Something inside my minds

Archive for the ‘sholat’ Category

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai / Tanah

Posted by dnux on March 4, 2013

Hukum Meletakkan AlQuran di Tanah/Lantai menurut Syaikh Utsaimin & Bin Baz + Hukum Menghormati Mushaf AlQuran oleh Imam Nawawy dalam Kitab Tibyan …

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai (1)

Jawaban Syaikh Utsaimin

مما لا شك فيه أن القرآن كلام الله عز وجل تكلم به سبحانه وتعالى ونزل به جبريل الأمين على قلب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنه يجب على المسلم احترامه وتعظيمه ولهذا لا يجوز للمسلم أن يمس القرآن إلا وهو طاهر من الحدثين الأصغر والأكبر ولا يجوز أن يوضع القرآن في مكان يكون فيه إهانة له وأما وضع القرآن على الأرض أثناء السجود للمصلى فلا بأس بذلك لأنه ليس فيه إهانة لكنه يجب أن يبعد عن ما يقرب من القدمين بمعنى أنه لا ينبغي بل لا يجوز أن يضعه الإنسان عند قدمه وهو قائم مثلا وإنما يجعله بين يديه أو قدام موضع سجوده كذلك أيضا لا يجوز أن يوضع بين النعال كما لو كان الناس يضعون نعالهم في مكان فيأتي هذا الإنسان ويضعه بين النعال فإن هذا لا يجوز لأنه إهانة للقرآن الكريم.

Terjemah bebas :  Tidak diragukan lagi bahwa AlQuran adalah kalamullah azza wajalla dimana Allah SWT berkalam dan menurunkannya melalui Jibril AS kepada rasulullah SAW dan bahwasanya wajib atas umat Islam untuk menghormati dan mengagungkannya. Karena itu maka tidak boleh bagi umat Islam untuk memegang AlQuran kecuali dia telah suci dari hadats kecil apalagi dari hadats besar. Tidak diperbolehkan juga untuk meletakkan AlQuran di tempat yang menyebabkan kehinaan padanya. Sedangkan meletakkan AlQuran ketika sujud (sedang sholat) maka tidak mengapa, sebab hal itu bukan bentuk penghinaan. Akan tetapi wajib bagi dia untuk menjauhkan agar pelewat dari AlQuran yang diletakkan di lantai tsb. Bahkan tidak boleh seorang menempatkan AlQuran dikakinya sedangkan dia berdiri, seharusnya dia letakkan didepannya atau didepan tempat sujudnya. Demikian juga tidak boleh untuk meletakkan AlQuran ditempat sandal yang biasanya orang orang meletakkan sandalnya disitu. Sebab hal ini merupakan bentuk dari penghinaan kepada AlQuran. Sumber : http://www.nquran.com/index.php?group=view&rid=2379

Hukum meletakkan AlQuran di Lantai (2)

Jawaban Syaikh bin Baz :

Read the rest of this entry »

Posted in akhlaq, al-quran, ilmu, islam, sholat | 3 Comments »

Tata Cara (Tertib/Urutan) Pengangkatan Imam Sholat

Posted by dnux on December 7, 2011

pemilihan ketua masjid merupakan salah satu diantara masalah yang sering muncul manakala sebuah masjid digunakan oleh banyak kaum muslimin dari beberapa golongan/madzhab dll. permasalahan ini bukan masalah baru namun sudah hal yang telah berlangsung sejak era imam madzhab dan para imam madzab-pun telah memberi panduan bagaimana cara menentukan siapa yang layak menjadi imam masjid atau imam sholat. berikut yang bisa saya paparkan dari kompilasi beberapa sumber yang saya ketahui

Dalil Kriteria yang layak menjadi Imam Sholat:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله . فإن كانوا في القراءة سواء . فأعلمهم بالسنة . فإن كانوا في السنة سواء . فأقدمهم هجرة . فإن كانوا في الهجرة سواء ، فأقدمهم سلما . ولا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه . ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

(صحيح مسلم : 673)

Terjemahannya “Orang yang akan mengimami suatu kaum adalah orang yang paling ahli membaca Kitab Allah, maka bila mereka dalam bacaannya itu sama, maka yang lebih alim (tahu) tentang Sunnah Rasul; apabila mereka tentang Sunnah adalah sama, maka hendaklah diangkat jadi imam orang yang lebih dahulu pergi hijrah; jika mereka hijrahnya sama, maka hendaklah diangkat orang yang lebih tua umurnya. Dan janganlah seorang mengimami orang lain diw wilayah kekuasaan orang itu, dan janganlah ia duduk di tempat duduk orang lain kecuali dengan izinnya.” (HR Muslim).

