aku bukan Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel

aku bukan alFatih sang penakluk Konstantinopel
malu aku bila kau bandingkan dengan dirinya
jangan berharap banyak aku bisa menjadi seperti dirinya
aku bahkan tak pantas berdiri di antara 250 ribu pasukan gagahnya
yang sejak baligh tak pernah luput sholat berjamaah
bahu membahu menyeberang selat borporous
menunduk paksa kota yang angkuh beribu tahun

aku juga bukan laksana mushab bin umair
pangeran Makkah yang tampan dan kaya
dipuja dan digoda tiap tiap pesolek jelita
yang lebih memilih berkalang lusuh daripada dunia
pergi ke negeri antah brantah tanpa saudara
mengetuk pintu pintu kota menyambut wangi baginda
secuil harap yang masih terus ku-asa adalah
mengakhiri episode crerita bak kisahnya
yang siapakah mengenal jasadnya
selain dari sehela kain yang tak cukup menjadi kafannya

aku juga bukan seorang zuhud pengolah jiwa
yang betah termangu di bawah hamparan bintang
aku hanya seorang pejalan yang bila tersasar lalu melihat angkasa
mencari dimana arah kembali yang sebenarnya sudah kutahu sejak dulunya
namun kelok jalan berhias gemerlap iklan memang sering melenakan

aku hanya sekepal umpan pada kail di pinggir sungai
lama berendam namum tak banyak yang mendekati
bahkan ikan merah nan segar di pinggir karang tak sudi memandang
karena dia benar tau mana umpan yang baik mana umpan yang tidak baik

pada sesaat sebelum diriku lenyap dimakan ikan kelas dua atau tiga
aku hanya berharap agar si pemancing semakin bijak
mengolah ikan yang menelan diriku menjadi umpan yang mantap
bagi ikan segar atau bahkan bagi kerang penyimpan permata yang lenyap

dnux adh-dho’ifi 28 June 2010

Advertisements

damai kicau burung ditenggelamkan oleh kesibukan

kicau burung di awal pagi menambah nikmat kopi hangat
perlahan membuka cakrawala dunia pada sekotak televisi
yang lebih lebar dari mimpi yang tak pernah hadir menyapa

kicau burung terus menuansa hingga batas keheningan pagi
perlahan mengalah pada deru kendaraan yang makin meramai
melamunkan pekerja mencari cara memecahkan keruwetan

kicau burung terus menyapa dan tak berhenti dalam siang
suaranya kosong, tak ada yang bersantai mendengarkan
nyanyian damai telah tenggelam oleh jutaan persoalan
yang harus diolah dan diselesaikan dalam hitungan jam

indah kicau burung terpendam dalam sangkar
tak pernah lepas keluar dari batas jeruji
yang menghukum otak agar tidak liar berangan
cukup diam manis dalam lingkaran kenyataan
lalu menerima uang untuk disalurkan pada kebaikan

indah kicau burung menjadi bagai celoteh riuh berisik
pada hati yang mengharapkan tenang sepanjang hari
ragu mempertanyakan kejujuran diri akan rindu damai

Feb15-2009

definisi ikhlas (menurutku)

definisi adalah mafhum (persepsi) atau makna makna yang tertancap pada benak pencetusnya atau mereka yang mengambilnya. suatu definisi mencerminkan pemahaman pemikiran dan/atau ungkapan perasaan dari pencetus terhadap sebuah kata.

definisi bisa datang dari siapa saja yang memiliki pikir dan rasa atas sebuah kata. namun karena ikhlash adalah perkara hati tentu dalam masalah urusan hati ini definisi dari Imam Al-Qusyairi (ahli tasauf terkemuka) tentu lebih plong untuk disimak :

إفراد الحق سبحانه في الطاعة بالقصد، وهو: أنه يريد بطاعته التقرب إلى الله سبحانه دون أي شيء آخر؛ من تصنع لمخلوق، أو اكتساب محمدة عند الناس، أو محبة مدح من الخلق، أو معنى من المعاني سوى التقرب به إلى الله تعالى، ويصح أن يقال: الإخلاص تصفية الفعل من ملاحظة المخلوقين

