, naudzubillah. Semangat dari tulisan ini adalah untuk sama sama jeli dalam melakukan aqad sehingga sebagai pribadi kita bisa melakukan aqad yang sesuai tuntunan syariat khususnya dalam masalah kredit mobil atau yang lainnya. Bagi bank syariah sendiri apabila ada kebenaran dalam tulisan saya maka tidak ada salahnya untuk mengkoreksi diri.

Sebuah aqad akan bernilai sah bila memenuhi rukun dan syarat wajib dalam jual beli sebaliknya bila ada pelanggaran pada rukun dan/atau syarat wajib jual beli maka aqad tersebut bernilai batil dan tidak boleh dilakukan sama sekali. Apabila ada cacat pada syarat yang tidak wajib maka akan tersebut menjadi fasad dan harus dibenahi agar akad tersebut bernilai sah dimata hukum syara.

Contoh sederhananya adalah nikah. Nikah sah bila ada mempelai lelaki & wanita, dua orang saksi serta wali dari mempelai wanita. Nikah menjadi batal bila tidak ada wali ataupun kekurangan saksi, status pernikahannya tidak sah di mata syariat. Adanaya wali walaupun sah namun bila wali itu tidak terkategori wali mujbir sesuai urutan seperti paman lelaki padahal ayah kandungnya masih sehat dan tidak berhalangan serta tidak meminta diwakilkan maka ini adalah akad nikah yang sah namun fasad dan harus diulang ijab qobulnya dengan menghadirkan si ayah tersebut.

Rukun dari Akad Jual Beli adalah :

  1. Adanya penjual dan pembeli
  2. Adanya barang yang dijual / dibeli
  3. Adanya redaksional (sighat) aqad yang dikuatkan dengan ijab qobul

Beberapa ulama menambahkan harga sebagai bagian dari rukun, yang lainnya tidak. Bahkan dalam madzhab hanafi yang menganggap sighat aqad sebagai satu satunya rukun jual beli.

Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, ekonomi islam, kapitalisme, krisis ekonomi, liberalisme | 15 Comments »

Peran Survey dalam Bisnis Islami

Posted by dnux on January 18, 2011

Imam Ali KW(*1) mengkategorikan manusia ke dalam tiga kelompok. Pertama, manusia yang merugi adalah mereka yang keadaanya pada hari ini sama dengan keadaanya pada hari kemaren, alias tidak ada kemajuan. Kedua, manusia yang celaka (lebih buruk dari merugi) adalah mereka yang nkeadaan hari ini justru lebih buruk daripada hari sebelumnya. Ketiga, manusia yang beruntung adalah mereka yang keadaanya setiap saat selalu lebih baik dari sebelumnya yaitu mereka yang selakukan melakukan peningkatan pada setiap aspeknya, baik dalam aspek aqidah, ibadah maupun juga dalam aspek bisnis dan lain sebagainya.

Agar kita tidak merugi (apalagi celaka), maka kita harus selalu melihat keadaan saat ini, saat sebelumnya dan kecenderungan/ forecasting keadaan masa mendatang yaitu apakah kegiatan kita berjalan lurus, naik atau bahkan turun. Membandingkan dengan masa lalu tentu adalah hala yang mudah, namun bagaimana untuk membentuk jalan yang terus menanjak naik ? Hal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan improvisasi kegiatan itu sendiri baik berupa peningkatan kapasitas, efisiensi, extensi, difersifikasi dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui dan terjun dalam menangkap peluang ke depan, maka salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan survey. Survey itu sendiri tidak hanya perlu dilakukan pada saat awal perencanaan bisnis, namun juga harus dilakukan secara berkala setidaknya setahun sekali untuk memonitor apakah bisnis berjalan sesuai rencana atau tidak, seperti pada hal hal berikut :

  1. Survey untuk menentukan jesnis produk barang/jasa di lokasi tertentu
  2. Survey untuk menentukan lokasi yang paling sesuai untuk usaha tertentu
  3. Customer Survey atau seperti survey kepuasan pelanggan terhadap kualitas service, produk, dsb
  4. Employee Survey atau Survey internal karyawan seperti fungsi management, gaji, suasana kerja dsb
  5. Survey kecenderungan/trend pasar

