Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah

lebih lengkapnya judul artikel ini adalah : Keraguan Kredit Mobil melalui Bank Syariah. Kalau melalui Bank Konvensional (dengan mekanisme seperti skarang ini), tentu tidak ragu lagi kalau itu batil sehingga haram untuk dilakukan

Ada 5 keraguan saya terhadap praktek kredit mobil melalui bank Syariah yang saya alami dan setelah direview ternyata bisa jadi aqad jual beli yang saya lakukan itu statusnya ternyata batil ataupun fasad. Tulisan ini bukan untuk menimbulkan keragua-raguan pada bank syariah apalagi kemudian dianggap menghambat perkembangan bank Syariah apalagi dikatakan mendorong masyarakat kembali ke bank ribawi, naudzubillah. Semangat dari tulisan ini adalah untuk sama sama jeli dalam melakukan aqad sehingga sebagai pribadi kita bisa melakukan aqad yang sesuai tuntunan syariat khususnya dalam masalah kredit mobil atau yang lainnya. Bagi bank syariah sendiri apabila ada kebenaran dalam tulisan saya maka tidak ada salahnya untuk mengkoreksi diri.

Sebuah aqad akan bernilai sah bila memenuhi rukun dan syarat wajib dalam jual beli sebaliknya bila ada pelanggaran pada rukun dan/atau syarat wajib jual beli maka aqad tersebut bernilai batil dan tidak boleh dilakukan sama sekali. Apabila ada cacat pada syarat yang tidak wajib maka akan tersebut menjadi fasad dan harus dibenahi agar akad tersebut bernilai sah dimata hukum syara.

Contoh sederhananya adalah nikah. Nikah sah bila ada mempelai lelaki & wanita, dua orang saksi serta wali dari mempelai wanita. Nikah menjadi batal bila tidak ada wali ataupun kekurangan saksi, status pernikahannya tidak sah di mata syariat. Adanaya wali walaupun sah namun bila wali itu tidak terkategori wali mujbir sesuai urutan seperti paman lelaki padahal ayah kandungnya masih sehat dan tidak berhalangan serta tidak meminta diwakilkan maka ini adalah akad nikah yang sah namun fasad dan harus diulang ijab qobulnya dengan menghadirkan si ayah tersebut.

Rukun dari Akad Jual Beli adalah :

  1. Adanya penjual dan pembeli
  2. Adanya barang yang dijual / dibeli
  3. Adanya redaksional (sighat) aqad yang dikuatkan dengan ijab qobul

Beberapa ulama menambahkan harga sebagai bagian dari rukun, yang lainnya tidak. Bahkan dalam madzhab hanafi yang menganggap sighat aqad sebagai satu satunya rukun jual beli.

Continue reading

Advertisements

Ramadhan sebagai Bulan Ekonomi Umat

Disamping merupakan bulan puasa, bulan Ramadhan bisa kita sebut sebagai bulan ekonomi dan wiraswasta. Bayangkan, orang orang yang sehariannya bukanlah pedagang, mendadak menjadi pedagang di bulan ini baik itu pedagang makanan kecil, hidangan buka puasa, baju islami, dan sebagainya.  Jauh jauh hari para pengusahan ini telah menyiapkan analisa dan survey pasar serta menabung rupiah/emas untuk dijadikan sebagai modal usaha ketika bulan Ramadhan datang.

Demikian juga para konsumen, apabila seharinya bersantap dengan menu secukupnya, namun pada bulan Istimewa ini mereka tidak ragu membeli makanan berlebih untuk menu buka puasa dan sahur walaupun harga sembako naik tajam selama bulan Ramadhan ini. Demikian juga dalam pembelanjaan baju koko, mukena, buku buku islami pun meningkat karena didorong faktor diskon dan lain sebagainya. Dan terakhir tidak ketinggalan adalah pembelanjaan tiket pesawat terbang atau kapal laut untuk pulang kampung  sebagai alternatif mahalnya harga tiket pesawat terbang.

