Apakah Haram Membayar Transaksi GoJek dengan menggunakan GoPay ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah. Beberapa bulan terakhir ini umat Islam Indonesia sedang ramai membahas tentang hukum GoJek dan juga aplikasi Go-Pay. Perbincangan dan perbedaan pendapat tentu adalah hal yang lumrah dan patut disyukuri karena juga merupakan indikasi semakin sadarnya umat Islam Indonesia untuk selalu menyandarkan setiap aktivitiasnya dengan perintah dan larangan Allah SWT.

GoJek saat ini merupakan sebuah terobosan teknologi yang membantu masyarakat untuk bermuamalah melalui handphone (hp) berbasis aplikasi android dll. Masyarakat selama 24 jam bisa memesan ojek online, memesan makanan, membeli obat dll via aplikasi GoJek selama ada ojek/pengemudi di sekitar area-nya. GoJek pun juga memanfaatkan perkembangan eMoney (uang elektronik) dengan menyediakan sarana Go-Pay yang penjelasannya bisa dibaca di website https://www.GoJek.com/go-pay/ . Go-Pay saat ini (per 6 Oktober 2017) menyediakan fasilitas layanan antara lain : (1) Top-Up atau isi ulang saldo ke aku GoJek-nya melalui transfer dari bank dll (2) Pembayaran transaksi GoJek termasuk pula transaksi -transaksi lainnya yang tersedia semisal Go-Car, Go-Food dll (3) Transfer Dana ke akun/rekenik GoJek lainnya. (4) Penarikan Tunai dari Akun GO-PAY melalui bank pelanggan yang didaftarkan di GoJek (5 )dll

Setelah penulis membaca-baca perbedaan pendapat terkait boleh tidaknya membayar transaksi GoJek dengan menggunakan GoPay, maka penulis menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh dua faktor yakni :

  1. Perbedaan pendapat terkait diskon atau selisih harga antara pembayaran GoPay yang lebih murah bila dibandingkan dengan pembayaran tunai fisik (memberi uang langsung ke pengemudi GoJek). Misalnya transaksi Go-Car dari Gambir ke Pondok Indah bila dibayar langsung tunai fisik ke pengemudi adalah Rp 55.000,- sedangkan bila menggunakan debet GoPay adalah Rp 45.000,- yakni lebih murah Rp 10.000,- dibandingkan dengan membayar duit fisik
  2. Perbedaan pendapat terkait akad TopUp Deposit GoPay apakah berupa akad Wadiah (penitipan) ? atau akad Hutang ? atau akad Ujrah ? atau akad Salam dll …

Continue reading

Advertisements

Tata Cara (Tertib/Urutan) Pengangkatan Imam Sholat

pemilihan ketua masjid merupakan salah satu diantara masalah yang sering muncul manakala sebuah masjid digunakan oleh banyak kaum muslimin dari beberapa golongan/madzhab dll. permasalahan ini bukan masalah baru namun sudah hal yang telah berlangsung sejak era imam madzhab dan para imam madzab-pun telah memberi panduan bagaimana cara menentukan siapa yang layak menjadi imam masjid atau imam sholat. berikut yang bisa saya paparkan dari kompilasi beberapa sumber yang saya ketahui

Dalil Kriteria yang layak menjadi Imam Sholat:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله . فإن كانوا في القراءة سواء . فأعلمهم بالسنة . فإن كانوا في السنة سواء . فأقدمهم هجرة . فإن كانوا في الهجرة سواء ، فأقدمهم سلما . ولا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه . ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

(صحيح مسلم : 673)

Terjemahannya “Orang yang akan mengimami suatu kaum adalah orang yang paling ahli membaca Kitab Allah, maka bila mereka dalam bacaannya itu sama, maka yang lebih alim (tahu) tentang Sunnah Rasul; apabila mereka tentang Sunnah adalah sama, maka hendaklah diangkat jadi imam orang yang lebih dahulu pergi hijrah; jika mereka hijrahnya sama, maka hendaklah diangkat orang yang lebih tua umurnya. Dan janganlah seorang mengimami orang lain diw wilayah kekuasaan orang itu, dan janganlah ia duduk di tempat duduk orang lain kecuali dengan izinnya.” (HR Muslim).