Survey bisa dilakukan secara oleh satu pihak semisal oleh seorang planner saja (dengan melibatkan tim-nya), namun lebih baik lagi bila survey itu melibatkan pihak lain baik itu pelanggan, rekanan, karyawan ataupun kepada tetangga disekitar lokasi bisnis baik itu pebisnis atau bukan. Bagi pebisnis berpengalaman bisa saja tidak melakukan survey, namun cukup mengikuti pengamatan dan instinct bisnisnya. Namun tidak ada salahnya bila survey tetap dilakukan dan hasilnya menjadi bahan pertimbangan bisnis, sebab semakin banyak pihak dilibatkan dalam mencari informasi maka berita akan semakin banyak dan semakin obyektif dalam menentukan perencanaan bisnis.

Dalam kisah disebutkan bahwa sahabat Abdurrahman bin Auf ketika sampai di Madinah (Yatsrib) cukup meminta ditunjukkan letak pasar lalu beliau dalam waktu singkat bisa segera menjadi pedagang besar di Madinah. Dalam peperangan pun Rasulullah SAW sering mengirimkan utusan/sariyah dulu untuk mensurvey pasukan lawan dan juga mensurvey tempat paling cocok sebagai basis pertahanan dan lain sebagainya.

Rambu rambu syariat terkait pelaksanaan survey:

  1. Survey harus dilakukan dengan jujur, baik konten ataupun penyajian hasilnya. Jangan dimanipulasi dengan membumbu bumbui hasil survey untuk manisnya iklan. Karena memanipulasi informasi walaupun bisa melariskan dagangan namun disamping pada akhirnya akan merugikan diri sendiri juga merupakan dosa yang sangat besar. dari sahabat Abi Bakrah : Rasulullah s.a.w. bersabda: Maukah kalian aku beritahukan tentang sebesar-besar dosa besar? Kami menjawab: Sudah tentu ya Rasulullah. Baginda bersabda: Menyekutukan (syirik) Allah dan menderhakai kedua ibu bapa dan sumpah palsu. Waktu itu baginda sedang bersandar lalu baginda duduk dan bersabda: Ingatlah (juga dosa yang sangat besar ialah) perkataan palsu dan sumpah palsu. Baginda tidak henti-henti mengulanginya sehinggalah kami berkata: Alangkah baik kalau baginda berhenti (diam dan tidak mengulanginya lagi). (HR Bukhari dan Muslim)
  2. Survey dilakukan bukan untuk tujuan buruk seperti menjatuhkan lawan bisnis dengan cara menyebarkan aib internal. Survey harus dilakukan untuk kompetisi pasar yang sehat. “Pemasaran digunakan bukan untuk mendapat untung sebesar2nya, tetapi untuk membantu orang lain mendapatkan kebutuhannya.” demikian kata Philip Kotler, salah seorang marketer kelas dunia saat ini. RAsulullah bersabda : Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. (HR Muslim)
  3. Survey tidak dilakukan dengan cara cara memata matai (tajasus) aktivitas “lawan” bisnis, namun dilakukan terhadap hal hal yang tampak. Sesama muslim harus saling bersaudara. Bila ingin mengetahui sesuatu yang baik atau buruk dari saudaranya maka hendaknya di dialogkan langsung dengan saudaranya tanpa memata matai. Bila memang ada kecurigaan maka boleh saja melaporkan dugaan kepada pemerintah untuk diselidiki, namun tidak memata matai langsung. Jauh jauh hari Rasulullah SAW juga berpesan : “Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka itu.” (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban) Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda:”Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keraguraguan terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka.” (Riwayat Abu Daud).

Demikianlah sekilas tentang survey dan penetrasi pasar. Karenanya pebinsis rindu syariah sekalian jangan lupa untuk melakukan survey pada setiap aspek bisnisnya agar tidak menjadi orang yang merugi dan terus menjadi pebisnis yang sukses dunia akherat dengan selalu menjaga aspek ikhlas dan benar sesuai syara.

Wallahu’alam

*1) tarjih hadits : http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=90659

Posted in bisnis islami, ekonomi islam, kapitalisme | Leave a Comment »