Something inside my minds

Archive for the ‘ilmu’ Category

Mother Aisha RAh contribution to the science of Hadeeth

Posted by dnux on August 10, 2016

Aisha RA born in Makkah 614 C.E or 9 years before Hijri. She is daughter of Abu Bakr Siddique RA the most beloved of companion of Rasulullah. Her mother was Umm Roman RA. She was grew in a honorable family that away from jahiliya tradition and Rasulullah already knew her very well during her grew.

After the year of sadness, Abu Bakar as suggested by Khawlaah (wife of Uthman RA) propose Aisha to Rasulullah. Khalid and Abdel noticed (2003) that Rasulullah PBUH married her after according to Allah command. Narrated by Bukhari and Muslim that Rasulullah saw her in his dream and told by an angel if she is his wife. The marriage is conducted in Shawal after the Battle of Badr and both lived in a small house which consisted a room beside the mosque. Aisha RA lived with Rasulullah for approximately nine years. Rasulullah often called her with “Humaira” or little reddish.

Aisha RA then become the most person who knew well everything that Rasulullah did in his (PBUH) private live particularly in the domestic life, inside the house. He knew very well how Rasulullah communicate and interact with her and also with other Rasulullah wives. He witness that Rasulullah keep himself busy serving his family until the time of prayer (Bukhari) . She involved in many Rasulullah events so latter on she will become important source hadith and important source for legal woman activities which allowed or forbidden during menstruation. She was the important of information source how a husband should be treat his wife and the maids mannerly just like Rasulullah PBUH. Read the rest of this entry »

Posted in hadits, ilmu | Leave a Comment »

Bertanyalah kepada Ahlul Dzikri. Mengapa bukan ke Ahlul Ilmi ?

Posted by dnux on June 1, 2015

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِيۤ إِلَيْهِمْ فَٱسْأَلُواْ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنْتُم لاَ تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl:43)

Makna Ahlul Dzikri

Secara ringkas di Tafsir Jalalayn dikatakan bahwa
 فَٱسئَلُواْ أَهْلَ ٱلذّكْرِ } العلماء بالتوراة والإِنجيل} ahludz dzikri adalah ulama yang menguasai taurot dan injil.

Di dalam tafsir Thobary dikatakan :
يقول تعالـى ذكره لنبـيه مـحمد صلى الله عليه وسلم: وما أرسلنا من قبلك يا مـحمد إلـى أمة من الأمـم، للدعاء إلـى توحيدنا والانتهاء إلـى أمرنا ونهينا، إلاَّ رجالاً من بنـي آدم نوحي إلـيهم وحينا لا ملائكة، يقول: فلـم نرسل إلـى قومك إلاَّ مثل الذي كنا نرسل إلـى من قَبلهم من الأمـم من جنسهم وعلـى منهاجهم. { فـاسْئَلُوا أهْلَ الذّكْرِ } يقول لـمشركي قريش: وإن كنتـم لا تعلـمون أن الذين كنا نرسل إلـى من قبلكم من الأمـم رجال من بنـي آدم مثل مـحمد صلى الله عليه وسلم وقلتـم هم ملائكة أي ظننتـم أن الله كلـمهم قبلاً، { فـاسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ } وهم الذين قد قرأوا الكتب من قبلهم: التوراة والإنـجيـل، وغير ذلك من كتب الله التـي أنزلها علـى عبـاده.
تفسير جامع البيان في تفسير القرآن/ الطبري (ت 310 هـ) مصنف و مدقق

Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa tidaklah Kami mengutus sebelum dirimu Y Muhammad kepada suatu umat untuk menyeru agar mentauhidkan kami serta menyempurnakan hingga ke perintah dan larangan – melainkan dia adalah seorang lelaki bani adam yang diwahyukan kepada mereka, bukan malaikat. Allah SWT juga berkata, dan tidak juga diutus ke kaummu kecuali seperti yang pernah kami utus ke kaum2 sebelum mereka kecuali dengan jenis dan manhaj/metode yang sama.