Catatan : lafadz ولا يؤمن  pada hadits riwayat muslim diatas ditulis ولا يؤم   pada riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah (semua sahih) dalam hadits diatas dituliskan dengan sehingga penerjemahan yang benar adalah : jangan mengimami

Dalam hadits diatas ada dua aspek yang harus diperhatikan tentang masalah imam shalat :

  1. Kelayakan imam sholat, yaitu berkaitan dengan prioritasi/urutan menjadi imam sholat berdasarkan skills-nya dalam masalah agama
  2. Kekuasaan imam sholat, yaitu berkaitan dengan boleh tidaknya seseorang boleh menjadi imam sholat atas orang lain di suatu wilayah/tempat tertentu

Terkait dengan prioritas/urutan menjadi imam maka hal ini memang sudah sangat sering dibahas di pengajian-pengajian yaitu bahwa yang diutamakan untuk menjadi imam sholat adalah dia yang أقرؤهم لكتاب الله paling baik bacaan Al-Qurannya, paling ‘alim hadits dll.

Namun sebagai catatan hal ini ada ikhtilaf diantara ulama apakah makna أقرؤهم لكتاب الله  paling baik bacaan disana maknanya artinya adalah paling bagus suara & makhraj-nya ataukah yang paling banyak hafalannya dan masing-masing ada argumennya, namun itu bukan fokus tulisan ini.

Yang menjadi fokus di tulisan ini adalah barangkali banyak di antara kita yang tidak tahu atau mungkin abai pada kententuan yang kedua yaitu terkait wilayah kekuasaan menjadi imam sholat, dimana ada larangan tegas bahwa seseorang dilarang mengimami orang lain di wilayah kekuasaan orang lain tersebut kecuali atas seizin orang lain tersebut. Artinya : seseorang harus legitimate menjadi imam sholat di area tersebut sebelum memimpin sholat itu sendiri. Bahkan ada celaan bagi mereka yang memimpin sholat suatu kaum sementara kaum itu enggan dipimpinnya :

ثلاثة لا ترفع صلاتهم فوق رءوسهم شبرا رجل أم قوما وهم له كارهون وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط وأخوان متصارمان

Terjemahannya “Ada tiga golongan yang tidak diangkat sholat mereka diatas kepala mereka ; seorang laki laki yang mengimami kaum sedangkan mereka enggan kepada dia, seorang wanita yang bermalam sementara lelakinya sedang mura dan dua orang bersaudara yang saling bermusuhan” (Ibnu Majah, Al-Mundziri – Hasan)

Karena itu siapa saja yang menjadi imam harus yaqin bahwa dia tidak dienggani oleh yang diimaminya, atau bila tidak maka pahala sholatnya terancam tidak naik ke sisi Allah SWT.

Lalu siapa yang sebenarnya legitimate untuk memimpin sholat ? Yang legitimate untuk memimpin sholat tentu adalah mereka yang telah ditunjuk sebagai imam sholat. Jadi pertanyaan mendasarnya adalah : bagaimana tatacara pengangkatan imam sholat ?

Urutan yang Layak menjadi Imam Sholat

Berikut pendapat 4 madzab yang saya cuplikan dari kitab Fiqh ‘Ala Arbaah Mahadzib karya syaikh Al-Jazairy:

  • Hanafiyah : Paling tahu hukum sholat > paling wara’ > paling baik tilawahnya > paling duluan masuk islam > paling tua > paling bersih bajunya dll, semuanya ini dengan catatan : bila tidak ada penguasanya disitu, bila ada maka penguasa lebih utama demikian juga tuan rumah, bos pegawai dst.
  • Syafiiyah : diutamakan adalah wali (gubernur) di wilayahnya > imam rowatib > tuan rumah, bila tidak berlaku hal diatas maka dipilih berdasarkan yang paling faqih > paling baik bacaanya > paling zuhud, wara’ > > paling dulu Islamnya > paling baik nasabnya  > paling bersih baju dan  badannya dst
  • Malikiyah : imam (khalifah) atau wakilnya walau disitu ada orang yang lebih faqih darinya > imam rowatib > tuan rumah > paling tahu hukum sholat > paling tahu hadits dan paling hafal >  dst
  • Hanabilah : faling faqih > paling faqih + paling bagus bacaanya > paling bagus  bacaanya > dst, kemudian yang manusia yang paling berhak menjadi imam di rumah adalah sohibul bait, imam rowatib bula untuk masjid dst.