Artinya : Ikhlas adalah mengesakan haq Allah swt dalam segala amalan ketaatan dengan niat, iaitu dia melakukan amalan ketaatannya hanyalah untuk menghampirkan diri kepada Allah swt, tiada apapun selain itu, iaitu mereka yang melakukannya kerana Makhluk, atau kerana ingin mendapat pujian mereka, serta kecintaan kepada pujian makhluk, atau apa jua sebab-sebab yang selain redha Allah. Boleh juga dikatakan, bahawa Ikhlas itu adalah pembersihan (niat) diri (semasa amalan) dari segala segala perhatian manusia. ( Al-Risalah al-Qusyairiah, tahqiq Abd Halim Mahmud, 1/443), dari http://www.zaharuddin.net/content/view/892/72/

asal muasal definisi yang beragam tentu diperbolehkan selama masih dalam koridor dari Rasulullah SAW, pernah suatu ketika menjelaskan keisitimewaan seorang ahli sorga yang hadir di majelis Rasulullah SAW dan orang itu tidak dianggap istimewa yang lainnya. Beliau menjelaskan keistimewaannya : Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridha Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.”

Menurut Hafidz Abdurrahman (sebagaimana penjelasan umum pada ilmu mantiq/logika), sebuah definisi yang baik adalah bila memenuhi syarat (1) jami’ – menghimpuan merangkum (2) mani’ – mencegah/membatasi scope atau dari kemungkinan milik sebuah istilah lain (3) sesuai dengan realita (HA dalam Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam) Artinya, definisi haruslah berupa penjelasan pikir dan rasa, bukan sekedar pengalaman rasa yang diungkapkan atau semacam tamsil pengandaian ibarat dll yang sebenarnya itu adalah deskripsi (penjabaran)

Dari segala literatur dan segala rasa yang saya dapatkan maka saya hendak menyimpulan sendiri sebuah definisi ikhlash yaitu :

melakukan perbuatan yang baik untuk mewujudkan hasil dunia dan/atau akhirat dengan tujuan mendapatkan ridho Allah SWT saja, tanpa mengharapkan puji dari manusia, jin ataupun syetan

penjelasan dalam definsi saya :

  1. ikhlas itu terjadi apabila ada amal, kalau tidak ada amal maka tidak terjadi hasil yang disodorkan kepada yang dipersembahkan
  2. amal itu harus yang baik atau setidaknya disangka baik oleh pelakunya, sebaba amal yang buruk pastilah tidak disodorkan kepada Allah SWT.
  3. amal itu harus maksimal, bila tidak maksimal maka sudah jelas tidak niat untuk mendapatkan sesuatu yang akan dipersembahkan. maksimal disini tidak sampai pada definisi ihsan (terbaik)
  4. digunakan istilah baik, bukan benar … sebab syarat amal diterima Allah SWT adalah ikhlas dan benar, sehingga istilah amal benar harus dikeluarkan dari definisi ikhlas, namun tetap secara realita bisa disaksikan amal yang ikhlas adalah amal yang baik atau disangka baik
  5. amal itu tentunya untuk mewujudkan hasil dunia dan/atau akhirat seperti orang bekerja, memasak, puasa, sholat dll. amal yang menghasilkan tujuan spesifik dunia seperti bekerja atau memasak tentu akan menghasilkan tujuan akhirat juga.
  6. tujuan mengharapkan ridho Allah saja. Ridho mencakup keseluruhan hal seperti pahala.
  7. tidak mengharapkan pujian. Yang tidak diharapkan adalah pujian saja, bukan hasil/imbalan. seorang bekerja tentu mengharapkan hasil imbalan baik itu sebagai pedangang, kantoran, petani dll
  8. manusia dari jin. menjaga dari pujian manusia atau jin baik yang nampak ataupun yang tidak nampak disekitarnya
  9. pujian syetan. artinya amal itu haruslah amal yang tidak dipuji syetan. syetan memuji manusia bila melakukan perbutan yang disenangi syetan yaitu amal2 ma’shiyat. ini sekaligus menguatkan kata “amal yang baik”

demikianlah ikhlash yang saya pahami. sebagai pembanding, berikut berbagai definisi ikhlas dari berbagai ulama …

  1. Menyendirikan Alloh sebagai tujuan dalam ketaatan.
  2. Membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk.
  3. Menjaga amal dari perhatian manusia dan termasuk pula diri sendiri.
  4. Seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan mendapatkan keridhaanNya.
  5. Sesuatu yang paling mulia didunia
  6. Rahasia antara Alloh dan HambaNya yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat yang mencatatnya.
  7. Membersihkan amal dari segala campuran.