Read the rest of this entry »

Posted in al-quran, ilmu | Leave a Comment »

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai / Tanah

Posted by dnux on March 4, 2013

Hukum Meletakkan AlQuran di Tanah/Lantai menurut Syaikh Utsaimin & Bin Baz + Hukum Menghormati Mushaf AlQuran oleh Imam Nawawy dalam Kitab Tibyan …

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai (1)

Jawaban Syaikh Utsaimin

مما لا شك فيه أن القرآن كلام الله عز وجل تكلم به سبحانه وتعالى ونزل به جبريل الأمين على قلب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنه يجب على المسلم احترامه وتعظيمه ولهذا لا يجوز للمسلم أن يمس القرآن إلا وهو طاهر من الحدثين الأصغر والأكبر ولا يجوز أن يوضع القرآن في مكان يكون فيه إهانة له وأما وضع القرآن على الأرض أثناء السجود للمصلى فلا بأس بذلك لأنه ليس فيه إهانة لكنه يجب أن يبعد عن ما يقرب من القدمين بمعنى أنه لا ينبغي بل لا يجوز أن يضعه الإنسان عند قدمه وهو قائم مثلا وإنما يجعله بين يديه أو قدام موضع سجوده كذلك أيضا لا يجوز أن يوضع بين النعال كما لو كان الناس يضعون نعالهم في مكان فيأتي هذا الإنسان ويضعه بين النعال فإن هذا لا يجوز لأنه إهانة للقرآن الكريم.

Terjemah bebas :  Tidak diragukan lagi bahwa AlQuran adalah kalamullah azza wajalla dimana Allah SWT berkalam dan menurunkannya melalui Jibril AS kepada rasulullah SAW dan bahwasanya wajib atas umat Islam untuk menghormati dan mengagungkannya. Karena itu maka tidak boleh bagi umat Islam untuk memegang AlQuran kecuali dia telah suci dari hadats kecil apalagi dari hadats besar. Tidak diperbolehkan juga untuk meletakkan AlQuran di tempat yang menyebabkan kehinaan padanya. Sedangkan meletakkan AlQuran ketika sujud (sedang sholat) maka tidak mengapa, sebab hal itu bukan bentuk penghinaan. Akan tetapi wajib bagi dia untuk menjauhkan agar pelewat dari AlQuran yang diletakkan di lantai tsb. Bahkan tidak boleh seorang menempatkan AlQuran dikakinya sedangkan dia berdiri, seharusnya dia letakkan didepannya atau didepan tempat sujudnya. Demikian juga tidak boleh untuk meletakkan AlQuran ditempat sandal yang biasanya orang orang meletakkan sandalnya disitu. Sebab hal ini merupakan bentuk dari penghinaan kepada AlQuran. Sumber : http://www.nquran.com/index.php?group=view&rid=2379

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai (2)

Jawaban Syaikh bin Baz :

Read the rest of this entry »

Posted in akhlaq, al-quran, ilmu, islam, sholat | 3 Comments »

Hadits Hadits Motivasi Menuntut dan Menyebarkan Ilmu

Posted by dnux on November 23, 2010

diambil dari hadits Tirmidzi di lidwa.com/app bab Ilmu

Sesungguhnya orang yang menunjuki kebaikan, sama (pahalanya) dengan orang yang melakukan itu  (hasan sahih)

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Seorang yang faqih itu lebih berat bagi setan daripada seribu orang ahli ibadah. (gharib – dhaif)

فَقِيهٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Barangsiapa yang di kehendaki Allah kebaikan padanya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama (hasan sahih)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang sengaja berbohong atas namaku maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di neraka. (sahih – mutawatir)

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (hasan)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa yang belajar ilmu maka itu adalah kafarat bagi apa yang pernah lalu (dhaif)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dicambuk pada hari kiamat dengan cambuk dari neraka (hasan)

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa belajar Ilmu untuk selain Allah atau menginginkan selain Allah, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya (kelak) di neraka (hasan)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Kalimat hikmah adalah barang seorang mukmin yang hilang, maka dimana saja ia menemukannya ia lebih berhak untuk mengambilnya (gharib – dhoif)

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga (hasan gharib)

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, atau untuk mengolok-olok orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka (dhaif)

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika Dia tidak meninggalkan seorang alim (di muka bumi) maka manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan. (sahih)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataanku, dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, bisa jadi orang yang mengusung fiqih menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya. Dan tiga perkara yang mana hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amalan karena Allah, saling menasehati terhadap para pemimpin kaum muslimin, berpegang teguh terhadap jama’ah mereka, sesungguhnya da’wah meliputi dari belakang mereka.” (sahih)

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun“. ( hasan shahih)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mensunnahkan sunnah kebaikan, lalu dia diikuti atasnya, maka dia mendapatkan pahalanya dan seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mensunnahkan sunnah kejelekan, lalu dia diikuti atasnya, maka dia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun (hasan sahih)

مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا فَلَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةَ شَرٍّ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian,  kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (gharib – sahih)

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.(sahih)