Dari pendapat para imam diatas dapat disimpulkan bahwa yang didulukan untuk dijadikan imam adalah penguasa untuk wilayah baik wilayah kenegaraan atau wilayah masjid, wilayah rumah dll. Pada daerah yang tidak ada penguasanya maka baru yang diutamakan adalah faktor kefaqihan, bagusnya bacaaan dst.

Karena itu mekanisme pengangkatan imam rowatib di suatu masjid menjadi sangat penting karena dialah yang berhak untuk memimpin sholat dibanding siapapun yang hadir di masjid itu meskipun bisa jadi yang hadir pada saat ini ada orang-orang yang lebih faqih, lebih banyak hafalan AlQuran, Hadits dst.

Terkait Pengangkatan Imam Masjid (*sumber : Ahkam Sulthoniyah Imam Mawardi)

Pengangkatan imam sholat tergantung dari jenis masjid itu sendiri.

1.      Masjid Jami atau Masjid Negara

Masjid jami adalah masjid yang pengelolaanya berada dibawah wewenang negara. Imam rowatib masjid jami ditetapkan oleh negara yaitu oleh khalifah atau oleh naqib/wakil-nya baik itu Wali (Gubernur) atau Amil (Bupati) dst. Imam Masjid Jami digaji dari Baitul Mal (Kas Negara). Dia berhak mengangkat muadzin. Bila Imam Masjid Jami telah selesai memimpin sholat berjamaah maka tidak  diperbolehkan ada sholat jamaah lagi sesudahnya

 2.      Masjid Umum

Masjid umum adalah masjid yang dibangun oleh kaum muslimin di samping jalan raya dan perkampungan mereka. Yang menjadi imam adalah yang mereka tunjuk, khalufah dilarang ikut campur tangan. Jika jamaah masjid berbeda pendapat dalam pemilihan imam maka yang diberlakukan adalah suara terbanyak. Bila suaranya berimbang maka khalifah memilihkan untuk mereka untuk meng-hentikan konflik.  Jika seseorang membangun masjid, maka ia tidak secara otomatis lebih berhak atas jabatan imam. Ia dan tetangga-tetangganya yang lain sama posisinya dalam jabatan imam dan adzan

Sengaja saya garis bawah dan tebal perkataan “Ia dan tetangga-tetangganya” untuk menunjukkan bahwa pemilihan imam masjid adalah oleh warga sekitar masjid, bukan oleh orang yang bukan merupakan warga masjid tersebut, terlebih bila dikaitkan kembali pada hadits “jangan seorang mengimami suatu kaum di lain wilayah kekuasaannya”, wilayah kekuasaan tentu maknanya adalah rumahnya, kampungannya atau negaranya, bukan rumah orang lain, kampung orang lain atau negara lain.

Yang menarik dari masalah ini adalah, bahkan hingga Imam Mawardi menuliskan masalah pengangkatan imam sholat dalam kitab siyasah (politik)-nya yang sangat terkenal yaitu Ahkam Sulthoniyah. Hal Ini menunjukkan bahwa keberadaan  Imam (khalifah) sangat penting untuk memecahkan sekaligus menyatukan umat Islam, khususnya terkait persengketaan antar golongan sebagaimana kaedah syara “Amrul Imam yarfaul khilaf” : perintah Imam menghilangkan perselisihan.

