Hukum Mudharabah. Bolehkah Pengelola menginvestasikan Modal (dari Pemodal) ke Pengelola yang Lain ?

Mudharabah atau Qiradh atau kerjasama bagi hasil (untung rugi) adalah akad dimana X (pemodal atau sahibul-mal) menyerahkan sejumlah harta (uang/ barang) kepada Y untuk digunakan sebagai modal untuk kegiatan usaha-nya Y (pengelola atau mudharib). Besarnya keuntungan yang didapatkan dari usaha tersebut nantinya akan dibagi antara X dan Y berdasarkan persentase (nisbah) yang telah disepakati.

Hukum Mudharabah adalah mubah alias boleh. Kebolehan tersebut bukan disebabkan semata karena tidak adanya larangan, namun praktek tersebut juga dijalankah oleh Muhammad SAW sebelum Beliau diangkat menjadi Nabi/Rasul yakni ketika Beliau menjadi mudharib (pengelola) barang dagangan dari Bunda Khadijah RA untuk berdagang ke Syam. Demikian juga pada masa kenabiannya SAW, praktek mudharabah juga masih terus dijalankan oleh para sahabat termasuk diantaranya oleh Abbas RA.

Yang ingin diketahui dari artikel ini adalah : apakah Syara membolehkan seorang pengelola menyerahkan harta penodal kepada orang lain untuk dikelola dan dia mendapatkan bagian dari pengelolaan orang lain tersebut ?

Continue reading

Advertisements

Apakah Haram Membayar Transaksi GoJek dengan menggunakan GoPay ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah. Beberapa bulan terakhir ini umat Islam Indonesia sedang ramai membahas tentang hukum GoJek dan juga aplikasi Go-Pay. Perbincangan dan perbedaan pendapat tentu adalah hal yang lumrah dan patut disyukuri karena juga merupakan indikasi semakin sadarnya umat Islam Indonesia untuk selalu menyandarkan setiap aktivitiasnya dengan perintah dan larangan Allah SWT.

GoJek saat ini merupakan sebuah terobosan teknologi yang membantu masyarakat untuk bermuamalah melalui handphone (hp) berbasis aplikasi android dll. Masyarakat selama 24 jam bisa memesan ojek online, memesan makanan, membeli obat dll via aplikasi GoJek selama ada ojek/pengemudi di sekitar area-nya. GoJek pun juga memanfaatkan perkembangan eMoney (uang elektronik) dengan menyediakan sarana Go-Pay yang penjelasannya bisa dibaca di website https://www.GoJek.com/go-pay/ . Go-Pay saat ini (per 6 Oktober 2017) menyediakan fasilitas layanan antara lain : (1) Top-Up atau isi ulang saldo ke aku GoJek-nya melalui transfer dari bank dll (2) Pembayaran transaksi GoJek termasuk pula transaksi -transaksi lainnya yang tersedia semisal Go-Car, Go-Food dll (3) Transfer Dana ke akun/rekenik GoJek lainnya. (4) Penarikan Tunai dari Akun GO-PAY melalui bank pelanggan yang didaftarkan di GoJek (5 )dll

Setelah penulis membaca-baca perbedaan pendapat terkait boleh tidaknya membayar transaksi GoJek dengan menggunakan GoPay, maka penulis menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh dua faktor yakni :

  1. Perbedaan pendapat terkait diskon atau selisih harga antara pembayaran GoPay yang lebih murah bila dibandingkan dengan pembayaran tunai fisik (memberi uang langsung ke pengemudi GoJek). Misalnya transaksi Go-Car dari Gambir ke Pondok Indah bila dibayar langsung tunai fisik ke pengemudi adalah Rp 55.000,- sedangkan bila menggunakan debet GoPay adalah Rp 45.000,- yakni lebih murah Rp 10.000,- dibandingkan dengan membayar duit fisik
  2. Perbedaan pendapat terkait akad TopUp Deposit GoPay apakah berupa akad Wadiah (penitipan) ? atau akad Hutang ? atau akad Ujrah ? atau akad Salam dll …

Continue reading

Why did Allah SWT allow trade and prohibit riba (interest) ?

by Dwi P. Nugroho, 5th July 2017

Allah created Human as a social being. Allah creates Eve since Adam can not live alone and he need a friends or partners to live. No one can do everything from planting rice, vegetables, fruits to fulfill his needs. Human can not build their house except live in caves. Human can not protect their self from robberies thieves etc. They need to join and interact with others to get their need by trading or barter and by hiring others to do things that they can not handle.