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذ

faf

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya (HR Bukhari) خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah ‘azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah.” (HR Abu Daud) – ada perawi yang tidak kuat مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
“Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR Ibnu Majah, Abi Daud) وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِهُدَاكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim dan mengajarkan ilmunya. (HR Ibnu Majah 4102) الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah) مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku di utus dengannya.” HR Bukhari Muslim إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ 

 

 

Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya (HR Bukhari)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah ‘azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah.” (HR Abu Daud) – ada perawi yang tidak kuat

مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Demi Allah, sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaramu, maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.” (HR Ibnu Majah, Abi Daud)

وَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِهُدَاكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya, atau seorang yang ‘alim dan mengajarkan ilmunya. (HR Ibnu Majah 4102)

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat. (HR Ahmad, Abi Daud, Ibn Majah)

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

Perumpamaan agama yang aku diutus Allah ‘azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku di utus dengannya.” HR Bukhari Muslim

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

 

Posted in akhlaq, aqidah, ilmu, islam, kapitalisme, pencerahan, puisi | 3 Comments »

Tentang Ilmu dan Menuntut Ilmu serta Sahnya Mandi Wajib

Posted by dnux on June 12, 2007

Ilmu dan Menuntut ilmu adalah dua hal yang berbeda. Ilmu, meski sifatnya abstrak, namun tetap terkategori benda sehingga hukum tentang ilmu juga terkait dengan hukum benda yaitu halal dan haram. Sedangkan menuntut ilmu, adalah termasuk jenis perbuatan manusia yang hukumnya bisa saja fardhu, mandub, mubah, makruh ataupun haram. Yang fardhupun terbagi atas fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

Para ulama secara umum menjelaskan bahwa menuntut ilmu yang tergolong fardhu ‘ain adalah ilmu-ilmu yang terkait pelaksanaan fardhu ‘ain oleh pelakunya. Seseorang yang beranjak baligh dan otomatis telah terkena taklif kewajiban sholat, maka dia wajib mempelajari ilmu shifat sholat, mulai dari rukun sholat, cara mengetahui waktu dan arah sholat, hal hal pembatal sholat, tata cara sholat berjama’ah dan lain sebagainya.

Demikian juga dia harus mengetahui hukum hukum pergaulan yaitu  batasan menutup aurat, menjaga pandangan mata, pakaian apa saja yang haram dipergunakan, batasan ikhtilath (interaksi) dengan sesama atau lawan jenis, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi sangat penting terutama menjadi sangat utama pada masa sekarang ditengah arus dunia pergaulan remaja yang bebas dan tidak lagi mengindahkan rambu rambu syariat.

Pendeknya, ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu yang terkait dengan kewajiban syariat sehingga dengannya seorang mukalaf bisa melaksanakan setiap perbuatannya sesuai dengan perintah syara’ terutama perintah yang wajib dan haram. Adapun aqidah, sudah tentu wajib ditamankan dan dipahamkan sejak dini.

Adapun ilmu yang terkait dengan kemasyarakatan, maka para ulama pada umumnya sepakat bahwa menuntut ilmu tersebut adalah fardhu kifayah. Para ulama klasik – seperti Imam Ghozali dalam Ihya-nya – sering mengemukakan ilmu tabib (kedokteran) sebagai contoh ilmu fardhu kifayah. Mereka juga sepakat bahwa apabila dalam masyarakat tidak ada yang mempelajari ilmu tersebut sehingga kesehatan masyarakat terabaikan, maka setiap anggota masyarakat tersebut akan menanggung dosa karena mengabaikan fardhu kifayah tersebut (kedokteran).

Ilmu agamapun ada yang tidak wajib (tidak fardhu ‘ain) dipelajari, seperti ilmu tafsir ataupun ilmu hadits. Dua hal tersebut hukumnya juga fardhu kifayah, cukup ada satu orang atau lebih yang mendalami ilmu tafsir atau ilmu hadits yang mensyarakatkan belajar sastara arab, rijalul hadits, hafal ratusan ribu hadits dan syarat syarat berat lainnya. Masyarakat cukup mendapatkan hasil instant dari ilmu tersebut berupa kitab kitab tafsir ataupun kitab kitab hadits.

Inilah sekilas pembagian ilmu menjadi fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Para Ulama-pun tidak kaku membagikan fardhu ‘ain adalah setiap ilmu agama dan fardhu kifayah adalah setiap ilmu dunia.

Fardhu kifayah bisa berubah menjadi fardhu ‘ain yaitu ketika fardhu kifayah tidak terlaksana sempurna dan memang memerlukan semua manusia di tempat terjadinya kewajiban tersebut.

