Something inside my minds

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Kliping Berita – Menjelang Kelahiran Kerajaan Arab Saudi

Posted by dnux on September 29, 2016

Kliping berita :  Ibn Saud menaklukkan Madinah Desember 1925 dari tangan Raja Ali bin Hussain sebagai respon dari upaya Syarif Hussain mengangkat dirinya menjadi khalifah setelah sebelumnya berkhianat ke Turki Utsmani dengan memerdekakan Hijaz th 1915. Bulan Januari 1926 Abdul Aziz Ibn Saud – Sultan Najed – mengumumkan dirinya sebagai kepala kerajaan Hejaz dan nantinya th 1932 Hejaz dan Najed (+Asir) akan dilebur menjadi kerajaan baru : ARAB SAUDI

menjelang-kelahiran-saudi-arabia

ARABIAN WAR: MEDINA CAPTURE.
IBU SAUD’S SUCCESS

The Jerusalem correspondence of the “Dally Express” states that the Wahhabis (a powerful Mohammedan sect) have captured Medina, in Arabia (one of the holy cities of the Mohammedans), defeating the Hedjaz army after a long siege: The Sultan, Ibnu Saud is now master of Central Arabia and in position to take Jeddah (on the Bed Sea, and 240 miles south east of Medina) unless British guns intervene

Mecca, which also is in the kingdom of the Hedjaz was occupied by the Wahhabis last year

The Brisbane Courier (Qld. : 1864 – 1933)

———

ABDICATION HEDJAZ, THRONE VACANT.

LONDON, Dec. 28. Reuter reports from Port Sudan that King Ali ibn Hussein has abdicated the throne of Hedjaz, in Arabia. [King Hussein of Hedjaz abdicated in favor of his son in October, 1924, after an unsuccessful religious war with the Sultan of Najd. Shortly-after his succession Ali evacuated the capital (Mecca) on pressure from the Wahhabis, who had been denied admittance to the sacred Mohammedan city for years.

Examiner (Launceston, Tas. : 1900 – 1954) Tue 22 Dec 1925

———–
HEDJAZ KING. ALI’S SUCCESSOR.
IBN SAUD PROCLAIMED

CAIRO, January 11. News horn Jeddah states that Ibn Saud has been proclaimed at Mecca King of the Hedjaz.

Early in the Great War the British Government guaranteed the autonomy of Hedjaz in the event of a successful revolt, and, on June 5, 1916, Hussein Ibn Ali, the Emir proclaimed his independence. In November, 1916, Emir Hussein issued a proclamation assuming the title of King of Hedjaz, and treaty of peace with Turkey recognized the Hedjaz as a free and independent State, the capital of which is Mecca. Great Britain paid the King a considerable subsidy to enable him to maintain independence and provide for pilgrimage.

During September, 1924, the Holly City of Mecca was subjected to an attack by the Wahabis, a sect of Puritan Moslems, under Ibn Saud, the Emir of Nejd, which is known as “the true home ot the Arabs” They strongly objected to the assumption of the title of caliph by Hussein on the deposition of the Sultan of Turkey. Ibn Sand himself declared. “None of us can accept Hussein as our leader. With the fall of Mecca, Hussein” abdicated on October 3,1924, and he was succeeded by his son, Ali Ibn Hussein, who carried on the warfare against Ibn Saud

The war fluctuated considerably, at one time being in favour of the Wahabis, and at other times with Ali. King Ali brought himself greatly into disfavor because he persisted in carrying on the fight during “the sacred months” of the annual pilgrimage to Mecca, whereas his rival, Ibn Saud, who held control of Mecca, befriended the pilgrims fioin India, and gained much favour with Shaukat Ali, the president of the Central Khalifat Committee. In December last King Ali followed his father’s footsteps and abdicated. The whole business is very largely a local quarrel between the two rivals, With the annual pilgrimage, as a fortunate and opportune happening for Ibn Saud.
The Brisbane Courier (Qld. : 1864 – 1933)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Bolehkah ada lebih dari satu jamaah dakwah (berbilang) ?