A community will sustain as long it members live in harmony and not conflicting each other. Every community’s member should put their effort to sustain the community by making others enjoy to living with them. Community will appoint a leader to lead the community and becomes a judge to solve disputes among them. Set of rules will be used to justify which activities are allowed and which are not. A leader also appointed to prevent other oppress others in the community

It is natural if anyone want to be rich and to enjoy good and luxuries things and they need more money to able to to that. But sometimes this temptation prompting greedy. There will be people who want more money but with less effort. They will find easiest and shortest way to increase their wealth even with unfair stealing, robbing, cheating, corrupting and else.

But in some condition, those unfair activities are considered legal/ normal in a community depends on the law in the community it self. If the written law said it is allowed (example : to takes small item from others) so that activities are legal to be practiced such as the bank loan with interest and alcohol trading.

Islamic community established based on the Islamic principles. The communities’ values are Islamic values and the communities’ law are Islamic laws. One of the Islamic value and thus an Islamic law are prohibition of the Riba (interest).

Literally riba is increase or growth (ziyadah). Allah SWT said in Surah Rum (30):39 “Whatever you pay as interest so that it may increase (li yarbu) the wealth of people does not increase (fa la yarbu) in the sight of Allah”.

Continue reading

Alternatif Permodalan untuk Kegiatan Mudhorobah (Kerjasama Bagi Hasil/Rugi)

Bolehkah mudhorib mendhorobahkan uang shahibul mal ? atau Bolehkan pengelola menginvestasikan uang pemodal kepada orang lain ?

Mudhorobah (Kerjasama Bagi Hasil/Rugi) adalah aqad mengikat antara pemodal dengan pengelola untuk kegiatan bisnis tertentu baik itu perdagangan ataupun untuk usaha produktif lainnya seperti peternakan, industri dan lain sebagainya dengan ketentuan bagi untung ruginya antar kedua belah pihak

Mudhorobah sangat bermanfaat bagi pihak pengelola – yang tidak punya atau kekurangan dana untuk menjalankan atau mengekspansi usahanya – ataupun bagi mereka yang memiliki uang namun tidak pandai dalam menjalankannya.

Prinsip berbisnis : Bila usaha rugi terus jangan diulang2 lagi, lebih baik diinvestasikan ke mereka yang usahanya untung terus namun kekurangan modal itung-itung disamping mendapat keuntungan bagi hasil dapat pula untuk mempelajari bagaimana cara mengelola usaha supaya untung terus

KETAQWAAN DALAM MENCARI MODAL USAHA

Pengusaha yang bertaqwa dan peduli darimana sumber hartanya tentu akan berhati-hati dalam memilih sumber modal. Mereka tidak akan mencari sumber dana dengan cara berhutang ribawi yang tidak peduli bagaimana keadaan bisnis berjalan yang penting penghutang dapat untung sekian persen dari yang disepakti. Pengusaha yang bertaqwa akan mencari sumber modal yang mau diajak bagi hasil atau bagi rugi. Mereka tidak akan resah karena setiap dia tahu setiap usaha yang dijalani dengan berhati-hati tetap saja mengandung potensi rugi

1. MODAL DARI SATU ORANG PEMODAL 

Untuk kegiatan yang sederhana dan tidak membutuhkan modal banyak seorang pengusaha bisa saja mendapatkan dana dari seorang pemodal lalu membuat aqad modhorobah.

2. MENCARI PEMODAL TERPISAH UNTUK SETIAP ITEM KEGIATAN

Continue reading

Tidak jelasnya hukum syara tentang menabung di Bank Syariah !!!

Hehehe … provokatif banget judulnya. Tapi memang begitu, jangan menabung di bank syariah sampai anda tahu benar makna tabungan atau menabung itu sendiri. Kalau menabung di celengan rumah atau di bawah bantal sudah jelas, yaitu menaruh di tempat kita sendiri, tidak melibatkan orang lainnya sehingga tidak masuk dalam cakupan istilah muamalah. Kalau menabung di bank Ribawi yang dengan bunga, tentu gak usah dibahas panjang lebar disini, cukup satu kata : Haram ! (yang ngotot halal ya silahkan saja mempertanggung-jawabkan pendapatnya tersebut di hari kiamat) [ notes : saya garis bawahi kemudian di bold kata2 “yang dengan bunga”, sebab ternyata ada Bank Ribawi yang bisa menghapuskan item riba, untuk detailnya tanyakan pada CS bank tsb apakah bisa menghapus item riba-nya]

