Something inside my minds

Archive for the ‘fiqh keseharian’ Category

Tata Cara (Tertib/Urutan) Pengangkatan Imam Sholat

Posted by dnux on December 7, 2011

pemilihan ketua masjid merupakan salah satu diantara masalah yang sering muncul manakala sebuah masjid digunakan oleh banyak kaum muslimin dari beberapa golongan/madzhab dll. permasalahan ini bukan masalah baru namun sudah hal yang telah berlangsung sejak era imam madzhab dan para imam madzab-pun telah memberi panduan bagaimana cara menentukan siapa yang layak menjadi imam masjid atau imam sholat. berikut yang bisa saya paparkan dari kompilasi beberapa sumber yang saya ketahui

Dalil Kriteria yang layak menjadi Imam Sholat:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله . فإن كانوا في القراءة سواء . فأعلمهم بالسنة . فإن كانوا في السنة سواء . فأقدمهم هجرة . فإن كانوا في الهجرة سواء ، فأقدمهم سلما . ولا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه . ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

(صحيح مسلم : 673)

Terjemahannya “Orang yang akan mengimami suatu kaum adalah orang yang paling ahli membaca Kitab Allah, maka bila mereka dalam bacaannya itu sama, maka yang lebih alim (tahu) tentang Sunnah Rasul; apabila mereka tentang Sunnah adalah sama, maka hendaklah diangkat jadi imam orang yang lebih dahulu pergi hijrah; jika mereka hijrahnya sama, maka hendaklah diangkat orang yang lebih tua umurnya. Dan janganlah seorang mengimami orang lain diw wilayah kekuasaan orang itu, dan janganlah ia duduk di tempat duduk orang lain kecuali dengan izinnya.” (HR Muslim).

Catatan : lafadz ولا يؤمن  pada hadits riwayat muslim diatas ditulis ولا يؤم   pada riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah (semua sahih) dalam hadits diatas dituliskan dengan sehingga penerjemahan yang benar adalah : jangan mengimami

Dalam hadits diatas ada dua aspek yang harus diperhatikan tentang masalah imam shalat :

  1. Kelayakan imam sholat, yaitu berkaitan dengan prioritasi/urutan menjadi imam sholat berdasarkan skills-nya dalam masalah agama
  2. Kekuasaan imam sholat, yaitu berkaitan dengan boleh tidaknya seseorang boleh menjadi imam sholat atas orang lain di suatu wilayah/tempat tertentu

Terkait dengan prioritas/urutan menjadi imam maka hal ini memang sudah sangat sering dibahas di pengajian-pengajian yaitu bahwa yang diutamakan untuk menjadi imam sholat adalah dia yang أقرؤهم لكتاب الله paling baik bacaan Al-Qurannya, paling ‘alim hadits dll.

Namun sebagai catatan hal ini ada ikhtilaf diantara ulama apakah makna أقرؤهم لكتاب الله  paling baik bacaan disana maknanya artinya adalah paling bagus suara & makhraj-nya ataukah yang paling banyak hafalannya dan masing-masing ada argumennya, namun itu bukan fokus tulisan ini.

Yang menjadi fokus di tulisan ini adalah barangkali banyak di antara kita yang tidak tahu atau mungkin abai pada kententuan yang kedua yaitu terkait wilayah kekuasaan menjadi imam sholat, dimana ada larangan tegas bahwa seseorang dilarang mengimami orang lain di wilayah kekuasaan orang lain tersebut kecuali atas seizin orang lain tersebut. Artinya : seseorang harus legitimate menjadi imam sholat di area tersebut sebelum memimpin sholat itu sendiri. Bahkan ada celaan bagi mereka yang memimpin sholat suatu kaum sementara kaum itu enggan dipimpinnya :

ثلاثة لا ترفع صلاتهم فوق رءوسهم شبرا رجل أم قوما وهم له كارهون وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط وأخوان متصارمان

Terjemahannya “Ada tiga golongan yang tidak diangkat sholat mereka diatas kepala mereka ; seorang laki laki yang mengimami kaum sedangkan mereka enggan kepada dia, seorang wanita yang bermalam sementara lelakinya sedang mura dan dua orang bersaudara yang saling bermusuhan” (Ibnu Majah, Al-Mundziri – Hasan)

Karena itu siapa saja yang menjadi imam harus yaqin bahwa dia tidak dienggani oleh yang diimaminya, atau bila tidak maka pahala sholatnya terancam tidak naik ke sisi Allah SWT.

Lalu siapa yang sebenarnya legitimate untuk memimpin sholat ? Yang legitimate untuk memimpin sholat tentu adalah mereka yang telah ditunjuk sebagai imam sholat. Jadi pertanyaan mendasarnya adalah : bagaimana tatacara pengangkatan imam sholat ?

