Something inside my minds

Archive for the ‘puasa’ Category

Amil Zakat Dhoruri

Posted by dnux on August 23, 2011

Amil Zakat biasanya kita deskripsikan sebagai petugas yang ditunjuk masjid atau lembaga zakat untuk menerima dan membagikan zakat serta mendapat bagian dari zakat tersebut. Benarkah penafsiran tersebut ? Demikian juga ada beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta yang membentuk Lembaga Amil Zakat, apakah benar mereka bisa disebut amil Zakat ?

Amil zakat yang biasa kita kenal pada masa sekarang ini walaupun secara fungsi ada kesamaanya, namun bukanlah amil zakat yang dimaksudkan dalam Al-Quran Surat At-Taubah:60 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ‘amil-amil zakat ….”.

Menurut Mu’jam Lughatil Fuqoha – karya Dr. Rawwas Qal’ahji , ‘Amil memiliki makna “Seseorang yang diberi mandat oleh Amirul Mu’minin untuk memimpin suatu wilayah” dengan sinonim bahasa inggris sama dengan “ruler” alias penguasa. Sedangkan Amil Shodaqoh (Zakat) maknanya adalah “Seseorang yang diberi mandat oleh imam (kepala negara Islam) untuk menarik shodaqoh yang tampak”. Dalam Fiqh ‘Alaa Madzahib ‘Arbaah karya Syaikh Al-Jazairy disebutkan juga definisi Amil Zakat menurut madhzab Hanafi adalah “seseorang yang ditunjuk imam untuk menarik zakat dan usyur serta mengambil bagian dari apa yang diperolehnya”

Dari beberapa definisi di atas maka Amil Zakat dalam prespektif fiqh Islam adalah sebuah jabatan resmi pemerintahan dengan tugas untuk menarik, mengumpulkan dan membagi zakat dan memiliki hak untuk mendapatkan bagian zakat atas jerih payahnya itu. Lebih tepatnya lagi, amil zakat merupakan jabatan struktural dalam sistem pemerintahan Islam. ‘Alamah Syaikh Taqyuddin An-Nabhani dalam Nidzom Hukum fil Islam menempatkan Amil sebagai penguasa Imalat (kabupaten) dibawah Wali yaitu pemimpin Wilayah (propinsi) dimana wali berada dibawah Khalifah. Dalam pelaksanaan pemerintahannya Wali dikontrol oleh Majelis Wiyalah. Read the rest of this entry »

Posted in bisnis islami, darul islam, darul kufur, puasa, zakat | 3 Comments »

Ramadhan sebagai Bulan Kemenangan Sejati

Posted by dnux on August 24, 2010

Allah SWT berfirman “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”  (QS 2 : 153)

Di era konsumerisme dan didorong oleh iklan iklan yang memajang di jalan, radio, koran, televisi dan lain sebagainya maka setiap orang pasti tergiur untuk menikmati atau memiliki hal hal yang menggoda setiap saat tersebut berupa harta, makanan, pakaian, properti, kendaraan, lawan jenis, bertamasya dan lain sebagainya. Tidak ada batas kepuasan hingga Rasulullahpun mengisyaratkan andaikan manusia diberi satu gunung emas maka dia akan minta satu gunung emas lagi dan seterusnya.

Namun Allah SWT juga telah menyampaikan kepada manusia bahwa dunia ini sangatlah remeh dan tidak ada apa apanya dibandingkan dengan sorga yang luas dan indahnya tak terbayangkan oleh manusia, yang hanya disediakan bagi mereka yang beriman dan bertaqwa. Allah SWT juga menyampaikan bahwa Dia telah menyediakan neraka bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya baik itu karena dosa kecil atau karena dosa besar.