Demikianlah tulisan ini semoga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan imam masjid ataupun imam sholat di sekitar kehidupan kita. Wallahu a’lam & Wassalam

dnux – 7 Desember 2011

Hukum Sutrah dalam Empat Madzhab

terjemahan dan ringkasan saya dari Kitab Fiqh ‘Alaa Madzahib Arbaah – Abdurrahman Ajjaziry

di kitab ini tidak saya jumpai pendapat dari empat madzhab yang mewajibkan penggunaan sutrah — dnux —

Definisi

Definisi sutrah : apa apa yang dijadikan oleh musholi di depannya dari kursi atau tongkat atau dinding atau tempat tidur atau selainnya yang bisa mencegah orang untuk lewat di depannya dengan tangannya. Tidak ada bedanya menjadikan sutroh itu sesuatu yang tetap (tidak bergerak) seperti dinding atau tiang atau benda selainnya (yang bergerak). Ini adalah pendapat tiga imam sedangkan syafiiyah menyelesihinya. Berikut detailnya :

Syafiiyah: Sesungguhnya ada 4 tingkatan sutroh tidak dibenarkan pindah ke tingkatan bawahnya kecuali bila memang tidak ditemui yang memudahkan menemui yg utama tersebut.

  • Tingkat pertama adalah sesuatu yang tetap dan suci, seperti dinding atau tiang.
  • Tingkat kedua adalah seperti tongkat atau semacamnya seperti furniture yang bila dikumpulkan maka akan setinggi seukuran sutroh (tongkat).
  • Tingkat ketiga adalah tempat solat yang bisa diletakkan diatasnya sajadah atau mantel atau semacamnya dengan syarat itu bukan bagiannya masjid (dnux : spt karpetnya masjid) karena hal tersebut (karpet masjid dll) tidak mencukupi untuk disebut sebagai sutroh (pembatas) (pada tingkat ketiga).
  • Tingkat keempat adalah garis panjang di tanah sepanjang seperti yang disyaratkan pada tingkatan pertama atau kedua yaitu kira kira selebar 2/3 dziro (hast). [dnux : atau kira2 30 cm –> 1 dziro = 45cm).

Kemudian agar tidak menjadikan jarak antara musholi dg sutroh (maximumnya) lebih dari 3 hasta (135 cm) atau kurang dari  yang diperlukan tangan untuk berdiri serta yang diperlukan kedua lutut untuk duduk. Disyaratkan juga untuk tingkatan ketiga dan keempat untuk menjadikan batasan nya itu menghadap kiblat 2/3 hasta atau lebih dan untuk tidak menambahkan antara jari jarinya dengan yang diletakkan didepannya di arah kiblat itu lebih dari 3 hasta.

Hukumnya

Hukumnya adalah mandub. maka mandub bagi musholi untk menjadikan sutroh berdasarkan kesepakatan.Dan telah diketahui baha di syafiiyah dan hanabilah tidak dibedakan antara mandub dan sunah. Mereka berkata  : meletakkan sutroh itu hukumnya sunah sebagaimana mereka mengatakan bahwa itu adalah mandub. Di dalam hanafiyah dan malikiyah yang mengatakan bahwa menletakkan sutroh itu adalah mandub yang hukumnya lebih ringan dari sunnah.

Mereka (Hanabilah & Malikiyah) berkata bahwa bila seseorang sholat di jalanan manusia tanpa sutroh dan orang lain lewat didepannya maka dia (yang sholat) berdosa karena tidak berhati hati dalam sholatnya yaitu ketika sholat di jalanan manusia tersebut.

Adapun syafiiah dan hanabilah mereka mengatakan mereka itu tidak berdosa tetapi makhruh saja.  Meninggalkan (meniadakan) sutroh itu tidak berdosa berdasarkan kesepakatan (ijma), karena hal tersebut hukumna hanya mandub saja bagi orang yang sholat munfarid (sendirian). Dan bagi ma’mum, maka hukumnya tidak mandub sebab sutrohnya imam juga adalah sutrohnya ma’mum.

Berikut perbandingan beberapa hukum sutrah di  madzhab


Hanafiyah Malikiyah Syafiiyah Hanabilah
Hukumnya Mandub Mandub Sunnah Sunnah
Tinggi ≥ 1 dziro ≥ 1 dziro tidak minimalnya ≥ 1 dziro
Lebar n/a n/a 2/3 dziro n/a
Tebal tidak ada tebal minimalnya minimal setebal panah tidak ada tebal minimalnya tidak ada tebal minimalnya
Jarak dg sutrah 3 dizro sujud + jarak yg bisa dilalui kambing/ kucing 3 dziro 3 dziro
Bentuk sutroh tegak & lurus tegak & lurus tegak & lurus
Mengahap orang boleh menghadap punggunngya, tidak boleh menghadap wajahnya, tidak boleh menghadap orang kafir atau wanita boleh menghadap punggunngya, tidak boleh menghadap wajahnya wanita asing tidak boleh menghadap punggung orang ataupun wajahnya boleh menghadap punggunngya ataupun menghadap wajahnya selama dia muslim dan bukan wanita asing
Menghadap benda ghasab (curang) boleh boleh boleh tidak boleh
Menghadap benda najis tidak boleh tidak boleh boleh boleh