Urutan yang Layak menjadi Imam Sholat

Berikut pendapat 4 madzab yang saya cuplikan dari kitab Fiqh ‘Ala Arbaah Mahadzib karya syaikh Al-Jazairy:

  • Hanafiyah : Paling tahu hukum sholat > paling wara’ > paling baik tilawahnya > paling duluan masuk islam > paling tua > paling bersih bajunya dll, semuanya ini dengan catatan : bila tidak ada penguasanya disitu, bila ada maka penguasa lebih utama demikian juga tuan rumah, bos pegawai dst.
  • Syafiiyah : diutamakan adalah wali (gubernur) di wilayahnya > imam rowatib > tuan rumah, bila tidak berlaku hal diatas maka dipilih berdasarkan yang paling faqih > paling baik bacaanya > paling zuhud, wara’ > > paling dulu Islamnya > paling baik nasabnya  > paling bersih baju dan  badannya dst
  • Malikiyah : imam (khalifah) atau wakilnya walau disitu ada orang yang lebih faqih darinya > imam rowatib > tuan rumah > paling tahu hukum sholat > paling tahu hadits dan paling hafal >  dst
  • Hanabilah : faling faqih > paling faqih + paling bagus bacaanya > paling bagus  bacaanya > dst, kemudian yang manusia yang paling berhak menjadi imam di rumah adalah sohibul bait, imam rowatib bula untuk masjid dst.

Dari pendapat para imam diatas dapat disimpulkan bahwa yang didulukan untuk dijadikan imam adalah penguasa untuk wilayah baik wilayah kenegaraan atau wilayah masjid, wilayah rumah dll. Pada daerah yang tidak ada penguasanya maka baru yang diutamakan adalah faktor kefaqihan, bagusnya bacaaan dst.

Karena itu mekanisme pengangkatan imam rowatib di suatu masjid menjadi sangat penting karena dialah yang berhak untuk memimpin sholat dibanding siapapun yang hadir di masjid itu meskipun bisa jadi yang hadir pada saat ini ada orang-orang yang lebih faqih, lebih banyak hafalan AlQuran, Hadits dst.

Terkait Pengangkatan Imam Masjid (*sumber : Ahkam Sulthoniyah Imam Mawardi)

Pengangkatan imam sholat tergantung dari jenis masjid itu sendiri.

1.      Masjid Jami atau Masjid Negara

Masjid jami adalah masjid yang pengelolaanya berada dibawah wewenang negara. Imam rowatib masjid jami ditetapkan oleh negara yaitu oleh khalifah atau oleh naqib/wakil-nya baik itu Wali (Gubernur) atau Amil (Bupati) dst. Imam Masjid Jami digaji dari Baitul Mal (Kas Negara). Dia berhak mengangkat muadzin. Bila Imam Masjid Jami telah selesai memimpin sholat berjamaah maka tidak  diperbolehkan ada sholat jamaah lagi sesudahnya

 2.      Masjid Umum

Masjid umum adalah masjid yang dibangun oleh kaum muslimin di samping jalan raya dan perkampungan mereka. Yang menjadi imam adalah yang mereka tunjuk, khalufah dilarang ikut campur tangan. Jika jamaah masjid berbeda pendapat dalam pemilihan imam maka yang diberlakukan adalah suara terbanyak. Bila suaranya berimbang maka khalifah memilihkan untuk mereka untuk meng-hentikan konflik.  Jika seseorang membangun masjid, maka ia tidak secara otomatis lebih berhak atas jabatan imam. Ia dan tetangga-tetangganya yang lain sama posisinya dalam jabatan imam dan adzan

Sengaja saya garis bawah dan tebal perkataan “Ia dan tetangga-tetangganya” untuk menunjukkan bahwa pemilihan imam masjid adalah oleh warga sekitar masjid, bukan oleh orang yang bukan merupakan warga masjid tersebut, terlebih bila dikaitkan kembali pada hadits “jangan seorang mengimami suatu kaum di lain wilayah kekuasaannya”, wilayah kekuasaan tentu maknanya adalah rumahnya, kampungannya atau negaranya, bukan rumah orang lain, kampung orang lain atau negara lain.

Yang menarik dari masalah ini adalah, bahkan hingga Imam Mawardi menuliskan masalah pengangkatan imam sholat dalam kitab siyasah (politik)-nya yang sangat terkenal yaitu Ahkam Sulthoniyah. Hal Ini menunjukkan bahwa keberadaan  Imam (khalifah) sangat penting untuk memecahkan sekaligus menyatukan umat Islam, khususnya terkait persengketaan antar golongan sebagaimana kaedah syara “Amrul Imam yarfaul khilaf” : perintah Imam menghilangkan perselisihan.

Demikianlah tulisan ini semoga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan imam masjid ataupun imam sholat di sekitar kehidupan kita. Wallahu a’lam & Wassalam

dnux – 7 Desember 2011

Posted in fiqh keseharian, sholat | 3 Comments »

Hukum Sutrah dalam Empat Madzhab

Posted by dnux on September 21, 2010

terjemahan dan ringkasan saya dari Kitab Fiqh ‘Alaa Madzahib Arbaah – Abdurrahman Ajjaziry

di kitab ini tidak saya jumpai pendapat dari empat madzhab yang mewajibkan penggunaan sutrah — dnux —

Definisi

Definisi sutrah : apa apa yang dijadikan oleh musholi di depannya dari kursi atau tongkat atau dinding atau tempat tidur atau selainnya yang bisa mencegah orang untuk lewat di depannya dengan tangannya. Tidak ada bedanya menjadikan sutroh itu sesuatu yang tetap (tidak bergerak) seperti dinding atau tiang atau benda selainnya (yang bergerak). Ini adalah pendapat tiga imam sedangkan syafiiyah menyelesihinya. Berikut detailnya :

Syafiiyah: Sesungguhnya ada 4 tingkatan sutroh tidak dibenarkan pindah ke tingkatan bawahnya kecuali bila memang tidak ditemui yang memudahkan menemui yg utama tersebut.