Posted by dnux on May 24, 2015

memahami QS 3:104 ..
وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنْكَرِ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

maka muncul pertanyaan : Apakah makna { ولتكن منكم أمة } berarti hanya boleh hanya ada satu kelompok dakwah dan tidak boleh berbilang ?

Maka merujuk pada tafsirnya Imam Suyuthi – Durrul Mantsur tertulis disana :
“وأخرج ابن أبي حاتم عن مقاتل بن حيان في قوله { ولتكن منكم أمة } يقول: ليكن منكم قوم. يعني واحداً، أو إثنين، أو ثلاثة نفر فما فوق، ذلك أمة ”
Ibn abi Hatim dari Muqotil bin Hayyan mengatakan maksud dari ayat (Hendaklah dari kalian (ada) umat ) : Hendaknya ada dari kalian qoum yakni satu dua tiga kelompok atau lebih, itulah “umatun”

Jadi disini Imam Suyuthi menampilkan pendapat tentang bolehnya ada lebih dari satu kelompok ..

Biasanya pemahaman kelompok yang mengatakan tidak boleh berbilang itu dilandasi oleh ayat setelahnya yakni ..
وَلاَ تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَاتُ ٌ
dan jangan kalian seperti orang yg berpecah2 dan berselisih setelah datangnya bayinat (penjelasan)

Namun kemudian yang menjadi masalah adalah adanya satu pemahaman : tidak boleh berbilang kelompok dan hanya ada satu kelompok saja dengan manhaj tertentu dan seluruh orang mesti mengikuti kelompok dengan manhaj tersebut. Hal ini akan diperparah bila kemudian diikuti dengan klaim  مِن بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَاتُ  yang dimaksud bayinat adalah yang dari mereka atau yang sesuai dg pemahaman mereka 

Bila pemahaman ini ujung2nya adalah hendaknya seluruh manusia berada pada satu jamaah tertentu saja, maka pendapat ini juga salah sebab ayat 3:104 itu sendiri jelas menyebutkan منكم (dari kalian), bukan semuanya ..

Imam Qurthuby dalam tafsirnya mengatakan makna makna min dalam ayat itu ada dua penafsiran, yang pertama للتبعيض yakni bermakna sebagian, yang kedua adalah  لبيان الجنس untuk menjelaskan jenis kelompok tsb. Namun menurut beliau yg rojih adalah makna sebagian.

Karena itu tidak diwajibkan semua orang masuk kelompok tersebut, cukup sebagian saja khususnya adalah para ulama yang memahami hukum2 agama. Hal ini juga menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah .. 

wallahu a’lam ..
dnux 24 Mei 2015

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Tafsir QS Al-Baqarah 273 : Mereka yang tidak meminta-minta

Posted by dnux on April 29, 2012

(272)
ﺀﺍﺮﻘﻔﻠﻟ ﺍﻭﺮﺼﺣﺃ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﻞﻴﺒﺳ ﻲﻓ ﺎﺑﺮﺿ ﻥﻮﻌﻴﻄﺘﺴﻳ ﻻ
ﻲﻓ ﻢﻬﻓﺮﻌﺗ ﻒﻔﻌﺘﻟﺍ ﻦﻣ ﺀﺎﻴﻨﻏﺃ ﻞﻫﺎﺠﻟﺍ ﻢﻬﺒﺴﺤﻳ ﺽﺭﻷﺍ
ﻢﻫﺎﻤﻴﺴﺑ ﻻ ﻥﻮﻟﺄﺴﻳ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﺎﻓﺎﺤﻟﺇ ﺎﻣﻭ ﺍﻮﻘﻔﻨﺗ ﻦﻣ ﺮﻴﺧ
273)ﻢﻴﻠﻋ ﻪﺑ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺈﻓ)
T
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang
terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak
dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu
menyangka mereka orang kaya karena
memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal
mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka
tidak meminta kepada orang secara mendesak.
Dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya
Allah Maha Mengatahui.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Paket Internet Simpati dll