Sedangkan “menabung” di bank itu tentu melibatkan pihak kedua yaitu bank itu sendiri sehingga terkategori sebagai aktivitas muamalah. Dalam muamalah harus jelas hukumnya, apakah menabung di bank masuk kategori (1) menitipkan uang ke Bank ? atau (2) meminjamkan uang kepada Bank ? atau (3)  menghutangi si Bank ? atau  (4) menginvestasikan uang untuk diolah bank tersebut ?

Semisal seorang laki dan wanita berumah tangga, harus jelas apakah aktivitas ber-rumah tangga itu merupakan nikah atau sekedar kumpul kebo. Jadi istilah berumah tangga itu sendiri harus jelas aktivitasnya, karena beda aktivitas tentu beda konsukuensinya.

Demikian pula dalam “menabung”, konsukuensi (hak/kewajiban) antara menitipkan tentu berbeda dengan menghutangi. Barangkali diantara kita ada yang berkata : “kan sama saja, yang penting naruh uang lalu kembali sejumlah itu + keuntungannya”. Ya, ini adalah akibat dari pemikiran yang tidak tahu atau tidak peduli bagaimana Syariat Islam mengatur masalah muamalah, karena walupun sama-sama menghasilkan anak yang membahagiaan rumah tangga, namun nikah dan kumpul kebo tentu beda hukum dan konsukuensi di dunia dan di akherat.

Tulisan ringkas ini mencoba menyajikan mendetailkan makna terselubung dari istilah menabung serta sedikit menyajikan konsukuensi dari beberapa hukum muamalah yang biasanya dianggap orang masuk dalam pengertian menabung :

1.    Menitipkan

Dalam fiqh, akad mentipkan disebut sebagai akad Wadi’ah yaitu “Akad yang dilaksanakan untuk menjaga sesuatu yang dititipkan”. Akad ini pada dasarnya adalah akad tolong menolong, bukan akad imbal jasa dengan upah (ijaroh)

Continue reading

Renungan : Hukum Membuat, Menjual dan Membagikan eBook Bajakan

Artikel ini saya beri judul renungan dan bukan kajian ataupun dengan langsung menuliskan hukum membagikan eBook bajakan sebab diri saya tentu masih jauh dari kelayakan untuk menilai hukum sesuatu. Setidaknya ini adalah buah pemikiran saya dari pemahaman pemahaman yang sementara ini saya ketahui.

eBook dan keunggulannya

eBook (Buku elektronik) atau buku digital adalah versi elektronik dari sebuah buku, baik yang ada versi cetaknya (printed book) ataupun yang mungkin memang tidak ada versi cetaknya. Terdapat berbagai format buku elektronik yang populer, antara lain adalah txt, doc , ppt, chm, bok, lit, pdf,  jpeg, html dan lain sebagainya. Koran-koran dan majalah pun saat ini juga berpacu membuat epaper baik yang online ataupun yang bisa di download baik secara gratis maupun langganan.

Beberapa keunggulan eBook dibandingkang dengan printed book :

  1. lebih mudah untuk memperoleh dan mendistribusikannya. eBook dapat dicopy dari computer ataupun di download dari sebuah situs, dikirim dari email dsb. Bandingkan dengan printed book yang harus dibeli atau dipinjam dan memakan waktu untuk mengambil/mengirimkannya
  2. lebih mudah menyimpannya. Sebuah flashdisk 4Gb bisa menampung ribuan buku yang dalam edisi printed tidak cukup apabila ditampung di sebuah lemari buku standard
  3. mudah untuk dipresentasikan. eBook bisa ditampilkan di LCD proyektor untuk dibaca dan direview bersama-sama
  4. (jauh) lebih murah. Satu DVD maktabah syamilah dengah harga puluhan ribu rupiah jauh lebih murah diandingkan dengan beli semua buku yand ada didalamnya yang disamping mahal mungkin printed booknya tidak tersedia di pasar
  5. ramah lingkungan. printed book tentu dibuat dari kertas yang berasal dari pohon yang menyumbangkan oksigen dan mengurangi karbondioksida, mengurangi jumlah printed book berarti membantu kelestarian alam
  6. Awet. Ebook bisa bertahan puluhan atau mungkin ratusan tahun selama dia tetap tersimpan dalam media simpan elektronik dan terus dipelihara agar tidak corrupt dengan jalan membuat backup dan lain sebagainya.