Catatan : lafadz ولا يؤمن  pada hadits riwayat muslim diatas ditulis ولا يؤم   pada riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah (semua sahih) dalam hadits diatas dituliskan dengan sehingga penerjemahan yang benar adalah : jangan mengimami

Dalam hadits diatas ada dua aspek yang harus diperhatikan tentang masalah imam shalat :

  1. Kelayakan imam sholat, yaitu berkaitan dengan prioritasi/urutan menjadi imam sholat berdasarkan skills-nya dalam masalah agama
  2. Kekuasaan imam sholat, yaitu berkaitan dengan boleh tidaknya seseorang boleh menjadi imam sholat atas orang lain di suatu wilayah/tempat tertentu

Terkait dengan prioritas/urutan menjadi imam maka hal ini memang sudah sangat sering dibahas di pengajian-pengajian yaitu bahwa yang diutamakan untuk menjadi imam sholat adalah dia yang أقرؤهم لكتاب الله paling baik bacaan Al-Qurannya, paling ‘alim hadits dll.

Namun sebagai catatan hal ini ada ikhtilaf diantara ulama apakah makna أقرؤهم لكتاب الله  paling baik bacaan disana maknanya artinya adalah paling bagus suara & makhraj-nya ataukah yang paling banyak hafalannya dan masing-masing ada argumennya, namun itu bukan fokus tulisan ini.

Yang menjadi fokus di tulisan ini adalah barangkali banyak di antara kita yang tidak tahu atau mungkin abai pada kententuan yang kedua yaitu terkait wilayah kekuasaan menjadi imam sholat, dimana ada larangan tegas bahwa seseorang dilarang mengimami orang lain di wilayah kekuasaan orang lain tersebut kecuali atas seizin orang lain tersebut. Artinya : seseorang harus legitimate menjadi imam sholat di area tersebut sebelum memimpin sholat itu sendiri. Bahkan ada celaan bagi mereka yang memimpin sholat suatu kaum sementara kaum itu enggan dipimpinnya :

ثلاثة لا ترفع صلاتهم فوق رءوسهم شبرا رجل أم قوما وهم له كارهون وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط وأخوان متصارمان

Terjemahannya “Ada tiga golongan yang tidak diangkat sholat mereka diatas kepala mereka ; seorang laki laki yang mengimami kaum sedangkan mereka enggan kepada dia, seorang wanita yang bermalam sementara lelakinya sedang mura dan dua orang bersaudara yang saling bermusuhan” (Ibnu Majah, Al-Mundziri – Hasan)

Karena itu siapa saja yang menjadi imam harus yaqin bahwa dia tidak dienggani oleh yang diimaminya, atau bila tidak maka pahala sholatnya terancam tidak naik ke sisi Allah SWT.

Lalu siapa yang sebenarnya legitimate untuk memimpin sholat ? Yang legitimate untuk memimpin sholat tentu adalah mereka yang telah ditunjuk sebagai imam sholat. Jadi pertanyaan mendasarnya adalah : bagaimana tatacara pengangkatan imam sholat ?

Urutan yang Layak menjadi Imam Sholat

Berikut pendapat 4 madzab yang saya cuplikan dari kitab Fiqh ‘Ala Arbaah Mahadzib karya syaikh Al-Jazairy:

  • Hanafiyah : Paling tahu hukum sholat > paling wara’ > paling baik tilawahnya > paling duluan masuk islam > paling tua > paling bersih bajunya dll, semuanya ini dengan catatan : bila tidak ada penguasanya disitu, bila ada maka penguasa lebih utama demikian juga tuan rumah, bos pegawai dst.
  • Syafiiyah : diutamakan adalah wali (gubernur) di wilayahnya > imam rowatib > tuan rumah, bila tidak berlaku hal diatas maka dipilih berdasarkan yang paling faqih > paling baik bacaanya > paling zuhud, wara’ > > paling dulu Islamnya > paling baik nasabnya  > paling bersih baju dan  badannya dst
  • Malikiyah : imam (khalifah) atau wakilnya walau disitu ada orang yang lebih faqih darinya > imam rowatib > tuan rumah > paling tahu hukum sholat > paling tahu hadits dan paling hafal >  dst
  • Hanabilah : faling faqih > paling faqih + paling bagus bacaanya > paling bagus  bacaanya > dst, kemudian yang manusia yang paling berhak menjadi imam di rumah adalah sohibul bait, imam rowatib bula untuk masjid dst.

Dari pendapat para imam diatas dapat disimpulkan bahwa yang didulukan untuk dijadikan imam adalah penguasa untuk wilayah baik wilayah kenegaraan atau wilayah masjid, wilayah rumah dll. Pada daerah yang tidak ada penguasanya maka baru yang diutamakan adalah faktor kefaqihan, bagusnya bacaaan dst.