Posted by dnux on March 30, 2012

*sesekali nulis ringan  …

Buat yg punya device galaxy & htc bisa dg Rp 50.000 bisa dapet unlimited dg dial ke *253#

 

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Solusi Mendasar Penutupan Lokalisasi Km 17

Posted by dnux on April 26, 2009

Sejak dikeluarkannya rekomendasi MUI bulan Maret 2009 tentang penutupan Lokalisasi Km17 Balikpapan, berbagai silang pendapat masih mewarnai perdebatan masyarakat Balikpapan tentang dampak positif ataupun dampak negatif dari penutupan lokalisasi tersebut. Silang pendapat tersebut sepertinya akan dimenangkan oleh pihak pihak yang menginginkan penutupan lokalisasi terlebih setelah pemkot Balikpapan via Sayid MN Fadly (Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangundan Sedakot) menegaskan bahwa Pemkot Balikpapan berkomitment untuk menutup lokalisasi itu bahkan termasuk menghilangkan semua bentuk penyakit  masyarakat.

Sebagian masyarakat merasa apatis terhadap usulan tersebut mengingat pemecahan tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru dikhawatirkan menyebabkan migrasi PSK ke pemukiman masyarakat sehingga menimbulkan penyebaran HIV AIDS di tengah masyarakat. Karenanya mereka menghendaki lokalisasi tersebut tidak dibubarkan namun tetap diadakan dengan disertai program pembinaan kepada para PSK

Logika klasik tersebut sebenarnya dapat dipatahkan dengan argumentasi bahwa pemkot telah lama memberikan sarana pendidikan dan pelatihan ketrampilan bagi PSK agar bisa bekerja dengan ketrampilan barunya dan meninggalkan pekerjaan haramnya tersebut . Namun sangat sedikit mantan PSK yang mau bekerja dengan ketrampilan barunya dan lebih memilih kembali ke lokalisasi untuk berkecimpung lagi di profesi haram tersebut. Bahkan telah banyak para ustadz diterjunkan untuk menasehatai para PSK namun tetap saja lokalisasi tersebut makin ramai.

Bila kita jujur terhadap permasalahan sesungguhnya dari keberadaan lokalisasi Km17 atau tempat pelacuran lainnya, maka sebenarnya permasalahannya bisa disimplikfikasi dua hal saja yaitu 1) masalah perut PSK dan 2) masalah syahwat pemakai jasa.

Pertama, kebutuhan hidup seringkali menjadi alasan bagi para PSK untuk mensahkan profesinya. Alasan ini harus dicermati dengan benar apakah memang demikian. Apakah benar PSK tersebut menjalankan profesinya untuk kebutuhan darurat ? Karena bisa jadi diantara mereka ada yang punya harta berupa tabungan, kendaraan atau bahkan tanah dan rumah. Yang paling nyata adalah PSK kelas tinggi yang tarifnya jutaan rupiah, tentu alasan kebutuhan perut menjadi alasan yang sangat naif dan mengada ada.

Kedua, masalah syahwat dari pemakai jasa PSK. Beberapa orang berkeberatan juga bila lokalisasi ditutup karena mereka tidak bisa menyalurkan syahwatnya. Sebagian masyarakat juga kuatir akan banyak terjadi perkosaan bila lokalisasi ditutup sebab para penyalur syahwat itu kehilangan tempat untuk menyalurkan nafsunya.