Karena adanaya sorga dan neraka itu, maka sesungguhnya kemenangan tertinggi manusia bukan karena menang di dunia ini seperti menjuarai turnamen sepakbola, golf, balap mobil dan adu ketangkasan lainnya. Kemenangan tertinggi manusia adalah berhasil mendapatkan tiket ke sorga tanpa hisab. Itulah kemenangan sejati di dunia ini. Segala hal indah yang ada di dunia ini adalah bekal sekaligus ujian untuk mendapatkan kemenangan sejati itu. Manusia harus bersabar dari menikmati dunia secara liar ini untuk meraih kemenangan tersebut. Manusia harus tertib dan teratur guna tercapati kebahagiaan duni dan akhirat.

Sabar maknanya tidak sama dengan pasrah. Makna sabar tergantung pada keadaan yang membutuhkan sabar itu sendiri, yaitu : Pertama, sabar dalam menghadapi bala/musibah  Pada saat menghadapi bala/musibah maka yang dituntut adalah kepasrahan kita terhadap taqdir Allah SWT dan berusaha bangkit kembali menuju keadaan semula. Allah SWT tidak menghendaki kita menjadi pesimis menjalani kehdipan masa depan sebab diberikannya bala/musibah pada kita

Kedua, sabar dalam melaksanakan ketaatan yaitu tetap berjuang dan menyingkirkan rasa malas ataupun halangan fisik/batin lainnya untuk mengerjakan kewajian dari Allah berupa fardhu ain ataupun fardhu kifayah seperti kewajiban bekerja, menuaikan sholat, membayar zakat, berpuasa, menutup aurot, mendakwahkan syariat Islam dan menjalankannya, berjihad dan lain sebagainya termasuk diantaranya adalah abar dalam bersabar itu sendiri.

Ketiga, sabar dalam menghindari diri dari berbuat dosa yaitu menahan diri dari melakukan hal hal yang Allah SWT larang seperti berpacaran, berzina, berjudi, mencuri, korupsi, makan babi, minum khamr, mengambil harta orang lain tanpa haq ataupun melakukan kebaikan namun dengan cara yang tidak benar seperti sholat, puasa, zakat, dakwah, jihad tanpa mengikuti rukun rukun yang ditentukan oleh Allah SWT dan nabinya.

Ringkasnya, sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikh Abu Rusyta dalam Taysir fii Ushulit-Tafsir, beliau menjelaskan bahwa makna sabar adalah berkata/berbuat benar – fi sabilillah – dan menanggung cobaan sebagai resikonya tanpa harus menyimpang ataupun melemah karena cobaan tersebut.

Bulan puasa adalah kesempatan bagi kita untuk melatih mengelola kesabaran yang memang merupakan kemampuan emosional tertinggi manusia. Rasulullah SAW bersabda : “Puasa itu adalah Separuh Kesabaran” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi). Karenanya di bulan puasa ini kita dilatih untuk mengalahkan rintangan rintangan yang mampu menggagalkan sahnya puasa seperti tegar dari cuaca panas yang menerpa dan kitapun berlatih menghinari dari sebab yang bisa membatalkan pahal puasa seperti marah, menggunjing, memperlihatkan aurot, korupsi dan kita pun bahkan menambah kebaikan dengan sholat malam, berinfaq sedekah dan lain sebagainya guna menjalankan perintah Allah SWT.

Itu semua adalah upaya kita untuk meraih kemenangan puasa dan sebagai bekal untuk mengalahkan rintangan pada bulan bulan selanjutkan untuk menjalankan ketaatan yang lebih besar dan menanggung segala resiko dari mengerjakan ketaatan itu. Karena itu maka sebagai puncaknya tradisi sholat malam harus tetap kita jalankan sebagai wahana berkomunikasi dengan Allah SWT agar tetap terus mampu menjalankan ketaatan atau melaporkan rintangan dan bencana fisik/batin yang menimpa saat menjalankan ketaatan ketaatan tersebut.

Wallahu A’lam Wallahu Musta’an.