dari semua keunggulan diatas, printed book masih memiliki keunggulan diantaranya alami dipandang mata, tidak mudah lelah membacanya dibandingkan dengan apabila membaca eBook terus menerus dari komputer yang beradiasi.

eBook juga berimplikasi pada keunggulan lain yaitu mendorong distribusi pengetahuan (knowledge) yang lebih cepat dan luas. Seorang knowledge worker akan bisa mengakuisisi pengetahuan lebih cepat, demikian juga seorang pembelajar bisa mendapatkan pengetahuan baru dengan lebih cepat untuk kemudian mensitesa pengetahuan baru dari pengetahuan yang telah dia miliki sebelumnya.

Namun harus dicatat bahwa mudahnya mendapatkan sumber pengetahuan baik melalaui eBook ataupun printed book,  bisa berimplikasi pada kesalahan dalam memahami ilmu dari pembacanya sebab mempelajari sebuah ilmu yang tepat haruslah dengan coaching dari expert dan tidak bisa dengan membaca sendiri. Sebagaimana imam Syafii yang meski sudah hafal muwatho namun beliau tetap mendatangi Imam Malik untuk belajar langsung darinya.

Ungkapan arab mengatakan :  من لا شيخ له ، فشيخه الشيطان Artinya “barang siapa (yang belajar) tanpa guru maka gurunya adalah syaitan”. Maknanya tentu bukan secara letterleks bahwa seorang yang belajar tanpa guru berarti dia belajar dari syaitan. Makna ungkapan diatas bermakna mengadung aspek agar waspada sebab sorang pembelajar bisa salah dalam memahami buku itu apabila tanpa dibimbing oleh mereka yang mengerti benar makna dan maksud buku itu. Seorang pembelajar apabila tidak dibimbing maka cukup menjadikan buku yang dia baca tersebut sebagai maklumat awal ataupun resource informasi saja. Continue reading

Amil Zakat Dhoruri

Amil Zakat biasanya kita deskripsikan sebagai petugas yang ditunjuk masjid atau lembaga zakat untuk menerima dan membagikan zakat serta mendapat bagian dari zakat tersebut. Benarkah penafsiran tersebut ? Demikian juga ada beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta yang membentuk Lembaga Amil Zakat, apakah benar mereka bisa disebut amil Zakat ?

Amil zakat yang biasa kita kenal pada masa sekarang ini walaupun secara fungsi ada kesamaanya, namun bukanlah amil zakat yang dimaksudkan dalam Al-Quran Surat At-Taubah:60 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ‘amil-amil zakat ….”.

Menurut Mu’jam Lughatil Fuqoha – karya Dr. Rawwas Qal’ahji , ‘Amil memiliki makna “Seseorang yang diberi mandat oleh Amirul Mu’minin untuk memimpin suatu wilayah” dengan sinonim bahasa inggris sama dengan “ruler” alias penguasa. Sedangkan Amil Shodaqoh (Zakat) maknanya adalah “Seseorang yang diberi mandat oleh imam (kepala negara Islam) untuk menarik shodaqoh yang tampak”. Dalam Fiqh ‘Alaa Madzahib ‘Arbaah karya Syaikh Al-Jazairy disebutkan juga definisi Amil Zakat menurut madhzab Hanafi adalah “seseorang yang ditunjuk imam untuk menarik zakat dan usyur serta mengambil bagian dari apa yang diperolehnya”

Dari beberapa definisi di atas maka Amil Zakat dalam prespektif fiqh Islam adalah sebuah jabatan resmi pemerintahan dengan tugas untuk menarik, mengumpulkan dan membagi zakat dan memiliki hak untuk mendapatkan bagian zakat atas jerih payahnya itu. Lebih tepatnya lagi, amil zakat merupakan jabatan struktural dalam sistem pemerintahan Islam. ‘Alamah Syaikh Taqyuddin An-Nabhani dalam Nidzom Hukum fil Islam menempatkan Amil sebagai penguasa Imalat (kabupaten) dibawah Wali yaitu pemimpin Wilayah (propinsi) dimana wali berada dibawah Khalifah. Dalam pelaksanaan pemerintahannya Wali dikontrol oleh Majelis Wiyalah. Continue reading