Hukum melintasi (lewat) orang sholat

Diharamkan untuk melalui depannya orang sholat meski orang sholat tersebut tidak menggunakan sutrah tanpa udzur. sebagaimana diharamkan bagi musholi untuk menolak/menepis orang yang melintasi di depannya tanpa sutroh ditempat yang banyak manusia berlalu lalang. Jadi kalau ada orang yang melintasinya maka dia (juga berdosa) sedangkan bila tidak ada yang melintasi maka dia tidak dosa (karena tidak meletakkan sutrah) sebab meletakkan sutrah itu sendiri hukum asalnya tidak wajib. Dosa bagi keduanya bila si musholi mencegahnya sementara bagi si pelewat masih ada alternatif jalan lain, sedangkan tidak menjadi dosa bagi keduana bila si musholi tidak mencegahnya sementara si pelewat itu tidak memiliki jalan alternatif. ini adalah menurut hanafiyan dan malikiyah sedangkan bagi syafiiyah & hanabilah sbb :

Syafiiyah : tidak diharamkan bagi yg melintas kecuali bila si musholi menggunakan sutroh yang sesuai syarat2 yang ditentukan, bila tidak maka tidak diharamkan dan juga tidak dimakruhkan (untuk melaluinya). namun khilaful aula-nya (pendapat yg terbaik) adalah : bila musholi mencegah lewat sedangkan dia tidak menggunakan sutroh, maka menjadi tidak dosa bagi keduanya. meski memang benar bahwa dimakruhkan bagi musholi untuk sholat di tempat yang (umumnya) banyak orang  lewat baik itu (benar2) ada yang lewat atau tidak ada yang lewat (waktu dia sholat)

Hanabilah : bila seorang musholi sholat di tempat yang dibutuhkan oleh orang2 untuk lewat (dnux : contohnya di jalanan gang), maka makruh bagi dia secara mutlak untuk mencegah orang melaluinya sebagaimana menurut syafiiyah. kemakruhan ini bagi musholi saja. sementara bagi orang yang lewat tidak berdosa selama memang tidak ada lagi alternatif jalan bagi dia.

Mencegah pelintas sholat

disunnahkan bagi musholi untuk mencegah orang yang lewat di depannya dengan isyarat mata atau kepala atau tangan. bila tidak kembali (masih melintas) maka hendak dicegah dg semampunya. tapi dikedepankan yang paling mudah lalu yang mudah lagi, dengan syarat tidak bergerak banyak sebab itu akan merusak sholat. Ini adalah kesepakatan dalam syafiiyah dan hanabilah adapun dalam hanafiyah dan malikiyah sbb:

hanafiyah : dirukhsohkan untuk melakukan hal demikian selama tidak diulangi lagi, busa ditambahkan dengan isyarat kepaka atau mata atau dg tasbih sementara bagi wanita dengan menepuk tangannya sekali atau dua kali.

malikiyah :  dimandubkan untk mencegah pelewat (dnux : mandub lebih ringan dari sunnah)

====================

demikian terjemahan dan ringkasan saya … mohon koreksi bila ada kekeliruan penerjemahan.

wassalam – dwi Sept 2010

untuk control, asli tulisannya adalah sbb :

Continue reading

Mendudukkan Hadits Kuraib dalam Prespektif Penentuan Awal/Akhir Romadhon dan Problem Kesatuan Umat Islam

Abu Dhabi – Banda Aceh: 3012.5 miles, Merauke – Banda Aceh : 3250.5 miles (Tools : http://www.infoplease.com/atlas/calculate-distance.html). Kesimpulan : Banda Aceh lebih dekat ke Abu Dhabi dibandingkan ke Merauke. Lalu dengan alasan apa kita bisa memaksa Merauke untuk ngikut Ru’yat hilal nya Banda Aceh sedangkan Banda Aceh dilarang ngikut ru’yat hilal-nya Dubai ?

