Puisi : Salam Hangat dari TKI

pucat biru bibir memar lebam
peluh punggung pekatĀ  legam
cemeti menyayat nyayat luka tajam
tak terpasung tapi pedih tergenggam
demi kertas real pengganti dirham
harga diri dibuang sejak melambai salam
nama agen pengirim terjahit di seragam

di negeri para tuan dan nyonya
keluh pilu tersadap jeruji kaca
lepuh muka tesudut setrika
bodoh tolol serapah biasa
bogem tendang menu ekstra
sabarlah wahai buruh lintas negara
kebal dan tuli itu adalah modal kerja

mata mincing bandara mincing
dahi kerut pandang TKI miring
lebih murah dari budak romawi
lebih terperah dari sapi pedati
terbiarkan oleh negara tergadai
terbiarkan oleh menteri partai
peduli kasus terus kirim demi devisa
dari upah berbalas siksa dan tipudaya

asah mimpi tak kunjung usai
telah pergi biarlah tak kembali
lebih baik mati di lumbung padi
daripada mati di negeri sendiri
di sawah yang tak mau bersemi
di belantara yang tereksploitasi

nun di seberang lautan
nun di meja perundingan
birokrat kasak kusut
diplomasi ala kentut
kesepakatan pengecut
kecam basi tanpa tuntut
berdamai lalu makan dan tertawa
besok kalian TKI harus tetap bekerja
ha ha ha ha ….

kerjalah kerja
biar mati tak sia sia

balikpapan 19Nov2010

Advertisements

aku bukan Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel

aku bukan alFatih sang penakluk Konstantinopel
malu aku bila kau bandingkan dengan dirinya
jangan berharap banyak aku bisa menjadi seperti dirinya
aku bahkan tak pantas berdiri di antara 250 ribu pasukan gagahnya
yang sejak baligh tak pernah luput sholat berjamaah
bahu membahu menyeberang selat borporous
menunduk paksa kota yang angkuh beribu tahun

aku juga bukan laksana mushab bin umair
pangeran Makkah yang tampan dan kaya
dipuja dan digoda tiap tiap pesolek jelita
yang lebih memilih berkalang lusuh daripada dunia
pergi ke negeri antah brantah tanpa saudara
mengetuk pintu pintu kota menyambut wangi baginda
secuil harap yang masih terus ku-asa adalah
mengakhiri episode crerita bak kisahnya
yang siapakah mengenal jasadnya
selain dari sehela kain yang tak cukup menjadi kafannya

aku juga bukan seorang zuhud pengolah jiwa
yang betah termangu di bawah hamparan bintang
aku hanya seorang pejalan yang bila tersasar lalu melihat angkasa
mencari dimana arah kembali yang sebenarnya sudah kutahu sejak dulunya
namun kelok jalan berhias gemerlap iklan memang sering melenakan

aku hanya sekepal umpan pada kail di pinggir sungai
lama berendam namum tak banyak yang mendekati
bahkan ikan merah nan segar di pinggir karang tak sudi memandang
karena dia benar tau mana umpan yang baik mana umpan yang tidak baik

pada sesaat sebelum diriku lenyap dimakan ikan kelas dua atau tiga
aku hanya berharap agar si pemancing semakin bijak
mengolah ikan yang menelan diriku menjadi umpan yang mantap
bagi ikan segar atau bahkan bagi kerang penyimpan permata yang lenyap

dnux adh-dho’ifi 28 June 2010

Cerpen : Pengadilan Pohon Korma

Agenda hari ini di sidang pengadilan adalah mendengarkan tuntutan jaksa kepada sebuah pohon korma yang dituduh ikut membantu kegiatan subversif akhir akhir ini atau setidaknya dituduh ikut aktif berpartisipasi dalam rekruitment anggota teroris.

Jauh hari sebelumnya densus 88 telah mengisolasi dan mensterilkan sejauh radius 500 meter dari tempat tumbuh pohon kurma tersebut disebuah masjid yang dicintai oleh jamaahnya. Polisi juta telah memasng police line agar masyarakat tidak terkagum kagum pada pohon tersebut yang tegar walau telah beberapa kali di stigmatisasi negatif ..

“Geledah akarnya …!” perintah komandan lapangan “Bongkar kalau perlu, siapa tau disitu terdapat banyak potasium nitrat atau mungkin ada buku buku panduan jihad”

Segera kroconya berpangkat lettu letda menggeledah pohon itu mencabik cabik rumput sekitarnya tanpa permisi pada kambing kambing yang biasanya menikmati teduh pohon korma.

“Lapor pak, tidak ada potasium nitrat atau buku jihad, tapi kami menemukan AlQuran yang ditaruh rapi disampingnya. Apa perlu kami sita ?!” teriak kroco kroconya

“Jangan. Kalau seperti itu sih saya juga punya.”sanggah komandan

“Saya juga sering khatam walau tak tahu artinya. Kitab itu tidak salah, yang salah adalah penafsiran mereka” dia menjelaskan dengan bangga

“Sudah, angkut saja pohon kurma itu, nanti biar pengadilan yang memutuskan.Pasti nanti jaksa punya alasan yang memberatkan … atau kita minta analisis dari pengamat asing yang biasa memprovokasi media masa : Kidney Sones ..”

