Why did Allah SWT allow trade and prohibit riba (interest) ?

by Dwi P. Nugroho, 5th July 2017

Allah created Human as a social being. Allah creates Eve since Adam can not live alone and he need a friends or partners to live. No one can do everything from planting rice, vegetables, fruits to fulfill his needs. Human can not build their house except live in caves. Human can not protect their self from robberies thieves etc. They need to join and interact with others to get their need by trading or barter and by hiring others to do things that they can not handle.

A community will sustain as long it members live in harmony and not conflicting each other. Every community’s member should put their effort to sustain the community by making others enjoy to living with them. Community will appoint a leader to lead the community and becomes a judge to solve disputes among them. Set of rules will be used to justify which activities are allowed and which are not. A leader also appointed to prevent other oppress others in the community

It is natural if anyone want to be rich and to enjoy good and luxuries things and they need more money to able to to that. But sometimes this temptation prompting greedy. There will be people who want more money but with less effort. They will find easiest and shortest way to increase their wealth even with unfair stealing, robbing, cheating, corrupting and else.

But in some condition, those unfair activities are considered legal/ normal in a community depends on the law in the community it self. If the written law said it is allowed (example : to takes small item from others) so that activities are legal to be practiced such as the bank loan with interest and alcohol trading.

Islamic community established based on the Islamic principles. The communities’ values are Islamic values and the communities’ law are Islamic laws. One of the Islamic value and thus an Islamic law are prohibition of the Riba (interest).

Literally riba is increase or growth (ziyadah). Allah SWT said in Surah Rum (30):39 “Whatever you pay as interest so that it may increase (li yarbu) the wealth of people does not increase (fa la yarbu) in the sight of Allah”.

Continue reading

Advertisements

Kliping Berita – Menjelang Kelahiran Kerajaan Arab Saudi

Kliping berita :  Ibn Saud menaklukkan Madinah Desember 1925 dari tangan Raja Ali bin Hussain sebagai respon dari upaya Syarif Hussain mengangkat dirinya menjadi khalifah setelah sebelumnya berkhianat ke Turki Utsmani dengan memerdekakan Hijaz th 1915. Bulan Januari 1926 Abdul Aziz Ibn Saud – Sultan Najed – mengumumkan dirinya sebagai kepala kerajaan Hejaz dan nantinya th 1932 Hejaz dan Najed (+Asir) akan dilebur menjadi kerajaan baru : ARAB SAUDI

menjelang-kelahiran-saudi-arabia

ARABIAN WAR: MEDINA CAPTURE.
IBU SAUD’S SUCCESS Continue reading

Bolehkah ada lebih dari satu jamaah dakwah (berbilang) ?

memahami QS 3:104 ..
وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنْكَرِ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

maka muncul pertanyaan : Apakah makna { ولتكن منكم أمة } berarti hanya boleh hanya ada satu kelompok dakwah dan tidak boleh berbilang ?

Maka merujuk pada tafsirnya Imam Suyuthi – Durrul Mantsur tertulis disana :
“وأخرج ابن أبي حاتم عن مقاتل بن حيان في قوله { ولتكن منكم أمة } يقول: ليكن منكم قوم. يعني واحداً، أو إثنين، أو ثلاثة نفر فما فوق، ذلك أمة ”
Ibn abi Hatim dari Muqotil bin Hayyan mengatakan maksud dari ayat (Hendaklah dari kalian (ada) umat ) : Hendaknya ada dari kalian qoum yakni satu dua tiga kelompok atau lebih, itulah “umatun”

Jadi disini Imam Suyuthi menampilkan pendapat tentang bolehnya ada lebih dari satu kelompok ..

Biasanya pemahaman kelompok yang mengatakan tidak boleh berbilang itu dilandasi oleh ayat setelahnya yakni ..
وَلاَ تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَاتُ ٌ
dan jangan kalian seperti orang yg berpecah2 dan berselisih setelah datangnya bayinat (penjelasan)

Namun kemudian yang menjadi masalah adalah adanya satu pemahaman : tidak boleh berbilang kelompok dan hanya ada satu kelompok saja dengan manhaj tertentu dan seluruh orang mesti mengikuti kelompok dengan manhaj tersebut. Hal ini akan diperparah bila kemudian diikuti dengan klaim  مِن بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَاتُ  yang dimaksud bayinat adalah yang dari mereka atau yang sesuai dg pemahaman mereka 

Bila pemahaman ini ujung2nya adalah hendaknya seluruh manusia berada pada satu jamaah tertentu saja, maka pendapat ini juga salah sebab ayat 3:104 itu sendiri jelas menyebutkan منكم (dari kalian), bukan semuanya ..