Pengantar

Terdapat dua hal  yang sering dicampuradukkan oleh masyarakat terkait masalah Romadhon yaitu (1) tentang kaidah penetapan awal/akhir Romadhon itu sendiri, dan (2) tentang keharusan memulai/ mengakhiri romadhon dan menyelanggarakan sholat ’Ied Fitri bersama pemerintah. Dan bila kita klafsikasikan, maka setidaknya ada tiga kelompok yang mewajibkan dirinya Sholat ’Ied Fitri puasa bersama pemerintah

Kelompok pertama adalah golongan orang kebanyakan yang melihat dua hal tersebut sebagai hal yang sama saja. Mereka kebanyakan juga tidak terlalu berpusing ria memperhatikan bagaimana kaidah yang benar dalam penetapan awal/akhir Romadhon, yang penting mengikuti apa kata pemerintah benar atau salahnya. Toh kalau salah yang nanggung dosanya juga pemerintah. Golongan seperti ini adalah orang yang sebenarnya menjerumuskan diri dan orang yang diikutinya (pemerintah dll) kedalam kesalahan berjamaah karena keengganannya untuk mencari ilmu dan keengganannya untuk menasehati sesama muslim, termasuk kepada penguasa

Kelompok kedua adalah golongan yang dalam dirinya telah terpatri prasangka buruk kepada sesama umat Islam di luar golongannya bahwa siapapun yang berbeda dengan pemerintah maka mereka adalah penentang penguasa atau bahkan dikatakan sebagai pembelot, pemberontak, dll. Padahal mereka mengetahui bahwa pendapat pendapat dari ulama ulama qodim tentang boleh tidaknya berbeda dengan penguasa dalam hal mengawali/ mengakhiri puasa termasuk juga pelaksanaan Sholat ’Ied.

Sedangkan kelompok ketiga hampir sama prinsipnya dengan kelompok kedua, namun anehnya mereka hanya toleran terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa golongan lainnya (ABC dll ) namun sangat antipati terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa dari golongan lainnya (XYZ dll)  dengan labelisasi wahabi, arabisme, transnasionalisme dan lain sebagainya.

Biasanya kelompok kedua dan ketiga ini selalu bertentangan (tanaqudh) pendapat dalam segala wabil khusus dalam masalah ibadah. Sepengetahuan kami, bisa jadi hanya dalam permasalahan berpuasa bersama pemerintah inilah mereka memiliki pendapat yang sama. Keduanya pun juga menggunakan hadits Kuraib secara bias untuk menjustifikasi kebenaran pendapat mereka.

Kok bias ? Ya … dan InsyaAllah dalam artikel ini dengan keterbatasan pemahaman saya, akan saya coba uraikan kebiasan tersebut dimana kebanyakan pada akhirnya adalah nukilan saya dari pendapat pendapat mu’tabar yang tersebar di buku buku ataupun di internet dan lain sebagainya.

Kami menujukan risalah ini bagi sahabat sahabat kami yang sedang kebingungan dan terombang ambing dalam masalah penentuan awal/akhir ramadhan apakah harus mengikuti pendapat pemerintah atau tidak. Kebingungan itu sebenarnya tidak perlu terjadi asal setiap orang mengetahui benar bagaimana pendapat itu digali (di-istinbath) lalu qona’ah (menetapi) terhadap kebenaran proses dan hasil istinbath tersebut, terlepas apakah hasil akhirnya sama atau tidak dengan yang diyakini selama ini. Dengan mengetahui pokok pembahasan tersebut pada akhirnya yang diharapkan adalah kesadaran bahwa bahwa bisa memahami kewajaran perbedaan pendapat untuk kemudian sebagai sesama muqolid (pengikut pendapat ulama) ataupun sebagai tholibin (orang yang baru belajar) tidak saling mencela satu sama lain.