Karena itu mekanisme pengangkatan imam rowatib di suatu masjid menjadi sangat penting karena dialah yang berhak untuk memimpin sholat dibanding siapapun yang hadir di masjid itu meskipun bisa jadi yang hadir pada saat ini ada orang-orang yang lebih faqih, lebih banyak hafalan AlQuran, Hadits dst.

Terkait Pengangkatan Imam Masjid (*sumber : Ahkam Sulthoniyah Imam Mawardi)

Pengangkatan imam sholat tergantung dari jenis masjid itu sendiri.

1.      Masjid Jami atau Masjid Negara

Masjid jami adalah masjid yang pengelolaanya berada dibawah wewenang negara. Imam rowatib masjid jami ditetapkan oleh negara yaitu oleh khalifah atau oleh naqib/wakil-nya baik itu Wali (Gubernur) atau Amil (Bupati) dst. Imam Masjid Jami digaji dari Baitul Mal (Kas Negara). Dia berhak mengangkat muadzin. Bila Imam Masjid Jami telah selesai memimpin sholat berjamaah maka tidak  diperbolehkan ada sholat jamaah lagi sesudahnya

 2.      Masjid Umum

Masjid umum adalah masjid yang dibangun oleh kaum muslimin di samping jalan raya dan perkampungan mereka. Yang menjadi imam adalah yang mereka tunjuk, khalufah dilarang ikut campur tangan. Jika jamaah masjid berbeda pendapat dalam pemilihan imam maka yang diberlakukan adalah suara terbanyak. Bila suaranya berimbang maka khalifah memilihkan untuk mereka untuk meng-hentikan konflik.  Jika seseorang membangun masjid, maka ia tidak secara otomatis lebih berhak atas jabatan imam. Ia dan tetangga-tetangganya yang lain sama posisinya dalam jabatan imam dan adzan

Sengaja saya garis bawah dan tebal perkataan “Ia dan tetangga-tetangganya” untuk menunjukkan bahwa pemilihan imam masjid adalah oleh warga sekitar masjid, bukan oleh orang yang bukan merupakan warga masjid tersebut, terlebih bila dikaitkan kembali pada hadits “jangan seorang mengimami suatu kaum di lain wilayah kekuasaannya”, wilayah kekuasaan tentu maknanya adalah rumahnya, kampungannya atau negaranya, bukan rumah orang lain, kampung orang lain atau negara lain.

Yang menarik dari masalah ini adalah, bahkan hingga Imam Mawardi menuliskan masalah pengangkatan imam sholat dalam kitab siyasah (politik)-nya yang sangat terkenal yaitu Ahkam Sulthoniyah. Hal Ini menunjukkan bahwa keberadaan  Imam (khalifah) sangat penting untuk memecahkan sekaligus menyatukan umat Islam, khususnya terkait persengketaan antar golongan sebagaimana kaedah syara “Amrul Imam yarfaul khilaf” : perintah Imam menghilangkan perselisihan.

Demikianlah tulisan ini semoga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan imam masjid ataupun imam sholat di sekitar kehidupan kita. Wallahu a’lam & Wassalam

dnux – 7 Desember 2011

Posted in fiqh keseharian, sholat | 3 Comments »

Hukum Sutrah dalam Empat Madzhab

Posted by dnux on September 21, 2010

terjemahan dan ringkasan saya dari Kitab Fiqh ‘Alaa Madzahib Arbaah – Abdurrahman Ajjaziry

di kitab ini tidak saya jumpai pendapat dari empat madzhab yang mewajibkan penggunaan sutrah — dnux —

Definisi

Definisi sutrah : apa apa yang dijadikan oleh musholi di depannya dari kursi atau tongkat atau dinding atau tempat tidur atau selainnya yang bisa mencegah orang untuk lewat di depannya dengan tangannya. Tidak ada bedanya menjadikan sutroh itu sesuatu yang tetap (tidak bergerak) seperti dinding atau tiang atau benda selainnya (yang bergerak). Ini adalah pendapat tiga imam sedangkan syafiiyah menyelesihinya. Berikut detailnya :

Syafiiyah: Sesungguhnya ada 4 tingkatan sutroh tidak dibenarkan pindah ke tingkatan bawahnya kecuali bila memang tidak ditemui yang memudahkan menemui yg utama tersebut.