Inflasi (kenaikan harga) pada keadaan seperti ini adalah kenaikan yang wajar disebabkan oleh tingginya permintaan (demmand) barang sehingga menimbulkan opportunity (peluang) bagi masyarakat untuk meningkatkan atau mneambah jumlah penawaran (supply) barang yang dibutuhkan konsumen sehingga tercapai equilibrium (keseimbangan) harga baru memang yang secara umum memang lebih tinggi daripada diluar bulan Ramadhan. Inilah “the true invisible hand” dimana pasar digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan yaitu mekanisme pasar itu sendiri.

Namun sayangnya pergerakan ekonomi itu hanya bertahan di  bulan Ramadhan. Pada bulan selanjutnya ekonomi pasar kembali ke bentuk semula. Para usahawan yang memilki kemapuan kembali ke aktivitas semula karena permintaan menurun ataupun karena modal dan keuntungan digunakan sudah untuk belanja lebaran. Para konsumen pun kembali menjadi penabung dan menunggu keuntungan berupa menunggu bunga (bank Konvensional) ataupun bagi hasil (bank Syariah). Mereka memilih saving daripada memutarkan uangnya untuk kegiatan ekonomi berupa belanja ataupun usaha.

Ekonomi Islam adalah ekonomi produktif sementara sesungguhnya menabung (saving) bukanlah kegiatan produktif dan berpotensi dicela oleh Allah SWT : “Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, kepada mereka beritahukanlah bahwa mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih. (QS at-Taubah : 34). Apalagi bila menabungnya di Bank Konvensional yang ber-riba maka sesungguhnya hanya akan menuai murka Allah SWT “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “ (QS 2:279)

Menabung di Bank Syariah walaupun tidak mendapatkan bunga namun biasanya uang penabung digunakan oleh Bank dalam sektor konsumtif seperti pembiayaan kredit baik itu properti ataupun kendaraan bermotor. Dan tentu saja hanya orang orang kaya yang mendapatkan kredit tersebut. Padahal Allah SWT  berfirman : “ .. supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu (saja)” (QS Al Hasyr: 7)

Umat Islam harusnya membantu satu sama lain. Karenanya alangkah indahnya bila selepas Ramadhan ini kebiasaan menabung masyarakat diganti dengan kebiasaan berinvestasi riel yang jelas jelas merupakan penobang bangunan ekonomi masyarakat, bukan sektor moneter yang penuh riba dan gharar serta berpotensi menimbulkan tsunami moneter dan tsunami finansial. 

Para pemilik modal hendaknya mencari rekanan yang jujur dan kredibel untuk bekerjasama mengembangkan atau pembiayaan lunak. Bukankah dengan cara demikian masing masing dapat untung. Bagi rekanan akan melancarkan usaha mereka baik berupa rintisan atau expansi, bagi pemodal akan mendapatkan pengalaman bisni, mengetahui seluk beluk usaha serta terhindar dari kufur nikmat penimbunan harta. Dalam Ihya, Imam Ghazali berkata : “… seseorang yang hanya menyimpan(harta)-nya saja dirumahnya, ia benar benar menganiaya fungsi harta dan uang itu, serta melalaikan nikmat yang terkandung dalam penciptaan emas dan perak atau secara umum dia menganggurkan tujuan pembuatan uang itu”. Wassalam.

Riba, Dinar Dirham dan Inflasi

Tahun demi tahun kita  merasakan betapa uang  yang kita hasilkan dari bekerja semakin tidak cukup untuk membeli benda baik itu untuk kebutuhan sehari hari seperti sembako ataupun untuk membeli material bangunan ataupun uang pendidikan dan lain sebagainya meski memang ada beberapa jenis barang semakin murah seperti barang elektronik hp tv dan lain sebagainya. Kenaikan harga tersebut yang kita sebut dengan istilah inflasi yang oleh para ahli ekonomi.

Kenaikan harga harusnya adalah sebab terjadi kelangkaan jumlah barang (supply) atau meningginya permintaan (demmand) sehingga terbentuk keseimbangan harga baru (equilibrium). Namun pada kenyataanya walaupun penawaran dan permintaan tetap namun harga pun tetap terus merangkak naik, tidak ada pilihan bagi pedagang dan pembeli untuk mengikuti kenaikan harga barang tersebut. Mengapa hal tersebut terjadi ?