(numpang kompilasinya http://els.fk.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=3143)

Imam Fudhail bin Iyadh mengatakan “ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك” Meninggalkan amal karena manusia adalah riya sedangkan melaksanakan amal karena manusia adalah syirik.

Wassalam
dwi

Muhasabah : Mari Berhijrah dengan Serius

Genap 30 tahun kita melewati gerbang abad 15 H, suatu abad yang dahulu didengungkan oleh para ulama, pemikir, tokoh di seluruh dunia islam sebagai abad kebangkitan Islam, namun hingga kini umat Islam masih terjajah secara politik, sosial, ekonomi, budaya, militer dan lain sebagainya. Hijrah menuju keadaan yang lebih baik seakan masih jauh dari jangkauan ketika yang terjadi justru semakin banyaknya penguasa komprador yang ikhlas mengekor langkah Barat bahkan di Timur Tengah sendiri.

Hijrah menuju masyarakat Islami juga masih jauh tergambar di Indonesia. Meski pada era 90- gelora kebangkitan Islam mulai nampak di dunia politik sosial budaya, namun Islam masih tetap dianggap sebagai hantu ideologis yang harus diusir dari dunia nyata. Hal itu terlihat jelas dari sikap alergi para praktisi politik, ekonomi, sosial, hukum, pemerintahan dan keamanan untuk membicarakan kembali Piagam Jakarta ataupun isu Syariat Islam bagi Indonesia .

Sikap tersebut juga masih tampak di kalangan aktivis Islam itu sendiri. Meski telah 10 tahun umat Islam terlepas dari pemerintahan Orba yang represif terhadap Islam, namun belum banyak yang berani menyodorkan Islam sebagai solusi kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberanian baru nampak ketika ada  isu terkait masalah aqidah (kristenisasi, nabi palsu dll) atau terkait isu penyakit sosial kambuhan (judi, miras, pelacuran dll). Jarang sekali aktivis baik itu ulama atau tokoh ormas Islam yang mengkritik undang undang sekuler kapitalis, yang justru merupakan biang terjadinya seluruh penyakit aqidah, akhlaq, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan lain lain.

Imam Ahmad bin Hambal senantiasa berkata “Jika seorang alim menjawab dengan takut sehingga orang bodoh bertambah bodoh, lalu kapan kebenaran akan tampak”.  Puluhan tahun  beliau sabar menerima cercaan, pukulan ataupun deraan untuk menentang penguasa yang memaksakan pendapat AlQuran adalah makhluq. Akhirnya pertolongan dari Allah SWT datang, khalifah berikutnya (Mutawakkil 234H) melarang beredarnya pendapat sesat tersebut di seluruh negeri. Pertolongan itu insyaAllah juga karena adanya suara lantang dari para hamba Allah yang ikhlas yang tegas menyampaikan kalimat haq didepan penguasa dzolim walau nyawa taruhannya.

Saat ini kita butuh tokoh yang mau menyuarakan kebenaran. Tokoh yang mau melantangkan ajakan untuk hijrah ke dalam sistem Islam secara kaffah. Hijrah dari sekulerisme/kapitalisme yang merusak dan menghancurkan setiap sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat Islam mendambakan syariat Islam sebagai sistem yang diyakini mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan duni akhirat. Menurut jajak pendapat dari SEM Institute tahun 2008, 72% masyarakat di Indonesia setuju dengan penerapan Syariat Islam dalam kancah bernegara. Survey yang sama di hasilkan oleh Roy Morgan Research (Juni 2008)  mengatakan  52 persen rakyat Indonesia menuntut Penerapan Syariah Islam. Survei dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah pun menunjukkah bahwa 75 masyarakat Indonesia setuju bahwa  pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia .

Kapan kita serius untuk hijrah dari kapitalisme menuju sistem Islam ? Padahal semuanya telah mengetahui akan keharaman dan kemudhorotan sistem kapitalisme yang bertumpu pada ekonomi ribawi dan spekulatif,  penggunaan fiat money,  bursa saham serta privatisasi kekayaan publik. Sistem cacat buatan manusia itu juga jelas jelas selalu menciptakan krisis ekonomi setiap 10 tahun-nya yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak pernah lepas dari kemiskinan dan penderitaan sosial.  Dan Tahun 2009 akan semakin banyak perusahaan colaps, puluhan ribu atau jutaaan orang akan kehilangan pekerjaan dan jumlah kriminalitas dan penyakit sosial lainnya pun akan meningkat menyusul krisis global tahun 2008 ini.

Kita harus berhenti berteori tentang kemuliaan 1 Muharram, saatnya untuk mewujudkan hijrah yang serius sebagaimana hijrahnya nabi dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Dari peradaban jahiliah menuju peradaban yang rahmatan lil ’alamin. Kita harus menunjukkan dengan dada terbuka kemauan dan tekad kita untuk berhijrah sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat turun ke jalan berbaris dalam 2 shaf mengelilingi ka`bah dengan meneriakkan takbir berulang ulang sehingga terbuka mata dzohir dan mata batin masyarakat Makkah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat sungguh serius hendak mewujudkan peradaban baru yang akan menggusur peradaban jahiliah mereka.

Rasulullah SAW, para sahabat, para tabiin dan juga para imam madzab tidak pernah gentar menyuarakan kebenaran walau kebenaran yang disuarakan itu menentang aturan normatif ataupun hukum positif yang berlaku ditengah masyarakat. Mereka tidak pernah peduli akan hal itu semua. Kitapun harus bersikap demikian. Kita harus memaparkan sistem Islam sedetail detailnya kepada masyarakat tanpa menutup nutupi sebagian kecil apalagi sebagian besarnya dengan alasan hal itu tidak sesuai dengan aturan normatif atau hukum positif negeri ini. Itu semua harus kita lakukan, kalau memang benar kita serius untuk berhijrah dari sistem kapitalisme ini, bukan sekedar berfantasi saja.
Wassalam. Muhammad Nugroho

Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake

MENANG TANPA MERENDAHKAN, barangkali adalah suatu hal yang sekarang sangat sulit dicari ditengah tengah akhlaq manusia yang kerdil kerdil yang ego nya jauh lebih penting untuk diperjuangkan daripada mempertahankan nilai nilai kebaikan (values) itu sendiri. Mereka lupa jati dirinya sebagai manusia adalah hanyalah makhluk lemah dengan segala kemampuan akal-fisik dan jiwa yang lemah dan terbatas

Bahkan penyakit ini juga menghinggapi para intelektual baik intelektual iptek ataupun intelektual agama sekalipun. Para ulama, kiyai, pemikir Islam dan aktivis dakwah banyak yang tidak mampu menahan diri untuk tidak merendahkan lawan berdebatnya dalam diskusi diskusi agama. Dalam perdebatan perdebatan sengit membahas soal soal agama itu, justru oleh mereka agama ditempatkan nomor dua setelah harga diri-nya.

Dan ketika dialog itu macet sebab masing masing punya argumen yang tidak bisa terbantahkan, maka mulailah masuk ke wilayah personal untuk merendahkan secara pribadi. Inventori kata kata kasar yang sering saya dapatkan dari mereka yang tidak sanggup menahan marahnya dalam berdiskusi antara lain adalah 1) bodoh 2) goblok 3) tolol 3) ustadz kampung 4)buta bahasa arab 5) tidak sehat akalnya 6) menggonggong 7) dungu 8) tidak waras 9) jahil 10) buta 11) tidak berilmu 12) TK/SD/Pramuka, dll … Masya Allah, akhlaq saya spontan langsung ikutan jadi rendah kalau nyemplung di diskusi2 di millist2 debat tersebut. Lidah yang basah karena dzikir menjadi kering karena umpatan dan sumpah serapah yang keluar.