Posted in pencerahan, puasa | Leave a Comment »

Mensyukuri Nikmat Al-Quran

Posted by dnux on August 22, 2010

Allah berfirman dalam surat At-Takatsur ayat 8 :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

(kemudian kamu akan ditanya terhadap setiap nikmat yang kamu dapatkan)

Definisi Syukur.  Secara bahasa makna syukur adalah menampakkan dan memuji. Secara makna, Imam Al-Qosimy menjelaskan : “ Tidaklah seorang hamba disebut bersyukur kepada tuannya kecuali menggunakan nikmat tersebut terhadap hal hal yang menyenangkan tuannya atau menggunakannya dalam rangka beribadah kepadanya bukan untuk kemauan pribadinya. Sebaliknya apabila dia menggunakannya pada hal hal yang dibenci tuannya maka sesungguhnya dia kufur nikmat” (dari kitab Mauidzotul Mu’min min Ihya Ulumddin)

Bentuk Syukur. Dzun Nun al Mishri mengatakan bahwa bentuk syukur itu adalah : “kepada atasan adalah dengan taat kepadanya, kepada yang sederajad adalah dengan perlakuan setara dan kepada yang lebih rendah adalah dengan balasan yang lebih baik dan penghormatan” (dari kitab taqarub ilallah : fauzi sinurqoth)

Petunjuk Allah berupa kitab suci adalah nikmat Allah sebagaimana yang disiratkan dalam surat Al-Baqarah 211 :

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُم مِّنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ وَمَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُ فَإِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : “Tanyakanlah kepada Bani Israel: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka. Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.”  Makna nikmat di ayat tersebut adalah kitab Allah yaitu Taurat dan Injil (Tafsir Ma’alim Tanzil – Baghawy dll)

Karenanya Al-Quran  adalah nikmat Allah bahkan sebesar besar nikmat Allah bagi manusia di dunia ini. Tentang kegunaan Al-Quran bagi manusia, Allah berfirman dalam QS Yunus 57 :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Selama ini kita telah mengkufurni nikmat AlQuran dengan cara tidak menjadikan dia sebagai penyembuh bagi penyakit di dada kita sekaligus tidak menggunakannya sebagai petunjuk dalam kehidupan kita. Kita memilih jalan mengenyampingkan Al-Quran dan membuat aturan aturan lain serta metode metode penyebuhan jiwa yang tidak sesuai dengan Al-Quran. Kita pergunakan teori ekonomi kapitalis liberalis atau susun sendiri yang namanya ekonomi kerakyatan seraya mengesampingkan bagaimana AlQuran mengatur masalah ekonomi. Kita pergunakan teori trias politika, demokrasi, HAM untuk membuat undang undang seraya mengabaikan AlQuran sebagai satu satunya acuan dalam membuat undang undang padahal Allah SWT mengancam : “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itulah orang kafir” (QS 5:44), atau “dzolim” (QS 5:45) atau “fasik” (QS 5:47).

Kita benar benar telah menguras habis energi otak kita untuk merumuskan filsafat filsafat yang sekedar angan angan,  kita menghabiskan trilliunan rupiah untuk pilpres, pilkada dll guna memilih pemimpin yang akan membuat dan menjalankan hukum yang sesuai dengan kemauan manusia yang justru terbukti mencelakakan manusia. Kita habiskan energi untuk mendengarkan dan membaca berita perdebatan di parlemen untuk membuat undang undang plus friksi dan berita berita korupsi yang menyertainya. Kita ibarat anak kecil hendak membuat aturan main sendiri tanpa didampingi orang tua maka sering permainan itu mencelakakan mereka sendiri. demikian juga manusia yang paling pintar sekalipun tanpa di dampingi oleh yang Maha Pintar maka akhirnya justru akan mencelakakan sendiri.

Hukum diAl-Quran sudah sangat jelas dan mudah dibaca kemauannya secara general ataupun secara spesifik. yang dibutuhkan kita adalah keimanan terhadap perintah Allah serta kepasrahan bahwa kita manusia adalah makhluq bodoh dan lemah dan hanya Allah SWT yang Maha Sempurna dan Maha Tahu bagaimana cara mengatur kehidupan manusia. Hukum Islam itu irit energi, irit otak, irit waktu tapi sudah pasti maknyus & cespleng menyelesaikan segala persoalan manusia

Wallahu A’lam, Wallahu Musta’an

Posted in aqidah, pencerahan, puasa | Leave a Comment »