Imam Qurthuby dalam tafsirnya mengatakan makna makna min dalam ayat itu ada dua penafsiran, yang pertama للتبعيض yakni bermakna sebagian, yang kedua adalah  لبيان الجنس untuk menjelaskan jenis kelompok tsb. Namun menurut beliau yg rojih adalah makna sebagian.

Karena itu tidak diwajibkan semua orang masuk kelompok tersebut, cukup sebagian saja khususnya adalah para ulama yang memahami hukum2 agama. Hal ini juga menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah .. 

wallahu a’lam ..
dnux 24 Mei 2015

Tafsir QS Al-Baqarah 273 : Mereka yang tidak meminta-minta

(272)
ﺀﺍﺮﻘﻔﻠﻟ ﺍﻭﺮﺼﺣﺃ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﻞﻴﺒﺳ ﻲﻓ ﺎﺑﺮﺿ ﻥﻮﻌﻴﻄﺘﺴﻳ ﻻ
ﻲﻓ ﻢﻬﻓﺮﻌﺗ ﻒﻔﻌﺘﻟﺍ ﻦﻣ ﺀﺎﻴﻨﻏﺃ ﻞﻫﺎﺠﻟﺍ ﻢﻬﺒﺴﺤﻳ ﺽﺭﻷﺍ
ﻢﻫﺎﻤﻴﺴﺑ ﻻ ﻥﻮﻟﺄﺴﻳ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﺎﻓﺎﺤﻟﺇ ﺎﻣﻭ ﺍﻮﻘﻔﻨﺗ ﻦﻣ ﺮﻴﺧ
273)ﻢﻴﻠﻋ ﻪﺑ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺈﻓ)
T
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang
terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak
dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu
menyangka mereka orang kaya karena
memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal
mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka
tidak meminta kepada orang secara mendesak.
Dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya
Allah Maha Mengatahui.

Solusi Mendasar Penutupan Lokalisasi Km 17

Sejak dikeluarkannya rekomendasi MUI bulan Maret 2009 tentang penutupan Lokalisasi Km17 Balikpapan, berbagai silang pendapat masih mewarnai perdebatan masyarakat Balikpapan tentang dampak positif ataupun dampak negatif dari penutupan lokalisasi tersebut. Silang pendapat tersebut sepertinya akan dimenangkan oleh pihak pihak yang menginginkan penutupan lokalisasi terlebih setelah pemkot Balikpapan via Sayid MN Fadly (Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangundan Sedakot) menegaskan bahwa Pemkot Balikpapan berkomitment untuk menutup lokalisasi itu bahkan termasuk menghilangkan semua bentuk penyakit  masyarakat.

Sebagian masyarakat merasa apatis terhadap usulan tersebut mengingat pemecahan tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru dikhawatirkan menyebabkan migrasi PSK ke pemukiman masyarakat sehingga menimbulkan penyebaran HIV AIDS di tengah masyarakat. Karenanya mereka menghendaki lokalisasi tersebut tidak dibubarkan namun tetap diadakan dengan disertai program pembinaan kepada para PSK

Logika klasik tersebut sebenarnya dapat dipatahkan dengan argumentasi bahwa pemkot telah lama memberikan sarana pendidikan dan pelatihan ketrampilan bagi PSK agar bisa bekerja dengan ketrampilan barunya dan meninggalkan pekerjaan haramnya tersebut . Namun sangat sedikit mantan PSK yang mau bekerja dengan ketrampilan barunya dan lebih memilih kembali ke lokalisasi untuk berkecimpung lagi di profesi haram tersebut. Bahkan telah banyak para ustadz diterjunkan untuk menasehatai para PSK namun tetap saja lokalisasi tersebut makin ramai.

Bila kita jujur terhadap permasalahan sesungguhnya dari keberadaan lokalisasi Km17 atau tempat pelacuran lainnya, maka sebenarnya permasalahannya bisa disimplikfikasi dua hal saja yaitu 1) masalah perut PSK dan 2) masalah syahwat pemakai jasa.

Pertama, kebutuhan hidup seringkali menjadi alasan bagi para PSK untuk mensahkan profesinya. Alasan ini harus dicermati dengan benar apakah memang demikian. Apakah benar PSK tersebut menjalankan profesinya untuk kebutuhan darurat ? Karena bisa jadi diantara mereka ada yang punya harta berupa tabungan, kendaraan atau bahkan tanah dan rumah. Yang paling nyata adalah PSK kelas tinggi yang tarifnya jutaan rupiah, tentu alasan kebutuhan perut menjadi alasan yang sangat naif dan mengada ada.