  • Tingkat pertama adalah sesuatu yang tetap dan suci, seperti dinding atau tiang.
  • Tingkat kedua adalah seperti tongkat atau semacamnya seperti furniture yang bila dikumpulkan maka akan setinggi seukuran sutroh (tongkat).
  • Tingkat ketiga adalah tempat solat yang bisa diletakkan diatasnya sajadah atau mantel atau semacamnya dengan syarat itu bukan bagiannya masjid (dnux : spt karpetnya masjid) karena hal tersebut (karpet masjid dll) tidak mencukupi untuk disebut sebagai sutroh (pembatas) (pada tingkat ketiga).
  • Tingkat keempat adalah garis panjang di tanah sepanjang seperti yang disyaratkan pada tingkatan pertama atau kedua yaitu kira kira selebar 2/3 dziro (hast). [dnux : atau kira2 30 cm –> 1 dziro = 45cm).

Kemudian agar tidak menjadikan jarak antara musholi dg sutroh (maximumnya) lebih dari 3 hasta (135 cm) atau kurang dari  yang diperlukan tangan untuk berdiri serta yang diperlukan kedua lutut untuk duduk. Disyaratkan juga untuk tingkatan ketiga dan keempat untuk menjadikan batasan nya itu menghadap kiblat 2/3 hasta atau lebih dan untuk tidak menambahkan antara jari jarinya dengan yang diletakkan didepannya di arah kiblat itu lebih dari 3 hasta.

Hukumnya

Hukumnya adalah mandub. maka mandub bagi musholi untk menjadikan sutroh berdasarkan kesepakatan.Dan telah diketahui baha di syafiiyah dan hanabilah tidak dibedakan antara mandub dan sunah. Mereka berkata  : meletakkan sutroh itu hukumnya sunah sebagaimana mereka mengatakan bahwa itu adalah mandub. Di dalam hanafiyah dan malikiyah yang mengatakan bahwa menletakkan sutroh itu adalah mandub yang hukumnya lebih ringan dari sunnah.

Mereka (Hanabilah & Malikiyah) berkata bahwa bila seseorang sholat di jalanan manusia tanpa sutroh dan orang lain lewat didepannya maka dia (yang sholat) berdosa karena tidak berhati hati dalam sholatnya yaitu ketika sholat di jalanan manusia tersebut.

Adapun syafiiah dan hanabilah mereka mengatakan mereka itu tidak berdosa tetapi makhruh saja.  Meninggalkan (meniadakan) sutroh itu tidak berdosa berdasarkan kesepakatan (ijma), karena hal tersebut hukumna hanya mandub saja bagi orang yang sholat munfarid (sendirian). Dan bagi ma’mum, maka hukumnya tidak mandub sebab sutrohnya imam juga adalah sutrohnya ma’mum.

Berikut perbandingan beberapa hukum sutrah di  madzhab


Hanafiyah Malikiyah Syafiiyah Hanabilah
Hukumnya Mandub Mandub Sunnah Sunnah
Tinggi ≥ 1 dziro ≥ 1 dziro tidak minimalnya ≥ 1 dziro
Lebar n/a n/a 2/3 dziro n/a
Tebal tidak ada tebal minimalnya minimal setebal panah tidak ada tebal minimalnya tidak ada tebal minimalnya
Jarak dg sutrah 3 dizro sujud + jarak yg bisa dilalui kambing/ kucing 3 dziro 3 dziro
Bentuk sutroh tegak & lurus tegak & lurus tegak & lurus
Mengahap orang boleh menghadap punggunngya, tidak boleh menghadap wajahnya, tidak boleh menghadap orang kafir atau wanita boleh menghadap punggunngya, tidak boleh menghadap wajahnya wanita asing tidak boleh menghadap punggung orang ataupun wajahnya boleh menghadap punggunngya ataupun menghadap wajahnya selama dia muslim dan bukan wanita asing
Menghadap benda ghasab (curang) boleh boleh boleh tidak boleh
Menghadap benda najis tidak boleh tidak boleh boleh boleh

Hukum melintasi (lewat) orang sholat

Diharamkan untuk melalui depannya orang sholat meski orang sholat tersebut tidak menggunakan sutrah tanpa udzur. sebagaimana diharamkan bagi musholi untuk menolak/menepis orang yang melintasi di depannya tanpa sutroh ditempat yang banyak manusia berlalu lalang. Jadi kalau ada orang yang melintasinya maka dia (juga berdosa) sedangkan bila tidak ada yang melintasi maka dia tidak dosa (karena tidak meletakkan sutrah) sebab meletakkan sutrah itu sendiri hukum asalnya tidak wajib. Dosa bagi keduanya bila si musholi mencegahnya sementara bagi si pelewat masih ada alternatif jalan lain, sedangkan tidak menjadi dosa bagi keduana bila si musholi tidak mencegahnya sementara si pelewat itu tidak memiliki jalan alternatif. ini adalah menurut hanafiyan dan malikiyah sedangkan bagi syafiiyah & hanabilah sbb :