Ramadhan sebagai Bulan Ekonomi Umat

Posted by dnux on August 20, 2010

Disamping merupakan bulan puasa, bulan Ramadhan bisa kita sebut sebagai bulan ekonomi dan wiraswasta. Bayangkan, orang orang yang sehariannya bukanlah pedagang, mendadak menjadi pedagang di bulan ini baik itu pedagang makanan kecil, hidangan buka puasa, baju islami, dan sebagainya.  Jauh jauh hari para pengusahan ini telah menyiapkan analisa dan survey pasar serta menabung rupiah/emas untuk dijadikan sebagai modal usaha ketika bulan Ramadhan datang.

Demikian juga para konsumen, apabila seharinya bersantap dengan menu secukupnya, namun pada bulan Istimewa ini mereka tidak ragu membeli makanan berlebih untuk menu buka puasa dan sahur walaupun harga sembako naik tajam selama bulan Ramadhan ini. Demikian juga dalam pembelanjaan baju koko, mukena, buku buku islami pun meningkat karena didorong faktor diskon dan lain sebagainya. Dan terakhir tidak ketinggalan adalah pembelanjaan tiket pesawat terbang atau kapal laut untuk pulang kampung  sebagai alternatif mahalnya harga tiket pesawat terbang.

Inflasi (kenaikan harga) pada keadaan seperti ini adalah kenaikan yang wajar disebabkan oleh tingginya permintaan (demmand) barang sehingga menimbulkan opportunity (peluang) bagi masyarakat untuk meningkatkan atau mneambah jumlah penawaran (supply) barang yang dibutuhkan konsumen sehingga tercapai equilibrium (keseimbangan) harga baru memang yang secara umum memang lebih tinggi daripada diluar bulan Ramadhan. Inilah “the true invisible hand” dimana pasar digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan yaitu mekanisme pasar itu sendiri.

Namun sayangnya pergerakan ekonomi itu hanya bertahan di  bulan Ramadhan. Pada bulan selanjutnya ekonomi pasar kembali ke bentuk semula. Para usahawan yang memilki kemapuan kembali ke aktivitas semula karena permintaan menurun ataupun karena modal dan keuntungan digunakan sudah untuk belanja lebaran. Para konsumen pun kembali menjadi penabung dan menunggu keuntungan berupa menunggu bunga (bank Konvensional) ataupun bagi hasil (bank Syariah). Mereka memilih saving daripada memutarkan uangnya untuk kegiatan ekonomi berupa belanja ataupun usaha.

Ekonomi Islam adalah ekonomi produktif sementara sesungguhnya menabung (saving) bukanlah kegiatan produktif dan berpotensi dicela oleh Allah SWT : “Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, kepada mereka beritahukanlah bahwa mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih. (QS at-Taubah : 34). Apalagi bila menabungnya di Bank Konvensional yang ber-riba maka sesungguhnya hanya akan menuai murka Allah SWT “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “ (QS 2:279)

Menabung di Bank Syariah walaupun tidak mendapatkan bunga namun biasanya uang penabung digunakan oleh Bank dalam sektor konsumtif seperti pembiayaan kredit baik itu properti ataupun kendaraan bermotor. Dan tentu saja hanya orang orang kaya yang mendapatkan kredit tersebut. Padahal Allah SWT  berfirman : “ .. supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu (saja)” (QS Al Hasyr: 7)

Umat Islam harusnya membantu satu sama lain. Karenanya alangkah indahnya bila selepas Ramadhan ini kebiasaan menabung masyarakat diganti dengan kebiasaan berinvestasi riel yang jelas jelas merupakan penobang bangunan ekonomi masyarakat, bukan sektor moneter yang penuh riba dan gharar serta berpotensi menimbulkan tsunami moneter dan tsunami finansial. 