Sebenarnya  kenaikan harga pada masa sekarang ini bukan disebabkan karena kenaikan meningkatnya permintaan atau menurunnya penawaran barang saja atau karena faktor ekonomi mikro semata, baik dalam scope regional atau internasional (seperti melambungnya harga minyak dunia). Penyebab utama inflasi saat ini justru disebabkan oleh faktor ekonomi makro (sektor moneter) seperti semakin membanjirnya likuiditas uang di tengah masyarakat karena Bank Indonesia mencetak uang untuk memenuhi permintaan uang berupa gaji pegawai negeri, pembiayaan proyek, pencairan  Sertifikat Bank Indonesia (SBI), pelunasan Surat Utang Negara (SUN), pembayaran hutang luar negeri dan lain lain.

Karena jumlah barang tetap namun jumlah uang beredar meningkat maka otomatis harga barang-pun  menjadi meningkat sebagai bentuk keseimbangan terhadap meningkatnya uang beredar.  Sebagai gambaran sederhana misalnya harga susu bayi adalah Rp 100rb/kg pada jumlah uang beredar senilai Rp 100X lalu pada tahun berikutnya uang beredar 10X (10%) menjadi Rp 110X  maka secara perlahan harga beras akan naik menjadi 10% yaitu Rp 110Rb/kg. Demikian tiap tahun harga akan terus meningkat menyesuaikan dengan jumlah uang yang diciptakan terus menerus oleh Bank Indonesia.

Pencetakan uang baru yang menyebabkan inflasi sangat terkait karena kewajiban membayar bunga (riba). Jadi, dengan sederhana kita bisa menyimpulkan  bahwa inflasi tidak akan terjadi apabila kita menghentikan riba di tengah tengah kita. Riba adalah buah tangan manusia yang sangat merusak manusia baik dari tatanan ekonomi berdampak pada aspek sosial akhlaq politik pemerintahan dan lain sebagainya. Maka wajar bila Allah SWT mengancam memerangi pelaku riba : “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “ (QS 2:279)

Riba menyebabkan kegoncangan ekonomi. Riba semakin menjadi jadi manakala ditopang oleh instrumen berupa fiat money yaitu uang kertas yang tidak disandarkan pada asset emas/perak dan bebas dicetak sesuai keperluan (kemauan) Bank Central. Riba pada jaman dahulu yang masih menggunakan emas tidak akan seliar sekarang sebab bagaimanapun juga emas terbatas dan tidak akan terlalu mempengaruhi inflasi dalam negeri kecuali bila emas emas tersebut dilarikan ke luar negeri. Karena itu, bila kita menghendaki kestabilan harga dan kestabilan ekonomi maka : (1) Riba harus segera dihentikan (2) Fiat money harus segera  dan diganti dengan mata uang yang stabil yaitu emas/perak (3) Perilaku menabung masyarakat pun harus digantikan dengan perilaku investasi langsung sesuai syariah baik kepada keluarga, tetangga, rekan dsb yang memerlukan biaya pengembangan usaha.

Kestabilan emas sebagai mata uang terbukti berdasar hadits berikut : “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan uang 1 dinar kepadanya untuk dibelikan seekor kambing untuk beliau. Lau dengan uang tersebut ia membeli 2 ekor kambing, kemudian ia jual 1 ekor dengan harga 1 dinar. Ia pulang membawa 1 dinar dan 1 ekor kambing. Nabi SAW mendoakannya denan keberkatan jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debu pun, ia pasti beruntung.” (HR Bukhari) Harga kambing pada masa nabi adalah 1 dinar  yaitu senilai 4.25 gram emas atau  Rp 1.4 jt, dan hingga sekarang  pun harga kambing tetap seperti pada kisaran itu.  Artinya, tidak akan ada inflasi bila kita menggunakan uang dinar/dirham.

Absurditas Teori Invisible Hands & Etika Bisnis Adam Smith

summary : adam smith sendiri pada masa akhirnya ternyata kuatir bila teori invisible hands & pasar bebas justru memunculkan ketimpangan/ ketidakdilan.