Kedua, masalah syahwat dari pemakai jasa PSK. Beberapa orang berkeberatan juga bila lokalisasi ditutup karena mereka tidak bisa menyalurkan syahwatnya. Sebagian masyarakat juga kuatir akan banyak terjadi perkosaan bila lokalisasi ditutup sebab para penyalur syahwat itu kehilangan tempat untuk menyalurkan nafsunya.

Untuk menganalisa kedua masalah pokok terebut, maka perlu didekati dengan pemikiran yang mendalam terhadap tiga hal :

Pertama, nalar pelaku. Solusi pendek PSK untuk memenuhi kebutuhan fisik dengan jalan melacurkan diri sungguh sangat cengeng disaat ratusan atau bahkan ribuat orang lainnya bekerja memeras keringat menjadi pengais sampah, pengumpul karton, buruh pasar, bekerja di pabrik pabrik yang tidak higienis dengan gaji dibawah UMR dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah pokok adalah ketidakmauan bekerja pada sektor yang kotor namun halal tersebut. Demikian juga bagi para pria hidung belang, mengapa mereka tidak menikah dengan yang sanggup dinafkahi atau mengapa tidak berpoligami saja kalau perlu sampai dengan 4 istri yang kira kira sanggup dinafkahi.

Pada akirnya yang menjadi masalah adalah faktor keimanan para pelaku dan kesanggupan mereka menahan hawa nafsunya untuk melakoni pekerjaan yang berat namun halal serta untuk menyalurkan nafsu sexual dengan cara yang halal dan terhormat.  Rasulullah bersabda ”Tidaklah ada dosa yang lebih besar setelah syirik melainkan seorang laki-laki meletakkan spermanya di rahim perempuan yang tidak halal baginya” HR Abi Dunya di Tafsir Ibnu Katsier. Pelakunya pun akan dirajam bila muhshon dan akan dijilid 100 kali bila ghoiru muhson.

Kedua, norma masyarakat. Masyarakat sendiri juga sebenarnya berperan langsung dalam membentuk PSK itu sendiri terutama faktor kecuekan mereka dalam membiarkan kemaksiatan yang besar atau yang kecil. Masyarakat berdiam diri dan tidak bernahi mungkar terhadap tayangan TV, VCD, koran, majalah, panggung hiburan yang mengexploitasi naluri seksual. Masyarakat juga berdiam diri melihat pasangan yang mojok ditempat gelap untuk berpacaran dan membiarkan pasangan tersebut merasakan kehangatan satu sama lain kala berdekatan. Penumpukan naluri ini mau tidak mau akan berakumulasi pada keinginan untuk menyalurkan hawa nafsu dengan cara tidak benar dengan maksud coba coba sampai akhirnya kebablasan dan sampai merasa hal yang wajar.

Semua ini terjadi karena aqidah yang mendominasi masyarakat kita adalah aqidah sekuler, yang menganggap agama itu adalah urusan di masjid saja sehingga ketika ketemu di dunia nyata (di luar masjid), kemaksiatan kemaksiatan ditempat umum itu dibiarkan karena bukan lagi area agama untuk mengaturnya.

Ketiga, faktor sistem. Negara adalah ultimate instrument pelaksanaan sistem. Ketika negara menggunakan landasan yang baik, maka akan baik tatanan masyarakatnya. Sebaliknya apabila landasan kenegaraan yang digunakan itu buruk, maka akan rusaklah tatanan kemasyarakatan.

Bentuk landasan tatanan masyarakat kita adalah sekuler religius dan secara praktik yang lebih menonjol adalah kesekulerannya. Karenany,a praktis bisa disebut bahwa landasan kenegaraan kita adalah pandangan sekuler. Demikan pula sistem ekonomi yang dipergunakan adalah ekonomi kapitalis liberalisme. Dua duanya memberikan efek buruk bagi masyarakat.

Aqidah sekuler adalah aqidah yang buruk sebab memisahkan antara aspek rohani dengan aspek jasmani dengan jalan menjauhkan agama dari kehidupan praktis kemasyarakatan termasuk pula aspek ekonomi hukum dan kenegaraan. Pandangan itulah yang menyebabkan masyarakat yang kehilangan makna hidup karena tujuan hidup bukan lagi untuk mengabdi pada Allah SWT melainkan untuk menuruti hawa nafsu mengejar kepuasan materiel baik itu konsumerisme ataupun hedonisme.

Continue reading