Para pemilik modal hendaknya mencari rekanan yang jujur dan kredibel untuk bekerjasama mengembangkan atau pembiayaan lunak. Bukankah dengan cara demikian masing masing dapat untung. Bagi rekanan akan melancarkan usaha mereka baik berupa rintisan atau expansi, bagi pemodal akan mendapatkan pengalaman bisni, mengetahui seluk beluk usaha serta terhindar dari kufur nikmat penimbunan harta. Dalam Ihya, Imam Ghazali berkata : “… seseorang yang hanya menyimpan(harta)-nya saja dirumahnya, ia benar benar menganiaya fungsi harta dan uang itu, serta melalaikan nikmat yang terkandung dalam penciptaan emas dan perak atau secara umum dia menganggurkan tujuan pembuatan uang itu”. Wassalam.

Posted in adam smith, ekonomi islam, kapitalisme, krisis ekonomi, puasa | Leave a Comment »

Mendudukkan Hadits Kuraib dalam Prespektif Penentuan Awal/Akhir Romadhon dan Problem Kesatuan Umat Islam

Posted by dnux on June 3, 2009

Abu Dhabi – Banda Aceh: 3012.5 miles, Merauke – Banda Aceh : 3250.5 miles (Tools : http://www.infoplease.com/atlas/calculate-distance.html). Kesimpulan : Banda Aceh lebih dekat ke Abu Dhabi dibandingkan ke Merauke. Lalu dengan alasan apa kita bisa memaksa Merauke untuk ngikut Ru’yat hilal nya Banda Aceh sedangkan Banda Aceh dilarang ngikut ru’yat hilal-nya Dubai ?

Pengantar

Terdapat dua hal  yang sering dicampuradukkan oleh masyarakat terkait masalah Romadhon yaitu (1) tentang kaidah penetapan awal/akhir Romadhon itu sendiri, dan (2) tentang keharusan memulai/ mengakhiri romadhon dan menyelanggarakan sholat ’Ied Fitri bersama pemerintah. Dan bila kita klafsikasikan, maka setidaknya ada tiga kelompok yang mewajibkan dirinya Sholat ’Ied Fitri puasa bersama pemerintah

Kelompok pertama adalah golongan orang kebanyakan yang melihat dua hal tersebut sebagai hal yang sama saja. Mereka kebanyakan juga tidak terlalu berpusing ria memperhatikan bagaimana kaidah yang benar dalam penetapan awal/akhir Romadhon, yang penting mengikuti apa kata pemerintah benar atau salahnya. Toh kalau salah yang nanggung dosanya juga pemerintah. Golongan seperti ini adalah orang yang sebenarnya menjerumuskan diri dan orang yang diikutinya (pemerintah dll) kedalam kesalahan berjamaah karena keengganannya untuk mencari ilmu dan keengganannya untuk menasehati sesama muslim, termasuk kepada penguasa

Kelompok kedua adalah golongan yang dalam dirinya telah terpatri prasangka buruk kepada sesama umat Islam di luar golongannya bahwa siapapun yang berbeda dengan pemerintah maka mereka adalah penentang penguasa atau bahkan dikatakan sebagai pembelot, pemberontak, dll. Padahal mereka mengetahui bahwa pendapat pendapat dari ulama ulama qodim tentang boleh tidaknya berbeda dengan penguasa dalam hal mengawali/ mengakhiri puasa termasuk juga pelaksanaan Sholat ’Ied.

Sedangkan kelompok ketiga hampir sama prinsipnya dengan kelompok kedua, namun anehnya mereka hanya toleran terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa golongan lainnya (ABC dll ) namun sangat antipati terhadap perbedaan penetapan awal/akhir puasa dari golongan lainnya (XYZ dll)  dengan labelisasi wahabi, arabisme, transnasionalisme dan lain sebagainya.

Biasanya kelompok kedua dan ketiga ini selalu bertentangan (tanaqudh) pendapat dalam segala wabil khusus dalam masalah ibadah. Sepengetahuan kami, bisa jadi hanya dalam permasalahan berpuasa bersama pemerintah inilah mereka memiliki pendapat yang sama. Keduanya pun juga menggunakan hadits Kuraib secara bias untuk menjustifikasi kebenaran pendapat mereka.