  • Tingkat pertama adalah sesuatu yang tetap dan suci, seperti dinding atau tiang.
  • Tingkat kedua adalah seperti tongkat atau semacamnya seperti furniture yang bila dikumpulkan maka akan setinggi seukuran sutroh (tongkat).
  • Tingkat ketiga adalah tempat solat yang bisa diletakkan diatasnya sajadah atau mantel atau semacamnya dengan syarat itu bukan bagiannya masjid (dnux : spt karpetnya masjid) karena hal tersebut (karpet masjid dll) tidak mencukupi untuk disebut sebagai sutroh (pembatas) (pada tingkat ketiga).
  • Tingkat keempat adalah garis panjang di tanah sepanjang seperti yang disyaratkan pada tingkatan pertama atau kedua yaitu kira kira selebar 2/3 dziro (hast). [dnux : atau kira2 30 cm –> 1 dziro = 45cm).

Kemudian agar tidak menjadikan jarak antara musholi dg sutroh (maximumnya) lebih dari 3 hasta (135 cm) atau kurang dari  yang diperlukan tangan untuk berdiri serta yang diperlukan kedua lutut untuk duduk. Disyaratkan juga untuk tingkatan ketiga dan keempat untuk menjadikan batasan nya itu menghadap kiblat 2/3 hasta atau lebih dan untuk tidak menambahkan antara jari jarinya dengan yang diletakkan didepannya di arah kiblat itu lebih dari 3 hasta.

Hukumnya

Hukumnya adalah mandub. maka mandub bagi musholi untk menjadikan sutroh berdasarkan kesepakatan.Dan telah diketahui baha di syafiiyah dan hanabilah tidak dibedakan antara mandub dan sunah. Mereka berkata  : meletakkan sutroh itu hukumnya sunah sebagaimana mereka mengatakan bahwa itu adalah mandub. Di dalam hanafiyah dan malikiyah yang mengatakan bahwa menletakkan sutroh itu adalah mandub yang hukumnya lebih ringan dari sunnah.

Mereka (Hanabilah & Malikiyah) berkata bahwa bila seseorang sholat di jalanan manusia tanpa sutroh dan orang lain lewat didepannya maka dia (yang sholat) berdosa karena tidak berhati hati dalam sholatnya yaitu ketika sholat di jalanan manusia tersebut.

Adapun syafiiah dan hanabilah mereka mengatakan mereka itu tidak berdosa tetapi makhruh saja.  Meninggalkan (meniadakan) sutroh itu tidak berdosa berdasarkan kesepakatan (ijma), karena hal tersebut hukumna hanya mandub saja bagi orang yang sholat munfarid (sendirian). Dan bagi ma’mum, maka hukumnya tidak mandub sebab sutrohnya imam juga adalah sutrohnya ma’mum.

Berikut perbandingan beberapa hukum sutrah di  madzhab


Hanafiyah Malikiyah Syafiiyah Hanabilah
Hukumnya Mandub Mandub Sunnah Sunnah
Tinggi ≥ 1 dziro ≥ 1 dziro tidak minimalnya ≥ 1 dziro
Lebar n/a n/a 2/3 dziro n/a
Tebal tidak ada tebal minimalnya minimal setebal panah tidak ada tebal minimalnya tidak ada tebal minimalnya
Jarak dg sutrah 3 dizro sujud + jarak yg bisa dilalui kambing/ kucing 3 dziro 3 dziro
Bentuk sutroh tegak & lurus tegak & lurus tegak & lurus
Mengahap orang boleh menghadap punggunngya, tidak boleh menghadap wajahnya, tidak boleh menghadap orang kafir atau wanita boleh menghadap punggunngya, tidak boleh menghadap wajahnya wanita asing tidak boleh menghadap punggung orang ataupun wajahnya boleh menghadap punggunngya ataupun menghadap wajahnya selama dia muslim dan bukan wanita asing
Menghadap benda ghasab (curang) boleh boleh boleh tidak boleh
Menghadap benda najis tidak boleh tidak boleh boleh boleh

Hukum melintasi (lewat) orang sholat

Diharamkan untuk melalui depannya orang sholat meski orang sholat tersebut tidak menggunakan sutrah tanpa udzur. sebagaimana diharamkan bagi musholi untuk menolak/menepis orang yang melintasi di depannya tanpa sutroh ditempat yang banyak manusia berlalu lalang. Jadi kalau ada orang yang melintasinya maka dia (juga berdosa) sedangkan bila tidak ada yang melintasi maka dia tidak dosa (karena tidak meletakkan sutrah) sebab meletakkan sutrah itu sendiri hukum asalnya tidak wajib. Dosa bagi keduanya bila si musholi mencegahnya sementara bagi si pelewat masih ada alternatif jalan lain, sedangkan tidak menjadi dosa bagi keduana bila si musholi tidak mencegahnya sementara si pelewat itu tidak memiliki jalan alternatif. ini adalah menurut hanafiyan dan malikiyah sedangkan bagi syafiiyah & hanabilah sbb :

Syafiiyah : tidak diharamkan bagi yg melintas kecuali bila si musholi menggunakan sutroh yang sesuai syarat2 yang ditentukan, bila tidak maka tidak diharamkan dan juga tidak dimakruhkan (untuk melaluinya). namun khilaful aula-nya (pendapat yg terbaik) adalah : bila musholi mencegah lewat sedangkan dia tidak menggunakan sutroh, maka menjadi tidak dosa bagi keduanya. meski memang benar bahwa dimakruhkan bagi musholi untuk sholat di tempat yang (umumnya) banyak orang  lewat baik itu (benar2) ada yang lewat atau tidak ada yang lewat (waktu dia sholat)

Hanabilah : bila seorang musholi sholat di tempat yang dibutuhkan oleh orang2 untuk lewat (dnux : contohnya di jalanan gang), maka makruh bagi dia secara mutlak untuk mencegah orang melaluinya sebagaimana menurut syafiiyah. kemakruhan ini bagi musholi saja. sementara bagi orang yang lewat tidak berdosa selama memang tidak ada lagi alternatif jalan bagi dia.