Itu belum seberapa. Kadang demi mempertahankan kebenarannya (baca :egonya), tidak tanggung2 mereka melemparkan tuduhan2 palsu dan fitnah2 kepada lawannya sekaligus melakukan penyesatan informasi kepada awam yang tidak tahu duduk persoalannya hingga akhirnya si orang awam-pun terjebak pada diskusi2 panas dan sekaligus ikut2an merendahkan si lawan tertuduh tersebut. Lalu bila demikian, maka sebenarnya apa yang hendak diperjuangkan ? dan apa sebenarnya yang dikehendaki ?

Mengapa harus selalu berfikir menang – kalah ? tidak berfikir menang menang ? Dan andaikan kita “merasa menang“, lalu mengapa kita pelit dan tidak mau membagi sedikit kemenangan dan sedikit kebanggaan dengan pihak seberang agar meski kalah namun tidak menyimpan kebencian ? Bila demikian, maka bukan rasa hormat yang diberikan lawan, namun stempel kesombongan dan keangkuhan.

Pada kondisi ini, maka baiknya kita buka kamus hikmah yang telah tertata manis dalam perikehidupan masyarakat kita. Salah satunya adalah peribahasa jawa pada judul diatas yang sebenarnya banyak versinya. Diantaranya adalah

Nglurug tanpa bala Menang tanpa ngasorake Landhep tanpa anglarani.

Nyerbu tanpa kawan, Menang tanpa merendahkan, Tajam tanpa menyakiti

dan juga :

Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake 

Kaya tanpa harta, Unggul tanpa senjata, Menyerbu tanpa Kawan, Menang tanpa Merendahkan

Peribahasa di atas mencakup beberapa akhlaq penting bagi individu Islam yaitu Syaja’ah dan Tawadhu — Berani dan Rendah Hati –. Sifat ini lawan dari sifat Pengecut dan Sombong. Contoh real-nya menang tanpa merendahkan adalah bagaimana Rasulullah SAW melakukan futuh makkah. Meski beliau dahulu dimusuhi dan bisa saja membuat perhitungan dengan orang orang Makkah yang tidak ada daya waktu itu, namun beliau tetap menghormati mereka sebagai sahabat, sanak saudara dan teman. Beliau menjunjung kemuliaan Abu Sufyan dan membuat orang Makkah berbondong bondong masuk Islam sebab hal itu.

Sama sama berilmu, orang mu’min sebenarnya adalah mereka yang berani menyampaikan pendapatnya dengan menahan marah serta santun dalam menyampaikan pendapatnya walau pendapatnya dianggap tidak umum dan walau tanpa ada pendukungnya. Dia tidak akan arogan dan kasar karena merasa telah unggul baik dari segi ide ataupun jumlah pendukung.

Ciri ulama akhirot sebagaimana yang saya pahami dari Minhajul Qosidhin adalah : Menyerahkan diri pada Allah SWT kebenaran yang dipegangnya, tidak maniak pada pendapatnya dan sabar terhadap celaan orang yang mencela. Sedangkan salah satu sisi, ciri ulama su’ (buruk) adalah selalu merasa pendapatnya paling benar dan tidak ridho sampai orang menganggap dirinya sebagai ulama yang paling pintar dan paling benar. Ulama akhirot akan berorientasi win-win solution kepada sesama mu’min dan bahkan terhadap orang kafir pun akan tetap lemah lembut dengah harapan agar orang kafir itu mau melihat keindahan dan kelembutan pribadi Islam.

Benar akanlah tetap tersimpan sebagai kebenaran di sisi Allah SWT tanpa perlu disampaikan dengan mengumpat dan menghujat. Cukuplah bagi kita bahwa Allah SWT telah tahu bahwa kita mengikuti kebenaran tersebut. Lha wong mau menyampaikan kebenaran kok malah melakukan cara2 yang tidak benar … Padahal kebenaran itu milik Allah SWT dan tugas kita hanya menyampaikan saja, tanpa perlu caci maki ..

 فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غبيظ القلب لانفضوا من حولك

Maka dengan rahmat Allah , engkau ( Muhammad saw ) berlaku lemah lembut terhadap mereka . Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar , tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu . (QS Aali Imran : 159)