Kok bias ? Ya … dan InsyaAllah dalam artikel ini dengan keterbatasan pemahaman saya, akan saya coba uraikan kebiasan tersebut dimana kebanyakan pada akhirnya adalah nukilan saya dari pendapat pendapat mu’tabar yang tersebar di buku buku ataupun di internet dan lain sebagainya.

Kami menujukan risalah ini bagi sahabat sahabat kami yang sedang kebingungan dan terombang ambing dalam masalah penentuan awal/akhir ramadhan apakah harus mengikuti pendapat pemerintah atau tidak. Kebingungan itu sebenarnya tidak perlu terjadi asal setiap orang mengetahui benar bagaimana pendapat itu digali (di-istinbath) lalu qona’ah (menetapi) terhadap kebenaran proses dan hasil istinbath tersebut, terlepas apakah hasil akhirnya sama atau tidak dengan yang diyakini selama ini. Dengan mengetahui pokok pembahasan tersebut pada akhirnya yang diharapkan adalah kesadaran bahwa bahwa bisa memahami kewajaran perbedaan pendapat untuk kemudian sebagai sesama muqolid (pengikut pendapat ulama) ataupun sebagai tholibin (orang yang baru belajar) tidak saling mencela satu sama lain.

pdf filenya : http://www.scribd.com/doc/16097901/Mendudukkan-Hadits-Kuraib-dalam-Prespektif-Penentuan-Awal-Akhir-Romadhon-dan-Problem-Kesatuan-Umat-Islam

Read the rest of this entry »

Posted in fiqh keseharian, pencerahan, puasa | Leave a Comment »

Mengapa Hizbut Tahrir Selalu Puasa Duluan ?

Posted by dnux on September 11, 2007

Ya tidak mesti duluan sih, kadang2 bareng juga kok contohnya tahun 2007 ini (1428 H). Tergantung apakah rukyat di Indonesia mendahului ru’yat negeri lain atau tidak. Seringnya itu di Indonesia belum terlihat hilal pada maghrib, tapi terlihat hilal di waktu magribnya di Arab atau mungkin malah di Afrika sana, sementara di Indonesia sudah malam hari atau bahkan sudah akan subuh. Kalau masih ngejar sahur, ya sahur untuk puasa karena telah mendengar kabar itu (via sms dll).

Penetapan Awal/Akhir Ramadhan

Sesungguhnya hukum hukum puasa Romadhon telah diterangkan oleh Allah SWT secara gamblang dalam Surat AlBaqoroh ayat 173 hingga ayat 178. Dan telah datang juga hadits hadist dari Rasulullah yang diriwayatkan para sahabat secara marfu’ dari Rasulullah SAW.

Dasar penetapan awal puasa sesungguhnya telah jelas dari ayat AlBaqoroh 185, yaitu ( فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ) yang artinya : barangsiapa diantara kalian melihat bulan maka berpuasalah. Seruan ini apabila dibaca secara tekstual bisa diambil mafhum muwafaqohnya “barangsiapa yang melihat hilal maka dia harus berpuasa” tapi tidak boleh diambil mafhum mukholafahnya (makna pertentangan) yaitu “barangsiapa tidak melihat hilal maka dia tidak boleh berpuasa”

Oleh karena itu maka perintah (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ) tidak menjadi fardhu ‘ain, tetapi menjadi fardhu kifayah dimana persaksian satu orang saja yang telah ru’yatul hilal dan orang itu adil, bisa menjadi landasan bagi kepala negara untuk menetapkan awal puasa. Untuk menetapkan akhir puasa maka jumhur menilai kesaksian satu orang saja bisa diterima, tetapi madzhab syafi’i menetapkan minimal kesaksian 2 orang untuk keperluan lebih hati hati saja.

Dalam perintah (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ) mengandung pengertian umum bahwa satu orang adil telah ru’yatul hilal maka kesaksian dia berlaku untuk seluruh kaum muslimin dan sama sekali dalam nash tersebut tidak terkandung pengertian kesaksian itu dibatasi oleh mathla’ (lokasi ru’yatul hilal).