Syafiiyah : tidak diharamkan bagi yg melintas kecuali bila si musholi menggunakan sutroh yang sesuai syarat2 yang ditentukan, bila tidak maka tidak diharamkan dan juga tidak dimakruhkan (untuk melaluinya). namun khilaful aula-nya (pendapat yg terbaik) adalah : bila musholi mencegah lewat sedangkan dia tidak menggunakan sutroh, maka menjadi tidak dosa bagi keduanya. meski memang benar bahwa dimakruhkan bagi musholi untuk sholat di tempat yang (umumnya) banyak orang  lewat baik itu (benar2) ada yang lewat atau tidak ada yang lewat (waktu dia sholat)

Hanabilah : bila seorang musholi sholat di tempat yang dibutuhkan oleh orang2 untuk lewat (dnux : contohnya di jalanan gang), maka makruh bagi dia secara mutlak untuk mencegah orang melaluinya sebagaimana menurut syafiiyah. kemakruhan ini bagi musholi saja. sementara bagi orang yang lewat tidak berdosa selama memang tidak ada lagi alternatif jalan bagi dia.

Mencegah pelintas sholat

disunnahkan bagi musholi untuk mencegah orang yang lewat di depannya dengan isyarat mata atau kepala atau tangan. bila tidak kembali (masih melintas) maka hendak dicegah dg semampunya. tapi dikedepankan yang paling mudah lalu yang mudah lagi, dengan syarat tidak bergerak banyak sebab itu akan merusak sholat. Ini adalah kesepakatan dalam syafiiyah dan hanabilah adapun dalam hanafiyah dan malikiyah sbb:

hanafiyah : dirukhsohkan untuk melakukan hal demikian selama tidak diulangi lagi, busa ditambahkan dengan isyarat kepaka atau mata atau dg tasbih sementara bagi wanita dengan menepuk tangannya sekali atau dua kali.

malikiyah :  dimandubkan untk mencegah pelewat (dnux : mandub lebih ringan dari sunnah)

====================

demikian terjemahan dan ringkasan saya … mohon koreksi bila ada kekeliruan penerjemahan.

wassalam – dwi Sept 2010

untuk control, asli tulisannya adalah sbb :

Read the rest of this entry »

Posted in fiqh keseharian, sholat | 6 Comments »

Salaman (Berjabat Tangan) Setelah Sholat

Posted by dnux on May 15, 2007

Dengan dalih salaman setelah sholat adalah bi’dah, sebagian umat Islam saat ini khususnya di kota kota besar khususnya di kantor kantor dan kampus, tidak lagi pakai acara salaman setelah sholat. Apakah benar salaman setelah sholat itu adalah bid’ah ? Berikut pendapat Imam Nawawy mengenai salaman setelah sholat :

salaman-nawawy2.jpg

Ternyata menurut Imam Nawawy, salaman setelah sholat itu memang bid’ah .. tapi  bid’ah mubahah, yang boleh dilakukan atau ditinggalkan. Bahkan sebagian ulama Syafi’iyah menganggap bahwa bila dua orang itu memang belum pernah bertemu, maka sebaiknya salaman, mengikuti anjuran mengenai keutamaan salaman bagi orang muslim yang belum pernah atau sudah lama tidak bertemu. Ulama syafi’iyah lainnya mengatakan bahwa sebaiknya salaman setelah sholat ditunda hingga selesai wirid dan dzikir.

Sumber : Fiqih Tradisionalis, KH Muhyidin Abdusshomad – Pustaka Bayan : 2004

Analisis dNux : Mengapa kok ulama Syafi’iyah menganggap salaman setelah sholat itu bid’ah mubahah. Jawab : Karena pada dasarnya salaman itu dilakukan setelah sholat, yakni dilakukan setelah sholatnya selesai. Apapun kegiatan setelah sholat baik itu dzikir, berdoa atau langsung kultum, maka hukum kegiatan tersebut pembahasannya sudah diluar pembahasan hukum sholat alias dikembalikan lagi ke status hukum perbuatan tersebut. Dalam hal ini salaman hukumnya adalah mubah dan sekaligus sunnah bagi yang belum pernah bertemu atau yang sudah lama tidak bertemu. Lalu apa salahnya salaman sesudah sholat ? Lha kan sholatnya sudah selesai. Demikian analisis saya [dNux] terhadap munculnya status hukum mubah mengenai salaman setelah sholat dari ulama Syafi’iyah.