Mencegah pelintas sholat

disunnahkan bagi musholi untuk mencegah orang yang lewat di depannya dengan isyarat mata atau kepala atau tangan. bila tidak kembali (masih melintas) maka hendak dicegah dg semampunya. tapi dikedepankan yang paling mudah lalu yang mudah lagi, dengan syarat tidak bergerak banyak sebab itu akan merusak sholat. Ini adalah kesepakatan dalam syafiiyah dan hanabilah adapun dalam hanafiyah dan malikiyah sbb:

hanafiyah : dirukhsohkan untuk melakukan hal demikian selama tidak diulangi lagi, busa ditambahkan dengan isyarat kepaka atau mata atau dg tasbih sementara bagi wanita dengan menepuk tangannya sekali atau dua kali.

malikiyah :  dimandubkan untk mencegah pelewat (dnux : mandub lebih ringan dari sunnah)

====================

demikian terjemahan dan ringkasan saya … mohon koreksi bila ada kekeliruan penerjemahan.

wassalam – dwi Sept 2010

untuk control, asli tulisannya adalah sbb :

Read the rest of this entry »

Posted in fiqh keseharian, sholat | 6 Comments »

Bab Bab di dalam Kitab Riyadhus Sholihin

Posted by dnux on February 9, 2010

menyajikan judul2 bab di dalam kitab Riyadhus Shalihin Imam Nawawy, insyaAllah hanya dengan mengetahui judulnya maka kita sudah terbayang apa2 saja yang menjadi anjuran ataupun larangan dari Allah SWT dan rasulNya.

download disini

wassalam

dwi

Posted in aqidah, fiqh keseharian, pencerahan, pribadi mulia, social illness | Leave a Comment »

Mendudukkan Hadits Kuraib dalam Prespektif Penentuan Awal/Akhir Romadhon dan Problem Kesatuan Umat Islam

Posted by dnux on June 3, 2009

Abu Dhabi – Banda Aceh: 3012.5 miles, Merauke – Banda Aceh : 3250.5 miles (Tools : http://www.infoplease.com/atlas/calculate-distance.html). Kesimpulan : Banda Aceh lebih dekat ke Abu Dhabi dibandingkan ke Merauke. Lalu dengan alasan apa kita bisa memaksa Merauke untuk ngikut Ru’yat hilal nya Banda Aceh sedangkan Banda Aceh dilarang ngikut ru’yat hilal-nya Dubai ?

Pengantar

Terdapat dua hal  yang sering dicampuradukkan oleh masyarakat terkait masalah Romadhon yaitu (1) tentang kaidah penetapan awal/akhir Romadhon itu sendiri, dan (2) tentang keharusan memulai/ mengakhiri romadhon dan menyelanggarakan sholat ’Ied Fitri bersama pemerintah. Dan bila kita klafsikasikan, maka setidaknya ada tiga kelompok yang mewajibkan dirinya Sholat ’Ied Fitri puasa bersama pemerintah

Kelompok pertama adalah golongan orang kebanyakan yang melihat dua hal tersebut sebagai hal yang sama saja. Mereka kebanyakan juga tidak terlalu berpusing ria memperhatikan bagaimana kaidah yang benar dalam penetapan awal/akhir Romadhon, yang penting mengikuti apa kata pemerintah benar atau salahnya. Toh kalau salah yang nanggung dosanya juga pemerintah. Golongan seperti ini adalah orang yang sebenarnya menjerumuskan diri dan orang yang diikutinya (pemerintah dll) kedalam kesalahan berjamaah karena keengganannya untuk mencari ilmu dan keengganannya untuk menasehati sesama muslim, termasuk kepada penguasa

Kelompok kedua adalah golongan yang dalam dirinya telah terpatri prasangka buruk kepada sesama umat Islam di luar golongannya bahwa siapapun yang berbeda dengan pemerintah maka mereka adalah penentang penguasa atau bahkan dikatakan sebagai pembelot, pemberontak, dll. Padahal mereka mengetahui bahwa pendapat pendapat dari ulama ulama qodim tentang boleh tidaknya berbeda dengan penguasa dalam hal mengawali/ mengakhiri puasa termasuk juga pelaksanaan Sholat ’Ied.

Sedangkan kelompok ketiga hampir sama prinsipnya dengan kelompok kedua, namun anehnya mereka hanya toleran terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa golongan lainnya (ABC dll ) namun sangat antipati terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa dari golongan lainnya (XYZ dll)  dengan labelisasi wahabi, arabisme, transnasionalisme dan lain sebagainya.