Contoh : Pada asalnya mengurus jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah. Namun dalam case tertentu disebabkan mewabahnya penyakit mematikan sehingga terjadi kematian masal, lalu ternyata tidak cukup hanya mengandalkan segilintir orang saja untuk mengurus jenazah, maka individu individu yang ada di komunitas tersebut wajib turun tangan mengurus jenazah hingga semua jenazah bisa terkuburkan tepat pada waktunya.

Contoh lain adalah kewajiban mengangkat khilafah yang pada awalnya adalah fardhu kifayah dan tugas dari ahlul ahlii wal aqdi yang harus dilaksanakan dengan batas pengangkatan maksimum tiga hari, maka kewajiban tersebut pada saat ini menjadi fardhu ‘ain sebab batas toleransi status quo tanpa khilafah (3 hari) telah lewat dan semua organisasi yang saat ini berjuang untuk mewujudkan khilafah hingga detik ini (sejak 83 tahun setalah khalifah terakhir turun) masih belum mampu mengangkat khalifah.

Terkait dengan masalah “Ilmu dunia”, maka ilmu dunia yang mubah fardhu kifayah, bisa juga berubah menjadi fardhu ‘ain yang harus dipelajari/diketahui setiap orang. Setiap mukalaf tidak hanya wajib mengetahui hukum perbuatan yang hendak dia lakukan yaitu apakah wajib, mandub, mubah, makruh dan haram. Apabila perbuatannya itu terkait dengan penggunaan benda, maka dia juga wajib mengetahui apakah benda yang dipergunakan itu boleh dipergunakan atau tidak (halal atau haram). Dan untuk mengetahuinya maka setiap muslim wajib melakukan ihsasul waqi (identifikasi fakta) pada benda yang akan dipergunakan tersebut.

Contoh : Aktivitas mandi wajib. Tafaqquh fiddiin untuk mengetahui apa saja yang mewajibkan mandi adalah sesuatu yang harus dilakukan dan ihsasul waqi untuk mengetahui apakah sabun/shampo yang akan dipergunakan mandi itu halal atau haram juga wajib dilakukan, terutama karena hampir semua sabun/shampo diindikasikan mengandung bahan berasal atau diduga berasal dari babi. Asal kita sadar saja bahwa bila kita teliti sangat sulit untuk mencari shampo yang ada logo halal-nya. Hal ini karena LP POM MUI disamping tenaganya terbatas, juga memang tidak memiliki kekuatan hukum untuk memaksa setiap produsen mensertifikasikan halal produk mereka. Diantara ingridents yang harus diwaspadai karena jelas jelas dari babi adalah semisal Gelatin, E 422 Glycerin, E 920 L-Cystein, dsb. Dan yang diduga berasal dari babi adalah E 921 L-Cystin, mono digliserida, dsb. Informasi yang lebih akurat bisa dibaca di majalah HALAL dari LP-POM MUI atau langsung ke website LPPOM MUI.

Karenanya, menjadi wajib bagi kita – pada kondisi sekarang – untuk mengetahui jenis jenis bahan apa saja yang berasal atau diduga berasal dari babi, sehingga kita bisa check apakah barang yang akan kita pakai itu halal atau haram. Dan kwajiban mengetahui kandungan haram ini adalah syarat agar mandi wajib kita menjadi sah dan bukannya malah menambahi najis itu sendiri.

Inilah salah satu ilmu dunia yang wajib diketahui pada saat penegakan halal haram terabaikan terutama setelah runtuhnya Daulah Khilafah penegak dan penjaga syariat Islam disetiap jengkal tanah umat Islam.

Posted in fiqh keseharian, ilmu | Leave a Comment »

Kesempurnaan Islam di Khitan oleh Muslimin Non Ideologis Islam.

Posted by dnux on June 4, 2007

Tulisan ini tidak bermaksud menanggapi tanggapan nyleneh seseorang yang meminta SBY mencegah masuknya ideologi transnasional atau mencoba menambahkan definisi dan penjelasan atas ideologi Islam yang sudah tentu telah banyak ditulis oleh para senior seperti artikel di al-wa’ie atau yang lainnya.

Secara singkat debat Islam sebagai ideologi atau bukan adalah karena definisi ideologi itu sendiri. Manakala ideologi diterjemahkan sebagai buah pemikiran manusia untuk menyelesaikan problemanya maka jelas memang Islam bukan buatan manusia. Pertanyaanya : itu definisi dari mana ya ? Kalau saya baca wiki atau yang lainnya, penjelasan ideologi adalah “ilmu tentang  ide, ilmu tentang gagasan, yang tentu saja harus berperan dalam proses pengembangan setiap ilmu termasuk dan terutama menyangkut ilmu-ilmu sosial.” tanpa disebutkan disana apakah itu hasil pemikiran manusia murni atau datang dari pemikiran yang digali dari wahyu Allah SWT.