Demikian pula telah datang hadits hadits umum yang memperkuat hal tersebut seperti

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ yang artinya : ”Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal)”. (HR. Bukhari Muslim)

Semua dalil diatas mengandung pengertian umum bahwa kesaksian ru’yat seorang adil berlaku untuk semua orang tanpa melihat batas batas teritorial, karena kata “kalian” pada surat AlBaqoroh atau hadits diatas adalah “kalian, umat Islam” yaitu ditujukan untuk seluruh umat Islam, bukan orang arab khususnya madinah tempat ayat dan hadits itu diturunkan semata.

Andaikan pada masa sekarang masing masing negara menetapkan awal/akhir puasa berbeda dengan awal/akhir puasa negara lain, maka alasan mereka adalah karena masalah perbedaan mathla’ (tempat lahirnya bulan) karena menyandarkan pada hadits Kuraib yaitu

Diriwayatkan dari Kuraib bahwa Ummul Fadl telah mengutusnya untuk menemui Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata, ‘Aku memasuki Syam lalu menyelesaikan urusan Ummul Fadl. Ternyata bulan Ramadhan tiba sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal (bulan sabit) pada malam Jum’at. Setelah itu aku memasuki kota Madinah pada akhir bulan Ramadlan. Ibnu Abbas lalu bertanya kepadaku dan menyebut persoalan hilal’. Dia bertanya, ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at’. Dia bertanya lagi, ‘Apakah kamu sendiri melihatnya?’. Aku jawab lagi: ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyyah’. Dia berkata lagi: ‘Tapi kami (di Madinah) melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilan-gan tiga puluh hari atau hingga kami melihatnya’. Aku lalu ber-tanya: ‘Tidak cukupkah kita berpedoman pada ru’yat dan puasa Muawiyyah?’. Dia menjawab: ‘Tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami’.” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah)”

Dalam hadits ini “seolah olah” menunjukkan bahwa ibnu Abbas telah menetapkan mathla’ sendiri untuk madinah yang berbeda dengan syam, dan hal ini menjadi justifikasi bagi sebagian besar umat Islam sekarang untuk melakukan penetapan awal/akhir Ramadhan berdasarkan wilayah teritorial masing masing.

Padahal, sebagaimana diterangkan Imam Shon’any dalam Subulus Salam bab Sholat Id (hadits ke 409), didalam hadits tersebut ibnu Abbas sama sekali tidak mengatakan penetapan puasanya yang berbeda dengan mu’awiyah adalah karena masalah perbedaan mathla’ atau juga karena tidak menerima khabar ahad dari Kuraib. Sama sekali tidak. Imam Shon’any mengatakan hal ini karena Ibnu Abbas semata mata karena lebih yakin bahwa Ramadhan memang benar-benar belum datang. (Lihat Subulus Salam halaman 277 – cetakan Darul Kutub Ilmiyah, Libanon). Dalam kitab yang sama pada penjelasan hadits ke 618 Imam Shon’any menegaskan kembali bahwa wajib tiap masing masing untuk beramal atas dasar keyakinann masing masing, bukan mengikuti dzon (dugaan).

Terlebih lagi hadits Kuraib tersebut masih diperselisihkan apakah hadits itu marfu’ atau mauquf, atau bahkan hadits itu adalah ijtihad semata. Dan bahkan “seakan” bertentangan dengan hadits yang beliau riwayatkan juga secara marfu’ : “Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad SAW kemudian berkata, ‘Sungguh saya telah melihat hilal’. Rasulullah bertanya, ‘Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah Anda bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?’ Orang tersebut menjawab, ‘Ya’. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Wahai Bilal umumkan kepada manusia (masyarakat) agar mereka berpuasa besok.” (HR Imam yang lima, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hiban)

Dengan demikian dari penjelasan di kitab Subulus Salam tersebut dapat disimpulkan bahwa kesaksian ru’yat seorang adil dapat berlaku untuk penetapan awal/akhir puasa kaum muslimin lainnya. Dan setiap umat Islam wajib memulai/mengakhiri puasa berdasarkan keyakinannya. Yaitu bila yakin bahwa awal puasa telah datang maka wajib bagi dia berpuasa berdasarkan keyakinannya itu demikian pula wajib bagi dia untuk mengakhiri puasa Romadhon bila dia yakin bahwa Syawal telah datang.