Biasanya kelompok kedua dan ketiga ini selalu bertentangan (tanaqudh) pendapat dalam segala wabil khusus dalam masalah ibadah. Sepengetahuan kami, bisa jadi hanya dalam permasalahan berpuasa bersama pemerintah inilah mereka memiliki pendapat yang sama. Keduanya pun juga menggunakan hadits Kuraib secara bias untuk menjustifikasi kebenaran pendapat mereka.

Kok bias ? Ya … dan InsyaAllah dalam artikel ini dengan keterbatasan pemahaman saya, akan saya coba uraikan kebiasan tersebut dimana kebanyakan pada akhirnya adalah nukilan saya dari pendapat pendapat mu’tabar yang tersebar di buku buku ataupun di internet dan lain sebagainya.

Kami menujukan risalah ini bagi sahabat sahabat kami yang sedang kebingungan dan terombang ambing dalam masalah penentuan awal/akhir ramadhan apakah harus mengikuti pendapat pemerintah atau tidak. Kebingungan itu sebenarnya tidak perlu terjadi asal setiap orang mengetahui benar bagaimana pendapat itu digali (di-istinbath) lalu qona’ah (menetapi) terhadap kebenaran proses dan hasil istinbath tersebut, terlepas apakah hasil akhirnya sama atau tidak dengan yang diyakini selama ini. Dengan mengetahui pokok pembahasan tersebut pada akhirnya yang diharapkan adalah kesadaran bahwa bahwa bisa memahami kewajaran perbedaan pendapat untuk kemudian sebagai sesama muqolid (pengikut pendapat ulama) ataupun sebagai tholibin (orang yang baru belajar) tidak saling mencela satu sama lain.

pdf filenya : http://www.scribd.com/doc/16097901/Mendudukkan-Hadits-Kuraib-dalam-Prespektif-Penentuan-Awal-Akhir-Romadhon-dan-Problem-Kesatuan-Umat-Islam

Read the rest of this entry »

Posted in fiqh keseharian, pencerahan, puasa | Leave a Comment »

Pembagian Hadits (Diagram/Chart/Map)

Posted by dnux on August 25, 2008

Dari Syakhsiyah 1, Pengantar Bulughul Marom, etc

Posted in fiqh keseharian, pencerahan | Leave a Comment »

Pendapat dan Sikap Saya Terhadap Masalah Isbal

Posted by dnux on March 12, 2008

Bukan untuk memperuncing masalah & tidak sama sekali. Ini saya tulis tidak lain karena masalah isbal ini sering ditanyakan oleh para daris (pelajar) yang ingin pasti kepastian hukum isbal. Khususnya karena keresahan para syabab disebabkan ada sebagian pengurus masjid tidak mau mengundang ustadz yang isbal.

Perbedaan mengenai isbal telah berlangsung ribuan tahun. Walhasil, dan tanpa perlu menyajikan dalil dalil, maka cukuplah saya sampaikan pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi tentang masalah Isbal. Diambil dari kitab Fathul Bari yang didownload dari http://www.waqfeya.com/open.php?cat=33&book=539 . Cuplikan buku ke 10 halaman 275 :

kesimpulan-isbal.jpg

InsyaAllah begini terjemahan bebas-nya (kalau ada kesalahan mohon dibetulkan) : notes  [] = komentar saya :

  • Dan dari hadits hadits [diatas] dapat dipahami bahwa menyeret (isbal) sarung (izar) dengan motivasi kesombongan (khuyalaa’) adalah dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena kesombongan maka secara dzohir lafadz diharamkan juga.
  • Tetapi istidlal dengan taqyid (pembatasan) isbal dalam hadits hadits “dengan kesombongan” menunjukkan bawah kemutlakan larangan yang disebutkan yaitu mengenai celaan terhadap isbal membawa konsukuensi pembatasan tersebut. Karena itu tidak dilarang memanjangkan atau menyeret bila selamat dari kesombongan
  • Ibnu ‘Abdil Bar berkata : Pemahaman bahwasanya memanjangkan bukan karena sombong tidak tercakup oleh janji (ancaman) tersebut, namun memang memanjangkan gamis atau jenis pakaian lainnya itu tercela atas setiap kondisi apapun. [dnux : beliau mengatakan tercela tapi tidak disebutkan apakah haram atau makruh]
  • (Imam) Nawawi berkata :Isbal itu adalah bila pakaian dibawah dua mata kaki karena sombong, sedang bila karena selainnya [dnux: selain sombong] maka itu menjadi makruh. Demikianlah yang dikatakan Syafi’y untuk membedakan antara memanjangkan karena sombong dan karena selain sombong.
  • Berkata [dnux : apakah masih Imam Naway ? kayaknya iya ..] : yang disukai adalah untuk membuat sarung (izar) itu separuh betis dan diperbolehkan alias tidak dimakruhkan hingga batas dua mata kaki. Apa apa yang dibawah dari dua mata kaki dilarang dengan larangan tahrim bila dengan sombong dan bila tidak maka dia celaan tanzih. [dnux : isbal karena sombong = makruh tahrim bila tidak disertai sombong = makruh tanzih].
  • Hal ini disebabkan karena hadits hadits yang telah disebutkan terdahulu mengenai teguran terhadap isbal secara mutlak wajib ditaqyidkan (dibabatasi) dengan pengertian bahwa itu adalah isbal karena sombong

Demikianlah pendapat dari Imam Ibnu Hajar dan pendapat beberapa ulama yang beliau cuplik pendapatnya di Fathul Bari. Disitu ada dua pendapat yaitu, pertama : Isbal tanpa sombong diperbolehkan secara mutlak dan kedua : Isbal tanpa sombong tergolong makruh tanzih (makruh ringan)

Sekali lagi bukan buat meramaikan perdebatan. Naudzubillah bila demikian. Bukan juga sekedar untuk pro dan kontra,  hanya sekedar untuk memberikan balance information saja.