Jadi ? Masih beranikah kita sekalian mengatakan bahwa salaman setelah sholat adalah bid’ah ? Sesuatu yang tidak ada dalilnya sama sekali dalam AlQuran dan AsSunnah ? Kalau mengatakan bahwa salaman setelah sholat adalah makruh, barangkali tidak apa apa .. sebab ini adalah ijtihad dari beberapa ulama juga, tapi mengatakan bid’ah .. ? wow .. sudah hebat betul itu orang. Apakah dikiranya Imam Nawawy tidak tahu ilmu Islam sehingga beliau berfatwa bahwa salaman setelah sholat itu mubah ? Padahal bisa jadi orang yang mengatakan salaman setelah sholat itu bid’ah, selalu menggunakan kitab Imam Nawawy yaitu Riyadhus Shalihin untuk ta’lim-ta’limnya.

Bagaimana dengan sikap saya [dNux] ? Tentu saja saya mengikuti pendapat bahwa salaman itu mubah. Diajak salaman yo monggo .. nggak diajak yo nggak masalah. Dan bagusnya memang salaman itu ditunda saja setelah selesai witir & wirid atau menunggu diluar masjid bila memang ingin bertemu. Demikian ini agar tidak berkembang anggapan bahwa seakan2 salaman itu harus dilakukan setelah sholat.

Hanya saja, sebagai catetan saya juga : Bila ada yang menganggap salaman setelah sholat itu dianggep sebagai rukun atau minimal sebagai sunnah haiat, dan mengatakan tidak sah atau kurang sempurna bila tidak dilakukan, maka i’tiqad seperti inilah yang harus diluruskan dan dibetulkan, tidak dengan membid’ahkan salamannya itu sendiri.

Posted in fiqh keseharian, sholat | 25 Comments »

Hukum Membaca Basmallah dalam Sholat

Posted by dnux on April 19, 2007

Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ragam pendapat fuqohaa dalam hal ini :

  1. Madzhab Maliky : Menahan dari membaca basmallah dalam sholat, baik di Al-Fatihah atau di surat surat yang lain sebab itu bukan bagian dari Al-Quran
  2. Madzhab Abu Hanifah : dibaca sir pada Al-Fatihah di tiap tiap rokaat dan sunnah untuk membacanya pada tiap surat yang lain
  3. Madzhab Syafi’y: membaca basmallah adalah wajib, dibaca jahr waktu sholat jahr, dan dibaca sir waktu sholat sir, dan juga pada tiap tiap surat
  4. Madzab Hambaly : dibaca sir dan tidak sunnah men-jahr-kannya.

Agar tidak heran mengapa kok sampai ada perbedaan pendapat itu, maka perlu saya sampaikan”bahkan para ulama-pun berbeda pendapat apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari Al-Fatihah atau bukan”. Imam Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayatil Ahkam menjelaskan perbedaan pandangan ini :

  1. Madzhab Syafi’y : bagian dari Al-Fatihah dan juga bagian dari semua surat surat yang lain
  2. Madzhab Maliky : bukan ayat dari Al-Fatihah ataupun dari surat surat yang lain di AlQuran
  3. Madzhab Hanafy : adalah ayat dari Al-Quran dan diturunkan terpisah dari tiap surat di Al-Quran dan juga bukan bagian dari Al-Fatihah

Untuk pembahasan ini, saya merujuk pada Kitab Subulus Salam karya Imam Shon’aany (terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah – Libanon, 2004) khususnya di halaman 174-175 yang dua masalah ini.

Mengenai apakah bismillahirrahmanirrahim itu dibaca jahr/sir atau tidak :

Dalam penjelasan hadits no 270/15, Imam Shon’aany menerangkan Imam Nasa’y berpendapat bahwa yang terkuat adalah membaca basmallah (jahr ataupun siir). Hukum bacaanya mengikuti hukum alfatihah. Hadits terkuat dalam permasalahan ini (jahr/sir-nya basmallah) adalah riwayat Nu’aim dari Abi Hurairah “Aku sholat di belakan Abu Hurairah RA, lalu beliau membaca bismillahirrahmanirrahiim kemudian membaca ayat Quran, kemudian ….” (Riwayat Nasa’y)

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa rasulullah tidak membaca basmallah (atau tidak men-jahr-kannya), biasanya berargumen dengan hadits riwayat Anas RA “Bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar dan Umar sesungguhnya mereka sholat dengan alhamdulillillahirrahmanirrahiim” (mutafaq alaih). Dalam riwayat muslim ditambahkan “tidak mengucapkan bismillahirrahmanirahiin”, dan dalam riwayat ahmad, nasa’y dan ibnu khuzaymah ditambahkan “tidak menjahrkannya” (Subulus Salam hadits no 269/14)

Mengenai hal ini, Imam Shon’aany mengatakan bahwa ulama berselisih dalam menggunakan hadits ini, sebab hadits ini sifatnya mudhtorib

(penjelasan dnux : hadits yang kacau <redaksionalnya, etc> yaitu diriwayatkan dari sumber yang sama namun isinya bertentangan sehingga membingunkan apa sebenarnya maksud sipenyampai, dalam hal ini pada riwayat Anas RA itu sendiri terjadi khilaf apakah Anas RA hendak menyampaikan bahwa rasulullah itu tidak membacanya dengan jelas <siir> atau tidak membacanya sama sekali).