Demikian juga telah berkata para Imam akan hal itu seperti pendapat Imam Syaukani yang menyimpulkan, “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit (ru’yatul hilal), maka ru’yat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.” [lihat pula pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalaniy; Fath al-Baariy; Bab Shiyaam].

Mendahului Puasa = Memecah Persatuan ?

Sungguh mengada ada bila dikatakan Hizbut Tahrir memecah persatuan umat karena memulai dan mengakhiri Romadhon berbeda dengan umat Islam lainnya baik itu di Indonesia atau di negeri negeri Islam lainnya. Padahal semua orang sangat mengetahui bahwa Hizbut Tahrir tidak pernah lelah dalam menyerukan kesatuan Umat Islam dibawah panji Khilafah yang insyaAllah sebentar lagi tegak.

Justru pendapat yang ditabani (diadopsi) oleh Hizbut Tahrir dalam penetapan awak akhir Romadhon dimana kesaksian ru’yat seorang adil berlaku bagi umat Islam sedunia adalah pendapat yang menyatukan umat Islam sedunia dan menghancurkan batas batas teritorial disebabkan terpecahnya umat Islam menjadi 57 negara yang kecil2 dan kerdil2 akibat nasionalisme.

Bila Hizbut Tahrir Indonesia dianggap memecah persatuan karena memulai puasa sendiri dan berbeda dengan umat Islam Indonesia, maka tuduhan yang sama harusnya ditujukan pula pada sahabat Ibnu Abbas (di Madinah) yang memulai puasa berbeda dengan Mu’awiyah (di Syam) padahal kedua wilayah itu masih sama sama dalam bingkai Daulah Khilafah Ummawiyah. Beranikah anda menuduh beliau memecah persatuan Khilafah Umayyah?

Kasus Syawal 1428 H – Indonesia : Belajar dari persatuan Muhammadiyah.

Bulan Oktober 2007 diperkirakan ijtima’ (konjungsi) terjadi pada tanggal 11 Agustus tepatnya 12.02 WIB. Garis ijtima’ sendiri telah membelah Indonesia menjadi bagian yang terlewati dan belum terlewati garis 0 derajad. Namun demikian Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 12 Oktober, sementara NU menunggu sidang itsbat. Kalau HT sudah jelas : nunggu kesaksian saja .. gak usah pake sidang2an segala … Gambaran garis ijtima’ itu pada 11 oktober seperti berikut :

syawal1428-2.jpg

Dari gambar diatas terlihat seharusnya Kaltim, Sulteng, Sulut, Sulbar, Maluku dan Irian Jaya belum masuk syawal sebab masih dibawah 0 derajad. Namun karena semangat nasionalisme dan juga demi persatuan serta keutuhan warga Muhamadiyah, maka daerah daerah tersebut mengalah saja dan ikut ketentuan daerah yang sudah lebih dari 0 derajad.

Nah lo .. –  mengacu pada case yang sama – mengapa untuk kasus yang sama orang2 mempertanyakan pendapat HT Indonesia yang ngikut rukyatul hilal-nya orang lain di negeri seberang sana .. padahal HT Indonesia tidak melihat bulan, sam sebagaimana orang Maluku dan Irian Jaya belum 0 derajad. Jawabannya pun sebenarnya sama seperti pendapat Muhamadiyyah tadi (analoginya) : yang tidak melihat mengikut yang sudah melihat. titik.

Beranjak pada pendapat muhamadiyyah harusnya kita juga bisa bisa berpendapat “demi keutuhan dan persatuan umat Islam, mari kita awali dan akhiri puasa bersama sama“, yang belum mendapati bulan ikut saja mereka yang sudah mendapati bulan.

Wassalam
mNux

Posted in fiqh keseharian, puasa | 3 Comments »