pdf filenya : http://www.scribd.com/doc/16097901/Mendudukkan-Hadits-Kuraib-dalam-Prespektif-Penentuan-Awal-Akhir-Romadhon-dan-Problem-Kesatuan-Umat-Islam

Continue reading

Pendapat dan Sikap Saya Terhadap Masalah Isbal

Bukan untuk memperuncing masalah & tidak sama sekali. Ini saya tulis tidak lain karena masalah isbal ini sering ditanyakan oleh para daris (pelajar) yang ingin pasti kepastian hukum isbal. Khususnya karena keresahan para syabab disebabkan ada sebagian pengurus masjid tidak mau mengundang ustadz yang isbal.

Perbedaan mengenai isbal telah berlangsung ribuan tahun. Walhasil, dan tanpa perlu menyajikan dalil dalil, maka cukuplah saya sampaikan pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi tentang masalah Isbal. Diambil dari kitab Fathul Bari yang didownload dari http://www.waqfeya.com/open.php?cat=33&book=539 . Cuplikan buku ke 10 halaman 275 :

kesimpulan-isbal.jpg

InsyaAllah begini terjemahan bebas-nya (kalau ada kesalahan mohon dibetulkan) : notes  [] = komentar saya :

  • Dan dari hadits hadits [diatas] dapat dipahami bahwa menyeret (isbal) sarung (izar) dengan motivasi kesombongan (khuyalaa’) adalah dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena kesombongan maka secara dzohir lafadz diharamkan juga.
  • Tetapi istidlal dengan taqyid (pembatasan) isbal dalam hadits hadits “dengan kesombongan” menunjukkan bawah kemutlakan larangan yang disebutkan yaitu mengenai celaan terhadap isbal membawa konsukuensi pembatasan tersebut. Karena itu tidak dilarang memanjangkan atau menyeret bila selamat dari kesombongan
  • Ibnu ‘Abdil Bar berkata : Pemahaman bahwasanya memanjangkan bukan karena sombong tidak tercakup oleh janji (ancaman) tersebut, namun memang memanjangkan gamis atau jenis pakaian lainnya itu tercela atas setiap kondisi apapun. [dnux : beliau mengatakan tercela tapi tidak disebutkan apakah haram atau makruh]
  • (Imam) Nawawi berkata :Isbal itu adalah bila pakaian dibawah dua mata kaki karena sombong, sedang bila karena selainnya [dnux: selain sombong] maka itu menjadi makruh. Demikianlah yang dikatakan Syafi’y untuk membedakan antara memanjangkan karena sombong dan karena selain sombong.
  • Berkata [dnux : apakah masih Imam Naway ? kayaknya iya ..] : yang disukai adalah untuk membuat sarung (izar) itu separuh betis dan diperbolehkan alias tidak dimakruhkan hingga batas dua mata kaki. Apa apa yang dibawah dari dua mata kaki dilarang dengan larangan tahrim bila dengan sombong dan bila tidak maka dia celaan tanzih. [dnux : isbal karena sombong = makruh tahrim bila tidak disertai sombong = makruh tanzih].
  • Hal ini disebabkan karena hadits hadits yang telah disebutkan terdahulu mengenai teguran terhadap isbal secara mutlak wajib ditaqyidkan (dibabatasi) dengan pengertian bahwa itu adalah isbal karena sombong

Demikianlah pendapat dari Imam Ibnu Hajar dan pendapat beberapa ulama yang beliau cuplik pendapatnya di Fathul Bari. Disitu ada dua pendapat yaitu, pertama : Isbal tanpa sombong diperbolehkan secara mutlak dan kedua : Isbal tanpa sombong tergolong makruh tanzih (makruh ringan)

Sekali lagi bukan buat meramaikan perdebatan. Naudzubillah bila demikian. Bukan juga sekedar untuk pro dan kontra,  hanya sekedar untuk memberikan balance information saja.