Ada baiknya bagi yang sering membaca dan mengaji kita Riyadhus Shalihin – karya Imam Nawawy saya ingatkan bahwa hadits-hadits mengenai isbal di kitab tersebut diletakkan di Bab 119 dengan judul bab :باب صفة طول القميص والكمّ والإِزار وطرف العمامة وتحريم إسبال شيء من ذلك على سبيل الخيلاء وكراهته من غير خيلاء yang i.a rtinya “Sifat Panjangnya Gamis, Lobang Tangan Baju, Sarung, Ujung Sorban Dan Haramnya Isbal pada hal di atas karena maksud kesombongan dan memakruhannya jikalau tidak karena maksud kesombongan“.

Kesimpulannya, bagaimana pendapat serta sikap saya (dnux) terhadap masalah isbal:

  • Saya masih memegang pendapat bahwa Isbal itu makruh tanzih dan tahrim bila dengan sombong. Dan biar begitu – karena hukumnya makruh – maka paling baik isbal adalah dihindari walaupun tanpa sombong. Disamping itu, meninggalkan isbal dengan tujuan taqorub adalah berpahala.
  • Mengenai celana panjang. Meskipun beberapa ulama menganggap bahwa isbal itu terjadi pada jenis pakaian apa saja. Namun bagi saya, celana tidak termasuk dalam pembahasan masalah isbal, sebab pengertian isbal dibatasi dengan hadits ( الإِسْبَا ُ ل في ا لإِزارِ ، والقَمِيصِ ، وَالعِمَامةِ )  yang artinya : isbal itu terjadi pada sarung, gamis dan sorban HR Abu Daud & Nasay – lihat riyadhus shalihin no 792.
  • Implementasi saya : Kalau menggunakan sarung maka sebaiknya ditinggikan diatas mata kaki (kan tinggal digulung saja toh ..), sedangkan bila menggunakan celana maka tidak mengapa dibawah mata kaki namun jangan sampai menyeret juga karena tentu bisa jadi akan terkena kotor dan najis di perjalanan. Apalagi pakai celana cutbrai .. walah .. gak usah lah .. nanti bisa bisa jatuh haram karena tasyabuh dengan penyanyi metal 🙂
  • Kesombongan. Sombong adalah dosa besar sebagaimana menurut Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Kaba’ir (Dosa Dosa Besar) Bab 15 “Sombong, membanggakan diri, dan mengagumi diri-sendiri”.. Karenanya itu menyeret pakaian – baik sarung ataupun celana – bila disertai sombong maka menyebabkan pelakunya terjatuh dalam dosa karena sikap sombongnya, bukan sekedar masalah isbalnya itu sendiri. Demikian juga mereka yang menjaga pakaiannya diatas mata kaki akan terjatuh dalam dosa bila dia sombong dan membanggakan diri dengan ketidak isbalannya itu.

Kepada saudara saudaraku yang berpendapat “haram isbal baik dengan sombong atau tidak” serta “wajib tidak isbal” : 

  • Cara berpakaian anda yang menjaga selalu diatas mata kaki itu adalah sikap yang benar dan terpuji
  • Pendapat anda yang mengharamkan isbal tanpa sombong namun pendapat anda itu benar menurut dalil dan penggalian yang anda pergunakan, namun pada kenyataannya pendapat anda ternyata tidak sesuai dengan pendapat ulama hadits dan fikih besar sekaliber Ibnu Hajar dan Imam Nawawy
  • Karenanya, jangan mencela, mentertawakan, mengejek serta merendahkan mereka yang berpendapat boleh isbal tanpa sombong, cukup sampaikan pendapat anda apa adanya tanpa pretensi merendahkan. Bukankah anda sering membuka hadits arbain ? Di hadits no 35  tertulis “Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim . Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya ” (HR Muslim)
  • Jangan juga memboikot ustadz yang isbal. Kalau mau fair harusnya ustadz-ustadz yang masih tenggelam dengan sekulerisme dan yang ragu ragu terhadap syariat Islam itulah yang harusnya dilarang berceramah, karena jelas2 telah berbuat haram dan maskiat besar.

Walhasil, mari kita sama sama waspada terhadap jebakan iblis yang senantiasa membisiki rasa hasud dan dengki terhadap sesama muslim. Harusnya rasa hasud dan dengki kita alihkan menjadi sikap benci terhadap Hukum Jahiliah yang mengambil dominasi Kekuasaan Hukum Allah atas manusia.

Wallahu a’lam

dnux

Posted in fiqh keseharian | 3 Comments »

Idul Adha 2007 (1428 H) – Ikut Mayoritas Muslim yang mana ?

Posted by dnux on December 14, 2007

Lagi lagi berbeda. Demikianlah selintas pikiran yang mencuat di benak kita manakala Departemen Agama RI mengumumkan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada hari Kamis tanggal 20 Desember 2007, sementara Pemerintah Arab Saudi sendiri menetapkan bahwa Arafah jatuh pada tanggal 18 Desember 2007 yang artinya Idul Adha jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember 2007.