Imam Shon’aany menyebutkan bahwa Ibnu Abdul Bar berpendapat bahwa “hadits ini idhthirob dan tidak bisa digunakan sebagai hujah oleh para ulama yang mebaca bismillahirrahmanirrahiim”. Dan demikianlah, bahwa masalah ini memang telah menjadi perselisihan dan perdebatan panjang para fuqohaa madzhab.

Mengenai apakah bismillahirrahmanirrahim itu bagian dari AlFatihah

pada penjelasan hadits no 271(16) kitab Subulus Salam tentang hadits “berkata Rasulullah SAW : bila kamu membaca alfatihah maka bacalah bismillahiraahmanirrahim, karena itu adalah bagian darinya” (HR Daruqthuny dari Abu Hurairah RA) Imam Ash-Shon’aany berkata : hadits ini tidak menjelaskan kewajiban membaca basmallah secara jahr atau siir, namun menjelaskan adanya perintah mutlak yang menegaskan bahwa bismillahiraahmanirrahim adalah bagian dari Al-Fatihah

Saya sendiri (dnux) mengikuti pendapat bahwa bismillah itu harus dibaca pada setiap pembacaan AlFatihah secara jahr pada sholat jarh dan siir pada sholat siir, sebab langsung datang dari nash shorih yang kekuatannya harus dimenangkan dari nash nash yang iqtidha (perlu penggalian mafhum nash dulu) atau yang mafhumnya masih diperselisihkan (seperti hadits mudthorib). Dan saya juga mengikuti pendapat bahwa bismillah adalah bagian dari AlFatihah sebab jelas jelas disebutkan di hadits riwayat Daruqthuny . Syaikh Ali Raghib dalah Ahkamus Sholat juga mengatakan bahwa basmallah itu harus dibaca pada tiap AlFatihah dan basmallah adalah bagian dari AlFatihah

Btw, masalah ini sekali lagi adalah khilaf lebih dari 14 abad yang tidak pernah selesai sebab memang tarjih dari dalil dalil yang ada menyebabkan kemungkinan perbedaan pendapat. So, tidak usah dipermasalahkan lebih jauh .. hargai pendapat yang berbeda, insyaAllah mendapatkan nilai benar disisi Allah SWT. Tapi pilihlah yang paling kuat sesuai dengan kaedah syara (ushul) atau madzab yang anda anuti ..

Posted in fiqh keseharian, sholat | 21 Comments »

Tentang Meng-qoshor dan Men-jama’ Sholat

Posted by dnux on April 18, 2007

Bagi yang biasa keluar kota, mengetahui aturan tentang meng-qoshor & men-jama’ sholat adalah keharusan agar aktivitas sholat yang adalah tanda minimal dari status kemusliman seseorang tersebut dapat dilakukan dengan benar. Dalam msalah tersebut, berikut petikan dari kitab Minhajul Muslim karya Abu Bakar Aj-Jaziry dalam, terbitan Dar-AsSalam cetakan IV. Di halaman 188-190 disebutkan:

Meng-qoshor Sholat

  • Pada dasarnya hukum meng-qoshor sholat adalah “diperbolehkan” sesuai firman Allah dalam An-Nisaa:101 “dan apabila engkau berpergian, maka tidak apa apa (boleh) bagimu untuk meng-qoshor sholat”. Namun karena rasulullah SAW selalu meng-qoshor dalam berpergian, maka hukumnya menjadi sunnah muakad
  • Telah menjadi ijma jumhur bahwa Rasulullah meng-qoshor sholat pada perjalanan minimal 4 barid atau sekitar 48 miles (dnux : sekitar 78 km).
  • Qoshor diperbolehkan selama berpergian sejak berangkat hingga pulang, kecuali apabila muqim di suatu tempat sama lebih dari 4 hari (dnux: kok sepertinya sama dengan batesan jumlah hari kebolehan mengusap khuf ya ?).
  • Musafir boleh melakukan sholat sunnah ketika meng-qoshor terutama qobliyah subuh dan witir.
  • Hukum safar ini berlaku baik bagi mereka yang berjalan, naik motor, mobil, pesawat. Sedangkan bagi penumpang kapal laut, menurut syekh abu bakar aj-jaziry tidak disunahkan meng-qoshor sholat kecuali apabila dia turun dari kapal (dnux : transit dalam waktu yang lama)-
  • Diperbolehkan bagi orang muqim untuk berma’mum pada musafir (yang meng-qoshor) dan wajib meneruskan sholat sampai sempurna bilangan rokaatnya setelah imam selesai salam (hal 182, bab imamah [sholat]).