Teori invisibadamsmith-sentimentsle hands dikenalkan oleh Adam Smith (1723-1790) di dalam bukunya The Wealth of Nation (1776). Pandangan tersebut mengatakan bahwa pasar yang baik adalah pasar yang dibentuk oleh kompetisi antara penawaran dan permintaan. Negara harus tidak boleh mengintervensi pasar dalam bentuk apapun (semisal penetapan harga barang, upah kejra, dll) agar tercipta harga yang wajar sebagai wujud keseimbangan dari kompetisi bebas antara kekuatan penawaran dan kekuatan permintaan. Biarkan pasar digerakkan oleh kekuatan tersembunyi yang akan menyeimbangkan antara supply dan demand. Peran Negara dianggap justru akan mengganggun terciptanya efisiensi produksi dan distribusi yang seharusnya terjadi karena dorongan untuk memenuhi peningkatan permintaan.

Ide invisible hands secara langsung mendorong tuntutan kebebasan berekonomi termasuk diantaranya adalah kebebasan berproduksi dimana individu individu haruslah dapat mengembangkan kemampuan dan kuantitas produksinya sehingga diharapkan tercapainya kemakmuran yaitu kondisi dimana masyarakat bisa mendapatkan barang dan jasa semurah mungkin. Untuk mewujudkan hal itu maka masyarakat harus bisa mengakses semua bentuk resources baik itu berupa modal capital, bahan baku industri, mesin, tenaga kerja, dan lain lain agar tercipta produksi secara missal. Inilah semangat dari kapitalisme klasik yang melahirkan revolusi industri

Revolusi industri sendiri dalam sejarahnya disamping meninggalkan efek positif berupa inovasi tekhnologi produk dsb, namun justru lebih banyak efek negatifnya baik dalam aspek sosial maupun dalam aspek ekonomi itu sendiri. Revolusi industry terbukti justru hanya menciptakan kemakmuran bagi kalangan kapitalis borjuis saja sementara kalangan masyarakat khususnya pekerja buruh tidak merasakan hal yang sama. Derita buruh pabrik pada revolusi industry tidak ada bedanya dengan penderitaan kaum buruh tani pada masa feodalisme merkantilisme. Ibaratnya, revolusi industri kapitalisme klasik tiada lain sekedar melanjutkan sejarah feodalisme dan merkantilisme yang menciptakan masyarkat menderita

Karenanya ide invisible hands dikritik habis baik oleh kalangan Marxis mapupun kapitalis Keynessian yang intinya mengatakan tugas negaralah untuk melindungi warga dari penindasan sehingga Negara harus intervensi ke pasar. Dan tidak tepat pula untuk mengatakan invisible hands adalah God’s hand sebagaimana yang disampaikan oleh Adiwarman Karim dalam sebuah bukunya dimana beliau beralasan bahwa bisa jadi Adam Smith terinspirasi oleh perdagangan maju bangsa Arab (Islam) dimana Negara dilarang untuk mengintervensi harga di pasar sebagaimana perintah dari nabi Muhammad SAW terkait hal tersebut. Adiwarman Karim sendiri sebenarnya juga menggarisbawahi bahwa bedanya Invisible Hands dengan ekonomi Islam adalah bahwa ekonomi islam sendiri masih mengenal intervensi ke pasar namun bukan berupa kebijakan penetapan harga, upah dll.

Continue reading

Solusi Mendasar Penutupan Lokalisasi Km 17

Sejak dikeluarkannya rekomendasi MUI bulan Maret 2009 tentang penutupan Lokalisasi Km17 Balikpapan, berbagai silang pendapat masih mewarnai perdebatan masyarakat Balikpapan tentang dampak positif ataupun dampak negatif dari penutupan lokalisasi tersebut. Silang pendapat tersebut sepertinya akan dimenangkan oleh pihak pihak yang menginginkan penutupan lokalisasi terlebih setelah pemkot Balikpapan via Sayid MN Fadly (Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangundan Sedakot) menegaskan bahwa Pemkot Balikpapan berkomitment untuk menutup lokalisasi itu bahkan termasuk menghilangkan semua bentuk penyakit  masyarakat.