Untuk menganalisa kedua masalah pokok terebut, maka perlu didekati dengan pemikiran yang mendalam terhadap tiga hal :

Pertama, nalar pelaku. Solusi pendek PSK untuk memenuhi kebutuhan fisik dengan jalan melacurkan diri sungguh sangat cengeng disaat ratusan atau bahkan ribuat orang lainnya bekerja memeras keringat menjadi pengais sampah, pengumpul karton, buruh pasar, bekerja di pabrik pabrik yang tidak higienis dengan gaji dibawah UMR dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah pokok adalah ketidakmauan bekerja pada sektor yang kotor namun halal tersebut. Demikian juga bagi para pria hidung belang, mengapa mereka tidak menikah dengan yang sanggup dinafkahi atau mengapa tidak berpoligami saja kalau perlu sampai dengan 4 istri yang kira kira sanggup dinafkahi.

Pada akirnya yang menjadi masalah adalah faktor keimanan para pelaku dan kesanggupan mereka menahan hawa nafsunya untuk melakoni pekerjaan yang berat namun halal serta untuk menyalurkan nafsu sexual dengan cara yang halal dan terhormat.  Rasulullah bersabda ”Tidaklah ada dosa yang lebih besar setelah syirik melainkan seorang laki-laki meletakkan spermanya di rahim perempuan yang tidak halal baginya” HR Abi Dunya di Tafsir Ibnu Katsier. Pelakunya pun akan dirajam bila muhshon dan akan dijilid 100 kali bila ghoiru muhson.

Kedua, norma masyarakat. Masyarakat sendiri juga sebenarnya berperan langsung dalam membentuk PSK itu sendiri terutama faktor kecuekan mereka dalam membiarkan kemaksiatan yang besar atau yang kecil. Masyarakat berdiam diri dan tidak bernahi mungkar terhadap tayangan TV, VCD, koran, majalah, panggung hiburan yang mengexploitasi naluri seksual. Masyarakat juga berdiam diri melihat pasangan yang mojok ditempat gelap untuk berpacaran dan membiarkan pasangan tersebut merasakan kehangatan satu sama lain kala berdekatan. Penumpukan naluri ini mau tidak mau akan berakumulasi pada keinginan untuk menyalurkan hawa nafsu dengan cara tidak benar dengan maksud coba coba sampai akhirnya kebablasan dan sampai merasa hal yang wajar.

Semua ini terjadi karena aqidah yang mendominasi masyarakat kita adalah aqidah sekuler, yang menganggap agama itu adalah urusan di masjid saja sehingga ketika ketemu di dunia nyata (di luar masjid), kemaksiatan kemaksiatan ditempat umum itu dibiarkan karena bukan lagi area agama untuk mengaturnya.

Ketiga, faktor sistem. Negara adalah ultimate instrument pelaksanaan sistem. Ketika negara menggunakan landasan yang baik, maka akan baik tatanan masyarakatnya. Sebaliknya apabila landasan kenegaraan yang digunakan itu buruk, maka akan rusaklah tatanan kemasyarakatan.

Bentuk landasan tatanan masyarakat kita adalah sekuler religius dan secara praktik yang lebih menonjol adalah kesekulerannya. Karenany,a praktis bisa disebut bahwa landasan kenegaraan kita adalah pandangan sekuler. Demikan pula sistem ekonomi yang dipergunakan adalah ekonomi kapitalis liberalisme. Dua duanya memberikan efek buruk bagi masyarakat.

Aqidah sekuler adalah aqidah yang buruk sebab memisahkan antara aspek rohani dengan aspek jasmani dengan jalan menjauhkan agama dari kehidupan praktis kemasyarakatan termasuk pula aspek ekonomi hukum dan kenegaraan. Pandangan itulah yang menyebabkan masyarakat yang kehilangan makna hidup karena tujuan hidup bukan lagi untuk mengabdi pada Allah SWT melainkan untuk menuruti hawa nafsu mengejar kepuasan materiel baik itu konsumerisme ataupun hedonisme.

Read the rest of this entry »

Posted in krisis ekonomi, pornografi, social illness, Uncategorized | 2 Comments »