Berdasarakan informasi dari moonsighting.com, negara yang menyelenggarakan Idul Adha 1428 H pada 19 Desember disamping Arab Saudi adalah Qatar, Bahrain, Kuwait, Libya, Mesir, UEA, Denmark, Luxemburg, dll. Sedangkan negara menyelenggarakan pada tanggal 20 Desember adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Turki, Afrika Selatan, Tanzania, dll. Ada juga negara yang ber-Idul Adha tanggal 21 Desember, yaitu Australia, Pakistan, India, Bangladesh, Iran, Senegal dll. Di USA sendiri Idul Adha akan dilaksanakan tanggal 19, 20 dan 21 Desember.

Perbedaan ini disamping menambah panjang rentetan cemoohan dari non muslim yang melihat umat Islam terpecah belah dalam masalah politik, militer dan ibadah, maka perbedaan ini juga semakin menambah panjang daftar kebingungan masyarakat umum yang mayoritas tidak memahami pembahasan rumit seputar fikih penetapan tanggal Idul Fitri/Adha. Masyarakat umum karena keawamannya tentu hanya berpatokan pada ketetapan pemerintah saja meskipun mereka sendiri tidak mengerti mengapa sholat Idul Fitri/Adha yang mereka lakukan berbeda waktunya dengan yang dilaksanakan di Masjidil Haram atau di tempat tempat lainnya.

Penetapan Idul Adha seharusnya lebih sederhana dibandingkan dengan penetapan awal/akhir Ramadhan. Penyelenggaraan idul Adha itu cukup disesuaikan waktunya dengan rangkaian pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Umat Islam diluar wilayah Mekkah tinggal menyesuaikan sholat Idul Adha-nya sehari setelah jama’ah haji wuquf di ‘Arafah. Hal ini sesuai dengan sabda Baginda Rasulullah SAW : “Idul Fitri adalah hari orang-orang (kaum muslimin) berbuka puasa. Dan Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya sebagai hadits shahih). Imam Syafi’i di dalam Al-Umm juga menyebutkan Rasulullah bersabda : “ Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah.” (al-Umm, juz I, hal. 230)

al-umm-yaumahdakum2.jpg

Jadi, berdasarkan hadits diatas harusnya dipamahi dengan mudah bahwa Idul Adha adalah hari dimana jama’ah haji sedang menyembelih kurban yaitu sehari sesudah mereka wukuf di Arofah.  Namun kenyataanya, saat ini banyak sekali negara yang kreatif menyelenggarakan sholat Idul Adha pada hari-hari tasyriq disebabkan mereka menetapkan sendiri waktu pelaksanaanya berdasarkan ru’yatul hilal di wilayah masing masing dengan alasan perbedaan mathla’ . Padahal Imam Shon’any dalam Subulus Salam telah menegaskan bahwa perbedaan mathla bukanlah alasan dalam penentuan awal/akhir puasa (termasuk juga Idul Adha). Beliau juga menegaskan bahwa rukyat suatu negeri berlaku untuk semua negeri yang lain.

Disamping itu, praktek rukyat masing masing negeri untuk menentukan ‘idul adha ini mengandung dua kesalahan. Pertama, tidak ada riwayat langsung dari Rasulullah SAW  yang menunjukkan beliau (ketika di Madinah) melakukan ru’yatul hilal sendiri untuk menentukan hari Idul Adha. Bahkan Rasulullah sendiri jelas jelas telah menyerahkan amanah penentuan pelaksanaan hari hari manasik haji (termasuk Idul Adha) kepada Amir Makkah, sebagaimana dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali yang berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata ” Rasulullah saw. telah mengamanatkan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).

Kesalahan kedua, menqiyaskan cara penetapan hari Idul Adha dengan cara penetapan Idul Fitri yaitu melalui ru’yatul hilal masing masing individu/masyarakat berdasarkan hadits “shumu li ru’yatihi” (berpuasalah kamu bila melihat bulan). Padahal qiyas tidak boleh digunakan didalam masalah pelaksanaan ibadah mahdhoh (ritual). Pelaksanaan ibadah ritual haruslah tauqifiyah (mengikuti dan mencukupkan pada nash apa adanya, tidak ada illat sehingga tidak boleh tidak diqiyaskan). Lagipula, jelas jelas perintah “shumu li ru’yatihi’ itu jelas jelas ditujukan untuk tatacara pelaksanaan ibadah puasa, bukan Idul Adha. Untuk idul Adha, umat Islam tidak usah repot repot menentukan tanggal sendiri, cukup berpatokan pada sabda Rasulullah yang menerangkan bahwa Idul Adha adalah hari dimana para jama’ah haji menyembelih kurban, yaitu sehari setelah jamaah haji wukuf di Arofah.

Sebagian ulama di Indonesia berpendapat bahwa warga tidak diperbolehkan untuk mengadakan ibadah puasa, idul Fitri dan idul Adha sendiri. Semua ibadah itu harus dilaksanakan bebarengan dengan jamaah atau mayoritas umat Islam (ma’al jama’ah wa ma’dzumun naas). Tentu saja pendapat tersebuut sangat benar menurut kitab fiqh manapun, dan memang umat Islam harus berada dalam satu jamaah serta tidak terpecah belah. Namun yang harus didudukkan permasalahannya adalah : jamaah dan mayoritas umat Islam yang mana yang dimaksud oleh para ulama salaf tersebut ? Bukannya sekarang jama’ah itu telah terpecah belah tanpa imamah (khilafah) menjadi berpuluh puluh negara lemah serta terbungkus rapat pada sekat sekat bernama nasionalisme ? Bahkan virus nasionalisme inipun membuat bid’ah ukuran mathla yang direkayasa dari 24 farsakh ( 133 km) – menurut literatur klasik –  menjadi meluas/menyempit mengikuti batas batas nasionalismenya.