Sebagian masyarakat merasa apatis terhadap usulan tersebut mengingat pemecahan tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru dikhawatirkan menyebabkan migrasi PSK ke pemukiman masyarakat sehingga menimbulkan penyebaran HIV AIDS di tengah masyarakat. Karenanya mereka menghendaki lokalisasi tersebut tidak dibubarkan namun tetap diadakan dengan disertai program pembinaan kepada para PSK

Logika klasik tersebut sebenarnya dapat dipatahkan dengan argumentasi bahwa pemkot telah lama memberikan sarana pendidikan dan pelatihan ketrampilan bagi PSK agar bisa bekerja dengan ketrampilan barunya dan meninggalkan pekerjaan haramnya tersebut . Namun sangat sedikit mantan PSK yang mau bekerja dengan ketrampilan barunya dan lebih memilih kembali ke lokalisasi untuk berkecimpung lagi di profesi haram tersebut. Bahkan telah banyak para ustadz diterjunkan untuk menasehatai para PSK namun tetap saja lokalisasi tersebut makin ramai.

Bila kita jujur terhadap permasalahan sesungguhnya dari keberadaan lokalisasi Km17 atau tempat pelacuran lainnya, maka sebenarnya permasalahannya bisa disimplikfikasi dua hal saja yaitu 1) masalah perut PSK dan 2) masalah syahwat pemakai jasa.

Pertama, kebutuhan hidup seringkali menjadi alasan bagi para PSK untuk mensahkan profesinya. Alasan ini harus dicermati dengan benar apakah memang demikian. Apakah benar PSK tersebut menjalankan profesinya untuk kebutuhan darurat ? Karena bisa jadi diantara mereka ada yang punya harta berupa tabungan, kendaraan atau bahkan tanah dan rumah. Yang paling nyata adalah PSK kelas tinggi yang tarifnya jutaan rupiah, tentu alasan kebutuhan perut menjadi alasan yang sangat naif dan mengada ada.

Kedua, masalah syahwat dari pemakai jasa PSK. Beberapa orang berkeberatan juga bila lokalisasi ditutup karena mereka tidak bisa menyalurkan syahwatnya. Sebagian masyarakat juga kuatir akan banyak terjadi perkosaan bila lokalisasi ditutup sebab para penyalur syahwat itu kehilangan tempat untuk menyalurkan nafsunya.

Untuk menganalisa kedua masalah pokok terebut, maka perlu didekati dengan pemikiran yang mendalam terhadap tiga hal :

Pertama, nalar pelaku. Solusi pendek PSK untuk memenuhi kebutuhan fisik dengan jalan melacurkan diri sungguh sangat cengeng disaat ratusan atau bahkan ribuat orang lainnya bekerja memeras keringat menjadi pengais sampah, pengumpul karton, buruh pasar, bekerja di pabrik pabrik yang tidak higienis dengan gaji dibawah UMR dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah pokok adalah ketidakmauan bekerja pada sektor yang kotor namun halal tersebut. Demikian juga bagi para pria hidung belang, mengapa mereka tidak menikah dengan yang sanggup dinafkahi atau mengapa tidak berpoligami saja kalau perlu sampai dengan 4 istri yang kira kira sanggup dinafkahi.

Pada akirnya yang menjadi masalah adalah faktor keimanan para pelaku dan kesanggupan mereka menahan hawa nafsunya untuk melakoni pekerjaan yang berat namun halal serta untuk menyalurkan nafsu sexual dengan cara yang halal dan terhormat.  Rasulullah bersabda ”Tidaklah ada dosa yang lebih besar setelah syirik melainkan seorang laki-laki meletakkan spermanya di rahim perempuan yang tidak halal baginya” HR Abi Dunya di Tafsir Ibnu Katsier. Pelakunya pun akan dirajam bila muhshon dan akan dijilid 100 kali bila ghoiru muhson.

Kedua, norma masyarakat. Masyarakat sendiri juga sebenarnya berperan langsung dalam membentuk PSK itu sendiri terutama faktor kecuekan mereka dalam membiarkan kemaksiatan yang besar atau yang kecil. Masyarakat berdiam diri dan tidak bernahi mungkar terhadap tayangan TV, VCD, koran, majalah, panggung hiburan yang mengexploitasi naluri seksual. Masyarakat juga berdiam diri melihat pasangan yang mojok ditempat gelap untuk berpacaran dan membiarkan pasangan tersebut merasakan kehangatan satu sama lain kala berdekatan. Penumpukan naluri ini mau tidak mau akan berakumulasi pada keinginan untuk menyalurkan hawa nafsu dengan cara tidak benar dengan maksud coba coba sampai akhirnya kebablasan dan sampai merasa hal yang wajar.