“Oh ya, jangan lupa .. ” lanjut komandan “Cari saksi saksi yang semakin memberatkan tuduhan … !”

dan pohon korma itu kemudian dibawa dengan paksa ke pengadilan tanpa perlawanan, karena dia memang bisanya hanya diam. Sidang pun digelar untuk mendengarkan keterangan saksi, saksi ahli dan tuntutan jaksa.

“Pohon itu angker dan menakutkan … saya melihatnya sendiri banyak orang suka pakai gamis putih kaya kafan nongkrong didekatnya. mereka berjanggut panjang kaya mbah dukun dan jidatnya hitam kaya orang yang suka berantem … hi… ngeri .. ” kata saksi pertama

“Pohon itu berbahaya, anak saya sering terkena durinya” kata saksi kedua sinis “saya selalu mewanti anak, tetangga, saudara dan teman teman saya agar tidak dekat dekat dengan pohon itu apalagi bergaul dengannya, nanti bisa bisa terluka” tambahnya

“Pohon itu bukan asli dari negara ini jadi tidak boleh tinggal di Indonesia. Iklim, tanah dan air di negeri kita tidak cocok untuk jenis pohon seperti ini. Percayalah, bahwa pohon ini pun tidak akan berbuah dengan baik. Jadi buat apa tetap mempertahankan pohon ini. Ini adalah jenis tanaman trans-nasional yang berbahaya dan mengancam keanekaragaman kelapa asli nusantara” kata saksi ahli dari sebuah institusi terkemuka sambil menuding nuding pohon kurma dengan tatapan kebencian.

sementara itu, diluar gedung pengadilan banyak pendemo berteriak teriak dijalan meminta pohon kurma dilepaskan dari semua tuduhan. maklum, mereka hanya bisa berdiri dan berteriak disana karena kesaksian mereka tidak diperlukan di sidang pengadilan yang penuh rekayasa

“bebaskan”, “hentikan pengadilan”, “hidup kurma” demikian rata rata teriakan mereka. salah satu orator berdiri diatas bak terbuka dan berorasi “wahai pak hakim .. pak jaksa .. dengarkan … mengapa tidak kalian tangkap juga pohon palem yang banyak berdiri di pinggir pinggir jalan perumahan mewah ..? bukankah tanaman itu bukan asli Indonesia juga ? Apakah karena kalian sering nongkrong berpacaran dan beselingkuh dibawahnya ?”

sidang pun ribut .. sudah dipastikan orator itu akan segera diseret oleh petugas yang berjaga dihalaman depan pengadilan karena telah mencemarkan nama baik pak hakim dan pak jaksa yang sebenarnya masyarakat pun telah banyak tahu rumor rumor yang menimpa keduanya …

“Sidang diskors !!! kita lanjutakan besok untuk mendengarkan pledoi … tok tok tok …” dan hakim pun kemudian meninggalkan tempat

Sebelum peserta keluar, seorang gadis muda berpakaian khas pengadilan menyampaikan pengumuman : “bagi bapak bapak dan ibu ibu yang mau berpuasa bersama, minuman es kelapa dan juga buah korma sudah tersedia di dekat mushola. terimakasih atas perhatianya”

“horee …hore … yes!! ” ramai teriak dan sorak pengunjung sidang.

pohon kurma pun kemudia dibawa lagi ke sel untuk menunggu sidang lanjutan esok hari sementara hakim, jaksa, saksi, pegawai, sekuriti dan pengunjung ramai ramai ke mushola untuk buka saum bersama menikmati es kelapa & buah kurma sejumlah ganjil agar sesuai dengan contoh dari baginda Nabi.

Ya .. pohon kurma masih terus dicurigai dan didesak untuk dilarang tumbuh. Batang dan akarnya harus menjauh. Kalaupun ada maka batangnya tidak boleh terlalu tegap dan akarnya tidak boleh terlalu menancap. Cukup buahnya saja yang boleh masuk ke negeri ini karena bisa diperdagangkan, itupun syaratnya harus dikemas rapi dan ditulis “DATES” biar keren dan sesuai dengan keinginan pasar.

Wassalam
dnux.10 Agust 2009

keterangan klasifikasi tanaman :
– kurma : kingdom = plantae, family = Arecaceae, genus = phoenix
– kelapa: kingdom = plantae, family = Arecaceae, genus = cocos

Behind the story :

Pohon Kurma dalam cerpen ini adalah sinonim dengan Islam. Singkat cerita, Islam di Indonesia meski sudah dipeluk ratusan tahun tapi masih dipeluk sebagian yaitu buahnya (baca:akhlaq), adapun batang dan akarnya (baca:syariat & aqidahnya), masih harus dijauhi dan tidak boleh diterapkan seutuhnya karena dianggap akan merusak keutuhan bangsa.