Menyangkut penggunaan kata sakti “mayoritas”, maka lagi lagi yang dimaksud dengan mayoritas itu maksudnya dalam scope nasional atau scope internasional ? Karena bila kita konsisten dengan penggunaan kata mayoritas – dalam artian umat Islam sedunia -, maka harusnya muslim Indonesia melaksanakan sholat Idul Adha Hari Jumat 21 Desember 2007, bukan 20 Desember atau 19 Desember, Sebab negara negara berpopulasi umat Islam terbesar no 2,3,4 (Pakistan, India, Bangladesh) yang kira kira sejumlah 449 juta itu sholat Idul Adha tanggal 21 Desember (muslim Indonesia = 205 juta)

Oleh karenanya, benar tidaknya penentuan Idul Adha sama sekali bukan karena faktor mayoritas, namun semata mata digali dari dalil terkuat yaitu bahwa Idul Adha adalah hari jamaah haji menyembelih kurban yang tanggal pelaksanaannya ditetapkan oleh Amir Makkah, baik ada atau tiadanya Daulah Khilafah.  Karenanya penyelenggaraan Idul Adha tahun 1428 H ini yang tepat adalah tanggal 19 Desember 2007 seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Allah berfirman ” dan jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS 4 : 59)

Ada juga sebagian umat Islam ragu dalam bersikap. Mereka berencana berpuasa Arofah tanggal 18 Desember karena yakin hari itulah hari wuquf Arofah namun mereka sholat Idul Adha pada tanggal 20 Desember, Padahal, harusnya momen Idul Adha ini menjadi saat yang tepat bagi umat Islam sedunia untuk menunjukkan persatuan dan kebersamaanya dengan berpuasa Arofah di hari yang sama dan sholat Idul Adha di hari yang sama, sehingga takbir tahmid dan tahlil akan menggema bersama sama serentak diseluruh pelosok dunia.

Perbedaan dan perpecahan ini akan senantiasa muncul dan menjadi kesedihan  bagi kita semua sekaligus bahan ejekan umat non muslim, selama umat Islam masih terpecah belah, ukhuwah Islamiyahnya dikalahkan oleh fanatisme golongan dan nasionalismenya, serta belum berada di dalam naungan yang menyatukannya, yaitu Khilafah Islamiyah.

Wallahu A’lam

Lihat juga tulisan KH Shiddiq Al-Jawi Penentuan Idul Adha Wajib Berdasarkan Rukyatul Hilal Penduduk Makkah

Posted in fiqh keseharian, pandangan politik | 1 Comment »

Halalkah menggunakan kondom? Adakah Kondom Halal ?

Posted by dnux on December 12, 2007

Silahkan dijawab ? Ada gak kondom bersertifikasi halal ? Kalau sabun kan banyak .. Pasta gigi juga sudah mulai ada .. Sampo ? sulit sekali cari yang ada logo halalnya. Padahal syarat dari sebuah doa itu mustajab atau tidak adalah bila pakaian kita tidak najis. Lalu bagaimana bila pakaian kita najis ?

Mengenai kondom, saya lihat di wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS disitu tertulis ” … Pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin, mentega, dan lemak babi tidak digunakan dengan kondom lateks karena bahan-bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang ..” Artinya, ada sebagian dari kondom yang menggunakan pelumas berbahan lemak babi.

Di website http://www.patentstorm.us/patents/6297278-description.html juga disebutkan baha jeli kondom juga mengandung gelatin (1.5 pts) dan juga glyserin (10.0) pts. Sedangkan sementara ini data terakhir yang diperoleh dari Pharmacorp menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen gelatin yang beredar saat  ini  berasal  dari  babi, dan hanya 35 persen yang berasal dari sapi (http://whypermadi.wordpress.com/2007/05/01/gelatin-babi-pada-kapsul-lunak/). Demikian pula gliserin yang hingga sekarang ini juga masih menggunakan bahan yang salah satunya adalah babi.

So ? kondom berpelumas yang beredar saat ini bisa dikatakan sangat syubhat. (ada gak sih yang tidak berpelumas ?) Karena kemungkinan mengandung gliserin dan gelatin yang kemungkinan berasal dari bahan babi (kemungkinan diatas kemungkinan). Sebaiknya – menurut saya – meski menggunakan kondom itu tidak masalah sebagai suatu alat kontrasepsi (tidak haram), namun karena tidak disebutkan atau dicantumkan kehalalan-nya maka sebaiknya tidak usah digunakan.  Ganti saja metode kontrasepsinya …

Pertama ? apa kita mau menggunakan sesuatu yang syubhat.  Kedua ? Bila sesuatu yang syubhat itu benar benar mengandung babi, gimana nasib sholat istri kita yang padanya masih menempel bahan babi ? Diterima tidak kira kira ?

Daripada Abu Hurairah telah berkata : Rasulullah s.a.w menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berrdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit : Wahai Tuhanku … wahai Tuhanku… sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mau mengabulkan doanya. (HR Muslim)

Posted in fiqh keseharian, social illness | Leave a Comment »