Semua ini terjadi karena aqidah yang mendominasi masyarakat kita adalah aqidah sekuler, yang menganggap agama itu adalah urusan di masjid saja sehingga ketika ketemu di dunia nyata (di luar masjid), kemaksiatan kemaksiatan ditempat umum itu dibiarkan karena bukan lagi area agama untuk mengaturnya.

Ketiga, faktor sistem. Negara adalah ultimate instrument pelaksanaan sistem. Ketika negara menggunakan landasan yang baik, maka akan baik tatanan masyarakatnya. Sebaliknya apabila landasan kenegaraan yang digunakan itu buruk, maka akan rusaklah tatanan kemasyarakatan.

Bentuk landasan tatanan masyarakat kita adalah sekuler religius dan secara praktik yang lebih menonjol adalah kesekulerannya. Karenany,a praktis bisa disebut bahwa landasan kenegaraan kita adalah pandangan sekuler. Demikan pula sistem ekonomi yang dipergunakan adalah ekonomi kapitalis liberalisme. Dua duanya memberikan efek buruk bagi masyarakat.

Aqidah sekuler adalah aqidah yang buruk sebab memisahkan antara aspek rohani dengan aspek jasmani dengan jalan menjauhkan agama dari kehidupan praktis kemasyarakatan termasuk pula aspek ekonomi hukum dan kenegaraan. Pandangan itulah yang menyebabkan masyarakat yang kehilangan makna hidup karena tujuan hidup bukan lagi untuk mengabdi pada Allah SWT melainkan untuk menuruti hawa nafsu mengejar kepuasan materiel baik itu konsumerisme ataupun hedonisme.

Continue reading

Muhasabah : Mari Berhijrah dengan Serius

Genap 30 tahun kita melewati gerbang abad 15 H, suatu abad yang dahulu didengungkan oleh para ulama, pemikir, tokoh di seluruh dunia islam sebagai abad kebangkitan Islam, namun hingga kini umat Islam masih terjajah secara politik, sosial, ekonomi, budaya, militer dan lain sebagainya. Hijrah menuju keadaan yang lebih baik seakan masih jauh dari jangkauan ketika yang terjadi justru semakin banyaknya penguasa komprador yang ikhlas mengekor langkah Barat bahkan di Timur Tengah sendiri.

Hijrah menuju masyarakat Islami juga masih jauh tergambar di Indonesia. Meski pada era 90- gelora kebangkitan Islam mulai nampak di dunia politik sosial budaya, namun Islam masih tetap dianggap sebagai hantu ideologis yang harus diusir dari dunia nyata. Hal itu terlihat jelas dari sikap alergi para praktisi politik, ekonomi, sosial, hukum, pemerintahan dan keamanan untuk membicarakan kembali Piagam Jakarta ataupun isu Syariat Islam bagi Indonesia .

Sikap tersebut juga masih tampak di kalangan aktivis Islam itu sendiri. Meski telah 10 tahun umat Islam terlepas dari pemerintahan Orba yang represif terhadap Islam, namun belum banyak yang berani menyodorkan Islam sebagai solusi kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberanian baru nampak ketika ada  isu terkait masalah aqidah (kristenisasi, nabi palsu dll) atau terkait isu penyakit sosial kambuhan (judi, miras, pelacuran dll). Jarang sekali aktivis baik itu ulama atau tokoh ormas Islam yang mengkritik undang undang sekuler kapitalis, yang justru merupakan biang terjadinya seluruh penyakit aqidah, akhlaq, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan lain lain.

Imam Ahmad bin Hambal senantiasa berkata “Jika seorang alim menjawab dengan takut sehingga orang bodoh bertambah bodoh, lalu kapan kebenaran akan tampak”.  Puluhan tahun  beliau sabar menerima cercaan, pukulan ataupun deraan untuk menentang penguasa yang memaksakan pendapat AlQuran adalah makhluq. Akhirnya pertolongan dari Allah SWT datang, khalifah berikutnya (Mutawakkil 234H) melarang beredarnya pendapat sesat tersebut di seluruh negeri. Pertolongan itu insyaAllah juga karena adanya suara lantang dari para hamba Allah yang ikhlas yang tegas menyampaikan kalimat haq didepan penguasa dzolim walau nyawa taruhannya.