Men-jama’ sholat

  • Berbeda dengan qoshor yang hukumnya sunnah muakad bagi musafir, maka menjama’ sholat hukumnya adalah mubah karena “rukhshoh” (diringankan)
  • Musafir juga diperbolehkan menjama’ sholat (hal 106, bab adabul safar)-
  • Diperbolehkan jama’ pada saat hujan deras atau cuaca dingin sekali, angin kencang yang hal hal tersebut menghalangi berkumpul di masjid untuk sholat berjama’ah.
  • Demikian juga orang sakit juga diperbolehkan menjama’ bila memang sulit untuk sholat pada tiap2 waktunya.

Menurut saya, sepertinya Syekh Abu Bakar Aj-Jaziry hendak mengatakan bahwa illat (penyebab munculnya hukum) jama’ adalah karena masyaqoh (kesulitan), sehingga beliau juga mengatakan bahwa diperbolehkan jama’ bila sedang ketakutan baik jiwa, kehormatan atau harta (dirampok kali) bila ilatnya adalah masyaqoh. Wallohu a’lam.

Saya sendiri berpegangan pada kaedah syara : tidak ada illat atau tidak boleh dicari cari illat dalam ibadah mahdhoh [sholat, zakat, puasa, haji, dll]. Ibadah mahdhoh harus tauqifi (manut) dan datang dari nash yang shorih (jelas). Andaikan ibadah mahdhoh diambil illatnya, ya bisa nanti orang pada gampangan & sembarangan dalam melakukan ibadah tersebut, dan akhirnya akan merusak tertib aturan ibadah itu sendiri.

Btw, dari buku (minhajul muslim) tersebut saya belum mendapat keterangan : “apakah musafir tidak boleh menjama sholat apabila menetap ditempat yang sama lebih dari 4 hari sebagaimana aturan qoshor ?”

Sedangkan dari Syekh Ali Raghib dalam Ahkamus Sholat (diterjemahkan menjadi Hukum Hukum Seputar Sholat terbitan PKSII, th 2002) dijelaskan

  • Bagi musafir, qoshor lebih afhol dilakukan daripada sholat biasa (sementara aj-jaziry mengatakan sebagai sunnah muakad)
  • Jarak qoshor adalah 81 km. Tidak boleh menq-qoshor kurang dari jarak itu sebab Rasulullah tidak meng-qoshor sholat ketika berpergian ke Baqi. Juga tidak boleh meng-qoshor kecuali setelah keluar dari daerahnya.
  • Lama hari meng-qoshor tidak ditentukan. Namun seorang musafir harus menghentikan qoshor apabila sudah bertekad untuk menetap ditempat tersebut dalam jangka waktu yang lama.
  • Jama’ adalah kekhususan hanya 1) bagi musafir, (berbeda dengan aj-jaziry yang mengatakan sebagai rukhshoh), 2) pada kondisi hujan dan 3) ketika wukuf di Arofah dan Mudzalifah saja
  • Sebagaimana qoshor, seorang musafir diperbolehkan menjama’ sholat selama memang masih dalam status “sedang berpergian“. Ketika dia sudah bertekad untuk menetap dalam jangka waktu yang lama disuatu tempat, maka dia wajib menghentikan qoshor dan jama’-nya. (dnux: yang dimaksud menetap adalah dianggap menjadi warga, meski hanya 6 bulan dst, yang penting sudah dianggap itu kegiatan menetap)

So, jama’ dan qoshor itu dua hal yang berbeda treatment-nya. Qoshor hukumnya sunnah muakad sedangkan jama’ adalah rukhshoh (menurut Aj-Jaziry). Sedangkan menurut syaikh Ali Raghib hukumnya adalah “lebih afdhol” dan “pengecualian“. Dalam masalah jama’ qoshor, dnux lebih memilih taqlid pada pendapat syaikh Ali Raghib

Musafir tidak harus selalu menggabungkan jama dan qoshor . Boleh saja musafir menjama’ sholat tanpa meng-qoshor atau meng-qoshor sholat tanpa menjama. Meski, memang yang paling praktis adalah menjama’ sekaligus meng-qoshor sholat.

Posted in fiqh keseharian, sholat | 5 Comments »