Lebih jauh, menurut Willard A. Mullins karakteristik ideologi adalah
1. memiliki kekuatan pengamatan (terhadap realitas)
2. mampu memberikan panduan evaluasi seseorang (dalam menyelesaikan masalah)
3. bisa memberikan arahan untuk berbuat/berntidak (berfikir juga tentunya)
4. harus padu (terintegrasi)

Jadi, bila dirumuskan dengan dari pandangan pakar definisi ideologi tersebut ? kira kira Islam masuk dalam suatu objek yang disebut ideologi tidak ? Masuk definisi idelogi dong ..

Yang jelas, ketika seorang muslimin khususnya yang menurut masyarakat umum dikenal atau setidaknya dianggap sebagai tokoh Islam yang menyatakan bahwa islam itu bukan ideologi maka pertanyaanya adalah : ideologi apa yang sedang dia anut ? apakah ideologi kapitalis atau ideologi komunis. Dan peluang yang terbesar adalah dia menganut ideologi kapitalis sekuler entah dalam taraf penganut ideologi kapitalis tulen – yang memisahkan mutlak antara urusan sistem islam dari kehidupan umum – atau penganut ideologi kapitalis yang tidak tulen, yang berupaya menggunakan Islam sepenuhnya namun meminggirkan Islam pada tataran hukum dan pemerintahan.

Karena memang tidak ada kemungkinan lain selain memeluk antara ideologi Islam, ideologi Kapitalis dan Ideologi Komunis. Ideologi2 lainnya hanyalah cabang dari ideologi kapitalis atau komunis atau hasil perkawinan yang menghasilkan anak cucu. Sebab Islam tidak mempunyai cabang atau anak cabang ideologi selain Islam itu sendiri, hal ini sesuai pemahaman “udkhuluu fiis silmii kaffah”  [masuklah islam saja dan secara totalitas] .. atau “wamaa dzaa ba’dal haqqi illadh dholal ?” [maka apakah sesudah kebenaran itu kecuali kebatilan]..

Bahaya terbesar dari pernyataan Islam bukan sebagai ideologi dari mereka yang dikenal atau dianggap sebagai tokoh Islam adalah efek pernyataan tersebut kepada kaum muslimin yang masih awam dalam hal pengertian dan sifah ideologi Islam itu sendiri, sehingga terjebak untuk tidak berideologi Islam alias terjebak masuk dalam koridor ideologi kapitalis/komunis dan sudah tentu menjadi tidak masuk ke dalam Islam secara kaffah.

Tokoh tersebut pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatan dan hasil perbuatannya tersebut di yaumil hisab yang mencegah atau mengakibatkan orang lain tidak masuk islam secara kaffah. Aktivitas tokoh tersebut akan tidak lain adalah telah menyunat (mengkihtan) kesempurnaan Islam itu sendiri yang merupakan sebuah koleksi terintegrasi dari petunjuk2 hidup yang diberikah oleh Allah SWT untuk menyelesaikan segala problematika manusia di dunia.

Ada yang nyletuk : Gimana mungkin Islam itu Ideologi, lha wong istilah ideologi itu sendiri baru muncul abad 18 M. Jawaban : Lha itu kan cuman penemuan istilah atau definisi dari ideologi saja, bukan penemuan ideologinya sendiri. Kapitalis sendiri sebagai sebuah ideologi juga sudah muncul sebelum penemuan istilah idelogi itu sendiri. Tinggal masalahnya, bagaimana memasukkan tiap objek yang ada apakah bisa masuk ke dalam definisi baru tersebut atau tidak. Istilah aqidah sebagai istilah baru dari Iman, saja juga baru muncul setelah masa nabi dan sahabat kok ..  yang penting makna dibalik definisinya, bukan kapan definisi itu ada … Gitu lo ..

Apapun itu istilahnya, yang jelas Allah menghendaki agar kita beriman dan berislam totalitas dan menyeluruh terhadap apa2 yang dibawa Rasulullah SAW termasuk dalam hal sistem hukum dan pemerintahan Islam. “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). (AlBaqoroh 137) Jika mereka ber-Islam (masuk Islam dan tunduk pada aturan Islam), sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). (Ali Imran :20)

Posted in ilmu, islam, manhaj | Leave a Comment »