Saat ini kita butuh tokoh yang mau menyuarakan kebenaran. Tokoh yang mau melantangkan ajakan untuk hijrah ke dalam sistem Islam secara kaffah. Hijrah dari sekulerisme/kapitalisme yang merusak dan menghancurkan setiap sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat Islam mendambakan syariat Islam sebagai sistem yang diyakini mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan duni akhirat. Menurut jajak pendapat dari SEM Institute tahun 2008, 72% masyarakat di Indonesia setuju dengan penerapan Syariat Islam dalam kancah bernegara. Survey yang sama di hasilkan oleh Roy Morgan Research (Juni 2008)  mengatakan  52 persen rakyat Indonesia menuntut Penerapan Syariah Islam. Survei dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah pun menunjukkah bahwa 75 masyarakat Indonesia setuju bahwa  pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia .

Kapan kita serius untuk hijrah dari kapitalisme menuju sistem Islam ? Padahal semuanya telah mengetahui akan keharaman dan kemudhorotan sistem kapitalisme yang bertumpu pada ekonomi ribawi dan spekulatif,  penggunaan fiat money,  bursa saham serta privatisasi kekayaan publik. Sistem cacat buatan manusia itu juga jelas jelas selalu menciptakan krisis ekonomi setiap 10 tahun-nya yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak pernah lepas dari kemiskinan dan penderitaan sosial.  Dan Tahun 2009 akan semakin banyak perusahaan colaps, puluhan ribu atau jutaaan orang akan kehilangan pekerjaan dan jumlah kriminalitas dan penyakit sosial lainnya pun akan meningkat menyusul krisis global tahun 2008 ini.

Kita harus berhenti berteori tentang kemuliaan 1 Muharram, saatnya untuk mewujudkan hijrah yang serius sebagaimana hijrahnya nabi dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Dari peradaban jahiliah menuju peradaban yang rahmatan lil ’alamin. Kita harus menunjukkan dengan dada terbuka kemauan dan tekad kita untuk berhijrah sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat turun ke jalan berbaris dalam 2 shaf mengelilingi ka`bah dengan meneriakkan takbir berulang ulang sehingga terbuka mata dzohir dan mata batin masyarakat Makkah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat sungguh serius hendak mewujudkan peradaban baru yang akan menggusur peradaban jahiliah mereka.

Rasulullah SAW, para sahabat, para tabiin dan juga para imam madzab tidak pernah gentar menyuarakan kebenaran walau kebenaran yang disuarakan itu menentang aturan normatif ataupun hukum positif yang berlaku ditengah masyarakat. Mereka tidak pernah peduli akan hal itu semua. Kitapun harus bersikap demikian. Kita harus memaparkan sistem Islam sedetail detailnya kepada masyarakat tanpa menutup nutupi sebagian kecil apalagi sebagian besarnya dengan alasan hal itu tidak sesuai dengan aturan normatif atau hukum positif negeri ini. Itu semua harus kita lakukan, kalau memang benar kita serius untuk berhijrah dari sistem kapitalisme ini, bukan sekedar berfantasi saja.
Wassalam. Muhammad Nugroho

Mendambakan Sistem Ekonomi Islam

Gejala :

  • HSBC, Lloyds TSB, Standard Chartered, Citigroup ikut  membuka units Islamic Banks
    • Rasio Profit Sharing selalu lebih tinggi dari Bank Konvensional (Di Inggris untuk mortgage : 4.75-5% APR conventional rate, 6.16-6.45% APR Islamic rate)
  • Ekonomi Islam di Indonesia masih identik dengan perbankan syariah, takaful, gadai syariah (+ ZIS, reksadana & obligasi syariah)
  • Mata Uang Islam (Dinar/Dirham)
    • Sudah menggejala di masyarakat, namun baru sebagai saving dan hedging
    • OPEC (28/11/07)  : Iran & Venezuela mengusulkan transaksi minyak dg dinar, tidak lagi dalam $US  diamini Wapres JK

Download :

http://www.scribd.com/doc/4780896/Mendambakan-Sistem-Ekonomi-Islam