Ada baiknya bagi yang sering membaca dan mengaji kita Riyadhus Shalihin – karya Imam Nawawy saya ingatkan bahwa hadits-hadits mengenai isbal di kitab tersebut diletakkan di Bab 119 dengan judul bab :باب صفة طول القميص والكمّ والإِزار وطرف العمامة وتحريم إسبال شيء من ذلك على سبيل الخيلاء وكراهته من غير خيلاء yang i.a rtinya “Sifat Panjangnya Gamis, Lobang Tangan Baju, Sarung, Ujung Sorban Dan Haramnya Isbal pada hal di atas karena maksud kesombongan dan memakruhannya jikalau tidak karena maksud kesombongan“.

Kesimpulannya, bagaimana pendapat serta sikap saya (dnux) terhadap masalah isbal:

  • Saya masih memegang pendapat bahwa Isbal itu makruh tanzih dan tahrim bila dengan sombong. Dan biar begitu – karena hukumnya makruh – maka paling baik isbal adalah dihindari walaupun tanpa sombong. Disamping itu, meninggalkan isbal dengan tujuan taqorub adalah berpahala.
  • Mengenai celana panjang. Meskipun beberapa ulama menganggap bahwa isbal itu terjadi pada jenis pakaian apa saja. Namun bagi saya, celana tidak termasuk dalam pembahasan masalah isbal, sebab pengertian isbal dibatasi dengan hadits ( الإِسْبَا ُ ل في ا لإِزارِ ، والقَمِيصِ ، وَالعِمَامةِ )  yang artinya : isbal itu terjadi pada sarung, gamis dan sorban HR Abu Daud & Nasay – lihat riyadhus shalihin no 792.
  • Implementasi saya : Kalau menggunakan sarung maka sebaiknya ditinggikan diatas mata kaki (kan tinggal digulung saja toh ..), sedangkan bila menggunakan celana maka tidak mengapa dibawah mata kaki namun jangan sampai menyeret juga karena tentu bisa jadi akan terkena kotor dan najis di perjalanan. Apalagi pakai celana cutbrai .. walah .. gak usah lah .. nanti bisa bisa jatuh haram karena tasyabuh dengan penyanyi metal 🙂
  • Kesombongan. Sombong adalah dosa besar sebagaimana menurut Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Kaba’ir (Dosa Dosa Besar) Bab 15 “Sombong, membanggakan diri, dan mengagumi diri-sendiri”.. Karenanya itu menyeret pakaian – baik sarung ataupun celana – bila disertai sombong maka menyebabkan pelakunya terjatuh dalam dosa karena sikap sombongnya, bukan sekedar masalah isbalnya itu sendiri. Demikian juga mereka yang menjaga pakaiannya diatas mata kaki akan terjatuh dalam dosa bila dia sombong dan membanggakan diri dengan ketidak isbalannya itu.

Kepada saudara saudaraku yang berpendapat “haram isbal baik dengan sombong atau tidak” serta “wajib tidak isbal” : 

  • Cara berpakaian anda yang menjaga selalu diatas mata kaki itu adalah sikap yang benar dan terpuji
  • Pendapat anda yang mengharamkan isbal tanpa sombong namun pendapat anda itu benar menurut dalil dan penggalian yang anda pergunakan, namun pada kenyataannya pendapat anda ternyata tidak sesuai dengan pendapat ulama hadits dan fikih besar sekaliber Ibnu Hajar dan Imam Nawawy
  • Karenanya, jangan mencela, mentertawakan, mengejek serta merendahkan mereka yang berpendapat boleh isbal tanpa sombong, cukup sampaikan pendapat anda apa adanya tanpa pretensi merendahkan. Bukankah anda sering membuka hadits arbain ? Di hadits no 35  tertulis “Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim . Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya ” (HR Muslim)
  • Jangan juga memboikot ustadz yang isbal. Kalau mau fair harusnya ustadz-ustadz yang masih tenggelam dengan sekulerisme dan yang ragu ragu terhadap syariat Islam itulah yang harusnya dilarang berceramah, karena jelas2 telah berbuat haram dan maskiat besar.

Walhasil, mari kita sama sama waspada terhadap jebakan iblis yang senantiasa membisiki rasa hasud dan dengki terhadap sesama muslim. Harusnya rasa hasud dan dengki kita alihkan menjadi sikap benci terhadap Hukum Jahiliah yang mengambil dominasi Kekuasaan Hukum Allah atas manusia.

Wallahu a’lam

dnux